Pembalasan Ratu Yang Di Khianati

Pembalasan Ratu Yang Di Khianati
Berbaikan


__ADS_3

Ana lantas bergegas menghampiri Nagara yang sedang sendirian di bukit itu dengan jantung yang berdetak sangat kencang dan langkah kaki yang sangat kecil.


"Nagara!" Panggil Ana dengan suara yang cukup lantang.


Nagara masih sama saja dengan sebelumnya, dia dingin dan tak memperdulikan Ana padahal suara Ana sangat lah keras dan dia mendengar nya, tapi dia tetap diam dan mengacuhkan Ana.


Ana tak tinggal diam, melihat penolakan halus dari Nagara, dia lantas berjalan mendekati Nagara dan ketika dia rasa dia sudah cukup dekat dengan Nagara, dia mulai mencoba berbicara, tapi Nagara justru membalikan badan ke arah yang berlawanan dari Ana, Ana tak menyerah dan tetap berbicara untuk meluruskan kesalahpahaman yang saat ini terjadi di antara mereka.


"Nagara! Aku di sini hanya ingin meluruskan kesalahpahaman di antara kita! Aku tahu kamu marah karena merasa telah di khianati, tapi percayalah aku sama sekali tidak menghianati mu dan ini semua hanyalah kesalahpahaman semata saja!" Ucap Ana dengan sangat tulus.


"Aku sama sekali tidak menghianati mu dan rencana kita, kalau tentang di taman waktu itu ketika aku melihat dia dengan Anastasia bermesraan aku memang sedih, tapi bukan karena aku masih mencintainya!" Ucap Ana dengan harapan Nagara bersedia dan memaafkan dirinya.


Faktanya, ucapan itu akhirnya berhasil dan membuat Nagara menoleh dan menatap Ana dengan wajah yang sangat serius, Ana lantas melanjutkan ucapannya.


"Aku sama sekali tidak mencintainya, saat ini yang ku punya hanyalah perasaan benci kepadanya bahkan di dalam darah ku saat ini aku benar benar sangat benci kepadanya!" Ucap Ana dengan emosi yang mendarah daging.

__ADS_1


"Bahkan sampai titik setiap aku melihat wajahnya, darahku akan mendidik dan rasanya aku ingin sekali membunuhnya detik itu juga! Aku benar benar sangat membencinya apalagi ketika mengingat semua yang sudah dia lakukan kepada ku! Anak ku yang bahkan belum lahir tidak di izinkan untuk melihat dunia oleh ayahnya sendiri!" Ana saat ini justru meluapkan semua emosi yang dia pendam kepada Morona terkhusunya hal yang paling menyakitkan baginya adalah anaknya sendiri dibunuh oleh Morona.


"Lalu kenapa kau bersedih melihat dia bermesraan dengan wanita lain?" Tanya Nagara yang ingin langsung mendengar alasan Ana bersedih ketika melihat Morona dan Anastasia bermesraan dan saling kasih mesra.


Pada akhirnya Nagara bersedia mengeluarkan suaranya untuk berbicara dengan Ana, Ana tentunya merasa senang karena akhirnya Nagara tidak mengacuhkan dirinya lagi, dia tentunya langsung menjawab semua pertanyaan Nagara.


"Aku sedih karena aku merasa ini tidak adil, dia bisa bahagia dan terlihat sangat senang, sedangkan aku harus menanggung semua kepedihan dan rasa sakit saat ini, aku tahu aku saat ini sedang balas dendam sama dia, dia juga pasti akan kena karma, tapi kenapa dia bisa terlihat bahagia tanpa merasa bersalah telah membunuh anak ku darah dagingnya sendiri!" Tanpa sadar Ana menangis dan air matanya jatuh ke tanah dengan rasa sakit yang luar biasa.


