Pembalasan Ratu Yang Di Khianati

Pembalasan Ratu Yang Di Khianati
Rasa Bersalah


__ADS_3

"Sudah papa duga, itu pasti bayi yang mulia raja!" Jawab count chaseiro dengan sangat ketus.


"Huaaaa! Huaaaaa!" Karmila hanya bisa menangis sembari bersimpuh di kaki count Chaseiro.


"Maafkan aku papa! Maafkan aku!!" Ucapnya yang meminta maaf dengan papanya.


"Karmila! Sebenernya sudah sejauh mana hubungan mu dengan yang mulia raja? Apa jangan-jangan hubungan mu sudah terjalin sejak mendiang ratu Illeana masih hidup?" Tanya count chaseiro dengan sangat serius disertai tatapan yang cukup menyeramkan.


Count Chaseiro lalu berdiri dan menepis tangan Karmila yang sedang bersimpuh di kakinya yang membuat Karmila menjadi lebih kaget lagi.


"Papa!" Sontak saja Karmila kaget dan syok bukan main mendengarkan ucapan dan hal yang di lakukan count Chaseiro kepadanya.


"Papa sudah tahu apa yang sebenarnya kamu lakukan, kamu sudah menjalin hubungan dengan yang mulia kan sejak yang mulia ratu Illeana dan yang mulia raja Morona bertunangan? Kenapa kamu melakukan hal seperti itu?" Tanya Count Chaseiro.


Suasana di dalam ruangan itu menjadi sangat dingin dan menegangkan.


"Papa! A-ku a-ku...." Karmila seketika menjadi gugup dan binggung untuk mengatakan apa kepada Count Chaseiro.


"Sudahlah! Kamu tak perlu mencoba mengelak karena papa sudah tahu semuanya! Papa tahu kok kamu menjadi orang ketiga dan rela menjadi kekasih dari seorang pria yang sudah memiliki istri!" Ucapan itu terdengar sangat sedih, sort mata dari count chaseiro terlihat sangat menyedihkan, dia seperti hendak menangis tapi tak bisa.


Karmila lantas berdiri dan mendekat ke arah count chaseiro "Papa! Aku bisa jelaskan semua itu! Ak-ku....." Karmila berusaha keras membantah dan membela dirinya, namun sayangnya dia sendiri sudah kehabisan kata-kata untuk menutupi semua perbuatan buruk yang sudah dia lakukan.


"Diam!" Tanpa sadar count Chaseiro membentak Karmila karena sudah muak dengan Karmila yang terus saja berusaha mengelak dan membantah ucapkan.


"Papa!" Karmila sontak terdiam dan merasa sangat ketakutan karena selama ini belum pernah sekalipun count chaseiro meneriaki nya apalagi membentak dirinya.

__ADS_1


"Sudah cukup ! Kamu tidak usah mengelak lagi! Jangan membantah apa apa lagi karena Papa sudah tahu semuanya! Tolong jangan berbohong kepada papa! Katakan saja kepada papa kenapa kamu melakukan semua ini?" Tanya count chaseiro.


"Maafkan aku papa! Maaf! Maafkan aku! Maaf! Hiks....hiks......" Jawab Karmila sambil menangis tersedu-sedu.


Melihat putrinya menangis deras seperti itu, count Chaseiro tanpa sadar merasa iba dan dia secara tak sengaja ikut menangis meskipun hanya air mata yang jatuh setetes demi setetes.


Seketika Karmila terjatuh lemas ke lantai dan mulai menangis sekeras-kerasnya.


"Hiks.....hiks....hiks......" Karmila hanya bisa menangis tanpa tahu harus mengatakan apa lagi kepada count Chaseiro.


"Apa jangan jangan ini semua salah ku? Aku yang tak bisa menjadi ayah yang baik untuk nya sehingga dia bisa bersikap di luar batas seperti ini!" Ucap count di dalam hatinya yang merasa bersalah atas semua yang terjadi.


Count lalu berjalan mendekat ke arah Karmila yang sedang terduduk lemas di lantai, dia lantas memeluk putrinya itu dengan penuh rasa sayang.


"Maafkan papa nak! Maafkan papa!" Ucap count sembari memeluk erat Karmila.


"Paaaa! Kenapa justru papa yang meminta maaf kepada ku? Ini semua salah ku! Tidak ada kaitannya dengan papa sama sekali!" Ucap Karmila karena Karmila merasa jika ini tidak ada kaitannya dengan count.


