Pembalasan Ratu Yang Di Khianati

Pembalasan Ratu Yang Di Khianati
Perasaan Cemas


__ADS_3

Tok Tok Tok


Vito mengetuk pintu kamar Morona


Morona saat itu sedang tertidur di atas ranjang di dalam kamar tidurnya sehingga dia sama sekali tidak mendengar suara ketukan pintu itu.


"Yang mulia kemana sih? Kenapa yang mulia tidak menjawab ya? Apa jangan jangan dia sudah tidur di jam segini?" Pikir Vito dengan khawatir lantaran takut rencananya tak berjalan sesuai dengan keinginannya karena Vito adalah orang yang perfeksionis yang ingin semuanya berjalan sesuai dengan yang dia inginkan.


"Tidak tidak tidak! Aku harus menemui yang mulia sekarang juga! Aku harus menemuinya!" Pikir Vito dengan sangat berani, dia lantas mengetuk pintu dengan cukup keras agar Morona mendengar.


Tok Tok Tok Tok Tok


Bunyi suara ketukan pintu yang cukup keras


Morona yang saat itu sedang tertidur, tiba-tiba saja terbangun karena mendengar suara ketukan pintu yang cukup keras itu.


Morona dalam keadaan setengah sadar, berusaha membukakan pintu untuk melihat siapa yang sangat berani mengganggunya malam-malam begini.


Morona membuka pintu sambil mengusap wajahnya ketika dia melihat orang yang datang adalah Vito.


"Ada apa Vito? Kenapa kau datang ke sini di jam segini? Apa kau tak sadar jika kau sudah menggangu tidur ku?" Tanya Morona dalam keadaan masih mengantuk yang bercampur perasaan kesal karena tidurnya telah di ganggu.


"Maaf menggangu yang mulia! Tapi saya datang di jam segini yang menggangu yang mulia beristirahat bukan tanpa alasan, saya memiliki hal yang sangat penting untuk saya katakan kepada yang mulia!" Jawab Vito dengan sangat sopan dan penuh hormat kepada Morona.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Morona yang tadinya merasa sangat kesal dan ingi marah, mulai meredakan emosinya, dia pun meminta Vito untuk masuk ke dalam kamarnya karena mereka akan membicarakan hal yang rahasia dan tentunya sangat serius.


"Baiklah! Kau masuklah ke dalam!" Ucap Morona.


Vito lalu masuk ke dalam kamar Morona, setelah Vito masuk Morona langsung buru-buru menutup pintu agar dapat berbicara secara rahasia dengan Vito.


"Apa yang kau ingin bicarakan dengan ku?" Tanya Morona.


"Begini yang mulia, ini semua terkait dengan rencana kita untuk lady Karmila, saya ingin yang mulia mengundang lady Karmila untuk datang ke istana!" Pinta Vito kepada Morona.


"Apa? Kenapa aku harus melakukan itu? Kau kan tahu sendiri bagaimana hubungan ku saat ini dengan Karmila! Kenapa kau justru meminta aku untuk mengundang nya ke istana?" Tanya Morona yang merasa heran dan binggung dengan permintaan yang di mintai Vito.


"Begini yang mulia saya sudah meminta seseorang untuk membuatkan obat penggugur kandungan yang sangat berbahaya yang nantinya akan kita berikan kepada lady Karmila, karena itu saya butuh yang mulia mengundang lady Karmila ke istana karena nantinya akan saya sajikan sebuah teh yang sudah di beri racun penggugur kandungan!" Ucap Vito yang berusaha meyakinkan Morona untuk mengundang Karmila ke istana.


"Yang mulia tinggal katakan jika yang mulia bersedia bertanggung jawab kepada lady Karmila, tapi sebelum itu yang mulia minta agar bertemu terlebih dahulu dengan lady Karmila karena yang mulia ingin berbicara empat mata dengan lady Karmila!" Jawab Vito yang memberikan penjelasan kepada Morona terkait semua rencananya untuk Karmila.


"Lalu Vito, bagaimana jika dia benar benar keguguran? Bukankah aku akan di salahkan dan di tuntut oleh count Chaseiro?" Tanya Morona yang mengkhawatirkan dirinya sendiri karena tak ingin mendapatkan masalah baru, dia hanya ingin menikmati hidupnya saat ini.


