
"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang sebenarnya tidak aku ketahui tentang Ana?" Pikir Anastasia.
"Apa yang sebenarnya sedang di sembunyikan oleh Ana? Siapa dia sebenarnya? Bagaimana bisa dia sudah memiliki bayi?" Rasa penasaran dengan penuh tanda tanya semakin menjadi-jadi dalam benar pikiran Anastasia.
"Aku masih tidak mengerti, sebenarnya apa dan kenapa? Ini benar benar sangat lah aneh!" Ungkap Anastasia.
Anastasia sebenarnya tidak lah sedang beristirahat melainkan dia hanya ingin seorang diri yang tak di ganggu oleh siapapun.
"Tunggu dulu, kalau di pikir pikir aku memiliki perasaan nyaman ketika bersama dengan Ana, perasaan itu sama ketika aku bersama dengan Illeana dan wajah Ana juga sangat mirip dengan Illeana karena itulah aku ingin berteman dengan nya tapi tak ku sangka justru aku memiliki perasaan yang sangat sangat akrab dengan dia, apa jangan jangan?" Pikir Anastasia.
"Enggak enggak enggak! Ini enggak mungkin! Illeana jelas jelas sudah meninggal, bagaimana mungkin aku bisa berpikir jauh seperti ini?" Ungkap Anastasia yang mulai berpikir sangat jauh.
"Tapi kalau di ingat ingat tentang Illeana, kenapa ya hubungan kami dulu bisa renggang? Padahal dulu kami sangat dekat dan sangat akrab, kami sering bermain dan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk bersenang-senang! Aku rindu pada saat saat itu!" Tanpa sadar Anastasia mulai mengingat masa lalunya bersama Illeana.
Anastasia dulunya berteman dekat dan sangat akrab dengan Illeana bahkan bisa di katakan mereka adalah sahabat, akan tetapi hubungan itu mulai merenggang ketika kedatangan Karmila dan puncaknya mereka bertengkar di karenakan beberapa hal yang di sebabkan oleh Karmila sehingga Illeana dan Anastasia tak lagi bersahabat dan Karmila lah yang menjadi sahabat dari Illeana bukan lagi Anastasia.
"Tapi hubungan kita hancur karena kedatangan Karmila! Aku benar benar benci dengan dia! Aku benci karena dia sudah mengambil aku dari ku!" Tiba-tiba saja sorot mata yang tadinya riang gembira karena mengingat kenangan kenangan yang manis kini menjadi suram dan penuh kebencian.
"Aku akan membalas dendam pada mu Karmila! Aku akan buat kau merasakan apa yang pernah aku rasakan, aku akan rebut apa yang kau inginkan seperti dulu yang pernah kau lakukan pada ku!" Sorot mata Anastasia benar benar sangat mengerikan, terlihat jelas jika dia menyimpan dendam yang cukup dalam terhadap Karmila.
"Sebenarnya aku kembali ke sini juga karena memiliki alasan! Aku tak bisa membiarkan kau mendapatkan apa yang kau inginkan! Aku akan pastikan hal yang kau inginkan menjadi milik ku!" Ucap Anastasia dengan tersenyum seringai yang cukup menyeramkan.
Di tempat lain, Ana masih saja merasa sangat sedih atas apa yang sudah dia perbuat apalagi melihat kemarahan Nagara yang seperti tidak akan memaafkan dia karena itu mulai muncul rasa bersalah dan perasaan menyesal atas apa yang sudah dia perbuat, pada akhirnya penyesalan itu datang terlambat ketika semua sudah terjadi bagaikan nasi yang sudah menjadi bubur, semuanya sudah terlanjur.
__ADS_1
"Kenapa aku harus melakukan itu? Kenapa aku justru menyelamatkan orang yang sudah menghancurkan hidup ku! Dan sekarang aku harus menanggung kemarahan dari Nagara!" Ana menangis dan merasa sangat sedih untuk semua yang dia dapatkan.
