Pelukan Terakhir Ayah

Pelukan Terakhir Ayah
Bab 57


__ADS_3

Akhirnya Claudia mendaftarkan diri nya untuk pemeriksaan. Tak butuh lama, akhirnya namanya dipanggil. Tapi sebelum itu dilihatnya anak kecil yang menderita seperti nya juga,anak kecil itu nampak tersenyum kepadanya dan dia pun membalasnya.


dia berjalan ke lorong menuju ruangan dokter spesialis tersebut. Dia berdiri di depan pintu ruangan dengan perasaan gugup dan takut, akhirnya dia memberanikan diri untuk mengetuk nya.


Tok


Tok


Tok


tiga kali dia mengetuk pintu itu dan akhirnya ada seseorang menyahut dari dalam sana.


" Masuk " ucapnya dari dalam ruangan.


Clek...


Claudia membuka dan masuk kedalam. dia masih mematung di sana.


" Aku mohon semoga Tuhan memberkati ku" doa nya dalam hati memohon.


Dia tarik nafas dalam dalam dan melangkah kaki nya.


" Selamat siang Dokter Devan" ucap Claudia sambil mendekati nya.


Devan yang masih memeriksa berkasnya seketika dia berhenti karna dia mendengar suara Claudia.


" Claudia?, duduk dulu" ucapnya sambil mempersilahkan Claudia duduk.


" Makasih Dok" jawabnya.


" Panggil Devan saja atau kakak atau mas atau sayang atau apa kee , ngak perlu ada kata dok nya"jelas Devan. " Nanti kamu salah ucap lagi, dibilangnya kodok bukan dokter " sambungnya.


mereka berdua tertawa .

__ADS_1


" Iya Kak" jawabnya.


" Baiklah mari kita periksa,apa keluhan kamu saat ini? " tanya Devan.


Claudia menjelaskan apa keluhan nya, baik dari dia mulai dia mimisan,cepat capek ,pusing di pagi hari, sakit kepala yang sangat sakit dan lain lain. panjang lebar dia sudah jelaskan. Devan yang mengerti akan hal itu ,dia merasa Kasihan kepada Claudia saat ini. Dilihatnya Claudia sudah mulia kurus dan rambut yang mulai rontok. Bukan ngak ada niat membantu sebagai dokter tapi Claudia selalu menolak bantuan dari Devan bahkan dari buk Ratna juga.


Devan tidak dapat memaksanya,itu adalah keputusan yang sangat besar untuk melakukan proses pengobatan. Walaupun biaya yang sangat besar,Devan siap membantu nya.


" Kak,apa waktu ku masih lama untuk hidup?" tanya Claudia.


" Claudia hidup ini tidak ada yang tahu sampai kapan, kamu bisa bertahan sampai saat ini itu karna yang diatas. Kalau pun saya sebagai dokter,saya tidak menjamin hidup seseorang" jelas Devan.


Claudia terlihat sangat sedih,dia menunduk akan penjelasan dari Devan.


" Hey..kenapa sedih?,semuanya akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir " ucapnya agar Claudia tidak takut .


" Aku ngak sedih kok kak ,aku hanya lapar saja " ucapnya berbohong.


" Belum kak,kan aku langsung ke sini tadi pulang sekolah" jawab nya jujur


" Emang pacar kamu itu yang sok ganteng itu kemana ? kenapa ngak temani kamu kesini" tanya Devan dengan nada ngejek.


" dia aku suruh pulang duluan kak, karna aku ngak mau melibatkan banyak orang " jelas Claudia.


" hmm kamu selalu seperti itu. Yaudah ayok kita makan dulu, kebetulan kakak belum makan siang" jelas Devan bangkit dari tempat duduknya.


" Ha? terus aku ngak perlu diperiksa dulu kak? masak iya hanya ditanya-tanya kakak tahu ? aneh banget" ucap Claudia masih heran .


Devan hanya tersenyum dan berkata" Kamu ngak perlu diperiksa kakak tahu apa yang kakak lakukan,nanti kakak akan kasih resep obat buat kamu. sekarang kita makan dulu " jelas Devan.


" Yakin ? obatnya sesuai?" tanya lagi karna ragu.


" Kamu masih meragukan kemampuan kakak mu ini?" ucap Devan tertawa.

__ADS_1


" Ya ngak tapikan " ucapnya terpotong


" yaudah ayok kita makan dulu,ngak perlu banyak nanya" ajak Devan kembali sambil menarik tangan Claudia untuk keluar.


Mereka pun berjalan menuju restoran terdekat di rumah sakit. setelah sampai disana mereka langsung memesan makanan. Mereka makan sambil berbincang-bincang sebentar dan tertawa. Ya mereka terlihat akur saat makan.


" Kakak udah punya belum? " tanya Claudia polos sambil makan.


" Dulu ada tapi sekarang tidak ada" jawab Devan menatap Claudia dan langsung melanjutkan makan.


" ohh.. kasihan nya " ucap Claudia sambil terlihat sedih


" Kenapa kamu yang sedih? aturannya kakak yang sedih bukan kamu" tanya Devan heran.


" aku hanya kasihan saja sama kakak,udah tua tapi belum punya pendamping" ucapnya kembali.


" What tua? aku mudah kayak gini dibilang tua. awas aja ya " Guman Devan dalam hati.


." Tua tapi masih ganteng kan ? " ucap Devan tertawa.


"Hahahah....puji sendiri" ucap Claudia tertawa.


Mereka pun melanjutkan makan siang sambil bercanda ria.


" *Aku harap senyum itu akan selalu ada sampai kapanpun " Guman Devan dalam hati nya melihat Claudia yang tertawa terbahak-bahak.


LIKE


KOMEN


SHARE


🔥🔥🔥❤️*

__ADS_1


__ADS_2