
"Bagaimana sekarang? Aku tak bisa membiarkan ini berlalu begitu saja! Ahhh! Lagian kenapa aku harus mengirim Vito pergi!" Morona yang kebingungan sekarang justru menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan.
"Aku harus secepatnya meminta Vito kembali ke istana!" Ucap Morona yang langsung bertindak.
Di kamar tamu kerajaan, Karmila yang seorang diri di tinggal Morona begitu saja menjadi sangat bosan.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang? Apa aku perawatan diri aja yaa? Mempercantik diri kan jauh lebih baik daripada merenung seperti ini!" Pikir Karmila.
"Baiklah kalau begitu aku akan meminta para pelayan untuk membantu aku mempercantik diri!" Ucap Karmila.
Karmila lantas memanggil para pelayan "Pelayan! Pelayan! Pelayan!" Teriak Karmila.
Seorang pelayan lalu datang menghampiri Karmila, "Iya lady! Ada perlu apa yaa?" Tanya pelayan itu.
Karmila menjadi kesal karena hanya satu pelayan yang datang ke kamarnya, padahal ketika di panggil akan ada 5 orang pelayanan yang datang ke kamarnya.
"Kenapa hanya kau yang datang? Di mana para pelayan yang lain? Apa mereka sudah di ganti ?" Tanya Karmila.
"Mereka tidak di ganti lady, tapi mulai sekarang lady hanya di beri satu pelayan di istana ini !" Jawab pelayan itu dengan sopan.
"Apa maksudnya itu? Aku selalu di beri 5 pelayan! Kenapa sekarang hanya kau seorang saja? Apa mereka lupa siapa aku ini?" Tanya Karmila yang penuh emosi karena dia merasa sudah di rendahkan.
"Maafkan saya lady, untuk itu saya tidak tahu apa apa, saya hanya menjalankan perintah!" Jawab pelayan itu dengan penuh kesabaran menghadapi Karmila.
"Perintah siapa? Perintah raja? Tidak mungkin dia ikut campur dalam urusan ini! Aku sejak kecil selalu diberi 5 pelayan dan diperlakukan sebagai anggota kerajaan! Kau jangan berani berani berbuat seperti ini!" Teriak Karmila dengan semena-mena kepada pelayan tersebut.
"Ampun lady, saya benar benar tidak berniat merendahkan atau memperlakukan lady dengan buruk! Saya hanya menjalankan perintah Masia kepala pelayan istana!" Jawab pelayan itu.
Mendengar hal itu Karmila dengan penuh emosi langsung keluar dari kamarnya dan pergi mencari Masia.
Ketika Karmila bertemu dengan Masia, dia langsung marah dan berteriak dengan Masia.
"Hei kau! Apa maksudnya ini semua? Apa yang kau lakukan?" Teriak Karmila kepada Masih sang pelayan yang sudah berusia 54 tahun, pelayan itu adalah orang yang mengasuh Illeana dari bayi.
"Maaf lady saya hanya menjalankan peraturan istana! Demi kedamaian dan ketertiban bersama! Mohon lady untuk bekerja sama!" Ucap Masia tanpa rasa takut.
"Ketertiban apanya? Kedamaian apanya?" Tanya Karmila dengan raut wajah yang penuh emosi.
"Ketertiban dan kedamaian istana untuk orang yang tidak berkepentingan di mohon meninggalkan kerajaan ini! Dan mulai besok saya minta lady keluar dari kerajaan ini dan tinggal di kediaman orang tua anda saja!" Ucap pelayan itu tanpa rasa takut namun terdengar cerdas.
"Apa apaan kau? Atas dasar apa kau menyuruhku keluar dari istana? Kau tidak lupa kau kalau Illeana membebaskan aku untuk tinggal di istana!" Ucap Karmila.
__ADS_1
"Saya sangat ingat akan hal itu lady tapi mohon maaf sekarang yang mulia ratu sudah tidak ada dan semua aturan di istana sesuai dengan permintaan raja! Anda bukan bagian dari keluarga Badhrika dan bukan juga keluarga dari raja Morona!" Ucap Masia dengan tegas tanpa kenal rasa takut.
"Kau gila ya? Beraninya kau berbicara seperti itu padaku! Kau itu hanya seorang pelayan tanpa gelar bangsawan dan aku ini adalah seorang bangsawan! Jaga sikap mu di hadapan ku!" Teriak Karmila.
"Anda bangsawan yang di angkat oleh raja yang dulunya adalah seorang pengemis! Maaf maksud saya rakyat miskin yang tinggal hutan karena tak sengaja menemukan ratu Illeana kecil tersesat di hutan!" Ucapan pelayan itu benar benar sangat menyakiti hati Karmila.
"Kau!!!!! Baiklah!!!!" Karmila langsung pergi meninggalkan pelayan itu dengan sangat marah.
Karmila memang hanya seorang pengemis atau rakyat miskin yang luntang lantung di hutan, dia yang secara tak sengaja menolong Illeana membuat raja sangat berterima kasih begitu juga dengan Illeana, raja membiarkan Illeana tinggal di istana dan di layani oleh para pelayan meskipun sebenarnya raja sudah memberikan sebuah rumah yang cukup mewah kepada ayah Karmila.
Illeana juga sangat menyayangi Karmila, Illeana bahkan rela dan membiarkan Karmila diperlakukan seperti dirinya, seperti seorang putri .
