
Baroness dengan sangat bangga dan sangat percaya diri datang ke kediaman count chaseiro yang tak lain adalah kediaman mantan suaminya.
Padahal dia sendiri tahu bagaimana hubungan nya dengan count saat ini, hubungan yang sangat tidak baik dan hubungan saling membenci, tapi entahlah sepertinya hal itu sama sekali tidak mempengaruhi baroness.
Dia dengan santainya masuk ke dalam kediaman.
"Salam baroness!" Sapa seorang pelayan di kediaman count karena biar bagaimanapun kedudukan baroness tetaplah lebih tinggi dari count chaseiro.
"Salam! Saya ke sini untuk menemui lady Karmila! Apa saya bisa menemui nya sekarang?" Ucap Baroness dengan sangat mengagungkan dirinya.
Pelayan tampak binggung untuk memperbolehkan Baroness menemui Karmila, beruntungnya count Chaseiro datang tepat waktu dan menghentikan baroness.
Melihat kedatangan count, pelayan itu lantas memberi hormat kepada count.
Count memberi aba-aba kepada pelayan untuk pergi dari tempat itu dan pelayan itu pun lantas pergi mengikuti keinginan count.
Setelah pelayan itu pergi, baroness dengan santainya menyapa count yang membuat count sangat marah.
"Salam count chaseiro!" Sapa Baroness.
"Berani sekali kau datang ke sini? Apa kau sudah lupa?" Tanya count dengan ketus tanpa membalas salam baroness.
"Maaf tuan count, saya hanya datang berkunjung untuk menemui lady karmila!" Dengan santainya baroness menjawab ucapan count.
"Apa kau bilang? Apa kau sudah lupa? Aku tak pernah dan tak akan bisa menerima kedatangan mu ke tempat ini! Pergi kau sekarang!" Ucap count chaseiro dengan tegas dan terkesan sangat kasar bagi seorang wanita.
"Maaf count, tapi semua itu sudah lewat! Aku datang ke sini karena ingin menemui lady Karmila! Putri ku sendiri!" Ucap Baroness dengan suara yang cukup kuat yang tanpa sadar meneriaki count balik.
"Apa kau bilang? Putri mu? Putri mu sejak kapan? Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau tak memiliki anak?" Wajah count sangat menyeramkan, sorot matanya sangat tajam dan penuh dengan kebencian menatap Baroness.
"Ahhh sudahlah, itu semua sudah lewat! Karmila itu Putri ku! Putri kandung ku! Aku yang melahirkan dia! Dia lahir dari rahim ku! Di dalam darahnya mengalir darah ku!" Teriak baroness kepada count yang menegaskan jika dialah orang yang sudah melahirkan Karmila.
"Bagus! Sangat bagus! Kau seperti tidak pernah berkaca! Kau yang membuang dia! Kau sendiri yang mengatakan tak pernah melahirkan! Untuk apa kau datang ke sini menemuinya dan mengatakan dia Putri mu?" Jawab count dengan sangat emosi kepada Baroness.
"Ak....." Baroness lantas berusaha berbicara kepada count.
__ADS_1
Count sama sekali tak memberikan kesempatan baroness untuk berbicara, count terus saja berbicara.
"Atas dasar apa kau punya keberanian sekarang? Atas dasar apa kau mengakui dia sebagai putri mu? Kau sendiri yang bilang Karmila bukan darah daging mu! Karmila bukan anak mu! Atas dasar apa sekarang kau mengatakan semua omong kosong itu?" Ucap count dengan suara yang sangat tegas.
"Sudah! Sudah! Sekarang kau keluar dari rumah ku! Pergi kau sekarang!" Count lantas mengusir baroness dengan sangat kasar dan tanpa bekas kasihan.
"Enggak ! Enggak! Aku mau ketemu putri ku! Aku enggak mau pergi!" Baroness dengan sekuat tenaga menolak pengusiran yang di lakukan oleh count.
Count lantas mulai mendorong tubuh Baroness agar baroness pergi dari kediamannya.
"Tidak! Aku bilang tidak! Pergi kau sekarang!" Teriak count sambil mendorong baroness.
Baroness semakin gencar dan sekuat tenaga dia bertahan di tempat dia berdiri.
Count lantas berteriak memanggil penjaga ,"Penjaga! Penjaga!" Teriak count dengan sangat keras.
