Pembalasan Ratu Yang Di Khianati

Pembalasan Ratu Yang Di Khianati
Pinta Tanggung Jawab


__ADS_3

Ucapan itu seketika membuat count terkejut dengan perasaan yang campur aduk.


"Aku tahu semuanya karena itu aku datang ke sini!" Ucap baroness sekali lagi.


Count yang panik lantas menarik kembali tangan baroness dan membawa masuk ke dalam kediaman.


Karmila yang masih sedih seketika terkejut ketika melihat baroness masuk kembali ke dalam bersama count.


"Mama! Papa!" Panggil Karmila.


"Bagaimana kamu bisa tahu semuanya?" Tanya count.


"Aku tahu karena dia putri ku, tentu saja aku tahu semuanya tentang dia!" Jawab baroness.


"Aku tanya sekali lagi bagaimana kamu bisa tahu semua ini?" Tanya count yang mulai kesal dengan semua hal yang di lakukan oleh Baroness.


Count lalu melirik Karmila.


"Aku tahu! Karmila! Apa kau yang memberi tahu wanita ini? Apa kau yang memberitahu nya?" Tanya count dengan menggebu-gebu.


Karmila hanya bisa diam dengan wajah yang panik dengan jantung yang berdetak sangat kencang karena dia tahu sekali saat ini count dalam posisi yang sangat kecewa.


"Jawab Karmila! Jawab!" Bentak count.


Baroness yang tak tega melihat hal itu lantas menjawab count dengan suara yang kuat dan cukup keras.


"Ini enggak ada hubungannya dengan dia! Lagian apa salahnya kalau aku tahu ? Buat bagaimanapun Karmila adalah putri ku dan aku adalah ibu kandung nya! Ibu yang melahirkan dia!" Teriak baroness dengan sangat gigih.


"Apa kau bilang? Kau memang benar benar wanita yang tidak tahu malu! Harus berapa kali aku katakan? Harus berapa kali aku beri tahu?" Teriak count dengan suara yang meninggi.


Kini, kedua orang itu saling berdebat dan bisa di katakan berkelahi dengan suara yang sangat lantang dan keduanya sama-sama tidak mau mengalah satu sama lain.


"Berapa kali apanya? Aku tetap ibunya! Aku yang melahirkan dia! Bukan kau yang melahirkan nya!"


"Jelas jelas kau yang pernah bilang kalau Karmila bukanlah putri mu! Kau sendiri yang berbicara tentang hal itu! Apa kau tidak ingat?"


"Yang jelas faktanya aku yang melahirkan dia bukan kau! Aku ini ibunya!"


Count sudah mulai kesal dengan wanita di depannya lantas berniat memukul wanita itu, ketika dia mulai melayangkan tangannya.


Tiba-tiba saja.

__ADS_1


Gubrakkkkkkk


Bunyi suara terjatuh.


"Arghhhh!" Teriak Karmila yang kesakitan sambil memegang perutnya.


Kedua orang itu lantas melihat ke arah Karmila yang saat ini merasa kesakitan.


Kedua orang itu lantas panik dan bergegas menghampiri Karmila.


"Karmila! Kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Ucap count dengan wajah yang sangat pucat dan sangat panik.


"Karmila! Kamu kenapa?" Teriak baroness dengan sangat khawatir dan panik.


"Cepat panggil dokter!" Teriak baroness.


Dengan tubuh yang tua renta, counter dengan sekuat tenaga berusaha kerasa mengangkat tubuh putrinya itu dan membawa putrinya ke tempat tidur.


Setelah itu count lantas memerintahkan kepala pelayan untuk memanggil dokter lagi karena sekarang keadaannya sangat darurat.


Tak lama datanglah dokter yang langsung memeriksakan keadaan Karmila.


"Iya dokter, bagaimana keadaan Karmila?" Tanya baroness yang sama khawatir nya dengan count.


"Lho! Baroness bagaimana anda bisa ada di sini dan sangat mengkhawatirkan keadaan Lady Karmila?" Tanya dokter itu yang baru menyadari keberadaan baroness.


"Saya datang ke sini untuk menemui lady Karmila karena dia adalah an...." Ketika baroness menjawab pertanyaan dari dokter, count lantas memotong ucapan baroness.


"Dia hanya mampir sebentar! Sudahlah tidak usah di pikirkan! Bagaimana keadaan Karmila putri saya?" Tanya count.