"Tidak! Ini memang salah papa! Maafkan papa nak! Maafkan papa karena tidak bisa menjadi seorang ayah yang baik untuk mu!" Ucap count dengan sangat tulus yang membuat Karmila sangat syok hingga terdiam dan tak bisa berkata apa-apa.


"Maafkan papa yaa, papa sudah gagal menjadi seorang ayah yang baik untuk mu! Papa sudah gagal karena tak bisa mendidik mu dengan baik! Papa yang salah karena membuat mu menjadi orang seperti ini! Lebih baik kamu tidak memiliki seorang ayah seperti papa! Papa ini adalah ayah yang buruk untuk kamu!" Suara count terdengar sangat berat seperti orang yang sedang menahan kesedihan yang sangat dalam.


"Enggak! Ini semua bukan salah papa! Ini enggak ada kaitannya dengan papa! Ini semua salah aku! Bukan salah papa!" Karmila lantas membantah semua ucapan count dan seketika Karmila merasa bersalah karena sekarang count menyalahkan dirinya sendiri untuk semua yang telah terjadi padahal ini memang murni keinginan Karmila.


"Maafkan papa nak! Maafkan papa Karmila! Sekarang kamu hamil dalam keadaan tak memiliki suami! Maafkan papa karena tak bisa menjadi ayah yang baik untuk mu! Tak bisa menjadi pelindung dan keluarga untuk mu!" Ucap count dengan sangat sedih sembari memeluk erat putri satu-satunya itu.

__ADS_1


"Enggak! Enggak! Enggak....." Teriak Karmila sambil memeluk erat count Chaseiro.


"Ini bukan salah papa! Ini enggak ada kaitannya dengan papa! Ini semua salah aku! Aku yang salah paa! Papa jangan salahkan diri papa! Aku enggak mau papa kayak gini! Ini enggak ada kaitannya dengan papa!" Teriak Karmila dengan air mata yang mengalir sangat deras.


"Ini salah papa! Maafkan papa!" Count lalu melepaskan pelukan itu dan meninggalkan Karmila seorang diri di dalam kamarnya.


"Papa!!!!" Karmila lantas berteriak memangil Count, namun sayangnya count sudah pergi meninggalkannya dengan perasaan yang bersalah.


Karmila lalu menangis karena merasa bersalah untuk apa yang baru saja terjadi.


"Hiks.....hiks....hiks....hiks...hiks...." Tangis Karmila pecah, air matanya mengalir sangat deras.


"Aku enggak mau kayak gini! Aku enggak mau seperti ini! Kenapa malah jadi begini? Kenapa? Aku enggak mau!!!" Teriak Karmila sambil menangis terisak-isak.


"Kenapa papa malah merasa bersalah ? Kenapa sekarang malah jadi papa yang merasa bersalah? Aku enggak pernah mau papa jadi seperti ini ! Aku enggak pernah mau papa jadi seperti itu!" Ucap Karmila sambil menangis meratapi apa yang baru saja terjadi.


Kini, giliran Karmila yang merasa bersalah, dia merasa bersalah dengan count chaseiro lantaran count menyalahkan dirinya sendiri untuk semua yang telah terjadi, padahal jelas Karmila memang sengaja melakukan semua ini.


Di tempat lain, tepatnya di halaman kediaman count Chaseiro di lantai 2 yang sangat sepi, count sedang bersedih sembari memandangi pemandangan gerbang kediamannya.


Tiba-tiba saja sebuah kereta kuda yang sangat mewah lewat di kediaman nya dan kereta kuda itu berhenti di depan gerbang kediamannya.


"Kereta itu? Kenapa dia berhenti di depan gerbang kediaman ku? Apa jangan jangan dia memang mau mengunjungi kediaman ini?" Ucap Count dengan kaget.


Benar saja, kereta kuda itu memang sengaja mampir ke kediaman count karena hal itu terlihat jelas ketika gerbang kediaman count di buka dan kereta kuda itu masuk ke dalam kediaman yang membuat count kaget dan terlihat sangat emosi.

__ADS_1


"Apa? Dia memang datang kesini? Untuk apa dia kesini? Aku akan menghampiri nya!" Ucap count yang langsung bergegas menghampiri kereta kuda itu yang tak lain adalah kereta kuda milik kediaman Baron Dazan.


__ADS_2