
Malam pun tiba disertai dengan derasnya hujannya dan angin yang begitu kencang malam ini. Semua anggota keluarga sedang menikmati makan malam bersama. Mereka saling bertukar cerita bahkan Pak Surya menanyakan tentang universitas apa yang diinginkan oleh Dea. Semua yang Dea dikabulkan oleh Papanya.
" Sayang kamu mau lanjut di universitas mana" tanya Papa nya disela sela makan malam.
" Dea masih bingung Pah, universitas mana yang Dea ingin daftar. Papa kan tahu kalau Dea ngak bisa jauh dari Papa dan Mama" jelas Dea sambil menyendok ayam goreng kesukaan nya.
" Kamu itu sudah dewasa ,sudah waktunya kamu belajar mandiri mulai dari sekarang" jelas papanya . Dea terdiam akan ucapan Papanya.
" Papa ngak suka kalau Dea kuliah di kota ini? atau papa ingin Dea jauh dari Papa biar anak sial itu dekat sama Papa" ucap Dea sedikit kesal karna Papa.
" Sayang,papa kamu itu bukan tidak suka kalau kamu kuliah di kota ini tapi Papa mau kamu itu harus belajar mandiri tanpa mama dan papa,udah itu aja ngak ada maksud yang lain apalagi dengan anak sial itu" ucap mama Siska sambil memegang tangan Dea.
" Dea akan coba " ucapnya datar sambil memasukkan makanan nya.
" Harus nurut dong sama orang tua. Semua orang tua itu berharap anak-anaknya semua baik dan sukses kedepannya" jelas mama nya.
" Iya mah"
" Yaudah lanjut makannya ,biar besok ujiannya lancar " jelas mama nya.
akhirnya Mama Siska yang menjelaskan kepada Dea, saat ini Pak Surya hanya fokus makan.
Setelah makan malam, mereka langsung masuk ke kamar masing-masing. Sebelum mama Siska masuk ke kamar terlebih dahulu dia membuat kan kopi untuk suaminya. Saat ini Pak Surya duduk di ruangan kerjanya sambil menikmati secangkir kopi buatan istri nya.
Mana Siska sudah masuk ke kamar ingin skincareran dan ingin Langsung tidur, karena tadi siang dia habis pulang dari arisan berlian di salah satu hotel berbintang jadi dia merasa sangat capek dan pegal-pegal.
Saat Pak Surya berdiri di depan balkon gak sengaja dia melihat seseorang berdiri di dalam kolam tapi mirip dengan Claudia.
" Kenapa Claudia berdiri di dalam kolam malam malam begini apalagi ini sedang hujan" lirihnya,sambil memakai kaca matanya untuk memastikan siapa yang ada di sana.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Bi Asi datang ke tepi kolam sambil membawakan sepiring nasi menggunakan payung agar tidak kenak hujan.
" Non...sini makan dulu' ucap Bi Asi kepada Claudia.
Claudia yang merasa dingin,dia sangat gemetaran didalam kolam sana apalagi hujan lebat dan angin ke kencang membuat nya semakin gemetaran.
" Claudia takut buk sama mama" jelasnya dengan nada gemetaran karena kedinginan.
"Nggak papa nak, nyonya sudah tidur dan sekarang non makan ya ,biar ibu suap" jelas Bi Asi menyakinkan Claudia.
" Kalau mama marah atau Papa marah gimana buk,yang ada ibu nanti dihukum lagi sama mama atau gaji bibi dipotong jelas Claudia merasa takut atas kebaikan ibunya.
" Ngak papa, biar ibu lakukan apa hukumnya tapi non makan dulu ya biar ngak masuk angin dan sakit " jelas Bi Asi mengeluarkan tangannya. Bi Asi yang merasakan Beta dinginnya dan gemetaran nya tangan Claudia dia merasa sangat kasihan kepada nya.
" Sini mendekat sama ibu" ucap Bi Asi.
" Aaaaa" ucap Bi Asi sambil menyuap kan satu sendok nasi.
" Makasih buk sudah peduli sama Claudia. Claudia jadi sangat sayang banget sama ibu" ucapnya sambil tersenyum.
Pembicaraan mereka tidak lepas dari pandangan pak Surya dari atas sana. Dia merasa beta sedih nya hidup putrinya di bawah sana tapi dia tidak dapat berbuat apa - apa. Bukan karena dia tidak bisa melakukan nya tapi dia masih bingung dengan perasaannya saat ini. Tapi akhir- akhir ini di merasa gelisah terhadap Claudia.
Pak Surya melihat betapa takut nya Claudia kepada mama nya bahkan kepada Papa nya sendiri.
Akhirnya pak Surya turun ke bawah. sesampainya disana dia melihat Claudia sangat pucat dan kedinginan di dalam sana.
" Apa kamu ingin membuat nama baik keluarga ini buruk atas kebodohan kamu" ucap Pak Surya datar dengan satu tangan di saku celana nya .
Meraka berdua sangat terkejut, apalagi Claudia langsung mundur ke dalam kolam. Dia sangat takut kepada papa nya.
__ADS_1
" Tu...tuan " ucap Bi Asi gugup sambil berdiri.
" Maaf tuan,ibu tidak salah tapi aku yang salah" jelas Claudia sambil menunduk.
" Naiklah " ucapnya datar.
" Maaf tuan nanti nyonya marah kalau saya keluar sebelum matahari terbit" jelas Claudia.
" Cepat naik sebelum saya sama sekali tidak memperbolehkan kamu selamanya keluar dari kolam itu" ucap Papa Surya dengan nada yang sedikit emosi. jujur dia sangat tidak tegak melihat Claudia yang pucat seperti itu.
Claudia cepat- cepat naik ke atas ,bi asi langsung memberikan handuk untuk melilit tubuh Claudia. Tak lupa Claudia berterimakasih.
" Terimakasih tuan sudah mengijinkan saya keluar" ucapnya sambil menunduk kan kepalanya.
"Jangan kamu berpikir kalau saya kasihan kepada kamu. saya hanya tidak ingin nama baik keluarga saya buruk didepan orang banyak. Awas sekali kamu melakukan hal bodoh seperti ini" jelas Pak Surya meninggalkan mereka.
Claudia terdiam dan Bi asi langsung membantu Claudia ke kamarnya dan meminyaki semua tubuh nya dan tak lupa juga dia membuat kan teh jahe merah untuk menghangatkan tubuh Claudia.
🔥🔥🔥
LIKE
KOMEN
FAVORIT
VOTE
❤️❤️❤️
__ADS_1