Pembalasan Ratu Yang Di Khianati

Pembalasan Ratu Yang Di Khianati
Perhatian


__ADS_3

Setelah Nagara pergi meninggalkan Ana, Ana justru sekarang malah melamun memikirkan apa yang barusan terjadi kepadanya sambil tersenyum senyum sendiri.


"Sebenarnya tadi apa yang terjadi sih? Kenapa rasanya agak aneh?" Ucap Ana di dalam hatinya memikirkan apa yang barusan dia lalui.


'Hmmmm, kenapa jantungku masih berdetak kencang seperti ini ya?" Pikir Ana.


"Lagian kenapa sih semakin hari dia semakin bersikap berlebihan kepada ku? Aku kan jadi mikir yang aneh aneh!" Ucap Ana di dalam hatinya.


"Ahhh!! Enggak! Enggak ! Enggak ! Enggak! Aku enggak boleh mikir sampai sejauh itu! Lagian itu juga enggak mungkin! Enggak mungkin banget kalau dia sebenarnya memiliki perasaan untuk aku!" Ucap Ana yang tak ingin berpikiran macam-macam tentang Nagara.


"Lebih baik juga aku fokus sama tujuan dan rencana balas dendam aku! Udah lah enggak usah mikir yang aneh-aneh! Mendingan juga fokus sama rencana balas dendam aku!" Ucap Ana.


Morona saat ini sedang berada di kamarnya sembari melamun memikirkan Ana.


"Kira-kira Ana sudah baikan belum ya? Apa jangan jangan dia masih merasakan sakit di bagian yang lain?" Pikir Nagara yang senantiasa selalu memikirkan Ana dan sangat perhatian kepadanya.


"Semoga dia benar benar sudah baik baik saja! Semoga tidak ada masalah di tubuh nya!" Ucap Nagara dengan penuh harap untuk Ana.


"Tunggu dulu! Sepertinya aku melupakan sesuatu!" Ucap Nagara yang teringat jika dia telah melupakan suatu hal.


"Owh iya bukankah Ana dari tadi belum makan, dari tadi kami kan asik berlatih menunggangi kuda!" Pikir Nagara yang teringat dengan Ana.


"Bisa bisanya aku melupakan hal ini, padahal kondisi Ana sangat tidak memungkinkan!" Nagara lantas bergegas keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur kerajaan untuk meminta makanan dan tak lupa seperti biasa dia mengenakan topengnya.


Sesampainya di dapur kerajaan, Nagara tak sengaja bertemu dengan kepala pelayan istana Adhrika.


"Salam panglima!" Sapa sang kepala pelayan dengan penuh hormat dan sangat sopan kepada Nagara sebagai seorang panglima kerajaan dan pahlawan dari negara ini.


"Salam!" Jawab Nagara dengan penuh wibawa.


"Ada gerangan apa yang membuat panglima sampai datang ke dapur kerajaan? Apa ada sesuatu yang panglima butuhkan dan apa yang bisa saya bantu untuk panglima?" Tanya kepala pelayan dengan sopan dan penuh hormat kepada Nagara.


"Sebenarnya aku melewatkan makan siang, apa aku bisa meminta jatah makan siang ksatria sekarang walaupun sebenarnya ini sudah sangat sore!" Pinta Nagara.


"Tentu saja panglima! Saya akan segera menyiapkannya untuk panglima!" Jawab kepala pelayan yang lekas hendak pergi untuk menyiapkan makanan.


"Owh tunggu dulu!" Ucap Nagara yang menghentikan langkah kaki dari kepala pelayan.

__ADS_1


"Ada apa lagi panglima?" Tanya kepala pelayan.


"Sebenarnya bukan aku saja yang melewatkan makan siang tapi ada ksatria lain yang juga melewatkan makan siang seperti ku!" Ucap Nagara.


"Benarkah? Saya kira hanya panglima yang belum karena semua ksatria sudah makan siang!" jawab kepala pelayan itu kepada Nagara.


"Iya mereka semua sudah, hanya aku yang belum dan juga Ana, ksatria wanita dan wakil ku!" Lirih Nagara.


"Owh ternyata dia, maafkan saya yang mulia saya pikir semua ksatria sudah makan siang ternyata masih ada lagi yang belum makan siang!" Jawab kepala pelayan dengan sopan dan penuh hormat tak lupa pula sangat ramah.


