Pembalasan Ratu Yang Di Khianati

Pembalasan Ratu Yang Di Khianati
Kejam


__ADS_3

"Apa?" Vito merasa sangat terkejut dengan Morona yang tiba-tiba bersedia dan mau menjalankan rencana yang dia cadangkan.


"Sudah ku duga yang mulia pasti setuju dengan rencana ku!" Ucap Vito di dalam hatinya dengan sangat bangga.


"Saya tahu yang mulia pasti akan setuju, tapi apa yang sebenarnya membuat yang mulia setuju mengikuti rencana saya?" Tanya Vito karena penasaran dengan Morona.


"Ini karena Marquez mengirimkan aku sebuah surat yang mengancam akan menarik semua dana yang pernah dia berikan kepada ku kalau sampai aku benar benar bertengkar dengan Anastasia karena perselingkuhan! Aku tak mungkin membiarkan itu terjadi! Aku tak bisa membiarkan dana ku di tarik, aku sangat membutuhkan dana itu!" Suara Morona terdengar cukup panik dan khawatir.


"Baik kalau begitu saya akan segera merencanakan sesuatu untuk membuat lady Karmila kehilangan bayinya!" Ucap Vito dengan sangat santai bagaikan seorang yang ahli dalam membuat sebuah rencana untuk suatu tujuan apalagi jika itu adalah rencana pembunuhan.


"Baiklah! Aku percaya pada mu! Aku tahu kau pasti sangat paham bagaimana cara menyingkirkan! Segera singkirkan sebelum kandungan nya semakin besar karena nantinya itu akan membuat aku semakin repot !" Perintah Morona kepada Vito.


"Baik yang mulia! Anda tenang saja, saya akan pastikan jika hal ini sama sekali tidak akan menggangu anda! Saya akan melakukannya secara diam sehingga tidak akan ada yang bisa mencurigai kita!" Ucap Vito kepada Morona dengan sangat hormat.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu karena ada hal lain yang harus aku kerjakan!" Ucap Morona kepada Vito.


"Baik yang mulia!" Vito lantas membungkuk kan badan memberikan penghormatan kepada Morona ketika Morona hendak pergi.


Setelah Morona pergi dari tempat itu, Vito lantas melanjutkan rencananya, dia lalu memerintahkan bawahannya untuk memanggil seseorang yang dia inginkan.


Ketika Morona berjalan keluar dari ruangan itu, tak jauh dari tempat itu ada seorang wanita yang berdiri memperhatikan Morona dengan sangat seksama dan wanita itu tak lain adalah Ana yang dari tadi menguping dan mengintip mereka sudah sejak Morona masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


Wajah Ana terlihat bengkak sehabis menangis, matanya sangat sembab dan terlihat sangat tersakiti.


Ana hanya melihat Morona pergi begitu saja dari tempat itu dengan wajah yang sangat tersakiti, tak lama setelah itu dia juga pergi dari tempat itu dengan arah yang berlawanan dengan Morona.


Ana menggunakan sebuah jubah yang menutupi rambutnya, kemudian menaiki kuda kesayangan, kuda yang biasa dia gunakan menuju ke suatu tempat dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Dalam waktu singkat Ana sampai di sebuah tempat yaitu bukit yang sangat tinggi di belakang istana.


Di bukit itu terdapat sebuah batu besar yang dapat di duduki, Ana lalu duduk di atas batu itu dan menatap ke arah depan untuk melihat pemandangan kerajaan Adhrika karena bukit itu terletak di tempat yang paling tinggi di wilayah kerajaan Adhrika sehingga semua yang ada di kerajaan dapat di lihat dari bukit itu.


Dia hanya diam mematung sembari terus memandang ke arah depan dalam waktu yang cukup lama.


Seorang pria yang memakai jubah besi hitam dengan menggunakan topeng datang ke tempat itu, pria itu tak lain adalah Nagara yang sengaja datang untuk menemui Ana.