Ukuran kamar Karmila hampir sama dengan ukuran kamar Illeana, Illeana yang punya hampir 125 mahkota karena dia seorang putri, Karmila juga menginginkannya sehingga Illeana memberikan Karmila 2 mahkota miliknya, meskipun itu terbilang sedikit tapi nyatakan hanya seorang putri kerajaan yang berhak memiliki mahkota, bahkan jumlah pelayan yang melayani Karmila sama dengan jumlah pelayan yang melayani Illeana yaitu berjumlah 5 orang.
Karmila yang berniat ingin mengadu kepada Morona, mengurungkan niatnya karena dia dan Morona sedang tidak baik baik saja sehingga dia memilih kembali ke kamarnya dan mengusir pelayan.
"Sialllll! Sial!!! Berani beraninya seorang pelayan berbicara seperti itu padaku! Dia pikir dia siapa? Dia itu hanya pelayan yang di beri kepercayaan penuh oleh keluarga kerajaan terdahulu? Tapi apa haknya untuk mengungkit masa lalu ku!"
"Dasar pelayan tua sialan! Benar benar sangat menjengkelkan!Kalau bukan karena Morona tak mengizinkan! Aku pasti sudah membunuh pelayan itu!"
"Arghhhhh! Aku benar benar tidak terima dengan semua yang dia lakukan kepada ku! Dia mau mengusir aku kan? Tidak semudah itu!"
Karmila yang terbiasa di manja kini menjadi sangat egois dan bersikap sesuka hatinya tanpa tahu batasan, dia sama sekali tidak sadar diri dan masih menginginkan kehidupannya yang sangat di manja dan dibiarkan oleh Illeana.
Keesokan harinya, istana kerajaan menjadi sangat riuh dan berbisik sehingga membuat Morona terbangun.
"Ada apa ini? Kenapa berisik sekali? Padahal baru jam 5! Kenapa orang orang sangat berisik!" Morona terbangun karena tidurnya telah terganggu.
Dia keluar dari kamarnya dengan wajah yang baru bangun tidur itu.
Benar saja ketika dia keluar, seluruh pelayan di istana sedang sibuk dan riuh membicarakan sesuatu.
"Apa yang sebenarnya mereka bicarakan? Apa yang sebenarnya terjadi?" Ucap Morona di dalam hatinya.
Morona kemudian berinisiatif memanggil salah satu pelayan, "Hey kau! Kesini!" Pinta Morona.
"Baik yang mulia! Ada apa ya yang mulia?" Tanya pelayan itu.
"Kenapa kalian sangat riuh dan berisik? Apa kalian tahu kalau kalian menggangu tidurku?" Ucap Morona dengan dingin dan raut wajah yang serius.
"Maafkan kami yang mulia, tapi sesuatu telah terjadi" jawab pelayan itu dengan ketakutan.
__ADS_1
"Apa yang terjadi sampai kalian bisa seperti ini? Katakan padaku!" Teriak Morona dengan marah karena baginya sekarang tidak ada yang lebih penting daripada seorang raja dan seharusnya mereka tidak riuh dan ribut di depan kamar seorang raja.
"Yang mulia sebenarnya ini berita gawat!" Ucap pelayan itu.
"Berita apa? Apa yang terjadi?" Tanya Morona.
Pelayan itu lalu meminta kepada pelayan lain sebuah koran yang kemudian di berikan kepada Morona.
Morona mengambilnya dan membacanya.
Ketika membaca isi dari koran itu,"Apa ini?" Morona terkejut dan terperanjat terjatuh ke lantai.
Di kamp pelatihan tentara, Nagara dan Illeana sedang mengobrol.
"Hei Anna, ku dengar hari ini dia akan pulang!" Ucap Nagara.
"Siapa yang kau maksud?" Tanya Anna dengan tersenyum manis.
"Siapa lagi? Vito! Asisten dan tangan kanan Morona! Upssss! Maksud aku raja Morona!" Ucap Nagar dengan tersenyum tipis, meskipun Nagara selalu menggunakan topeng, tapi aura ketampanan miliknya tetap terpancar.
Anna tersenyum.
Nagara "Apa kau ingin membunuhnya hari ini?"
Anna "Aku pikir aku akan membiarkannya terlebih dahulu! Aku ingin lihat apa yang akan di rencanakan oleh Morona sekarang!"
Morona "Baiklah jika itu yang kau inginkan! Aku akan selalu mendukung apapun keputusan mu!"
Vito yang telah tiba di istana, langsung bergegas menemui raja Morona.
"Salam yang mulia!" Vito memberikan salam kepada Morona.
"Kalian semua boleh pergi, tinggalkan aku dengan asisten ku!" Ucap Morona yang memerintahkan semua orang yang berada di ruangannya sekarang untuk pergi kecuali Vito.
Semua orang lalu pergi dan menyisakan Morona dan Vito.
"Vito! Akhirnya kau kembali! Aku sangat menunggu mu! Karena banyak masalah yang terjadi! Apa kau tahu tentang berita hari ini?" Ucap Morona yang mengeluh kepada Vito.
"Saya sudah tahu itu yang mulia, karena itu saya kembali sekarang!" Jawab Vito.
"Bagaimana ini Vito? Bagaimana bisa hubungan ku dengan Karmila sampai ke telinga publik?" Tanya Morona.
__ADS_1