
Tentu saja Morona sangat takut dan khawatir apabila Marquez mengetahui tentang segalanya yang terjadi saya ini, dia pasti akan hancur sehancur hancurnya.
"Saya tahu itu yang mulia dan saya juga tahu jika lady Anastasia pasti tidak akan membiarkan hal yang buruk menimpa anda!" Ucap Vito yang berusaha menyakinkan Morona dan menenangkan Morona yang terlihat sangat panik.
Morona hanya menghela nafas.
"Lalu apa lagi yang di katakan oleh lady Anastasia kepada anda?" Tanya Vito yang ingin tahu dan tentu saja penasaran dengan kelanjutannya.
"Anastasia bilang kepada ku agar aku menyelesaikan semua masalah ini sebelum hari pernikahan kami! Dia ingin semuanya selesai sebelum kami menikah!" Ucap Morona yang tampak murung dan mengeluh.
"Hmmmm!" Vito menghela nafas dan mulai berpikir dengan sangat keras.
"Apa yang harus aku lakukan Vito? Bagaimana aku harus menyelesaikan semua ini? Apa yang harus ku perbuat?" Tanya Morona.
Morona seperti orang dangkal yang tak punya pemikiran sendiri ataupun rencana yang matang karena jika di pikirkan selama ini dia selalu meminta asistennya yaitu Vito untuk menyelesaikan dan membuat rencana untuk semua masalah yang dia hadapi.
"Pernikahan anda kan masih 3 bulan lagi, masih ada waktu untuk kita menyelesaikan semua ini! Anda tenang saja yang mulia, kita pasti bisa menyelesaikan semua masalah yang terjadi saat ini!" Ucap Vito dengan cukup santai, tapi terlihat sangat yakin jika dia selalu berhasil dan tak akan pernah sekalipun gagal, meskipun sebenarnya dia baru saja mengalami kegagalan yang sangat di luar logika.
"Apa pun itu Vito! Masalah ini tetap harus di selesaikan! Rencana kita bisa saja gagal lagi seperti dulu!" Ucap Morona yang sangat khawatir.
"Kegagalan kita terjadi karena campur tangan orang lain dan tentunya orang lain itu pasti tahu rencana kita karena itu kita gagal! Tapi beda halnya jika orang itu tidak ada! Penyusup itu tidak ada! Kita harus basmi penyusupnya terlebih dahulu!" Ucap Vito dengan sangat santai dan sangat yakin dan itu sangat bertolak belakang dengan Morona yang terlihat sangat panik dan khawatir.
Di kediaman count chaseiro, terlihat seorang pria tua yang tak lain adalah count chaseiro sedang fokus membaca semua dokumen yang berada di atas meja nya.
Kemudian datanglah baronnes yang masuk ke dalam ruangan kerja count chaseiro dengan tampilan yang sangat menggoda.
__ADS_1
"Hai Chaseiro!" Panggil baronnes dengan suara yang lembut.
Baroness semakin hari semakin berani untuk berbicara dengan count dia bahkan sudah santai dan biasa saja ketika menghadapi count begitu juga dengan count yang mulai terbiasa dan menerima kehadiran baroness.
"Hai!" Jawab Count chaseiro dengan ketus dan terkesan cukup dingin.
"Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau sangat sibuk?" Tanya baronnes yang berbasa-basi dengan count chaseiro.
"Lihat saja sendiri! Anda kan punya mata! Anda lihat saja sendiri!Saya punya banyak pekerjaan!" Jawab count chaseiro dengan sangat ketus tapi entah kenapa sebenarnya count chaseiro seakan tak bisa menolak kedatangan mantan istrinya itu.
"Baiklah kalau begitu! Maaf menggangu anda! Saya permisi dulu!" Jawab Baroness dengan pasrah.
Ketika Baroness berbalik dan hendak pergi meninggalkan count, count lalu berbicara kepada Baroness.
"Kenapa dia tiba-tiba berbicara seperti ini? Apa dia sengaja agar aku sadar dengan kesalahan ku di masa lalu? Apa jangan-jangan sebenarnya dia masih mencintai ku dan masih menyimpan rasa yang begitu besar untuk ku sampai titik ini?" Tanya baronnes di dalam hatinya yang merasa jadi tak nyaman setelah mendengar kan ucapan count chaseiro yang menyindir dirinya secara halus.
"Apa maksud mu berbicara seperti itu kepada ku? Apa kamu sedang menyindir ku?" Tanya baronnes yang merasa kesal dan tak nyaman.
"Entahlah! Seseorang seharusnya sadar dengan kesalahannya! Dia yang berjanji tapi dia juga yang mengingkari!" Ucap count sambil tersenyum tipis yang terlihat cukup menyeramkan menurut baroness.
"Sebenarnya apa yang sedang dia katakan? Dia seperti sengaja mengatakan hal itu untuk membuat aku kesal dan marah?" Pikir Baroness.
Baroness lantas berusaha menjawab pertanyaan itu, namun ketika hendak berbicara, count kembali lagi berbicara seakan tak membiarkan baronnes untuk mengeluarkan suara.
"Lucunya dia pergi meninggalkan pria itu bersama dengan anak nya yang baru lahir hanya karena tak terbiasa hidup dengan kemiskinan, padahal dia sendiri dia bilang kalau dia sanggup untuk hidup bersama pria miskin itu apapun keadaannya!" Ucap count dengan sorot mata yang sangat tajam dan serius menatap wanita di depannya.
__ADS_1
"Dan kemudian setelah 25 tahun, dia kembali dan mengakui putrinya padahal jelas putrinya dulu tidak dia akui sebagai anak! Sangat lucu kan?" Ucap count yang terus-menerus membaut Baroness kesal.
Ketika count hendak berbicara lagi dan lagi, baronnes sudah terlebih dahulu kesal dan sangat marah dengan keadaan, tanpa berkata apa apa lagi, Baroness lalu berbalik pergi meninggalkan count seorang diri dengan sangat kesal dan marah karena merasa ucapan count itu keterlaluan, padahal jika dipikir-pikir apa yang di lakukan oleh count itu sangat lah wajar atas semua yang pernah di perbuat oleh Baroness di masa lalu.
Count hanya diam dan menatap kepergian baronnes dengan ekspresi yang cukup dingin dan cukup kesal, akan tetapi dari matanya terlihat jelas terdapat sebuah harapan yang sangat sedih.
1 Minggu kemudian
Morona yang saat itu berada di dalam ruangan kerjanya yang seperti biasa melakukan rutinitas nya sebagai seorang raja yang membaca dan menandatangani berbagai dokumen persetujuan.
Tiba-tiba saja seorang wanita dari istana ratu datang menghampiri nya.
Tok Tok Tok Tok Tok Tok
Bunyi ketukan pintu
"Masuk!" Perintah Morona.
Pintu terbuka dan masuk lah dua orang wanita yang tak lain adalah pelayan yang berasal dari istana ratu.
"Ada apa? Ada perlu apa sampai kalian harus menemui saya?" Tanya Morona yang kebetulan saat ini sedang memiliki pekerjaan yang cukup banyak yang harus dia kerjakan.
"Mohon ampun yang mulia! Kami berdua berasal dari istana ratu datang ke sini untuk menyampaikan perintah yang mulia lady Anastasia untuk anda!" Ucap kedua pelayan itu dengan penuh sopan dan hormat kepada Morona.
"Apa? Apa yang ingin di sampaikan oleh Anastasia sampai harus memerintahkan kalian berdua untuk datang menemui ku?" Tanya Morona.
__ADS_1