
Ana dengan sangat berhati-hati membuang cairan itu agar tak di ketahui okeh siapapun, namun sayangnya hal itu di ketahui oleh Nagara yang saat itu tak sengaja melihat Ana tengah membuang cairan itu.
"Apa yang sedang Ana lakukan? Apa yang sebenarnya dia buang?" Batin Nagara.
Nagara lalu berjalan mendekat menghampiri Ana.
"Ana! Apa yang kau lakukan?" Ucap Nagara yang sontak saja membuat Ana menjadi kaget.
"Nagara! Aku....." Ana menjadi panik dan cemas karena merasa sudah ketahuan.
"Apa yang kau lakukan Ana? Apa yang kau buang? Jangan bilang?" Nagara langsung memperhatikan Ana dengan seksama untuk melihat apa yang sebenarnya sedang Ana pegang.
Ana lantas berusaha menyembunyikan botol tersebut agar tidak di ketahui oleh Nagara, tapi sayangnya hal itu tidak berhasil Nagara yang merasa curiga dan tipikal orang yang cukup peka lantas bertanya kepada Ana akan apa yang sudah dia sembunyikan.
"Apa yang ada di belakang mu? Apa yang kau sembunyikan dari ku?" Tanya Nagara kepada Ana dengan sangat serius.
"Apa? Aku tidak menyembunyikan apa-apa!" Jawab Ana yang berusaha menutup hal yang dia sembunyikan.
"Jangan bohong Ana! Sudah tiga tahu kita bersama, aku tahu betul bagaimana kamu! Katakanlah padaku apa yang sebenarnya sedang kau sembunyikan dari ku?" Tanya Nagara sekali lagi kepada Ana.
Ana hanya diam seraya mengelak jika dia tidak menyembunyikan apa apa.
"Ana! Apa yang kau sembunyikan!" Nagara lantas dengan sangat berani langsung mencoba menarik tangan Ana untuk melihat apa yang sebenarnya dia sembunyikan.
Ana tentu saja tak terkejut dengan hal itu, dia sana sekali tak bisa mengelak dan pada akhirnya Nagara mengetahui jika yang di sembunyikan oleh Ana adalah sebuah botol yang berisikan bekas cairan berwarna hitam pekat.
"Apa ini Ana? Apa ini?" Nagara lantas membuka botol itu untuk mencari tahu cairan apa yang ada di dalam botol itu.
__ADS_1
Ketika Nagara mencium botol itu, Ana menjadi takut dan cemas.
"Ini racun kan? Jangan bilang kau membatalkan rencana yang mulia raja? Apa kau sengaja mengagalkan rencana itu untuk membantu Karmila?" Tanya Nagara yang tampak sangat marah, namun berusaha keras menyembunyikan kemarahan itu.
"Aku.....Aku....." Ana seketika terdiam dan gugup untuk menjawab pertanyaan dari Nagara.
"Ini tidak benar kan Ana? Kau tidak mungkin menyelamatkan wanita yang sudah menghancurkan hidup mu kan?" Tanya Nagara sekali lagi seakan tak percaya dan tak terima dengan kenyataan.
Ana hanya bisa diam lantaran binggung harus menjawab apa, di satu sisi dia memang sengaja mengagalkan rencana Morona untuk menyelamatkan Karmila, di sisi lain hal itu sama saja dia sudah melanggar janjinya kepada Nagara.
"Ana! Apa itu benar? Jadi kau benar benar menggagalkan rencana nya? Kau benar benar menyelamatkan wanita itu?" Ucap Nagara yang masih tak percaya.
Secara tak sengaja, Ana mengangguk yang secara tak langsung dia membenarkan apa yang di katakan oleh Nagara jika dia memang sengaja menggagalkan rencana Morona untuk menyelamatkan Karmila dan bayi yang ada di dalam kandungan Karmila.
"Astaga! Aku benar benar tak percaya! Aku benar benar....." Nagara merasa sangat kecewa dengan apa yang sudah di lakukan oleh Ana.
"Nagara!!!" Ana berusaha memanggil Nagara yang sangat kecewa kepadanya.
