
"kamu! Kamu ngapain di situ?" Tanya Karmila dengan gugup.
"Ahhh sial! Aku ketahuan!" Ucapnya dalam hati, untungnya Ana yang sudah banyak berlatih bersikap dengan santai saat itu.
"Maaf lady saya kebetulan hanya lewat, lady sendiri kenapa berada di sini seorang diri?" Ucapnya dengan santai.
"Ahh aku....." Seketika Karmila menjadi bergetar karena tak tahu harus menjawab apa.
"Kenapa lady? Apa yang anda lakukan seorang diri di taman istana? Anda bukankah di larang untuk datang ke istana, bagaimana anda bisa masuk ke dalam istana dan sekarang duduk di taman seorang diri? Maaf, tapi bukankah seorang bangsawan harus mengikuti aturan! Berarti seharusnya anda tidak masuk ke dalam istana lagi kan? Bahkan seekor anjing pun tahu dan akan mengerti ketika di suruh oleh tuannya untuk duduk!" Kalimat kalimat yang di lontarkan oleh Ana seketika membuat Karmila menjadi panas karena merasa terhina dengan ucapan Ana.
"Jaga ucapan mu! Apa kau sadar dengan ucapan mu? Lebih baik kau berhati hati ketika berbicara, kau itu hanya rakyat biasa!"
"Ahh maaf, apa saya salah berbicara kepada lady? Saya hanya berbicara tentang seekor anjing, owh iya anjing itu dulu adalah anjing jalanan karena tak sengaja bertemu dengan seorang putri kerajaan dia jadi naik status"
Karmila seketika menggenggam erat tangannya, kuping nya benar benar panas ketika mendengar ucapan Ana.
"Bukankah anjing itu mendapatkan sebuah keberuntungan lady? Tapi sayangnya dia sama sekali tidak sadar diri, dia bahkan ingin lebih dan lebih lagi dari tuannya padahal dia tetaplah anjing jalanan!"
Karmila yang sudah tak tahan lagi langsung mengangkat tangannya hendak menampar Ana.
"Berhenti!" Beruntungnya Nagara melihat hal itu dan langsung menghentikan Karmila yang hendak menampar Ana.
Karmila yang terkejut lantas tak jadi menampar Ana dengan wajah yang tidak puas.
Nagara dengan sangat tubuh tegap menggunakan topeng yang terlihat mengerikan itu berjalan menghampiri Karmila dan menatap Karmila dengan sangat menakutkan.
"Maaf lady anda tidak boleh sembarang memukul orang,apalagi orang yang ingin anda pukul adalah orang saya, saya tidak akan membiarkan anda bersikap semena-mena apalagi kepada orang saya!"
"Saya paling benci dengan orang orang yang sombong hanya karena memiliki status yang lebih tinggi!"
Karmila yang mendengar hal itu apalagi ketika bertatapan dengan Nagara menjadi ketakutan karena Nagara adalah panglima perang yang legendaris dan pastinya sangat mudah bagi Nagara untuk membunuh orang dengan sekali tebas.
Karmila yang sebenarnya sangat ketakutan berusaha menutupi rasa takut itu,"Ahh sudahlah aku tak ingin melanjutkan ini! Ini sangat memuakkan! Aku tak ingin berhubungan dengan orang seperti kalian!"
__ADS_1
Dengan ketakutan yang teramat sangat, Karmila lantas pergi meninggalkan Nagara dan Ana.
"Kenapa kau datang?" Tanya Ana kepada Nagara.
"Hanya ketidaksengajaan saja, kebetulan aku lewat dan melihat dia ingin menampar mu, jadi aku langsung menghentikan hal itu!" Ucap Nagar yang memang tak sengaja lewat dan melihat Ana hendak dipukul oleh Karmila.
"Terima kasih, tapi sebenarnya kau tak perlu melakukan itu, karena aku akan membalas pukulan yang dia layangkan kepada ku seribu kali lipat!" Ana tersenyum dengan penuh makna kepada Nagara.
"Aku tahu itu, aku tahu kau pasti akan membalasnya! Tapi aku tak ingin kau terluka lagi apalagi terluka dengan dia lagi! Aku tak membiarkan hal itu lagi!" Ucapannya terdengar seperti seorang kekasih yang mengkhawatirkan pasangannya.
"Aku permisi yaa!" Setelah mengatakan itu, Nagara langsung pergi meninggalkan Ana.
"Ahhh! Aku jadi lupa deh! Seharusnya aku kasih tahu dia juga tentang hubungan Karmila dan Morona!"
Ana baru teringat seharusnya dia mengatakan hubungan Karmila dan Morona kepada Nagara, tapi dia justru melupakan hal itu dan Nagara sudah pergi meninggalkan dirinya.
"Sudahlah nanti saja aku katakan kepadamu tentang berita ini, berita yang sangat aneh dan cukup membuat binggung!" Ana lalu tersenyum puas dan pergi dari tempat itu, dia kembali ke markas kerajaan untuk beristirahat dan merencanakan suatu hal.
