
......................
Ketika ia pulang, Lyra dapat melihat Aston Martin milik Alessio yang sudah terparkir rapi disana. Tanpa ia bertanya ia sudah tahu apa motif Alessio menyusulnya.
Iapun membuka pintu mobil dua seat itu dan masuk. Dengan Alessio yang sudah memegang gagang kemudi.
"Bagaimana kuliahmu, baby?". Tanyanya, melirik pada Lyra.
"Membosankan, tapi tidak buruk juga".
Lyra merasakan tangan besar Alessio dipahanya, kemudian meremas pahanya. Lyra melirik ke arah Alessio yang tersenyum miring. Lyra mengigit bibir bawahnya.
"Itu bagus, sayang". Setelah itu, tidak ada satupun dari mereka berdua yang bersuara. Lyra memilih untuk memalingkan wajahnya. Sementara Alessio terus mengelus pahanya.
Lyra menggeliat di tempat duduknya, "Bisakah kau menghentikan itu?". Ujarnya sambil menyisihkan tangan Alessio.
"Kenapa? apa itu membuatmu berg*irah?".
Lyra memukul lengan Alessio, "Ish.. Alessio. Jangan menggodaku". Alessio kemudian tertawa.
Tak lama kemudian, merekapun sampai di kediaman keluarga Estrella. Disinilah, Lyra mulai ketakutan. Gadis itu bermain dengan ujung jarinya, matanya memanas.
Alessio yang menyadari hal itupun kemudian meraih tangan Lyra dan mengenggamnya. Lyra membuang nafas. Kemudian tersenyum miris, tidak ada jalan keluar lagi bukan sekarang?
Lyra pun keluar dari mobil, namun yang tidak ia sangka adalah ketika Alessio mengikutinya keluar. Gadis itu menatapnya heran.
"Kenapa kau keluar?"
Alessio menaikkan satu alisnya, "Kau berharap aku disini saja?".
Lyra menghentak kakinya kesal, "Ish... Kau ini bagaimana, sih? nanti kalau semuanya makin runyam ketika kau ada bagaimana?".
"No, baby. Semuanya akan baik baik saja"
"Percaya diri sekali". Gerutu Lyra, namun gadis itu tetap melingkarkan lengannya manja pada Alessio. Dengan gugup masuk kedalam.
Seperti yang Lyra duga, di jam segini keluargannya sedang ada di ruang tengah. Karena ia teringat daddy-nya mengatakan bahwa hari ini ia dan Leo akan berada dirumah seharian.
__ADS_1
Wajah mereka pun berbinar ketika Lyra datang, namun kemudian berubah ketika melihat siapa yang ada disamping Lyra.
"Lyra, selamat datang nak". Sambut Lily. Memeluk putri semata wayangnya itu. Lyra memaksakan senyumnya.
Berbeda dengan Lily, Orion dan Leo langsung memandang pada Alessio was was.
"Alessio Romanov? apa yang kau lakukan disini?"
Lyra mengernyitkan dahinya. Merasa heran kenapa daddy-nya kenal dengan Alessio. Namun, mengingat reputasi Alessio seharusnya ia tidak perlu heran lagi. Keluarga Estrella terkenal sebagai salah satu pengusaha tambang minyak terbesar didunia. Dan di dunia ini, orang orang yang berkuasa pasti mengenal satu sama lain.
Alessio mengulurkan tangannya, yang disambut dengan was was oleh Orion. "Saya kemari untuk mengantarkan putri anda" Jawabnya. Ekspresinya sama sekali tidak terbaca, membuat Orion memandangnya curiga.
Kini pandangan menyelidik daddy-nya itu kembali pada Lyra, "Lyra, kau kenal dengan Mr.Romanov?". Tanyanya.
Oke inilah saatnya. Sungguh, melihat wajah mereka Lyra jadi tidak tega untuk berbohong.
"Daddy.. Sebenarnya aku". Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Alessio. Orion yang menyadari itu pun terkejut.
"Daddy, aku mencintai Alessio".
Semua orang terdiam, terlalu terpukul untuk menanggapi. Lyra menunggu dengan was was reaksi mereka. Namun mereka terus terdiam membuat Lyra semakin dirundung kekhawatiran.
Hingga kemudian, Leo memilih untuk angkat suara, "Lyra, katakan bahwa ini tidak benar. Kau tahu bukan jika Mr. Romanov sudah memiliki istri?". Tanyanya hati hati.
Rasanya pahit saat keluar dari mulut Lyra. Sebuah kebohongan. Lyra sama sekali tidak mencintai lelaki pemaksa disebelahnya ini. Namun disisi lain, ia tak dapat memungkiri jika getaran aneh itu selalu hadir saat ia beesama dengan Alessio.
Kali ini Orion memutuskan untuk bersuara, suaranya tajam dan tegas. Lyra tidak suka itu. "Lyra, apa maksud dari semua ini?"
"Daddy, kau bilang aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau. Well, aku mau Alessio".
