Pembalasan Ratu Yang Di Khianati

Pembalasan Ratu Yang Di Khianati
Kekecewaan


__ADS_3

Begitu count masuk ke dalam kamar Karmila, dia langsung terkejut bukan main mendapati kamar yang berantakan dan Karmila yang berada di atas ranjang menangis seperti orang depresi yang sangat dahsyat.


Count lantas bergegas mendekat ke arah anaknya, dia menepuk pundak Karmila dengan lembut ,"Nakkkkk....Karmila......" Ucap count dengan lembut bermaksud menenangkan Karmila.


"Ayahhhhhhh......."Karmila lantas menangis sembari memeluk count, dia menangis sejadi jadinya di pelukan sang ayah.


"Kenapa nak? Kenapa? Apa lagi yang terjadi?" Tanya count yang memprihatinkan.


"Ayah....hiks.....hiks....hiks....." Pertanyaan yang dilontarkan justru semakin membuat Karmila bersedih, air matanya justru mengalir semakin deras dengan rasa sakit dan kepedihan yang dia rasakan saat ini.


Ana yang saat ini masih terus berlatih memanah akhirnya merasa sangat lelah, dia lantas pergi ke danau belakang istana bermaksud untuk menyegarkan diri.


Sesampainya di danau, Ana terkejut mendapati Nagara yang juga berada di danau, Nagara saat itu masih duduk di atas bebatuan sembari memandangi danau istana dengan dalam.


"Kenapa dia ada di sini? Kenapa tatapan dia terlihat kosong seperti sedang sedih?" Pikir Ana dengan heran.


"Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kenapa dia bisa seperti itu? Apa aku hampiri dia saja dan bertanya kepadanya?" Pikir Ana dengan gelisah.


"Ahhhh! Sudahlah aku hampiri saja dia dan aku tanya dia sekalian!" Ucap Ana di dalam hatinya, dia lantas pergi menghampiri Nagara.


Ana lantas menepuk badan Nagara, Nagara lantas menoleh dan menatap Ana dengan tatapan tajam.


"Kenapa dia menatap aku seperti itu?" Ucap Ana di dalam hatinya dengan heran.

__ADS_1


"Nagara! Kenapa kau ada di sini?" Tanya Ana.


Nagara lalu berdiri dan pergi meninggalkan Ana yang tentu saja membuat Ana sangat terkejut dan kaget bukan kepalang karena bagaimana bisa Nagara bersikap dingin dan sangat cuek kepadanya bahkan bisa dikatakan sama sekali tidak memperdulikan dirinya sedikit pun.


"Dia kenapa? Kenapa dia begitu kepada ku? Apa aku ada salah dengannya? Sebenarnya dia kenapa sih?" Ana menjadi tak habis pikir dengan apa yang terjadi saat ini antara dia dengan Nagara.


Ana hanya melihat Nagara melangkah pergi menjauhi dirinya tanpa menoleh ke arah belakang, terlihat jelas wajah Ana sangat sedih karena diperlakukan oleh Nagara seperti itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa apa dan hanya bisa pasrah dan menerima apa yang terjadi kepadanya.


Kini giliran Ana yang duduk di atas bebatuan sembari memandangi danau dengan wajah yang sendu dan tatapan yang kosong, sembari duduk Ana berpikir tentang apa yang terjadi kali ini dia justru berpikir tentang Nagara yang bersikap sangat aneh kepadanya, dia benar benar tak habis pikir tentang Nagara.


"Sebenarnya hari ini kenapa sih? Kenapa dengan Nagara? Kenapa dia sangat aneh hari ini? Aku benar benar tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada hari ini!" Ucap Ana dengan raut wajah yang kebingungan dan gelisah meresah.


"Apa sih? Kenapa hari ini aku sangat sedih dan kecewanya? Kenapa hari ini aku benar benar merasa hampa tak seperti biasanya?" Ucapnya dengan air mata yang tak sengaja menetes jatuh ke tanah.


"Seharusnya aku menemui Nagara dan bertanya kepadanya sekarang, bukan malah bersedih dan menangis seorang diri seperti ini! Ini benar benar bukan caraku untuk bersikap!" Ucap Ana yang masih berusaha untuk kuat dan tegar dalam menghadapi semua masalah yang harus dia hadapi saat ini.