Setelah semua yang terjadi, Karmila memilih untuk pulang ke rumahnya dan membiarkan count chaseiro tetap di istana.
"Perempuan itu! Ngapain dia ke sini?" Ucap Karmila dengan kesal.
"Nona bagaimana ini? Wanita itu dan kereta kudanya menutupi gerbang! Bagaimana kita bisa masuk?" Ucap sang kusir yang tak ingin mencelakakan siapapun.
"Tabrak saja dia! Aku benci dengan wanita itu! Entah perlu apa dia ke sini! Jalan aja! Tabrak dia! Tabrak!" Ucap Karmila dengan penuh kebencian dan amarah yang sangat dalam.
"Maaf Nona, kita tidak bisa melakukan hal itu! Bagaimana pun dia terlihat seperti seorang bangsawan, kita bisa terkena sanksi jika membahayakan seorang manusia apalagi jika manusia itu adalah bangsawan!" Ucap sang kusir yang tak ingin mendapat masalah apapun apalagi sanksi yang diterima sangatlah berat dan lagi Karmila tak memiliki dukungan yang kuat saat ratu Illeana masih hidup.
"Ahhh baiklah! Sial!!" Karmila dengan sangat marah dan benci turun dari keretanya dan menghampiri wanita itu.
"Hei kau! Kenapa kau datang ke sini? Apa masalah mu?" Teriak Karmila tanpa sopan santun kepada wanita itu.
"Karmila! Sayang! Akhirnya kamu mau menemui ibu!" Ternyata wanita ini adalah ibu kandung dari Karmila.
__ADS_1
Wanita yang berusia hampir 50 tahun itu memang masih terlihat cantik dan awet muda, rambutnya masih berwarna hitam panjang dan lurus, tubuhnya ramping dan matanya berwarna coklat terang jika di lihat Karmila dan wanita itu sangat mirip.
"Ibu? Kapan kau pernah menjadi ibu ku? Sebaiknya kau pergi dari rumah ku! Apalagi ketika ayah ku pulang nanti, kau pasti akan habis dengan dia!" Teriak Karmila dengan penuh kebencian.
"Karmila ibu sangat merindukan kamu, apa kamu tidak mau berbicara dengan ibu? Ibu mohon kasih ibu waktu untuk berbicara dengan mu!" Wanita itu terlihat sangat sedih dan sangat berharap kepada Karmila.
"Rindu? Kau yang buang aku! Kau yang meninggalkan aku dan papa demi Baron Dazan yang kehilangan Istrinya! Aku ingat sekali saat itu! Jadi kau pulang dan pergi! Aku sangat benci dengan mu!"
"Karmila maafkan ibu, tapi ibu benar benar sayang sama kamu! Kamu lah satu satunya yang ibu cinta dan ibu sayangi!" Wanita mengucapkan kata demi kata disertai air mata dan kesedihan yang dalam.
"Maaf anda bilang? Mudah sekali anda mengatakan hal itu! Apa anda tahu bagaimana perjuangan saya? Apa anda ibu saya?"
"Karmila, maafkan ibu, ibu sama sekali tidak bermaksud seperti itu, ibu benar benar menyayangi kamu karena...."
"Karena kamu mandul? Karena kamu enggak bisa punya anak lagi kan?" Ucapan Karmila seketika membuat wanita itu terdiam.
"Kenapa kamu diam? Salah yang aku katakan? Benar kan? Kamu itu mandul dan karena itu kamu kembali karena tak bisa memiliki anak lagi? Salahkah? Benarkan? Udahlah enggak usah banyak bicara aku tahu banget apa yang ada di otak kamu!"
Ibu kandung Karmila lantas menangis karena memang benar dia mandul dan tak bisa memiliki anak karena saat menikah dengan count dan hamil, dia terjatuh dengan sangat parah, anaknya meninggal dalam kandungan dan rahimnya harus diangkat.
"Kenapa kamu malah menangis? Sudahlah! Pengawal!" Teriak Karmila.
"Siapa nona!" 2 orang pengawal lantas membuka gerbang dan menghampiri Karmila.
"Usir wanita itu dan jangan biarkan dia masuk ke dalam rumah ini! Dasar wanita mandul!" Teriak Karmila dengan sangat kencang dan penuh kebencian.
"Tunggu Karmila! Ibu tahu semua yang terjadi semua sama kamu!" Pinta wanita itu.
"Ahhh sialll! Apa lagi? Aku benar benar sudah muak! Cepatlah! Apa yang kau tahu?" Karmila terpaksa menghentikan langkahnya dan bertanya kepada wanita itu sekali lagi.
"Ibu tahu Karmila, ibu tahu karena itu biarkan ibu berbicara dengan mu, ibu bisa membantu kamu!" Ucap wanita itu dengan penuh keyakinan dan mohon kepada Karmila.
"Apa yang dia tahu tentang aku?" Pikir Karmila.
__ADS_1
"Apa? Apa? Katakan!" Ucap Karmila dengan kencang.
"Ibu bisa membantu mu mendapatkan kembali kekasih mu!"