Pembalasan Ratu Yang Di Khianati

Pembalasan Ratu Yang Di Khianati
Rencana Gila


__ADS_3

Karmila "Iya apa salahnya? Lagian kau kan sudah menjadi raja, lebih baik kau membunuhnya saja karena dia sangat berbahaya dan merusak rencana kita!" Karmila berusaha meyakinkan Morona agar semua rencana mereka berjalan dengan lancar, "Lagipula ketika grand Duke sudah di singkirkan, aku akan menempatkan ayah ku di posisi grand Duke!" Ucap Karmila di dalam hatinya karena sebenarnya Karmila sangat mual ketika orang orang merendahkan posisi keluarganya sebagai bangsawan seperti yang di ketahui jika ayah Karmila hanyalah seorang count yang diberikan oleh yang mulia raja terdahulu.


Sejenak Morona terdiam mendengar ucapan Karmila, ide yang Karmila berikan memang sangat bagus dan menguntungkan bagi mereka, tapi bagaimana bisa dia membunuh ayah kandungnya sendiri hanya demi sebuah tahta, ayah yang sudah membesarkannya selama ini.


"Aku rasa itu ide yang buruk, aku tidak mungkin membunuh ayah kandung ku sendiri Karmila! Aku tak akan melakukan itu!" Jawab Morona karena bagaimanapun selama ini ayahnya lah yang sudah membesarkannya.


"Sayang kamu sendiri juga bilang kalau ayah mu sangat pilih kasih dengan mu! Dia lebih menyayangi kakak mu di banding kamu!" Ucap Karmila yang berusaha meyakinkan Morona.


"Aku tahu itu! Tapi, dia tetap lah ayah ku! Dia yang membesar aku selama ini! Apalagi saat ibuku meninggal, hanya dia dan kakak lah satu satunya keluarga ku!" Jawab Morona.


"Tapi sekarang kau adalah raja! Kau tidak butuh mereka! Dan aku akan menjadi keluarga untuk mu!" Pinta Karmila.


Mendengar ucapan itu, Morona lantas pergi meninggalkan Karmila seorang diri.


Grand Duke dan Anna sedang berbicara sambil berjalan menuju arah gerbang.


"Anna apa kau akan mencintai dan setia dengan kerajaan ini?" Tanya grand Duke secara tiba tiba.


"Apa maksud anda tuan? Tentu saja saya akan setia dan mencintai kerajaan ini karena itu adalah tugas saya!" Ucap Anna.


"Baguslah jika begitu, tapi ingatlah untuk mencintai kerajaan dan rakyatnya, tapi jangan cintai rajanya!" Ucap grand Duke Samael.


"Apa maksudnya tuan grand Duke?" Tanya Anna yang kebingungan.


"Maksud ku adalah kau harus menghormati pemimpin tapi jangan benarkan jika dia berbuat salah karena itu hanya akan merugikan rakyat dan juga negara!" Pinta grand Duke yang seketika membuat Anna terdiam.


Tak terasa ternyata mereka sudah sampai di depan gerbang istana raja "Kita sudah sampai! Aku permisi dulu! Jika kau butuh bantuan mintalah kepada ku!"Grand Duke pun pergi.


Anna kemudian pergi ke tempat pelatihan tentara kerajaan.


Sesampainya di sana di melihat Nagara sedang duduk.


"Nagara!" Panggil Anna.


"Anna! Kau sudah kembali? Bagaimana dengan hadiah itu? Apa semuanya lancar!" Tanya Nagara.


"Tentu saja! Aku sangat puas melihat wajah ketakutan dari mereka berdua dan sepertinya akan ada kelanjutan dari peristiwa tadi!" Jawab Anna dengan sangat puasa karena hadiah yang dia siapkan berjalan dengan lancar.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu! Aku sangat menantikan hal itu! Tapi ngomong-ngomong siapa bangsawan yang kau tarik?" Ucap Nagara yang tak tahu.


"Grand Duke Samael!" Jawab Anna dengan serius.


"Apa? Mengapa harus dia?" Nagara terkejut.


"Kenapa? Kenapa kau terkejut? Apa ada yang salah?" Tanya Anna.


Nagara "Bukankah grand Duke Samael adalah ayah dari Morona?"


Anna "Iya memang benar!"


Nagara "Lalu kenapa kau malah menyeret dia? Apa kau yakin dia akan curiga dengan anaknya sendiri?"


Anna "Aku kenal betul bagaimana grand Duke, dia adalah orang yang sangat logi dan sangat mencintai Adhikari, dia juga sangat dekat dengan kami!"


Nagara "Aku hanya khawatir, karena bagaimanapun dia adalah ayah Morona! Tidak mungkin dia ingin menjerumuskan putranya sendiri!"


Anna "Kau tenang saja! Aku tahu apa yang aku lakukan" ucapnya dengan penuh keyakinan.


"Grand Duke Samael, dia adalah orang jujur dan baik, dia sangat menjunjung tinggi nilai kebajikan, dia jugalah yang membuat aku percaya kalau Morona adalah orang baik hanya karena Morona adalah anaknya, sejujurnya aku kesal dengan grand Duke, tapi sepertinya dia sama sekali tidak tahu apa apa tentang hal ini!"


"Vito?" Tanya Nagara.


"Iya, kamu kan tahu siapa yang membuat kecelakaan itu terjadi! Itu adalah Vito! Asisten Morona yang tak lain adalah kaki tangan Morona!" Ucap Anna dengan raut wajah yang serius.


