Pembalasan Ratu Yang Di Khianati

Pembalasan Ratu Yang Di Khianati
Tega


__ADS_3

"Aku tidak akan melakukan nya! Tidak akan pernah!" Teriak Morona dengan suara yang sangat kencang.


Vito tentu saja sangat terkejut dengan hal itu.


"Tapi yang mulia! Ini cara yang sangat ampuh untuk mempertahankan posisi kita! Kita sudah sampai di tahap seperti ini! Kita tidak mungkin mundur dan menghancurkan semua rencana kita! Anda tidak mungkin kan mau rencana kita gagal begitu saja?" Tanya Vito yang berusaha keras untuk meyakinkan Morona melakukan hal yang sangat kejam.


Pranggggggg


Morona lalu memberantaki semua barang barang yang ada di atas meja.


"Vito! Ini benar benar keterlaluan! Ini sangat kejam! Aku tak akan membunuh anak ku lagi!" Teriak Morona kepada Vito dengan suara yang sangat lantang.


Setelah mengatakan hal itu Morona lalu berjalan meninggalkan Vito dengan menutup pintu sangat kencang yang secara tak langsung membanting pintu itu dengan sangat marah.


Vito yang mendengar suara pintu terbanting karena di lakukan dengan sengaja oleh Morona, cukup terkejut dengan hal itu, namun dia memilih untuk diam dan membiarkan Morona pergi.


Di balik jendela ruang kerja raja, ternyata ada seorang wanita yang dari tadi menguping dan mengintip semua hal yang dilakukan oleh Morona dan orang itu tak lain dan tak bukan adalah Ana.


"Jadi dia masih ingin melakukan kekejaman nya lagi! Hmmmmmm!" Ana langsung bergegas pergi dari tempat dia sekarang.


Ana kemudian pergi menghampiri Nagara yang saat ini sedang berada di markas pelatihan ksatria kerajaan yaitu tempat latihan memanah.


Saat itu, hanya ada Nagara seorang diri yang sedang berlatih dengan sangat serius.


"Nagara! Panggil Ana kepada Nagara yang sendang berlatih memanah.

__ADS_1


Nagara yang mendengar suara Ana memanggilnya, dia lantas menghentikan latihan memanahnya dan melihat ke belakang.


Melihat Ana yang datang kepadanya, Nagara tentu saja menghampiri Ana, mereka berdua kemudian duduk dan saling berbicara satu sama lain dengan sangat serius.


"Nagara! Morona kembali bertingkah, dia akan melakukan hal yang pernah dia lakukan kepada ku dulu!" Ucap Ana dengan mata penuh kebencian karena dia mulai flashback ke masa lalu dan teringat tentang dirinya di masa lalu yang sangat menyedihkan.


Nagara yang melihat Ana kembali trauma dengan masa lalu, lantas mencoba menenangkan Ana, dia secara pelan-pelan memegang pundak Ana lalu dia berkata.


"Kamu lihat aku Ana! Tatap mata ku! Enggak papa Ana! Enggak papa! Anak kamu sudah tenang di sana! Kamu tidak pernah gagal menjadi seorang ibu! Ini bukan salah kamu!" Ucap Nagara dengan sangat tulus kepada Ana yang juga mencoba menenangkan Ana yang terlihat sedih.


Tanpa sadar air mata mulai jatuh menetes di wajah Ana dan Ana langsung memeluk Nagara dan menangis sejadi-jadi di pelukan Nagara karena bagaimanapun sebagai seorang ibu, Ana tetaplah akan selalu merindukan dan merasa bersalah atas kematian anaknya itu.


Nagara dengan hangat menerima dan memeluk Ana yang menangis di pelukannya, tak selang beberapa lama Ana menangis, dia mulai menghapus air matanya dan tak ingin teringat hal hal yang sudah berlalu, dia mulai untuk kembali bersemangat membalaskan dendam nya.


"Maaf ya aku menangis lagi! Aku seharusnya tak seperti ini! Maafkan aku karena aku selalu saja seperti ini! Padahal semuanya sudah lewat! Semua yang sudah membuat aku menderita, penghianatan yang mereka lakukan tak akan pernah aku maafkan!" Ucap Ana dengan menggerutu dengan sorot mata penuh kebencian yang sangat tajam dan menakutkan.


