
Semenjak kejadian itu Dea tidak keluar kamar. dia terus duduk sambil kaki ditekukkan ada rasa ketakutan yang dia alami saat ini. dia terus membayangkan kejadian saat Claudia terjatuh sampai dia pingsan.
Dia teriak berucap
" Bukan aku ....bukan aku.." ucapnya ketakutan.
" Iya bukan aku....dia terjatuh sendiri...ngak ngak ngak...bukan aku" ucapnya terus menerus sambil menggigit-gigit kuku tangannya.Dia terus dihantui oleh ketakutan.
" aku bukan pembunuh...aku bukan pembunuh,aku ngak salah...aku ngak buat dia terjatuh...aku ngak...ngak ngak ngak" sambungnya dengan nada yang gemetar dan air mata yang mengalir.
" Ahhhh...." teriaknya sambil melempar bantal-bantal yang ada disampingnya.
Mama Siska yang mendengar suara Dea berteriak langsung berlari ke kamar nya tapi saat itu.
" Ada apa dengan Dea?" tanya Pak Surya.
Mama Siska yang mendengar suara itu juga langsung gugup.
" ahh... mungkin Dea lagi pusing Pah, karena Minggu depan mereka akan melakukan perpisahan sekolah. kemarin dia cerita ngak bisa pisah dengan Raka,dia takut Raka akan meninggalkan kalau sudah lulus sekolah nanti" akal-akal mama nya untuk menutupi kejadian itu.
" Anak jaman sekarang,baru seperti itu saja sudah galaunya minta ampun. Bagaimana ditinggalkan pasangan tanpa ada alasan " sambung Pak Surya sambil memakan makanan nya. Mama Siska yang mendengar kata-kata suaminya langsung kesel.
" Tau ahhh...mama ke atas dulu lihat Dea" ucapnya pergi meninggalkan meja makan.
" Masih aja di ingat-ingat akan hal itu,udah bertahun-tahun tapi ngak bisa hilang dari ingatan nya. Aku harap si perempuan genit itu mati aja ,ngak usah muncul lagi kepermukaan ini" Guman mama Siska kesel akan perkataan suami nya. Walaupun sudah bertahun tahun tapi pak Surya memang belum bisa melupakan kejadian itu.
__ADS_1
Saat di depan pintu kamar Dea,Mama Siska mengetuk pintu kamar Dea.Karena tak ada respon dari dalam akhirnya mama Siska mendorong pintu nya dan ternyata pintu nya tidak terkunci.
Dilihatnya Kamar Dea seperti kapal pecah yang sangat berantakan.Semua batal, selimut, lampu tidur, alat-alat makeup dan lain lain semuanya jatuh kebawah.
Dilihatnya Dea duduk di pojokan kamar dengan keadaan yang berantakan.
" Dea apa yang terjadi" ucap mama nya sambil berjalan ke arah Dea
" Aku bukan pembunuh mah" ucap dengan nada yang gemetar.
Mama Siska langsung memeluknya " Kamu tidak salah sayang,dianya tidak hati-hati. Jadi tenang ya ,mama akan urus semuanya,kamu jangan ngomong ke siapa siapa tentang hal ini. Yaudah kamu jangan Nangis bersikap lah seperti biasa oke. Biar mama yang urus semuanya" ucapnya untuk menenangkan dea yang merasa bersalah.
" Mama bantu aku" ucapnya sambil menangis.
" Yaudah kamu jangan sedih lagi, bersikap lah seperti biasa biar papa tidak curiga sama kamu " sambung nya agar Dea bersikap biasa-biasa saja.
" Iya ma" jawabnya.
" Mama keluar dulu,kamu bersih-bersih kamar dulu.mama tinggal " ucapnya berjalan meninggalkan Dea .
Dea hanya mengiyakan Mama nya . Setelah mama nya menenangkan dia, akhirnya dia bersikap seperti biasanya. Dia menarik nafas dalam-dalam dan berkata " Aku bukan pembunuh dan aku tidak bersalah" ucapnya dan bangkit dari tempat duduk nya.
****
Di klinik 🏥
__ADS_1
Setelah melakukan pendonoran darah kondisi Claudia saat ini sudah mulai membaik. Tapi paling sedih nya tidak ada keluarga satu orang pun yang menemani nya disana. dan saat ini dia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap yang berukuran kecil hanya ada 1 lemari kecil dan 1 tangkai bunga Mawar putih dia vas bunga.Sepi tak ada orang siapa pun disana,hanya terdengar suara jam yang bergerak.
Tak terasa sudah sore hari dan beberapa suster juga datang ke ruangan Claudia untuk memeriksa kondisi Claudia dan setelah selesai memeriksa dan mereka keluar kembali.
Tak berapa lama suster Dina keluar, Claudia mulai menggerakkan tangan kecilnya yang tanda dia mulai sadar. Perlahan-lahan dia membuka matanya dan menggerakkan matanya ke kanan dan ke kiri. Pandangannya lurus ke depan dengan tatapan kosong dan dia mulai mengingat apa yang terjadi terhadap nya.
" Aku dimana?kenapa aku disini?dimana ini?" gumannya dalam hati bertanya tanya.
" Dimana Mama?"ucapnya untuk pertama kali setelah mama Siska melarang nya. Dia melihat kearah pintu masuk berharap mama nya datang.Ditatap terus pintu itu beberapa menit tapi tanda-tanda orang pun tidak ada yang datang.
" Mungkin mama dan papa lagi makan malam,jadi aku ditinggal sebentar" ucapnya untuk menghibur hatinya yang sedih.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 malam tapi Mama dan papa nya tidak datang, Claudia mulai sedih dia terus menatap ke arah pintu masuk itu untuk menunggu kehadiran mereka tapi mereka tak kunjung datang. Dia memalingkan wajahnya ke arah jendela dilihatnya sedang hujan deras dan diiringi petir.
Clek..
Claudia langsung memalingkan wajahnya ke arah pintu masuk. Dari raut wajahnya terlihat sangat senang saat pintu kamar nya bersuara. Tapi saat tahu siapa yang datang dia kecewa. Dan yang datang adalah Suster Dina dengan membawa makan malam untuk nya dan beberapa buah yang sudah di iris.
" Halo...apa kabar?" Sapa suster Dina tersenyum sambil meletakkan nampan yang berisi makanan.
" Hai sus" jawbanya sambil tersenyum.
Terimakasih sudah berkunjung ke novel saya😍😍😘
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan favorit ya Guysssss ❤️
__ADS_1