Pembalasan Ratu Yang Di Khianati

Pembalasan Ratu Yang Di Khianati
Berlebihan


__ADS_3

Di kediaman count chaseiro, terlihat count yang tampak cemas seraya menunggu kepulangan putrinya Karmila.


Sudah hampir 1 jam count mondar mandir di depan kamarnya dengan perasaan yang sangat cemas memikirkan Karmila.


"Bagaimana ini? Bagaimana Karmila? Bagaimana keadaan putri ku saat ini? Apa dia baik baik saja?" Pikir count yang sangat khawatir dengan mondar mandir sejak dari tadi.


"Karmila! Karmila! Kamu di mana nak?" Count terus saja mondar mandi ke sana kemari di dalam kamar nya lantaran khawatir memikirkan keadaan Karmila dengan sangat panik.


"Semoga tidak kenapa kenapa! Papa yakin kamu baik-baik saja saat ini! Tapi kenapa kamu belum pulang juga dari tadi?" Pikir count yang sangat cemas.


Tok Tok Tok Tok Tok Tok


Bunyi ketukan pintu


Langkah kaki count seketika terhenti ketika mendengar suara ketukan, dia lalu pergi membukakan pintu.


"Maaf menggangu tuan count, saya ingin melapor jika lady Karmila sudah kembali!" Ternyata orang yang datang adalah seorang pengawal yang bekerja untuk count chaseiro.


Dia datang menemui count untuk melaporkan jika Karmila sudah kembali.


Mendengar hal itu, count lalu buru buru keluar dari kamarnya untuk menemui Karmila.


"Papa!" Panggil Karmila dengan riang gembira.


Count yang melihat Karmila berada di hadapannya, langsung mendekat dan mengecek keadaan Karmila lantaran takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Karmila.


"Karmila! Kamu tidak apa apa kan? Tidak terjadi sesuatu kepada mu kan?" Ucap count dengan panik seraya memeriksa keadaan Karmila dengan sangat rinci dan teliti.

__ADS_1


"Aku baik baik saja kok! Papa kenapa sih? Kenapa papa memeriksa keadaan ku sampai seperti ini?" Lirih Karmila yang merasa risih dan aneh melihat count yang terlihat terlalu berlebihan.


"Kamu enggak papa kan nak? Enggak sakit kan? Enggak ada yang sakit kan?" Tanya count dengan sangat tegang sembari memegang tubuh putrinya itu.


"Aku enggak papa! Aku baik baik saja! Tolong papa jangan kayak gini! Papa enggak perlu mengkhawatirkan keadaan aku sampai seperti ini!" Pinta Karmila yang merasa takut dengan apa yang di lakukan oleh count yang sangat tidak biasa.


"Syukurlah kalau kamu enggak papa, papa khawatir sama kamu, papa takut kamu kenapa kenapa! Papa takut terjadi sesuatu dengan kamu!" Ucap count dengan sangat tulus yang terlihat jelas jika dia sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya.


"Papa tolonglah aku enggak kenapa kenapa! Papa jangan khawatir berlebihan kayak gini! Papa bikin aku takut!" Pinta Karmila dengan memohon karena tidak biasanya count chaseiro bersikap berlebihan seperti itu kepada dirinya.


"Maaf kan papa! Papa cuma khawatir dengan mu! Maafkan papa karena membuat kamu dan bayi mu merasa takut!" Count jadi merasa bersalah atas kepanikan yang sudah dia ciptakan.


"Iya enggak papa kok paa! Lain kali tolong jangan seperti ini yaa paa!" Ucap Karmila kepada count.


"Iya nak, maafkan papa ya! Tapi apa semuanya baik baik saja? Tidak ada yang aneh kan saat kamu berada di sana?" Tanya count yang masih belum bisa menghilangkan rasa curiganya.


"Papa terlihat sangat khawatir dengan aku, apalagi kalau dia sampai tahu hal ini, dia pasti akan semakin khawatir dengan keadaan ku!" Pikir Karmila dengan sangat hati-hati.