"Iya, jadi bisakah aku mendapatkannya sekalian untuk Ana?" Tanya Nagara.


"Tentu saja panglima, sekarang juga saya akan meminta koki untuk menyiapkannya!" Ucap kepala pelayan yang langsung bergegaslah menyiapkan makanan untuk Nagara dan juga Ana.


Nagara memilih untuk menunggu sang kepala pelayan dan koki menyiapkan makanan untuknya dengan sabar.


Tak lama, makanan itu pun selesai dan kepala pelayan langsung membawa makanan itu kehadapan Nagara.


"Maaf yang mulia, kenapa anda memilih menunggu di sini? Padahal saya bisa antarkan makanan ini langsung kepada anda!" Tanya kepala pelayan kepada Nagara.


"Tentu saja sudah yang mulia panglima! Ini juga saya mau antarkan langsung kepada anda!" Ucap kepala pelayan.


"Owh sudah tinggalkan saja di situ, aku akan langsung membawanya sendiri!" Pinta Nagara.


"Baik yang mulia panglima! Apa makanan untuk wakil panglima juga ingin anda bawa atau daya yang mengantarkannya?" Tanya kepala pelayan.


"Tidak perlu, itu juga biarkan saja aku yang membawanya! Kau tidak perlu repot-repot mengantarnya, aku bisa membawanya sendiri!" Jawab Nagara.


"Baiklah kalau begitu panglima ini saya serahkan kepada anda! Selamat menikmati makanannya!" Ucap kepala pelayan.


"Baik, terima kasih!" Jawab Nagara.


"Kalau begitu saya permisi untuk melanjutkan pekerjaan saya, jika anda membutuhkan sesuatu katakan saja kepada saya!" Sang kepala pelayan lantas pergi meninggalkan Nagara karena dia memiliki pekerjaan yang lain.


Nagara lantas membawa makanan itu menggunakan meja dorong pembawa makanan ke kamar Ana.


Di kamar, Ana masih saja melamun dan kepikiran dengan hal yang barusan terjadi kepadanya, dia masih merasakan shock dan masih tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.

__ADS_1


Tiba-tiba saja terdengar suara perut Ana yang berbunyi.


"Aduhhh! Aku laparr!" Ucap Ana yang merasa kelaparan.


"Aduh bisa-bisanya aku belum makan dari pagi tadi, mana lapar banget lagi, tapi enggak sanggup kalau mau bangun, duhh gimana ni?" Pikir Ana yang kebingungan.


Tiba tiba saja.


Tok Tok Tok Tok Tok


Bunyi suara ketukan pintu.


"Lho kok ada yang ketuk pintu? Siapa ya?" Tanya Ana dengan heran.


" Iya masuk saja!" Pinta Ana.


Ceklekkkkk


Suara pintu terbuka


Seorang pria yang tak lain adalah Nagara masuk ke dalam kamar Ana dengan membawa meja dorong yang berisi makanan.


"Nagara! Kamu kok ke sini? " Tanya Ana yang belum menyadari jika Nagara datang membawakan dia makanan.


"Hai Ana! Aku datang lagi karena aku mau mengantarkan kamu ini!" Ucapnya sambil membawa masuk meja dorong berisikan makanan itu kedalam kamar Ana.


"Wah makanan! Akhirnya! Aku udah lapar banget ini!" Ana tak kuasa menahan rasa lapar yang dia rasakan yang tentunya ketika dia melihat Nagara membawakannya makanan, dia langsung gembira dan merasa senang.


"Aku tahu kamu lapar, kamu kan belum makan dari tadi pagi! Makanya aku sengaja datang sekarang dengan membawa kan mu makanan!" Ucap Nagara yang penuh perhatian kepada Ana.


"Iya aku memang lapar! Untung saja kamu membawakan aku makanan! Makasih yaa!" Ucap Ana yang tak lupa berterima kasih kepada Nagara atas apa yang dilakukan Nagara untuknya.


Ana lantas berusaha bangun dari tempat tidurnya untuk makan, akan tetapi terlihat jelas jika Ana sangat kesusahan untuk bangun dari tempat tidur.


Nagara lantas berinisiatif membantu Ana untuk bangun,"Sini aku bantu kamu bangun!" Ucap Nagara sembari membantu Ana.


Setelah itu, mereka berdua lantas makan bersama.

__ADS_1


__ADS_2