"Iya seperti yang count tahu, lady Karmila tidak boleh stres dan ini terjadi karena ada sesuatu yang menggangu pikirannya dan satu hal lagi sekarang saya sudah memberi dia obat yang menyebabkan dia tertidur! Biarkan dia untuk beristirahat!" Ucap dokter itu.


"Baik dokter terima kasih!" Ucap count.


"Iya sama sama, kalau begitu saya permisi karena sebenarnya saya punya urusan penting, tapi karena hal ini pekerjaan saya jadi tertunda! Jadi saya permisi!" Dokter itu lantas dengan tergesa-gesa pergi meninggalkan kediaman count.


"Baroness! Saya ingin berbicara dengan Anda! Ayo berbicara di luar!" Count lalu bergerak ke luar yang tanpa banyak bicara baroness mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di luar kamar Karmila, count mulai berbicara serius dengan kepala yang dingin kepada baroness.


"Baroness seperti yang anda tahu tentang Karmila, saya harap anda tidak mengatakan hal itu kepada siapapun! Saya tak ingin dia menanggung malu!" Ucap count dengan sangat berat.

__ADS_1


"Tenang saja! Aku tak mungkin mengatakan hal ini kepada siapapun! Karmila itu Putri ku! Sudah pasti aku akan melindungi dia!" Jawab baroness dengan sangat tulus.


"Tapi, apa tidak sebaiknya kau beritahukan hal ini kepada yang mulia raja? Bagaimanapun, yang mulia harus bertanggung jawab kepada Karmila! Tidak mungkin bayi itu lahir tanpa sosok ayah! Dan tak mungkin Karmila menanggung semua ini sendirian!" Ucap baroness yang tak ingin Karmila menderita apalagi tersiksa.


Seketika count terdiam, dia benar benar binggung untuk melakukan apa karena dia juga tak ingin Karmila menderita apalagi tersiksa, akan tetapi Morona itu adalah raja dan pemimpin negeri ini.


"Kenapa kau diam? Jangan bilang kau tak berani? Apa kau tega melihat Karmila melahirkan bayi tanpa sosok suami dan anaknya lahir tanpa sosok ayah? Apa kau tega?" Tanya baroness dengan sorot mata yang cukup tajam.


Count masih diam dan tak mengeluarkan suara apapun.


"Baik, kalau kau tak mau berbicara padanya, biarkan aku yang berbicara kepada yang mulia raja! Aku akan meminta dia untuk bertanggung jawab terhadap Karmila!"


Setelah mengatakan hal itu, baroness langsung pergi menaiki kereta kuda menuju istana.


Count lantas panik dan mengejar baroness, tapi sudah terlambat dan terpaksa count juga menaiki kereta kuda untuk pergi ke istana.


Di istana, Morona sedang duduk santai bersama Anastasia sembari memandangi senja di taman istana yang sangat indah dan suasana mereka sangat romantis.


Tiba-tiba saja suasana itu berubah ketika Baroness datang menghampiri keduanya di taman istana.


"Salam baroness!" Anastasia lantas menyapa Baroness dengan sangat sopan dan sesuai etikat bangsawan.


"Salam yang mulia raja! Salam lady Anastasia!" Jawab baroness yang tak lupa memberikan hormat kepada raja saat ini.


"Ada hal apa yang membuat baroness datang menghampiri kami?" Tanya Morona.


"Sebelumnya saya minta maaf karena sudah menggangu waktu berdua kalian yang romantis ini! Tapi saya harus memberitahukan hal ini kepada yang mulia raja!" Ucap baroness dengan sangat serius.


"Baik, katakanlah apa yang ingin baroness katakan kepada saya!" Ucap Morona.


Tiba tiba saja count datang menghampiri mereka.


"Salam yang mulia raja! Salam lady Anastasia!" Sapa count dengan penuh hormat kepada bangsawan dengan status yang lebih tinggi dari dia.


"Salam! "Jawab Anastasia dan Morona dengan kompak.


Baroness yang tak ingin membuang banyak waktu lantas berbicara.


"Tolong dengarkan saya! Yang mulia harus bertanggung jawab!" Ucap Baroness dengan suara yang tegas.


"Apa?" Ucap Anastasia dengan Morona dengan kompak yang sangat terkejut dengan ucapan baroness.

__ADS_1


__ADS_2