"Saya juga belum melihatnya! Sepertinya Morona memerintahkannya untuk pergi dari ibu kota!" Jawab Nagara karena kebetulan sedang ada masalah di wilayah lain kerajaan Adhrika.


"Benarkah?" Tanya Anna.


"Itu benar!" Jawab Nagara.


"Ahhh sial! Padahal aku sangat berniat membunuhnya hari ini! Ingin sekali aku sabotase kereta yang dia gunakan seperti yang dia lakukan kepada orang tua ku! Tapi sepertinya hari ini dia bernasib baik!" Itu memang terdengar kejam, tapi untuk Illeana adalah hal yang seharusnya dia lakukan, darah di bayar dengan darah, Nyawa dibayar dengan nyawa.


"Yah memang sangat di sayangkan padahal saya juga sudah sangat siap untuk menebas kepalanya!" Ucap Nagara yang jauh lebih sadis.


"Aku tak ingin kau membunuhnya dengan cara itu, aku ingin dia mati dengan cara yang sama seperti orang tua ku! Lagi pula kau tidak perlu mengotorkan tangan mu!" Jawab Anna.

__ADS_1


"Ya baiklah saya akan menuruti perkataan mu!" Ucap Nagara.


"Owh iya sekarang alangkah lebih baik jika kita berlatih memanah! Aku ingin melatih keterampilan ku dalam memanah!" Pinta Anna.


"Kau masih ingin berlatih memanah? Bukankah kau sudah 3 tahun berlatih dan kemampuan mu sudah bagus?" Tanya Nagara karena selama ini dia lah yang melatih dan mengawasi Anna dan Anna selalu berlatih dengan bersungguh-sungguh.


"Kau kan tahu keterampilan memanah aku adalah yang paling buruk! Aku memang sudah bisa bela diri, menunggangi kuda ataupun berlatih pedang! Tapi panah ku selalu meleset ketika aku memanah!" Ucap Anna.


"Baiklah ayo sini ikut aku!" Ajak Nagara.


Mereka kemudian berlatih memanah dengan sangat serius, Nagara sangat mengawasi dan mengajar Anna dengan lembut.


Sementara Morona yang berada di dalam istana menjadi sangat frustasi dengan yang sudah terjadi, di satu sisi di khawatir jika rencananya akan terbongkar oleh ayahnya sendiri, tapi di sisi lain tidak mungkin dia membunuh atau melenyapkan ayahnya agar rencananya tidak terbongkar.


Morona berpikir sambil berputar-putar mengitari tempat tidurnya.


"Bagaimana ini? Apa aku harus menyingkir ayah? Apa aku harus membunuh ayah kandung ku sendiri?" Ucap Morona yang sangat khawatir.


"Tidak! Tidak! Tidak! Tidak mungkin aku membunuh ayah kandung ku sendiri! Sudah cukup dengan anak ku! Tidak mungkin sekarang ayah ku!" Meskipun Morona dengan sengaja membunuh Illeana, tapi dia sama sekali tidak ingin membunuh anaknya yang berada di dalam perut Illeana, sebenarnya dia memiliki sedikit rasa penyesalan di dalam hatinya.


"Tapi bagaimana jika ayah sampai membongkar rencana ku? Aku tahu betul jika ayah sudah curiga, dia pasti sekarang akan mencari tahu hubunganku dengan karmila! Lalu setelah itu keterkaitan ku dengan kematian mendiang raja pasti akan terungkap! Begitu juga dengan pembunuhan yang aku lakukan!" Morona menjadi cemas dan khawatir.


"Ayah pasti akan menuduh ku sebagai penghianat dan akan memberikan aku hukuman mati! Aku tidak mau jika itu sampai terjadi! Aku tak akan biarkan kerja keras ku hancur dengan sia sia!" Pikir Morona dengan sangat khawatir.


"Sekarang aku harus mencari Vito! Vito pasti tahu apa yang harus aku lakukan!" Selama ini semua rencana yang di lakukan oleh Morona adalah gabungan idenya dan ide dari Vito.


Vito sejatinya adalah budak yang di beli Morona ketika dia masih remaja, Morona menyadari jika Vito adalah orang yang sangat bijak dan licik, karena itulah dia selalu meminta nasehat dari Vito dan Vito sangat setia dan menyayangi Morona begitu juga sebaliknya.


Morona lalu keluar dari kamarnya dan mencari Vito, karena tak kunjung menemukan Vito, Morona lalu pergi dan bertanya kepada staf kerajaan.


"Hey kau ! Dimana Vito?" Tanya Morona kepada salah satu staf kerajaan.


Staf kerajaan itu terkejut mendapati Morona bertanya kepadanya.


"Ampun yang mulia! Asisten anda sedang pergi ke wilayah lain yang sedang bermasalah!" Jawab staf kerajaan itu.


"Kenapa harus dia yang ke sana? Bukankan ada orang lain?" Ucap Morona dengan ketus dan wajah yang cemberut.

__ADS_1


"Ampun yang mulia, anda sendiri yang memerintahkan asisten anda untuk pergi ke wilayah yang bermasalah!" Jawab staf kerajaan itu yang seketika membuat Morona menjadi malu.


Morona langsung pergi ketika mendengar ucapan itu tanpa berkata apa apa lagi, dia benar benar lupa jika dia lah orang yang mengirim Vito pergi karena Panik yang dia rasakan membuat dia lupa segalanya.


__ADS_2