Pembalasan Ratu Yang Di Khianati

Pembalasan Ratu Yang Di Khianati
Failed


__ADS_3

Karmila lantas meminum air tersebut dengan sekali segukan yang terasa sangat nikmat.


"Huuh segarnya!" Ucap Karmila.


Morona yang awalnya sangat deg degan karena khawatir Karmila akan merasa kesakitan justru terkejut karena Karmila tidak bereaksi apa-apa setelah meminum minuman tersebut.


"Kok aneh sih? Seharusnya dia merasa kesakitan kan? Kenapa dia tidak bereaksi apa-apa?" Pikir Morona dengan sangat binggung.


Karmila yang melihat Morona kebingungan lantas bertanya kepada Morona.


"Yang mulia! Yang mulia raja!" Panggil Karmila kepada Morona yang tampak binggung.


"Iya!" Jawab Morona yang sedikit terkejut.


"Ada apa yang mulia? Kenapa anda tampak binggung? Apa ada sesuatu yang mengganjal di hati anda?" Tanya Karmila yang penasaran dengan Morona.


"Owh tidak kok! Tidak ada apa-apa!" Jawab Morona yang berusaha mengelak.


"Aneh sekali! Seharusnya racun itu bereaksi! Kenapa justru tidak ada reaksi sama sekali? Ini pasti salah! Pasti salah!" Ucap Morona di dalam hatinya yang berusaha meyakinkan dirinya sendiri jika racun itu pasti bereaksi.


"Racun itu pasti bereaksi! Vito tidak mungkin salah! Dia selalu melakukan tugas dengan sangat baik! Tidak mungkin dia melakukan sebuah kesalahan! Ini pasti salah! Sebentar lagi dia pasti akan merasa kesakitan!" Ucap Morona di dalam hatinya dengan sangat yakin yang lebih terkesan berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Tidak lama kemudian, Karmila mulai merasa tidak nyaman dengan tubuhnya, dia lantas permisi kepada Morona untuk pergi ke kamar mandi karena merasa tidak nyaman.


"Maaf yang mulia, saya permisi dulu ya! Saya izin ke toilet sebentar!" Pinta Karmila dengan wajah yang cukup panik.


"Baiklah!" Jawab Morona dengan senang karena dia merasa racun itu sedang bereaksi dengan tubuh Karmila sehingga menyebabkan Karmila merasa tak nyaman.

__ADS_1


Karmila lalu pergi meninggalkan Morona seorang diri, ketika Karmila pergi Morona lantas tersenyum merasa bangga karena dirinya berhasil menjalankan rencana apalagi ketika Karmila tidak kembali ke ruang kaca dalam waktu yang cukup lama, hal itu membuat Morona semakin yakin jika Karmila pasti sudah kehilangan bayinya.


Tapi sayangnya hal itu seketika sirna ketika Karmila kembali ke ruang kaca dalam keadaan baik-baik saja.


"Karmila!" Sontak saja Morona menjadi kaget dengan hal itu.


"Iya! Ada apa yang mulia? Kenapa anda terlihat sangat terkejut? Apa ada salah?" Tanya Karmila yang heran dengan sikap dan tingkah Morona.


"Kau? Kau baik-baik saja? Tidak terjadi masalah apa apa?" Tanya Morona kepada Karmila yang terkesan sangat aneh.


"Saya baik baik saja yang mulia ! Saya tidak apa apa! Ada apa sih yang mulia? Kenapa anda bisa bertanya seperti itu kepada saya?" Sontak saja Karmila menjadi binggung dengan pertanyaan pertanyaan yang di lontarkan oleh Morona kepadanya.


"Kenapa pertanyaan nya seperti berharap aku kenapa kenapa? Apa jangan-jangan?" Karmila mulai kepikiran yang aneh aneh tentang Morona karena curiga dengan tingkah Morona yang dari tadi sangat aneh.


"Apa jangan jangan dia merencanakan sesuatu untuk ku? Apa jangan jangan dia berniat membunuh ku atau bayi yang ada di dalam kandungan ku?" Pikir Karmila dengan sangat cemas dan takut terjadi sesuatu kepadanya ataupun bayi yang ada di dalam kandungan nya.


