Pembalasan Ratu Yang Di Khianati

Pembalasan Ratu Yang Di Khianati
Kecewa Berat


__ADS_3

Di kediaman Marquez de Silva, terlihat Anastasia yang sedang duduk di atas ranjangnya di dalam kamarnya, dia terlihat sangat serius seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Sekarang aku harus bagaimana? Apa iya aku harus terus seperti ini? Apa aku harus terus berdiam diri di sini?" Pikir Anastasia.


"Lagian yang mulia kenapa tidak kunjung datang ke sini untuk menjemput ku?"


"Ehhhh apa sih? Kenapa aku malah berharap yang mulia datang ke sini!"


"Enggak enggak! Enggak mungkin aku biarkan yang mulia datang ke sini dan enggak mungkin juga yang mulia ke sini, karena itu hanya akan membahayakan hubungan kami!"


"Tapi apa iya aku tetap di sini saja? Sampai kapan aku harus diam di sini?" Anastasia mulai merasa gelisah karena sudah beberapa hari ini dia hanya duduk diam di kediaman Marquez de Silva.


"Apa iya aku biarkan istana ratu begitu saja tanpa diri ku? Kenapa aku jadi seperti ini sih?"


"Tapi kalau memang Karmila mengandung anak dari Morona, aku harus bagaimana? Apa aku putuskan hubungan ku dengan yang mulia raja Morona? Atau aku tetap lanjutkan? Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak mau Karmila menjadi ratu! Posisi ratu haruslah menjadi milik ku! Aku tak akan membiarkan dia mendapatkan apa yang dia inginkan! Aku akan merebut semua yang dia inginkan seperti dulu yang pernah dia lakukan kepada ku!" Ucap Ana dengan sorot mata tajam penuh kebencian.


Di markas pelatihan ksatria kerajaan.


"Itu kan Nagara! Kenapa dia justru ada di sini? Padahal sudah dari tadi aku mencari dia ke sana ke sini, bisa-bisanya dia justru ada di sini!" Ana merasa kesal karena sudah dari tadi dia mencari keberadaan Nagara tapi tak kunjung di temukan dan Nagara justru berada di istana.


"Aku samperin enggak yaa? Mana di sini lagi ramai orang! Apa aku biarkan saja! Apa aku hampiri dia?" Pikir Ana dengan sangat hati-hati untuk menghampiri Nagara atau tidak.


"Aku hampiri saja deh! Aku harus coba jelaskan dengan Nagara kalau ibu semua hanya salah paham! Aku harus menghampiri nya dan berbicara kepadanya!" Pikir Ana dengan penuh keyakinan.


Nagara sadar jika Ana sedang melihat dan memperhatikan dia dari kejauhan, tapi Nagara bersikap acuh dan sama sekali tak melihat ke arah Ana, sebaliknya dia membuang wajahnya.

__ADS_1


Dengan tekad yang kuat, Ana lantas menghampiri Nagara untuk berbicara kepada Nagara, tapi seperti yang di perkirakan, Nagara benar benar mengacuhkan Ana dan tak memperdulikan keberadaan Ana sama sekali.


Nagara mencoba duduk di sebelah Nagara dan mulai memanggil Nagara.


"Nagara!" Panggil Ana dengan suara yang lembut.


Nagara mendengar suara itu, namun Nagara mengacuhkannya dan tak memperdulikan Ana yang berada di sampingnya.


"Nagara! Nagara! Nagara!" Ana kembali mencoba memanggil Nagara secara berulang-ulang.


"Nagara kenapa sih? Apa dia enggak dengar aku memanggil nya? Apa suara ku terlalu kecil? Tapi perasaan suara ku sudah cukup keras! Tapi kenapa Nagara tidak merespon ku?" Ucap Ana di dalam hatinya dengan binggung dan resah.


"Nagara! Nagara!" Ana kembali mencoba memanggil Nagara dengan suara yang cukup keras sehingga orang orang di sekitar itu dapat mendengar suara Ana.