"Maafkan aku Nagara! Maafkan aku!" Tanpa sadar Ana merasa sangat sedih dan air mata nya tak sengaja jatuh, dia lalu membuang botol yang berisi racun itu, setelah itu dia pergi dari tempat itu.
Saat ini Morona sedang bersama Vito masih berada di dalam ruangan rahasia.
"Kita tidak mungkin gagal kan? Tapi bagaimana bisa Karmila sama sekali tidak merasa kesakitan?" Tanya Morona yang masih tak terima jika rencana yang sudah dia persiapkan gagal.
"Saya juga tidak paham yang mulia, setelah anda menjelaskan semua yang terjadi, rasanya sangat tidak mungkin jika racun itu tidak bereaksi karena saya sangat yakin seharusnya rencana kita berjalan!" Sama halnya dengan Morona Vito juga tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Morona.
"Ahhh bagaimana sih Vito? Bagaimana bisa rencana kita gagal ? Cepat panggil orang yang kau pekerjakan itu! Aku masih tidak percaya kalau kita gagal! Seharusnya kita berhasil! Rencana ini harus berhasil! Tidak boleh sampai gagal!" Ucap Morona yang merasa cukup khawatir.
__ADS_1
"Baiklah yang mulia! Sekarang juga saya akan membawakan orang itu ke hadapan anda!" Ucap Vito.
"Pergi lah! Jangan lama lama!" Pinta Morona.
Vito lantas pergi untuk membawakan orang yang di pekerjakan kepada Morona.
Tak lama kemudian, Vito datang lagi dengan membawa seorang wanita setengah baya yang tak lain adalah orang suruhan nya dalam merencanakan pembunuhan bayi yang ada di dalam kandungan Karmila.
"Ini dia orang nya yang mulia!" Ucap Vito.
"Kau! Tanpa banyak basa basi, aku ingin langsung tanya saja! Sebenarnya apa yang kau lakukan? Bagaimana bisa racun itu sama sekali tidak bereaksi pada tubuh Karmila? Apa jangan jangan kau gagal?" Tanya Morona dengan cukup emosi karena tidak terima dengan kegagalan saat ini.
"Mohon ampun yang mulia! Izin menjawab jika saya selalu berhasil dalam hal ini, tidak mungkin jika racun itu tidak bereaksi! Racun itu sangat ampuh bahkan untuk di tubuh orang normal sekali pun, tetap akan bereaksi!" Ucap wanita setengah baya itu dengan sangat yakin.
"Tapi buktinya sekarang kita gagal! Rencana ku gagal! Kau sudah gagal menjalankan tugas dari ku!" Suara Morona terdengar sangat tegas yang bisa dikatakan cukup kasar.
"Tidak mungkin yang mulia! Racun itu benar benar sangat ampuh! Satu satunya hal yang menggagalkan rencana kita hanya jika racun itu sudah diganti, maka minuman tersebut pasti tidak bereaksi!" Ucap wanita setengah baya itu yang berusaha membela diri.
"Maksud mu?" Tanya Morona dengan raut wajah yang kebingungan.
"Saya curiga ada seseorang yang sudah menukar botol yang berisikan racun itu! Karena sebenarnya saat saya di dapur saya merasa seperti ada yang memperhatikan saya!" Ucap wanita itu yang berusaha menjelaskan kepada Morona jika ini bukan sepenuhnya kesalahannya.
"Kau itu kan sangat ahli! Tetap saja seharusnya kegagalan ini tidak terjadi! Aku tidak terima dengan hak ini! Aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk membayar mu! Karena aku sudah membayar setengah dan ternyata kau gagal, maka aku tak akan membayar mu sisanya! Vito jangan berikan dia uang sisa perjanjian karena dia gagal!" Morona lantas memberikan perintah kepada Vito karena dia merasa sudah di rugikan.
Setelah mengatakan hal itu, Morona lantas pergi dari tempat itu, dia mulai berjalan mencari cari udara segar untuk membuat diri menjadi lebih baik.
Hingga sampai dia di lorong perbatasan antara istana raja dengan istana pusat yang kebetulan tempat itu juga adalah bagian dari tempat pelatihan kesatria kerajaan, Morona justru melihat sebuah botol bekas cairan berwarna hitam tergeletak di lantai.
__ADS_1