"Astaga! Bagaimana ini? Dia tidak mungkin tahu kan tentang rencana ku? Aku takut dia curiga dengan aku!" Ucap Morona di dalam hatinya yang merasa panik dan khawatir.


"Patut di curigai! Tapi tidak mungkin lah yang mulia punya niat seperti itu kepada ku apa lagi kepada bayi ku! Darah dagingnya sendiri!" Pikir Karmila yang berusaha menepis kecurigaannya terhadap Morona.


"Owh baiklah kalau begitu yang mulia, saya pikir kenapa? Ternyata anda mengkhawatirkan keadaan saya dan bayi saya!" Jawab Karmila sambil tersenyum kepada Morona.


"Sepertinya dia percaya dengan ku, dia tidak mungkin mencurigai aku lagi!" Pikir Morona.


"Iya tentu saja Karmila!" Jawab Morona dengan perasaan lega.


"Owh iya yang mulia, anda janji akan bertanggung jawab dengan anak kita? Anda akan menikahi saya kan?" Karmila lantas bertanya kepada Morona tentang pertanyaan yang dia sebenarnya ingin tanyakan dari tadi.

__ADS_1


"Owhhhh itu...itu..." Morona lantas binggung untuk menjawab pertanyaan Karmila tersebut, karena dia sama sekali tidak kepikiran d egan hak tersebut.


"Itu apa yang mulia? Anda akan bertanggung jawab kan? Anda sendiri mengatakan akan bertanggung jawab di surat anda! Anda tidak mungkin ingkar janji apalagi berbohong kan yang mulia?" Karmila mulai mencerca dan menuntut Morona atas apa yang sudah Morona perbuat kepada dirinya.


"Aku......." Morona ingin sekali menjawab semua pertanyaan Karmila, dia juga merasa tidak terima ketika Karmila mencerca dirinya, tapi apalah daya dia sama sekali tak bisa menjawab semua pertanyaan Karmila dan hanya bisa terdiam dengan hal itu.


"Yang mulia! Saya harap anda tidak ingkar dengan janji anda! Lupakan tentang rencana anda menjadikan saya ratu kedua! Anda jangan lupa dengan semua janji kita di masa lalu! Jangan lupa dengan rencana kita! Saya masih punya kendali penuh atas semua yang terjadi di masa lalu!" Ucapan itu seakan mengancam Morona.


"Baiklah kalau begitu saya permisi! Saya pamit dulu!" Setelah mengatakan hal itu, dengan bangga Karmila lantas pergi meninggalkan Morona seorang diri yang masih berada di ruangan kaca.


Sementara Morona hanya diam duduk terpaku ketika mendengar ancaman dan kepergian dari Karmila.


Karmila dengan sangat bangga dan sangat percaya diri pergi dari istana itu.


Morona yang sangat syok lantas pergi menemui Vito dengan cukup panik, Vito yang melihat Morona dalam keadaan panik tentu saja sangat terkejut.


"Ada apa yang mulia? Apa yang sudah terjadi?" Tanya Vito dengan binggung.


Morona langsung menarik tangan Vito dan membawanya menuju ruang rahasia mereka untuk berbicara hal yang serius, saat sampai di dalam ruangan itu, Morona langsung berbicara kepada Vito terkait rencana mereka yang gagal total.


"Vito! Rencana kita! Rencana kita gagal!" Ucap Morona.


"Apa? Bagaimana bisa? Itu tidak mungkin!" Vito yang mendengar hal tersebut tentu saja tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Morona karena dia yakin betul jika rencana mereka pasti akan berhasil.


"Faktanya rencana kita gagal! Dia justru baik-baik saja setelah meminum minuman yang sudah kau beri racun! Kenapa kita bisa gagal Vito?" Tanya Morona dengan kesal karena semuanya tak berjalan dengan sesuai rencana.


Di tempat lain, tampak Ana yang sedang membuang sebotol air yang berisikan cairan berwarna hitam pekat.

__ADS_1


__ADS_2