"Kenapa sih Ana? Kenapa harus melakukan itu? Kenapa kamu menyelamatkan dia?" Ana mulai sadar dan merasa menyesal atas semua yang sudah dia lakukan yang mana hal itu tanpa dia sadari sangat merugikan bagi dirinya sendiri.
"Aku enggak bisa di sini terus! Aku enggak bisa menangis terus menerus di sini untuk kebodohan yang telah aku lakukan!"
"Aku harus pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri! Aku enggak boleh kayak begini terus! Ini semua memang salah ku! Ini semua yang aku salah! Aku yang sudah bodoh melakukan hal konyol seperti ini!"
Ana lalu pergi ke suatu tempat yang bermaksud untuk menenangkan diri, tempat itu tak lain dan tak bukan adalah danau di belakang taman istana, tempat yang cukup rahasia dan sangat sepi untuk menenangkan diri.
Sementara Nagara saat ini menjadi dilema, dia masih kecewa dan kesal dengan apa yang sudah di lakukan Ana, akan tetapi dia juga merasa simpati dan kasihan dengan Ana.
Tapi sebagai seorang yang sangat menuntut janji dan sangat benci dengan orang yang ingkar janji dan apa yang sudah di lakukan oleh Ana sudah sangat bertolak belakang dengan prinsip nya, itulah kenapa Nagara sangat marah dan kecewa dengan Ana, apalagi Ana benar benar bertindak di luar dugaannya dan di luar batas tak wajar karena bagaimanapun Ana justru menolong musuh mereka yang jelas jelas tidak pantas di bantu.
"Tapi......." Perasaan nya mulai goyah.
"Kenapa aku merasa sedih setelah mendengar semua yang di ucapkan oleh Ana? Padahal biasanya aku tidak akan tergoyah oleh apapun ketika orang itu sudah melanggar janjinya!" Pikir Nagara.
Beberapa Ksatria yang sedang berlatih, mulai menyadari apa yang di lakukan oleh Nagara, mereka mulai bertanya tanya akan apa hal yang membuat Nagara sampai melamun seperti itu.
Tak terkecuali seorang ksatria yang baru saja masuk ke istana, Ksatria ini adalah ksatria yang pernah menyapa Nagara sebelumnya.
Ksatria itu lalu dengan inisiatifnya pergi menghampiri Nagara.
__ADS_1
"Hmmmm! Hmmmmm!" Tegur pria itu.
Nagara seakan tak mendengar teguran pria itu, dia tetap saja larut dalam lamunannya.
"Permisi tuan! Tuan" panggil ksatria itu sekali lagi, namun hal itu tetap tidak berhasil, Nagara masih saja melamun.
"Tuan panglima!" Panggil Ksatria itu dengan suara yang cukup lantang yang sontak saja membuat Nagara yang tadinya melamun kini terkejut.
"Apa?" Teriak Nagara balik dengan suara yang keras.
"Maafkan saya tuan panglima! Saya hanya tak sengaja melihat anda melamun sampai seperti ini! Maafkan saya karena sudah bersikap lancang!" Mendengar teriakan Nagara sontak saja hal itu membuat takut sang ksatria, dia lantas meminta maaf kepada Nagara.
"Jadi, apa urusannya dengan mu?" Ucap Nagara dengan sangat ketus.
Pria itu hanya bisa terdiam ketika di tatap dengan tatapan yang sangat dingin oleh Nagara dengan suara yang sangat ketus.
"Sudahlah! Aku lelah! Jangan ganggu aku dulu untuk sementara waktu!" Nagara lantas berdiri dan berjalan pergi meninggalkan markas pelatihan ksatria kerajaan.
Nagara pergi ke kamarnya dan duduk di sebuah kursi dengan terdapat sebuah meja yang berisikan banyak sekali dokumen.
Nagara lalu mengambil sebuah dokumen dengan map bewarna coklat.
"Padahal aku sudah mengumpulkan bukti bukti ini cukup lama!" Ucap Nagara dengan sedih.
__ADS_1