"APA KAU SUDAH KEHILANGAN AKAL!". Lyra tersentak ketika mendengar Orion membentaknya. Tubuhnya bergetar. Seumur hidup, ia tak pernah melihat Orion semarah ini. Namun yang paling menyakitkan adalah ketika melihat raut kekecewaan dari keluarganya.
Alessio mengepalkan tangannya emosi saat merasakan tubuh mungil yang menempel padanya. "Jangan membentak putri anda seperti itu tuan Estrella". Peringatnya, masih berusaha bersikap tenang.
Orion memandangnya tajam, "Jangan mendikte bagaimana aku harus berbicara dengan putriku tuan Romanov. Ini sama sekali bukan urusan anda".
Alessio melingkarkan tangannya posessive pada pinggang Lyra, "Apapun yang berhubungan dengannya, itu berhubungan denganku Mr. Estrella".
Sebelum Orion sempat membalas perkataan Alessio, Lily sudah terlebih dahulu berkata lirih.
__ADS_1
"Lyra, bagaimana kau bisa melakukan ini? bukankan Mommy sudah mengajarimu apa yang benar dan tidak benar. Apa yang salah, Lyra?". Hati Lyra terpecah menjadi dua begitu mendengar tangisan mommynya, ia memalingkan wajah. Tak sanggup melihat pemandangan itu. Semua ini karenanya, ia penyebab kesedihan keluarganya.
"Maafkan aku. Tapi kalian harus mengerti, aku tahu ini salah. Tapi aku sangat mencintai Alessio, biarkan aku bersamanya walau hanya sejenak. Biarkan aku menikmati rasa cintaku. Aku mohon, Daddy—mommy". Pintanya. Air mata yang sejak tadi ditahannya pun akhirnya luluh juga.
Memang benar, kelemahan mereka adalah air mata Lyra. Hingga kemudian, begitu Lyra menangis. Semua oranh dibuat kalang kabut olehnya.
"Princess, tolong jangan menangis. Memang apa rencanamu nantinya, hmm?". Tanya Orion. Sama sekali tidak tega ketika putri bungsunya menangis.
Sejujurnya, Lyra tidak memikirkan sampai kesana. Maka dari itu ia menatap pada Alessio meminta bantuan.
Lelaki itu sepertinya paham, "Setelah kelulusannya, Lyra akan tinggal bersamaku di Rusia".
Semua orang terkejut, tak terkecuali Lyra.
"Rusia? Kau akan membawa Lyra kami ke Rusia. Lalu apa, menyembunyikannya?". Tanya Leo sarkas.
"Kalian semua tidak perlu khawatir. Semua kebutuhan Lyra akan kupenuhi, juga keselamatannya terjamin seratus persen". Ujar Alessio final.
Semua orang terdiam, tidak tahu bagaimana memproses informasi ini. Lily pun juga berhenti menangis dan menatap putrinya. Bagi mereka, kebahagiaan Lyra adalah yang terpenting. Dan jika inilah kebahagiaanya, mereka tidak akan bisa untuk melawannya.
Orion mendekat pada Lyra, memegang kedua pundaknya lembut. "My star, apa ini yang kau inginkan?". Tanyanya lembut.
Lyra mengangguk, "Iya, daddy. Aku menginginkannya". Tidak, tapi pria itu telah memaksaku dan mengancamku, aku takut Daddy. Lanjutnya dalam hati
Orion pun memeluk Lyra dengan erat. Sementara Lyra pun memeluk Orion tak kalah eratnya. Berada di pelukan daddy-nya adalah hal terbaik yang pernah ada. Dan memikirkan bahwa ia telah membohongi orang orang yang paling menyayanginya kembali membuat Lyra menangis di pelukan Daddy-nya.
Orion mengecup kening putrinya, kemudian menghapus air matanya, "Jangan menangis, putriku. Daddy akan selalu ada untukmu jika kau butuh apapun".
Lyra menganguk.
"Hei kau, jangan sekali kali menyakiti adikku. Kalau tidak, aku sendiri yang akan menghabisimu". Ujar Leo tajam. Sebenarnya ia sangat tak suka ketika adiknya akan menjadi selingkuhan, terutama selingkuhan seorang Alessio Romanov, namun sama halnya dengan Orion, Leo juga tidak bisa menolak permintaan Lyra. Maka dari itu ia mengancam baj*ngan tengik ini.
"Kau jaga putriku dengan baik. Aku mau dia selalu bahagia". Tutur Orion.
"Lyra adalah harta kami yang paling berharga. Tolong jangan sakiti dia". Lanjut Lily.
Alessio mengangguk, "kalian semua tidak usah khawatir. Kalian bisa mempercayakan Lyra padaku".
......................
__ADS_1
Haloo.... Sekedar info. Besok aku akan update 2 Chapter karena hari ini aku ada deadline buat cerita di lapak sebelah. Jadi kalian stay tune terus ya..
xoxo.