"Aku tidak boleh memberitahukan dia tentang semua yang aku alami! Dia enggak boleh tahu tentang semua itu! Aku tidak boleh memberitahukannya!" Ucap Karmila di dalam hatinya dengan sangat yakin untuk tidak memberitahukan apa yang terjadi kepadanya.


"Karmila! Karmila!" Panggil count lantaran Karmila hanya diam saja


"Iya! Enggak kok paa! Enggak ada apa apa! Semuanya aman dan berjalan lancar!" Jawab Karmila dengan sedikit gugup.


"Apa benar seperti itu? Apa kamu yakin?" Tanya count sekali lagi kepada Karmila lantaran masih curiga.


"Iya paa! Enggak ada apa apa kok! Papa kok jadi enggak percaya gini sih sama aku" ucap Karmila dengan marah kepada count lantaran dia sendiri berusaha keras menolak rasa curiga count kepadanya.

__ADS_1


"Iya papa cuman khawatir sama kamu Karmila! Papa cuma takut kamu kenapa kenapa! Tapi apa benar benar tidak terjadi apa apa di sana?" Jawab count yang memang benar sangat khawatir dengan putrinya itu.


"Sudahlah Paa! Aku capek! Aku mau istirahat saja! Aku permisi!" Ucap Karmila yang berusaha mengelak count karena dia yakin jika dia tetap di sana dia hanya akan semakin di cerca oleh count.


Setelah mengucapkan hal itu, Karmila lalu pergi meninggalkan count tanpa melihat ke arah belakang sedangkan count masih berusaha menghentikan Karmila karena masih ada hal yang ingin dia tanyakan, tapi Karmila tidak mempedulikan panggilannya.


"Ya sudahlah! Mungkin dia memang sudah lelah! Biarkan saja Karmila beristirahat!" Pikir count yang menurunkan egonya.


Di istana, tampak Morona yang mulai stress dan memaksa Vito untuk segera mencari tahu siapa orang yang telah mengagalkan rencananya, Vito mulai memanggil beberapa bawahan yang sengaja dia persiapan untuk mengusut tuntas kasus ini.


"Yang mulia! Ini adalah orang yang sangat ahli dalam mencari informasi!" Ucap Vito sambil menunjuk dua orang laki-laki bertubuh besar, berbadan tegap dengan wajah yang agak menyeramkan.


Dua orang pria tersebut lantas memberi hormat kepada Morona selaku raja dari Adhrika.


"Salam yang mulia!" Hormat keduanya.


"Salam! Langsung saja! Kalian benar benar bisa mencari tahu siapa yang selama ini menggangu ku kan?" Tanya Morona yang sudah sangat stress memikirkan hal yang terjadi saat ini.


"Tentu saja, kami pasti bisa menemukan orang yang anda maksud!" Jawab kedua pria itu.


"Aku sudah banyak mempekerjakan orang! Tapi mereka semua sampah dan tak berguna! Mereka tak bisa menemukan orang itu! Jadi aku harap kalian bukanlah sampah ataupun orang tak berguna seperti mereka!" Ucap Morona dengan sorot mata yang tajam dan wajah yang tampak sangat lelah.


"Tenang saja yang mulia! Kami sangat bisa di andalkan dalam hal ini! Kami sangat profesional! Anda tenang saja! Kami akan melakukan pekerjaan ini dengan sangat baik!" Jawab salah satu pria dengan sangat yakin dan sangat percaya diri.


Jawaban pria itu dan rasa percaya diri kedua pria itu membuat Morona menjadi sedikit merasa senang karena dia akhirnya bisa bernafas lega dan merasa yakin jika dia bisa menemukan orang yang selama ini membuat hidupnya tidak tenang.


Ana akhirnya sampai di istana dengan perasaan kecewa karena tak dapat menemukan keberadaan Nagara.

__ADS_1


Saya melewati tempat pelatihan para ksatria, Ana tak sengaja melihat seseorang yang sangat tidak asing sedang duduk memperhatikan para ksatria berlatih pedang dan orang itu tak lain dan tak bukan adalah Nagara.


__ADS_2