Pelukan Terakhir Ayah

Pelukan Terakhir Ayah
Bab 82


__ADS_3

Waktu sudah malam semua penghuni rumah sudah selesai makan malam.Dan kebetulan Pak Surya meminta Bi asi membuatkan secangkir kopi dan menghantarkan nya ke ruang kerjanya. Tapi saat pak Surya pergi Claudia datang agar dia menghantarkan kopi tersebut karena ada yang ingin dia sampaikan ke papa nya terkait pencairan uang perlombaan kemarin. Dan Bi asi mengiyakan nya. Claudia langsung membuat kopi dengan hati-hati agar semuanya lancar.


"Serasa mau interview ya Claudia" ucap author 🤭


" Permisi tuan ini kopi nya " ucap Claudia saat di depan papanya.


Tak ada jawaban bahkan lirikan mata sama sekali. Claudia mulai kaku dan tidak tahu memulai dari mana karena papa nya terlihat sangat dingin dan asik dengan berkas-berkasnya.


" Aduhh aku mulai dari mana ya Tuhan ngomong nya" guman Claudia dalam hatinya yang gelisah.


" Papa marah ngak ya kalau aku bilang nya " guman nya kembali.


Akhirnya Claudia memberanikan dirinya untuk berbicara kepada Papa nya.


" Tuan ada yang ingin saya sampaikan" ucap Claudia gemetar dan membuat pulpen yang ada ditangan Pak Surya berhenti.


Pak Surya memandang Claudia dengan tatapan dingin.


" Maaf Tuan kalau saya lanjang menyampaikan hal ini" ucapnya kembali sambil menggenggam nampan dengan kuat seakan-akan meremasnya.


" Tidak usah bertele-tele langsung saja,saya sibuk " ucap pak Surya dengan dingin dan kembali melanjutkan membaca berkas-berkasnya.


"Begini Tuan, kemarin saya berhasil memenangkan perlombaan melukis dan saya juara 1. Untuk mengambil hadiah nya,guru menitip pesan agar Papa atau Mama bisa datang ke sekolah untuk mengambil hadiah itu. Apa Papa bisa menghadiri nya?" ucap Claudia dengan nada yang gemetar dan hati-hati agar tidak salah bicara.

__ADS_1


Ngak ada jawaban dari Pak Surya, mungkin dia pun tidak mendengarkan apa yang disampaikan Oleh Claudia tadi Karena Pak Surya terlihat mengabaikan perkataan nya.


sudah 5 menit tapi Pak Surya tidak ada jawaban dan Claudia memberanikan diri kembali dan kali ini dia memberanikan diri dengan menyebutkan kata Papa.


" Pa..papa bisa datang besok untuk mengambil hadiah ku ?" ucapnya dengan percaya diri apalagi dengan menyebutkan kata Papa.


" apa yang kamu pikirkan Claudia,gila bangetttttt kamu sampai memanggilnya dengan sebutan papa. Marah ngak ya ? ya Tuhan aku salah ya ? Astaga Claudia kamu ini terlalu berani untuk mengatakannya,gimana coba papa mau datang ke sekolah kalau dari awal aku udah buat papa kesel sama aku. Terima nasib aja dehh kalau Uda gini ceritanya,niat hati...ahhhh..udh dehhh...mau marah, marahlah udh terbiasa" guman Claudia penuh dengan penyesalan dengan apa yang dikatakan tadi. Tapi kalau dipikir-pikir lagi ngak salah sih dia mengatakannya,Papa Surya kan Papa kandung nya.


Pak Surya mengehentikan kegiatan nya saat Claudia memanggilnya dengan sebutan papa.


" Apa kamu bilang Papa? papa yang mana kamu panggil? " tanya pak Surya dengan suara yang sedikit layas.


Claudia mulai gemetaran " Tuan" ucapnya.


" Saya?" tunjuk pak Surya kepada dirinya sendiri.


" Saya tidak Papa mu dan saya tidak tahu Papa yang mana kamu maksud saat ini, karena saya tidak merasa punya 2 putri saat ini dan yang saya tahu putri saya hanya Dea dan tidak ada yang lain" ucap Pak Surya dengan nada yang menjengkelkan saat ini.


Claudia terdiam dengan perkataan Papa nya sendiri yang saat ini dia benar-benar tidak mengakuinya sebagai putri nya sendiri. Sakit sih tapi mau Gimana lagi. seberapa banyak lagi air mata yang ini Claudia keluar kan dari matanya, seberapa tusukkan Panah lagi yang ingin menancap di hati ini,mau gimana sabarnya Claudia memendamnya. Tapi tidak bisa di pungkiri lagi, Claudia meneteskan air mata sambil tertunduk.