Ana lalu mendekat ke danau, dia lantas melihat wajahnya dari pantulan air yang ada di danau.


"Ana! Ana! Kenapa kau justru malah seperti ini? Padahal kau adalah wanita yang kuat dan pemberani! Kenapa kau malah jadi seperti ini!" Ucap Ana dengan tertawa yang bermaksud menyemangati dirinya sendiri.


Ana lantas membasuh wajahnya yang bermaksud membersihkan wajahnya yang habis menangis, setelah itu dia langsung bergegas pergi menemui Nagara untuk bertanya dengan Nagara.


Ana yang sudah sampai di markas pelatihan tentara kerajaan sama sekali tidak mendapati keberadaan Nagara di sana, Ana lantas berinisiatif bertanya kepada para prajurit istana yang lain tentang keberadaan Nagara.

__ADS_1


"Permisi! Saya izin bertanya!" Sapa Ana yang langsung mengatakan tujuannya tanpa perlu banyak basa basi.


"Iya, salam Ana, ada apa ? Apa anda memerlukan sesuatu?" Semua prajurit baik para pengawal ataupun ksatria istana semuanya sudah mengenal Ana dengan baik, mereka tahu betul siapa Ana, Ana adalah wakil dari panglima mereka, panglima perang kerajaan Adhrika dan Ana adalah satu satunya ksatria wanita dengan pangkat tertinggi dan keamanan kerajaan setelah mendiang ratu Illeana.


"Apa kalian melihat panglima perang? Sang naga hitam?" Tanya Ana secara langsung.


"Tumben kamu bertanya kepada kami, bukankah kamu adalah wakilnya, sudah seharusnya kamu lebih tahu daripada kami tentang keberadaan panglima perang sang naga hitam!" Ucap salah satu ksatria istana.


"Itu benar Ana, anda adalah wakil panglima perang dan juga pemimpin tertinggi Ksatria istana, bagaimana bisa anda menanyakan keberadaannya kepada kami!" Tambah ksatria lainnya.


"Ahhhhh! Aku kan cuma ingin bertanya, kenapa mereka semua malah balik bertanya kepada aku? Benar benar menjengkelkan!" Ucap Ana di dalam hatinya sambil tersenyum kepada seluruh ksatria yang dia tanya.


"Iya kebetulan aku tidak tahu kemana perginya panglima perang sang naga hitam, kebetulan saat ini aku ingin menemui nya tapi aku tidak tahu dia berada di mana, karena itu aku bertanya kepada kalian apakah kalian tahu di mana keberadaan sang panglima naga hitam saat ini?" Ana mencoba bertanya sekali lagi.


"Oh baiklah kalau begitu,maafkan kami sebelumnya,karena kami berpikir kamu sebagai wakilnya sudah seharusnya tahu di mana keberadaan sang panglima perang!" Ucap para ksatria yang seketika meminta maaf kepada Ana karena salah sangka.


"Tidak apa-apa kok, aku juga tidak mempermasalahkan hal itu, jadi sekarang apa kalian tahu di mana keberadaan panglima perang sang naga hitam?" Ana mencoba bertanya sekali lagi kepada para ksatria istana.


"Panglima perang saat ini berada di ruangan tempat berlatih panahan!" Jawab salah satu ksatria istana yang memberitahukan kepada Ana akan keberadaan Nagara.


"Baiklah kalau begitu, aku ucapkan terima kasih karena sudah memberi tahu aku permisi dulu ya aku harus menemui panglima perang karena ada hal yang harus kami bahas dan sekali lagi terima kasih!" Ucap Ana yang langsung pergi bergegas ke ruang panahan untuk menemui Nagara.


Sesampainya Ana di ruang panahan itu, dia terkejut melihat Nagara yang sedang menembakkan anak panah dengan penuh emosi, Ana langsung memanggil Nagara dengan cemas.

__ADS_1


"Nagara!!!!" Panggil Ana dengan suara yang kuat yang sontak saja membuat Nagara seketika berhenti, Nagara lantas menoleh ke arah belakang.


__ADS_2