
Di sisi lain, Morona lantas memanggil asistennya Vito untuk membahas apa yang sudah terjadi dan tentunya menentukan langkah selanjutnya yang harus dia ambil.
"Anda memanggil saya yang mulia?" Ucap Vito yang sudah berada di dalam kamar Morona.
"Tapi kenapa anda tidak berbusana yang mulia, apa sesuatu telah terjadi?" Tanya Vito yang menyadari jika Morona sedang tidak mengunakan busana apapun.
"Vito, aku sudah melakukan sebuah kesalahan!" Ucap Morona.
"Apa yang sudah yang mulia lakukan?" Tanya Vito dengan khawatir.
"Barusan terjadi sesuatu, aku mabuk dan menarik Karmila dalam pelukan ku, Anastasia datang dan memergoki kami!" Ucap Morona dengan kebingungan dan khawatir.
"Aku juga binggung bagiamana bisa aku seperti ini, kalau di ingat ingat terakhir aku hanya minum!" Ucap Morona yang merasa kebingungan atas apa yang sudah terjadi kepada dirinya.
Ucapan itu membuat Vito sontak terdiam dan kaget karena dia merasa semuanya sudah dia amankan, bagaimana mungkin ini bisa terjadi.
"Bukankah minuman itu sudah aku ganti! Bagaimana bisa yang mulia mabuk karena sebuah minuman! Huhhh sial!" Ucap Vito di dalam hatinya yang tak terima karena semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya.
"Mohon izin sebelumnya yang mulia, sebenarnya sebelumnya saat acara pertunangan anda masih berlangsung saya memergoki seorang pelayan memasukan serbuk ke dalam minuman anda!" Ucap Vito yang memberitahukan Morona atas apa yang sudah terjadi.
"Apa? Jadi aku benar benar meminum minuman itu? Minuman yang membuat aku menjadi hilang kendali?" Ucap Morona yang sontak saja merasa kaget.
"Tenang dulu yang mulia! Tenang! Saya sudah menyingkirkan minuman itu berserta pelayan yang memasukkan serbuk ke dalam minuman itu!" Jawab Vito.
"Tapi memang sangat membingungkan bagaimana bisa anda tetap menjadi seperti ini padahal jelas minuman itu sudah saya singkirkan! Apa anda yakin sesuatu terakhir sebelum anda hilang kendali adalah karena sebuah minuman?" Ucap Vito yang sangat yakin jika minuman itu sudah dia singkirkan.
"Aku yakin Vito, aku benar benar saat itu minum lalu aku merasa pusing dan......" Ucap Morona yang berusaha keras mengingat apa yang sudah terjadi kepadanya.
"Dan apa yang mulia? Apa anda mengingat sesuatu?" Tanya Vito dengan Morona yang terkesan menggebu-gebu karena dia sangat yakin jika minuman itu sudah dia singkirkan dan seharusnya ini semua terjadi bukan karena minuman itu.
"Aku pergi ke kamar karena merasa sangat pusing dan setelah itu? Aku benar benar tidak mengingat apa apa lagi setelah itu! Bagaimana sekarang Vito? Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Morona dengan khawatir.
__ADS_1
"Apa semua orang mengetahui hal ini yang mulia?" Tanya Vito.
"Tidak, hanya aku, Anastasia, Karmila" jawab Morona.
"Kalau hanya mereka itu sangat mudah yang mulia! Tidak akan terjadi apa apa! Saya tahu apa yang harus kita lakukan!" Ucap Vito dengan penuh keyakinan karena memiliki sebuah rencana.
"Tidak Vito, masih ada satu lagi!" Nyeletuk Morona yang teringat jika masih ada satu orang yang belum dia sebutkan.
"Siapa yang mulia? Siapa?" Sontak saja Vito menjadi kaget dan khawatir.
"Ksatria wanita itu yang wajahnya sangat mirip dengan wanita itu!" Jawab Morona dengan wajah penuh kebencian karena setiap melihat ksatria wanita itu hanya akan mengingatkan dia dengan mendiang ratu Illeana yang sudah meninggal.
"Maksud anda ksatria wanita yang merupakan wakil dari panglima perang? Ana kan?" Tanya Vito.
"Iya" jawab Morona dengan datar.
"Huuhhh! Bagiamana ini? Tapi saya rasa ksatria wanita itu bukanlah ancaman untuk kita yang mulia! Karena dia adalah seorang ksatria dan tugasnya hanya melindungi negara dan mengikuti perintah raja! Jadi anda tenang saja yang mulia!" Ucap Vito dengan penuh keyakinan yang sangat dalam dan paham betul apa tugas seorang ksatria.