Dan tiba-tiba dia mengangkat kepala nya dan berkata.


" Salahkah aku jika memanggil tuan dengan sebutan Papa? apakah Papa benar-benar tidak mengenal ku? apakah Papa tidak mempunyai Putri lagi selain Kak Dea? kenapa Papa tidak mengakui sebagai anak mu? kenapa aku terlalu terasingkan di keluarga Papa? sebesar apa dosa yang aku perbuat sampai-sampai papa terlihat jijik jika melihat ku hiks...hiks..hiks...apa betul aku bukan milik Papa? " ucap Claudia sambil menangis dihadapan Papa nya.

__ADS_1


Muak sudah dengan semua mau apapun dan bagaimanapun kedepannya Claudia akan tanggung sendiri. Mau keluar dari rumah ini Claudia sudah siap dengan semua nya.


" Kamu terlalu lajang untuk menanyakan hal bodoh itu kepada saya. Kamu itu hanya seorang anak yang tidak diharapkan di keluarga ini. Dan jangan coba-coba menyuruh saya untuk berurusan dengan kebutuhan pribadi kamu yang melibatkan saya" ucap Pak Surya dengan tegas dengan nada yang sedikit membentak nya.


Claudia terdiam dan tiba-tiba darah keluar dari hidung nya. Dengan cepat Claudia menutup setengah wajahnya dengan nampan yang dia pegang tadi.


" Maaf tuan kalau saya lanjang,saya terlalu berekspektasi tinggi untuk anda mengakui saya sebagai Putri mu tapi anda hanya menganggap saya sebagai anak pembawa sial di keluarga anda. Dan saya berharap agar saya bertemu dengan keluarga asli saya yang mau menerima saya dengan baik dan tidak menelantarkan aku seperti ini. Dan satu lagi untuk masalah pengambilan uang itu,anda tidak perlu repot-repot lagi datang ke sekolah dan saya akan sampaikan kalau Papa dan Mama aku sedang keluar kota untuk beberapa bulan jadi mereka tidak bis datang.Maaf kalau saya berbohong untuk keberadaan anda karena itu yang terbaik buat kita berdua " ucap Claudia panjang lebar sambil menangis tapi dia tetap menahan hidungnya agar darah yang keluar tidak mengalir.


Dengan wajah yang sulit diartikan Pak Surya sangat emosi dengan perkataan Claudia. Dengan esmosi pak Surya melempar kopi yang dibuat Claudia tadi ke lantai,Claudia sangat terkejut. gelas itu hancur dan tidak berbentuk lagi semua nya berserakan entah kemana-mana.


Claudia tersenyum sedikit melihat pecahan gelas itu dan berkata " seperti gelas inilah hari ku sekarang Pa, hancur... sehancur-hancurnya dan tidak terbentuk lagi bagaimana perasaan ku saat ini. semuanya beling itu seakan tertancap di hati ku tanpa memikirkan sakit atau tidaknya kata-kata itu Papa ucapkan kepada ku" ucap Claudia sambil tersenyum menyediakan.


" Tapi tidak apa-apa Pa...bukan hanya hari ini Papa dan Mama melukainya tapi sudah dari Claudia kecil hahahaha... sedikit asik ya Pah... permainannya ngak selesai-selesai. Tapi Claudia tidak pernah marah kok sama Papa dan Mama, Claudia tetap sayang sama kalian.


Kalau suatu saat nanti Claudia pergi Papa jangan menyesali nya tapi hiduplah bahagia seperti mana mestinya dengan keluarga papa yang sebenarnya" lanjut Claudia dan pergi meninggal Pak Surya dengan keadaan diam seribu bahasa. Pak Surya tidak tahu lagi apa yang dia inginkan katanya semua yang dikatakan Claudia sangat menusuk hatinya.


Claudia sudah diambang pintu tapi dia berbalik badan dan berkata.


" Biarkan orang lain yang membersihkan beling itu Pah,nanti papa terluka dan dapat meninggalkan bekas di tangan Papa" ucap Claudia dan pergi .


Kata-kata seperti itu mampu membuat pak Surya diam tanpa berkomentar sama sekali.


Ya sedikit kejam tapi realita nya Pak Surya lah yang lebih kejam terhadap Claudia. bahkan dia tidak tahu bagaimana keadaan Claudia saat ini.

__ADS_1


JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN,DAN VOTE YA 💙💙💙💙


I love you sekeboooonnnnnnnn😘😘


__ADS_2