Baroness tak tinggal diam, dia juga berteriak memanggil putrinya, "Karmila! Karmila!" Teriak baroness dengan sangat keras.
Datanglah 2 orang penjaga menghampiri count dan baroness, count lantas memerintahkan kedua penjaga itu untuk mengusir Baroness.
Kedua penjaga itu lantas saling memandang satu sama lain lantaran tak berani untuk mengusir baroness dikarenakan kedudukan baroness sangat lah tinggi terlebih lagi dia adalah istri dari Baron Dazan.
"Cepat usir wanita ini!" Count lantas berteriak sekali lagi untuk memerintahkan kedua penjaga itu.
Kedua penjaga itu dengan linglung dan takut takut mencoba mengusir Baroness.
"Ada apa ini?" Ucap Karmila yang tiba-tiba saja muncul di hadapan baroness dan count dalam keadaan yang cukup memprihatinkan dengan wajah yang pucat dan terlihat sangat sedih dan lelah.
Mereka semua lantas kaget, tak terkecuali baroness.
Baroness lantas mendekat ke arah Karmila.
"Karmila! Sayang!" Ucap Baroness yang memeluk Karmila dengan sangat erat.
Count Chaseiro sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa ketika hal itu terjadi.
__ADS_1
"Mama! Mama kenapa datang kesini?" Tanpa sadar didepan count Chaseiro, Karmila menerima baroness, ibu kandung yang telah membuangnya.
Count seketika syok dengan hal itu terlebih ketika mendengar Karmila memanggil baroness dengan sebutan mama.
"Karmila!" Count lantas berteriak dengan marah kepada Karmila.
Kedua penjaga itu lantas berinisiatif pergi dari tempat itu dan tak ingin berada dalam drama keluarga ini.
Mendengar teriakan count, Karmila lantas terkejut dan langsung melepaskan pelukan dari Baroness dengan perasaan campur aduk dan merasa takut.
Count lalu berjalan mendekat ke arah Karmila dan Baroness"Karmila! Kenapa kamu bisa memanggil dia dengan sebutan mama? Dia tidak pantas kamu panggil seperti itu!" Ucap count dengan wajah penuh kebencian.
Jantung Karmila berdetak sangat kencang dan hanya bisa terdiam karena tak tahu harus mengatakan apa kepada count Chaseiro.
"Kenapa kamu diam? Apa yang sebenarnya kamu pikirkan Karmila? Wanita ini bukanlah ibu kamu!" Count menegaskan kepada Karmila bahwa baroness yang tak lain adalah wanita yang saat ini berdiri di depan mereka bukanlah ibu kandung Karmila.
"Apa salahnya? Apa salahnya dia memeluk ibunya sendiri?" Baroness lantas mengeluarkan suara untuk membela Karmila dan dirinya sendiri.
"Diam! Aku tak berbicara dengan mu!" Teriak count chaseiro dengan sangat menakutkan.
"Maafkan aku papa! Maaf!" Karmila hanya bisa meminta maaf kepada count chaseiro.
"Tidak nak! Tidak! Kamu tidak perlu meminta maaf! Tuan count yang terhormat! Chae, karmila itu putri ku! Aku ibunya! Tidak ada salahnya seorang ibu berpelukan dengan anak kandung nya sendiri!" Ucap baroness dengan sangat serius dan tanpa sengaja memanggil nama kesayangan yang pernah dia buat untuk count.
Mendengar hal itu, count langsung menarik tangan baroness dengan sangat kencang dan sangat kasar.
Baroness merasa sangat kesakitan dengan hal itu, akan tetapi count sama sekali tidak peduli, count menarik keras baroness untuk keluar dari kediamannya.
Karmila juga sangat syok melihat kemarahan ayahnya, dia juga tak bisa berbuat banyak melihat ibunya di usir oleh ayahnya.
"Sekarang pergi lah dan jangan pernah sesekali menginjakkan kaki di rumah ku!" Ucap count kembali menegaskan kepada Baroness agar tidak pernah datang ke tempatnya.
Setelah mengucapkan hal itu, count lantas pergi dari hadapan baroness.
"Aku tahu Karmila sedang hamil karena itu aku datang ke sini!" Teriak baroness dengan merasa kesakitan.
__ADS_1