"Baguslah jika begitu! Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Morona kepada Vito.
Di sisi lain, Ana saat ini sedang berada di markas ksatria kerajaan, dia lantas menemui Nagara yang saat itu sedang duduk istirahat.
"Ana! Kenapa kau terlihat bahagia? Apa sesuatu telah terjadi?" Tanya Nagara yang menyadari jika pada hari itu Ana terlihat sangat gembira.
"Kau tahu saja jika sesuatu telah terjadi!" Ucap Ana sambil tersenyum.
"Kalau begitu katakanlah apa yang sudah terjadi! Aku juga ingin tahu! Berbagilah!" Pinta Nagara.
Ana lantas berinisiatif duduk di sebelah Nagara dan mulai bercerita tentang apa yang sudah terjadi dan membuat dia bahagia.
"Sebenarnya Karmila dia merencanakan sesuatu tapi hal itu ketahuan oleh asisten raja!" Ucap Ana.
__ADS_1
"Rencana apa?" Tanya Nagara.
"Dia meminta seorang pelayan istana memberikan sesuatu kepada minuman raja, seperti membuat seseorang menjadi hilang kendali dan birahinya meningkat!" Ucap Ana.
"Lalu kalau ketahun berarti gagal kan? Bagaimana bisa kau terlihat bahagia sedangkan itu gagal?" Tanya Nagara.
"Sebenarnya saat pelayan itu tewas di bunuh serbuk yang dia bawa jatuh ke lantai, saat tidak ada orang coba tebak apa yang aku lakukan?" Ucap Ana.
"Kau mengambilnya dan menaruh kembali pada minuman raja!" Jawab Nagara.
"Benar! Memang aku yang memberikan obat itu pada minuman raja!" Jawab Ana dengan bangga.
"Kenapa kau melakukan itu? Bukankah itu sama saja kalau kau mendukung Karmila bersama dengan Morona lagi?" Tanya Nagara dengan keheranan.
"Iya itu memang benar, sebenarnya lady Anastasia juga mengetahui perselingkuhan itu, dia menangkap basah Morona dan Karmila di atas ranjang dengan tak berbusana!" Ucap Ana.
"Sama seperti saat aku dulu!" Ucap Ana di dalam hatinya.
"Sekarang aku paham! Itu bagus sekali! Lain kali ajak aku juga!" Ucap Nagara yang memuji Ana.
"Iya! Tadi itu aku hanya kebetulan saja!" Jawab Ana.
"Tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan, bagiamana bisa Karmila menyuap seorang pelayan untuk menaruh sesuatu pada minuman raja? Aku tahu dia adalah seorang bangsawan, tapi lady Karmila tetaplah seorang bangsawan rendahan, dia tidak punya harta maupun tahta, apalagi untuk menyuap seorang pelayan setidaknya dua membutuhkan uang yang sangat banyak untuk membayar pelayan itu!" Ucap Morona.
Memang benar Karmila seorang bangsawan, tapi pangkatnya sangat rendah dia tidak memiliki harta maupun tahta, sementara hanya orang orang terpilih yang bisa menjadi pelayan di istana karena ketatnya persaingan sudah tentu para pelayan yang di pilih sangat berkualitas, lantas bagaimana caranya Karmila menyuap seorang pelayan, padahal jelas Karmila itu tidak memiliki apapun untuk menarik seseorang ke dalam lingkarannya, seseorang pasti harus berpikir sangat keras jika ingin bekerja sama dengan Karmila.
"Benar juga, apa jangan-jangan Karmila memiliki seseorang di belakangnya? Seseorang yang pasti akan membantunya?" Tanya Ana yang kepikiran dengan ucapan Nagara.
"Bisa jadi, apa sebaiknya kita mencari tahu terlebih dahulu tentang orang itu, agar kita tahu apakah orang itu lawan yang kuat atau tidak? Siapa tahu orang itu adalah orang yang berbahaya! Dan kita juga harus cari tahu hubungan Karmila dengan orang itu!" Ucap Nagara.
"Iya kau benar! Kita harus mencari tahu yang sebenarnya!" Jawab Ana yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Nagara.
__ADS_1
Karmila saat ini sedang berada di kereta kuda dan hendak pergi ke suatu tempat, benar saja dia memilih tidak pulang ke rumahnya melainkan pergi ke rumah Baron Dazan untuk menemui ibunya.
Sesampainya di rumah itu, Karmila lantas di sambut sangat hangat oleh para pelayan dan mereka mengantarkan Karmila menemui baroness di ruang tamu.