"Biarkan saja! Biarkanlah dia membunuh anaknya sendiri! Lagipula Karmila juga ikut campur dan karena dia juga anak ku mati! Jadi kalau dia juga kehilangan bayi nya juga, aku tidak peduli karena Morona juga pasti tak akan membiarkan anak itu menjadi penghalang untuknya!" Jawab Ana dengan sangat serius dan suasana menjadi cukup tegang karena Ana kali ini bersikap cukup kejam.


"Bagus Ana! Aku tahu kau tak selemah itu!" Ucap Nagara yang merasa bangga dengan apa yang Ana ingin lakukan.


"Maksud mu?" Tanya Ana yang tak paham dengan maksud ucapan Nagara.


"Maksud ku aku berpikir karena apa yang pernah kau alami kau tak akan membiarkan wanita lain yaitu Karmila merasakan hal yang sama! Tapi ternyata tidak, kau melakukan hal yang benar kepada manusia seperti mereka yang sama sekali tidak pantas untuk di kasihani!" Ucap Nagara sambil tersenyum bangga dengan Ana.


Mendengar hal itu, Ana hanya tersenyum kepada Nagara.

__ADS_1


"Tapi kenapa aku merasa ini hak yang salah yaa? Apa yang aku lakukan aku benar? Anak itu akan mengalami nasib yang sama seperti anak ku!" Ucap Ana di dalam hatinya dengan sangat bimbang akan keadaan yang dia hadapi saat ini antara dendam kebencian dan rasa kasih sesama wanita yang akan kehilangan anak.


"Ahhh sudahlah! Lupakan! Lagian benar yang di katakan oleh Nagara, atas dasar apa aku harus mengasihani manusia seperti mereka! Yang jelas adalah manusia yang sangat kejam dan tak memiliki hati!"


"Lagian sudah sewajarnya dan sudah seharusnya dia mendapatkan karma! Morona sebenarnya terbuat dari apa hatimu itu? Mau benar benar tega dan sangat tidak memiliki sampai-sampai kau dengan tega menghabisi nyawa anak mu sendiri?"


Semua ucapan itu, di ucapkan oleh Ana di dalam hatinya.


Malam mulai tiba, matahari mulai tenggelam dan bulan mulai menampakkan dirinya.


Morona saat ini sedang berada di dalam kamarnya dalam keadaan yang cukup kebingungan.


Morona benar benar binggung untuk apa yang harus dia lakukan saat ini, di tambah lagi dia mendapatkan sebuah surat yang di kirim oleh Marquez de Silva yang di peruntukan untuk nya.


Morona membuka dan membaca surat itu yang membuat dia menjadi sangat terkejut dan sangat binggung bercampur rasa takut.


Dalam surat itu berisikan pertanyaan pertanyaan dari Marquez kepada Morona akan alasan yang membuat putrinya kembali dan apa masalah yang mereka hadapi saat ini karena mereka pasti memiliki masalah dan Marquez juga meminta kepada Morona, jika sampai masalah mereka adalah masalah perselingkuhan dan Morona menyakiti hati Anastasia, maka Marquez tak segan-segan akan menari sejumlah dana yang dia sumbangkan kepada Morona.


"Ahhhh! Siallll!" Morona dengan sangat marah dan penuh emosi lantas merobek kertas itu.


"Kau harus bagaimana sekarang? Tidak mungkin aku mengaku dan membiarkan Marquez mengetahui tentang kehamilan Karmila! Aku akan menjadi raja termiskin di dunia ini!" Morona mulai putus asa dan pasrah dengan keadaan saat ini.


"Vito! Iya Vito! Aku harus mencari Vito sekarang! Aku harus menemui ya!" Morona lantas bergegas pergi menghampiri Vito yang saat ini sedang berada di ruang rahasia mereka.


Saat sampai, tanpa banyak basa-basi, Morona lalu berbicara dengan Vito.

__ADS_1


"Vito ! Jalankan rencana mu!" Ucap Morona.


__ADS_2