"Owh hal itu, yang mulia tenang saja, saya sudah sangat memikirkan hal itu, yang mulia tidak akan bisa di salah kan oleh count chaseiro atas keguguran yang nantinya akan di alami oleh lady karmila!" Jawab Vito dengan sangat yakin dan percaya diri kepada Vito.


"Bagaimana caranya? Minuman itu pasti akan terdeteksi mengandung racun!" Morona memang takut dan khawatir jika dia sampai ketahuan apalagi lengser dari posisinya sebagai raja saat ini.


"Astaga yang mulia tenang saja, saya kan sudah bilang saya sudah memikirkan rencana ini dengan sangat matang! Saya sudah mencari orang terbaik dari yang paling baik dalam pembuatan racun! Jadi anda tenang saja yang mulia! Kita tidak akan ketahuan!" Ucap Vito yang berusaha meyakinkan Morona jika ini semua akan berjalan lancar dan Morona tak akan mendapatkan masalah apapun.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu Vito, akan aku lakukan sesuai apa yang kau katakan! Aku akan meminta Karmila untuk menemui besok sore di istana! Kau bisa jalankan rencana itu sesuai yang kau inginkan!" Ucap Morona yang menuruti semua rencana yang Vito rencanakan.


Keesokan paginya, seorang pria yang tak lain adalah utusan dari istana datang ke kediaman count dengan membawakan pesan dari yang mulia raja Morona untuk lady Karmila putri dari count Chaseiro.


Pesan itu kemudian tersampaikan oleh Karmila yang sontak saja merasa sangat bahagia karena Morona bersedia bertanggung jawab kepadanya, Karmila lantas memberitahukan hal itu kepada ayahnya yang saat itu sedang berada di ruang kerja karena sedang bekerja.


"Papa! Papa!" Teriak Karmila dengan sangat bahagia yang langsung menghampiri count yang sedang duduk dengan setumpuk dokumen yang cukup banyak.


"Iya sayang! Jangan lari-lari kamu lagi hamil! Ada apa?" Ucap count yang mengkhawatirkan Karmila yang saat ini sedang mengandung.


"Yang mulia meminta aku untuk datang ke istana sore ini! Dia bersedia bertanggung jawab kepada anak yang di dalam kandungan ku!" Ucap Karmila dengan sangat bahagia.


Mendengar hal itu, count justru tak bahagia dan merasa cukup cemas sehingga membuat Karmila bertanya kepada ayahnya.


"Kenapa papa? Apa papa tidak bahagia dengan hal ini? Kenapa papa terlihat khawatir? Wajah papa terlihat sangat cemas?" Tanya Karmila yang merasa heran dengan ekspresi count.


"Tidak kok, papa cuman merasa aneh saja bagaimana yang mulia bisa tiba tiba bersedia untuk bertanggung jawab kepada bayi yang ada di dalam kandungan mu, padahal dia sendiri terlihat sangat menolak hal tersebut!" Jawab count yang merupakan tipe orang yang sangat berhati-hati.


"Enggak mungkin lah paa! Enggak mungkin yang mulia setega itu kepada aku dan anak nya sendiri!" Ucap Karmila yang tak sadar jika Morona memang lah orang yang tega kepada darah dagingnya sendiri contohnya adalah ketika Morona dengan sangat kejam membunuh mendiang ratu Illeana dan bayi yang ada di dalam kandungan ratu Illeana, padahal bayi itu jelas adalah bayi milik Morona, tapi sepertinya Karmila tidak memikirkan hal itu.


"Iya baiklah, terserah kamu saja nak yang mana yang membuat mu senang saja!" Jawab count chaseiro yang hanya menginginkan kebahagiaan untuk putrinya itu.


"Baik kalau begitu aku mau siap siap dulu! By papa!" Karmila dengan sangat semangat mulai mempersiapkan diri untuk mengunjungi istana menemui Morona.

__ADS_1


Melihat putrinya yang sangat bersemangat, count tetap merasa ada sesuatu yang aneh, perasaannya sangat khawatir dan cemas.


__ADS_2