Para ksatria yang sedang berlatih lantas melihat ke arah Ana dan Nagara yang terkuat sedang perang dingin, mereka jadi bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya terjadi dia antara Nagara dengan Ana, Nagara yang saat itu masih berusaha terlihat serius dengan menggunakan baju besinya menjadi tak fokus dan merasa canggung ketika semua orang memperhatikan dirinya.


Sebaliknya hal itu justru membuat Ana menjadi semangat karena dengan begitu Nagara pasti tidak akan mengacuhkan lagi, Ana pun kembali memanggil manggil Nagara dengan suara yang cukup keras yang membuat orang orang di sekitar mendengar suara Ana dan memperhatikan mereka berdua.


Nagara pada akhirnya dengan enggan menarik tangan Ana dan membawa Ana pergi ke tempat sepi dikarenakan tak nyaman dengan orang orang yang berada di sekitarnya.


Sesampainya di lorong, Nagara lalu melepaskan tangannya dan langsung bertanya dengan sangat dingin kepada Ana.


"Katakanlah! Apa yang ingin kau katakan kepada ku!" Ucap Nagara dengan sangat ketus.


"Aku.... Aku mau minta maaf!" Jawab Ana dengan sangat gugup dan hati-hati.

__ADS_1


"Apa? Minta maaf? Minta maaf untuk apa?" Tanya Nagara yang sudah terlanjur kecewa dan sakit hati dengan apa yang sudah di lakukan oleh Ana.


"Maafkan aku Nagara! Maafkan aku! Maafkan untuk semua yang sudah aku lakukan!" Jawab Ana dengan sangat tulus dengan penuh harapan Nagara mau memaafkan dirinya.


"Apa salah mu? Apa kau sendiri tau di mana letak kesalahan yang sudah kau perbuat?" Tanya Nagara.


Ana tampak binggung dan kewalahan untuk menjawab pertanyaan Nagara.


"Kamu sendiri tidak tahu kan atas apa yang kamu perbuat? Lantas bagaimana cara mu bisa meminta maaf dengan ku?" Terlihat jelas jika Nagara begitu kecewa dengan Ana.


"Aku tahu aku salah! Aku minta maaf! Aku minta maaf untuk semua yang sudah ku lakukan!" Ucap Ana dengan memohon untuk di maafkan.


"Iya kau mau minta maaf atas apa? Sudahlah aku lelah! Aku capek berbicara dengan mu!" Ucap Nagara yang sudah terlanjur lelah dan sangat kecewa akan apa yang sudah di lakukan oleh Ana.


Nagara mulai mengalihkan pandangannya dan berjalan pergi meninggalkan Ana.


Ana lantas berusaha menghentikan langkah kaki Nagara, dia lalu berbicara akan isi hatinya yang sebenarnya terkait apa yang sudah dia perbuat.


"Nagara!" Panggil Ana dengan suara yang cukup berat.


Langkah kaki Nagara pun terhenti dan terdiam di tempat.


"Aku tahu Nagara aku salah! Tapi itu hanya salah paham! Aku hanya tak bisa membiarkan bayi itu bernasib sama seperti bayi ku, biar bagaimanapun anak yang ada di dalam kandungannya tidak berdosa! Anak itu berhak lahir ke dunia ini! Aku tidak mungkin membiarkan hal yang sama terjadi seperti kepada bayi ku! Aku tak bisa Nagara! Aku tak bisa melakukan itu!" Ana mulai berbicara dengan air mata yang menetes jatuh dari wajahnya karena tak sanggup bercerita jika mengingat akan bayinya yang sudah mati.


Setelah mendengar semua ucapan Ana, Nagara memilih tetap pergi meninggalkan Ana tanpa menoleh ke arah belakang.

__ADS_1


Ana lalu terjatuh lemas ke lantas dan menangis terisak-isak karena merasa sangat sedih dan sakit hati.


Tanpa di sadari Ana, di balik tembok di lorong itu, terdapat seorang wanita yang sejak tadi memperhatikan semua yang dia bicarakan dan lakukan dengan Nagara.


__ADS_2