Pembalasan Ratu Yang Di Khianati

Pembalasan Ratu Yang Di Khianati
Dilema


__ADS_3

"Baguslah kalau begitu! Ayo kita kembali karena hari sudah mulai larut!" Ajak Nagara kepada Ana.


"Baiklah kalau begitu!" Ucap Ana dengan raut wajah yang agak binggung, Ana merasa gundah dan resah akan suatu hal.


Mereka kemudian kembali ke markas ksatria kerajaan dengan menunggangi kuda mereka masing-masing yang memiliki kecepatan tinggi.


Setelah sampai di markas para ksatria, Nagara tak lupa berpamitan dengan Ana, sebelum dia pergi ke kamarnya, Nagara tak lupa meminta Ana untuk segera beristirahat karena Nagara sangat perhatian kepada Ana.


"Kita sudah sampai, kalau begitu aku permisi dulu, tapi sebelum itu kau jangan lupa untuk segera langsung membersihkan dirimu dan istirahat yang cukup!" Ucap Nagara dengan sangat perhatian kepada Ana.


"Iya aku tahu kok, kau juga ya Nagara, istirahat lah!" Jawab Ana kepada Nagara.


"Baiklah kalau begitu aku permisi, ingat ya dengan pesan ku tadi untuk segera membersihkan diri dan istirahat!" Ucap Nagara sekali lagi yang sangat perhatian dan mengkhawatirkan keadaan Ana.


"Iya iya aku tahu kok! Sudahlah pergi sana kau juga sudah sangat kotor, bersihkan dirimu terlebih dahulu dan istirahat lah!" Ucap Ana sambil bercanda mengejek Nagara.


"Iya iya! Kalau begitu aku duluan yaa! Selamat tinggal Ana!" Nagara lalu pergi sambil tersenyum manis kepada Ana.


Ana juga tersenyum manis kepada Nagara.


Setelah Nagara pergi, senyum manis Ana seketika memudar wajahnya yang semula bahagia karena tersenyum cerah kini menjadi suram dan resah karena dilema.


Dia berjalan menuju kamarnya dengan perasaan yang dilema, saat sampai di kamarnya, Ana menutup pintu rapat-rapat dan membuka jubah yang dia kenakan, kemudian duduk termenung di atas ranjang tempat tidur.

__ADS_1


"Sebenarnya aku kenapa? Kenapa aku sangat gelisah ? Kenapa aku sangat resah?"


"Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa aku sangat khawatir dengan bayi yang ada di dalam kandungan Karmila padahal aku sangat benci kepadanya?"


"Tapi apa pantas bayi itu mengalami nasib yang sama seperti bayi ku? Bayi itu tidak salah kan? Dia tak punya salah! Sama seperti anak ku!"


Ternyata dari tadi hal yang sangat menggangu pikiran Ana sehingga membuat Ana menjadi sangat resah dan binggung adalah Karmila dan bayi yang berada di dalam kandungan Karmila.


"Apa bayi itu harus memiliki nasib yang sama seperti anak ku ? Dia kan masih kecil, dia seharusnya lahir ke dunia ini! Dia tidak punya salah apa-apa!" Ana mulai berpikir dengan angkat rinci.


"Ini tidak benar kan? Bukan ini yang seharusnya aku lakukan! Bagaimana bisa aku setega ini? Bayi itu tidak memiliki salah apa apa! Bagaimana bisa aku membiarkan dia mengalami nasib yang sama seperti bayi ku?" Ana merasa tak tega dengan apa yang akan di hadapi oleh bayi yang berada di dalam kandungan Karmila karena bagaimana mungkin Ana membiarkan hal yang sama terjadi lagi dan orang yang membunuh itu juga masih orang yang sama.


Ana mulai berpikir dengan sangat keras karena dilema dengan apa yang terjadi saat ini, tapi tak lama kemudian ketika mengingat bayinya yang mati karena ada ikut campur dari Karmila, Ana jadi merasa benci dengan Karmila karena Karmila adalah orang yang menyebabkan dia kehilangan bayinya.


"Apa sih? Ana ! Ana! Kenapa kau malah harus peduli sama apa yang akan terjadi dengan Karmila padahal jelas jelas semua yang terjadi kepada mu juga karena ulah dia! Kenapa sekarang aku malah peduli akan apa yang terjadi kepada nya!" Ana kemudian tertawa kecil disertai senyum tipis yang terkesan sangat mengerikan.


Tapi tak lama setelah itu, Ana merasa sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh asisten Morona yang tak lain adalah Vito kepada Karmila.


"Tapi kok aku penasaran ya dengan apa yang akan di lakukan oleh Morona untuk Karmila!" Pikir Ana dengan bimbang.


"Mendingan aku cari tahu aja deh apa yang akan mereka lakukan selanjutnya! Daripada penasaran kayak begini!" Ucap Ana.


Ana pada akhirnya memilih untuk mencari tahu, dia kemudian mengenakan jubah besi yang tadi dia pakai dan keluarga dari kamarnya untuk mencari tahu apa yang akan di lakukan oleh Vito kepada Karmila.

__ADS_1


Ana kemudian sampai di balik jendela ruang rahasia tersebut, dengan sangat hati hati dia mendengarkan semua yang terjadi.


Di dalam ruangan rahasia itu sendiri, Vito sedang bersama seorang wanita setengah baya, mereka berdua sedang membicarakan hal yang cukup serius.


"Jadi aku ingin kau membuatkan obat yang sangat ampuh untuk mengugurkan kandungan! Dan obat itu nantinya harus kau masukkan ke dalam minuman yang akan di berikan kepada lady Karmila, kau tahu kan dia siapa? Putri dari count chaseiro, gadis desa biasa yang beruntung mendapatkan gelar bangsawan karena menyelamatkan putri mahkota!" Ucap Vito dengan sangat serius menjelaskan semua rencananya kepada wanita tersebut.


"Saya paham tuan, saya akan melakukan semua yang anda perintahkan!" Jawab wanita itu yang dari tadi mendengarkan semua yang di ucapkan oleh Vito dengan sangat seksama.


"Bagus jika kau paham! Ini ambillah upahmu!" Vito mengeluarkan sejumlah uang yang sangat banyak untuk di berikan kepada wanita itu.


Wanita tersebut menjadi bahagia ketika melihat uang di depan matanya yang sangat banyak itu , dia langsung mengambil uang itu dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Vito, "Terima kasih tuan!" Ucap wanita tersebut dengan wajah yang sangat bahagia karena mendapatkan sejumlah uang.


"Iya , tapi aku harap semua ini berjalan lancar! Jangan sampai gagal! Kalau sampai ini gagal, maka jangan salah kan aku bersikap di luar kemampuan mu!" Ucap Vito dengan sangat serius dan mengancam wanita itu yang terkesan cukup menakutkan.


"Baik tuan! Saya paham tuan!" Jawab wanita tersebut dengan sangat percaya diri jika ini akan berhasil karena dia adalah orang yang sudah terbiasa dalam melakukan hal seperti ini.


"Baiklah kau boleh pergi!"


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi!"


Wanita itu lantas pergi dari hadapan Vito.


Ana yang sudah mendengar kan semua itu lantas pergi meninggalkan tempat itu dengan secepat mungkin tanpa di ketahui oleh siapa pun.

__ADS_1


Vito merasa sangat bangga dengan apa yang sudah di lakukan, dia kemudian pergi menemui Morona untuk merencanakan sesuatu yang baru.


__ADS_2