Seorang ibu pasti akan selalu teringat dengan anaknya dan akan sangat sakit apabila kehilangan anaknya, sedangkan Ana harus kehilangan anaknya karena suami nya sendiri dan lebih parahnya anaknya bahkan belum lahir ke dunia ini, itu benar benar hal yang sangat menyakitkan dan akan di ingat selalu oleh Ana.


"Aku benar benar tak terima kenapa anak aku harus mati walaupun itu sudah 3 tahun lamanya, dia bahkan belum lahir ke dunia ini! Dan Morona atas dasar apa dia bisa menemukan cintanya lagi? Kenapa? Kenapa ? Semua ini harus terjadi? Kenapa dia bisa mendapat cinta lagi?" Ucap Ana dengan penuh emosi dan darah yang sangat mendidih.


Tanpa sadar, air matanya jatuh berlinang dan kali ini dia benar benar menangis sangat deras karena tak kuasa membendung semua rasa sakit yang dia rasakan saat ini, kecewa, sedih, sakit hati, kesal, mata semua itu kini bercampur menjadi satu.


Sebagai seorang pria sejati, Morona tentunya tak tega melihat Ana yang notabenenya seorang wanita menangis dengan sangat kencang di hadapannya, dia dengan inisial seorang pria lantas mendekati Ana, dia lantas memeluk Ana dengan tujuan menenangkan Ana yang sedang bersedih.

__ADS_1


Ana lantas menangis sekencang-kencangnya di dalam dekapan hangat Nagara, semua yang dia rasakan saat ini benar-benar sudah tak terbendung lagi, dia benar benar meluapkan segala yang dia rasakan dalam bentuk sebuah tangisan di dalam pelukan Nagara.


Setelah cukup lama menangis dan meredam emosinya, Ana yang menyadari jika selama ini dia memeluk Nagara sangat terkejut dan lantas melepaskan pelukan dari Nagara dengan wajah yang cukup panik dan perasaan yang tak nyaman.


Sebaliknya, Nagara di dalam hatinya justru merasa senang dan bahagia karena dia perempuan pujaan hatinya sekali lagi menangis di dalam pelukannya, dia juga merasa senang karena sudah menjadi seorang pria yang sudah semestinya berperan untuk melindungi seorang perempuan.


"Maafkan aku! Aku tak sengaja! Aku tahu kamu pasti tidak biasa dengan hal ini! Sekali lagi maafkan aku!" Ucap Ana dengan gugup dan kaku.


"Tidak apa apa kok! Aku biasa biasa saja! Lagipula sebagai seorang pria, tidak mungkin aku membiarkan mu menangis seperti itu! Aku pasti akan menenangkan mu!" Ucap Nagara dengan sangat menyentuh yang tentunya membuat Ana menjadi berpikir kembali.


"Kenapa dia berbicara seperti itu? Apa tidak salah dia berbicara seperti itu kepada ku? Aku merasa seperti dia me- ahhhh sudahlah! Enggak usah aku pikirkan lagi! Apa apaan juga bisa bisanya aku berpikir sejauh itu!" Ucap Ana di dalam hatinya dengan tak nyaman dan resah.


"Terima kasih yaa untuk semuanya! Jadi kamu enggak marah lagi kan? Kamu sekarang sudah tahu kan kalau ini semua cuma salah paham?" Tanya Ana karena memang dia tidak ingin memiliki masalah apa apa lgi dengan Nagara karena mereka adalah sebuah team.


"Iya Ana!" Jawab Nagara singkat.

__ADS_1


"Sekarang kita sudah baikan kan? Enggak ada lagi kesalahpahaman di antara kita kan? Aku harap hal ini tidak terjadi lagi yaa, karena banyak hal yang harus kita kerjakan ke depannya, waktu kita juga sudah semakin dekat untuk melanjutkan rencana selanjutnya!" Ucap Ana yang kembali mengingatkan Nagara tentang rencana mereka.


"Aku tahu kok! Kau tenang saja!" Ucap Nagara dengan wajah yang licik.


__ADS_2