"Kau kenapa lagi? Apa terjadi sesuatu lagi? Kalau kau mau menangis, menangis lah karena itu akan membuat mu menjadi lebih baik lagi!" Ucap Nagara dengan suara yang sangat lembut dan sangat perhatian kepada Ana sambil menunjukkan bahunya supaya Ana bisa bersandar kepadanya.


"Aku tak ingin menangis lagi! Sudah cukup bagiku untuk mengeluarkan air mata! Aku hanya lelah saja dengan semua ini! Aku lelah melihat drama Morona! Ku kira setelah dia membunuh ku, dia sudah mendapatkan semuanya karena dia sudah menjadi raja, tapi ternyata begitu banyak drama yang dia mainkan! Hai itu benar benar membuat ku sangat muak! Benar benar membuat ku sangat lelah!" Ucap Ana dengan suara yang cukup berat.


"Dia itu tamak, dia tak akan pernah merasa cukup dengan apa yang dia dapatkan! Jadi dia pasti akan selalu merasa tidak puas dan akan terus membuat drama baru secara terus menerus untuk mendapatkan targetnya!" Ucap Nagara kepada Ana.


"Tapi kau juga pernah mencintai pria seperti itu dalam hidup mu! Aku bahkan tidak tahu bagaimana bisa wanita seperti mu mencintai lelaki seperti Morona! Padahal aku saja belum bisa mendapatkan hati mu!" Ucap Nagara di dalam hatinya karena selama ini Nagara memang mencintai Ana apa lagi mereka sudah sangat dekat dan bersama selama 3 tahun lama nya.

__ADS_1


"Huuuh!" Ana menghela nafas.


"Apa kau tahu tentang rencana Morona terhadap Karmila ?" Ucap Ana.


"Iya tentu saja aku tahu, dia akan menyingkirkan anak nya sendiri yang sedang berada di dalam kandungan lady Karmila!" Jawab Nagara.


"Dia akan melakukan itu secepat mungkin! Dia ingin anak itu segera di singkirkan agar tidak menggangu posisinya! Dia tidak ingin ada sesuatu yang membahayakan dirinya!" Ucap Ana seakan mengeluh akan perbuatan yang di lakukan oleh Morona selama ini.


"Aku tahu Ana! Aku tahu dia pasti akan melakukan itu! Itu kan sama dengan apa yang sudah dia lakukan kepada mu!" Jawab Nagara.


Ana kemudian tersenyum tipis menatap mata Nagara.


"Kenapa Ana? Apa kau jangan jangan ingin melindungi anak yang sedang di kandung ady Karmila?" Tanya Nagara yang merasa curiga dengan tingkah Ana.


"Huh? Tidak kok? Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu!" Jawab Ana dengan binggung atas ucapan yang di lontarkan oleh Nagara.


"Sebenarnya aku juga binggung dengan perasaan ku ini!" Ucap Ana di dalam hatinya.


"Aku seperti ingin menyelamatkan anak yang tak bersalah itu, tapi aku juga sangat membenci Karmila yang sudah menghilangkan nyawa anak ku! Apa iya aku harus menyelamatkan bayinya atau tidak usah di pedulikan lagi?" Pikir Ana dengan sangat keras.


Entah apa yang ada di pikiran Ana saat ini, dia merasakan sesuatu hal yang campur aduk antara untuk menyelamatkan anak yang di kandung Karmila atau membiarkan saja anak itu mati di bunuh oleh ayahnya sendiri seperti apa yang sudah di lalui oleh Ana dan anaknya dulu.

__ADS_1


"Baguslah jika seperti itu, aku kira kau akan bersimpati dan iba dengan anak yang ada di dalam kandungan lady Karmila!" Ucap Nagara kepada Ana.


"Tidak, lagipula ngapain juga aku harus peduli? Bukankah itu juga adalah karmanya sendiri karena sudah membunuh anak ku!" Jawab Ana dengan suara yang sangat tegas.


__ADS_2