
......................
"Halo, mommy. Aku sangat merindukanmu"
"Oh, Lyra putriku. Tentu saja kami juga merindukanmu, nak. Apa kau tahu jika daddymu dan Leo menjadi badmood setelah kau tinggal pergi?"
"Benarkah itu?"
"Iya. Bahkan aku melihat pria pria konyol itu merajuk seperti wanita. Bisa kau percaya itu?"
"Hahaha aku bisa membayangkanya, mom. Mereka berdua memang sangat drama queen"
"Ya kau benar. Mengurusi dua bayi besar seperti mereka memang benar benar merepotkan"
"Mom, jangan bilang begitu atau mereka akan benar menangis"
"Kalau begitu Lyra jaga rahasia kita ya? Daddy-mu bisa merajuk kalau tahu mommy menelponmu"
"Tentu mom"
"Baiklah, nak. Sebelum mommy menutup teleponnya. Mommy ingin tahu apakah Alessio memperlakukanmu dengan baik?"
"Sangat, mom. Dia benar benar memanjakanku"
"Syukurlah, jika ada apa apa beritahu mommy secepatnya, ya?"
"Tentu. Jaga dirimu, mom"
"Kau juga nak"
Lyra menutup telponnya. Menatap pada pemandangan taman belakang dibalik dinding kaca ruang musik. Cahaya rembulan nampak menyinari taman yang membuat kesan fantasi sangat terasa. Alessio memang benar benar hebat bisa mempekerjakan arsitek yang membuat tempat se indah ini.
Lyra berada di ruang piano menunggu untuk Alessio. Laki laki itu tidak pernah telat datang.
Ia bisa saja bermain piano tanpa Alessio. Tapi Lyra tidak melakukannya. Gadis itu ingin bermain piano dengan Alessio yang memandanginya —tenggelam dalam kehangatan pancarannya saat ia bermain alat musik itu.
Mend*sah kasar, Lyra melirik pada jam di dinding. Sebentar lagi, batinnya.
Hingga kemudian sesuatu di sofa menarik perhatiannya.
Lyra menahan nafasnya dan mengangkat tangan pada mulutnya karena terkejut. Namun ia tak bisa membendung seutas senyum yang terlihat tak kala melihat apa itu.
Sebuah bunga Daffodil tergeletak di sofa.
Lyra membungkuk, mengambil Daffodil itu dan membawanya mendekat pada jantungnya yang kini berdebar debar lebih keras.
Alessio.
__ADS_1
Laki laki itu sangat romantis.
Ia tidak percaya jika Alessio akan menaruh bunga Daffodil disini. Bunganya bukan merupakan buket bunga besar yang megah, namun hanya sebuah Daffodil tunggal, tetapi memiliki nilai dan makna yang penting. Membuat Lyra berdebar dan pipinya sakit karena terlalu banyak tersenyum.
"Bisakkah aku menebak bahwa kau menyukai bunga itu?"
Iris hazelnya melebar. Lyra berbalik dan menemukan Alessio bersandar di daun pintu.
Tangannya disilangkan didepan d*da, kepalanya dimiringkan sedikit ke samping dengan seringai kecil di wajahnya.
Lyra ingin sekali mengatakan bahwa ia membenci seringai itu, tapi ia ternyata tidak.
Gadis itu kini sibuk menyembunyikan senyumannya.
"Aku". Ia menjawab kemudian berhenti. Sungguh, ia tidak bisa berbohong untuk yang kali ini.
"Cantik sekali. Aku suka". Jawabnya.
Alessio perlahan berjalan ke arahnya, matanya intens menatap pada Lyra. Semakin dekat membuat hatinya terasa berdetak semakin liar dan perutnya melilit oleh jutaan kupu kupu yang berterbangan —perasaan sama yang selalu ia rasakan saat Alessio ada didekatnya.
Laki laki itu berhenti di depannya. Lyra mendongak ke atas dan menatap Alessio.
Laki laki itu sangat tinggi tatapannya penuh dengan api yang berkobar dan menatap pada bibir ranum gadis di depannya membuat sang empu secara tidak sadar menjilat bibirnya yang terasa kering.
Alessio mengambil langkah mendekat hingga kemudian hanya tersisa jarak beberapa inci saja dengan Lyra. Tubuh bagian depan mereka bersentuhan —membuat Lyra menahan nafasnya dan mengambil nafas dalam dalam.
"Alessio..."
"Lyra...", bisiknya sembari menundukkan kepalanya.
Mereka saling bertatapan. Hingga kemudian Alessio mencondongkan wajahnya lebih dekat sampai bibirnya dan bibir Lyra hanya tersisa jarak satu centi saja.
"Aku akan menciummu sekarang juga". Ujarnya.
"Oke"
Lyra dapat melihat seringai kecil Alessio, lalu kemudian laki laki itu menangkap bibirnya dalam sebuah ciuman. Menyentuh bibir Lyra dengan lembut hingga gadis itu menahan nafasnya.
Alessio perlahan menggerakkan lidahnya di bibir Lyra, menunggu dengan sabar hingga gadis itu membuka mulut.
Dia membujuknya dengan lembut, tidak tergesa-gesa —memberi sedikit Tekanan pada ciuman mereka hingga Lyra tersentak.
Alessio mengambil kesempatan itu untuk memasukkan lidahnya. Dengan lembut menyentuh Lyra, dia mencium gadis itu dengan perlahan, seolah ingin menikmati ciuman itu.
Kali ini, Lyra merasa berani untuk membalas ciumannya. Lyra merasa mencium Alessio adalah sesuatu yang ia tidak akan pernah bosan lakukan.
Tangan laki laki itu meluncur ke lehernya, tepat dibawah telinga Lyra —jari jarinya terentang menangkup wajah gadis itu. Tangannya yang lain meluncur melalui rambut coklat keemasannya, memiringkannya sedikit untuk mengakses bibir ranum itu lebih baik.
Lyra meletakkan kedua tangannya di d*da Alessio. Menyandarkan diri sepenuhnya pada laki laki itu. Membiarkan kehangatan Alessio menyelimutinya. Dalam pelukannya, Lyra merasa aman —terlindungi. Ia merasa diinginkan.
__ADS_1
Alessio tidak terburu buru dan dia membiarkan Lyra memimpin ciuman itu. Kemudian laki laki itu menjilat bibir bawahnya dan Lyra membiarkannya.
Begitu lembut. Begitu hangat. Begitu manis.
Sangat membuat candu.
Alessio dengan lembut mengigit bibir bawahnya, kali ini mengklaim bibirnya dengan sedikit lebih keras dan sedikit lebih menuntut.
Mereka berdua terengah engah saat laki laki itu menarik diri. Laki laki itu menyenderkan dahinya pada Lyra sembari mengatur nafasnya.
"Aku tidak pernah bosan untuk menciummu". Ujarnya serak.
Lyra tersenyum. Melihat tatapan Alessio padanya yang terlihat lembut dan memuja yang bisa mencuri nafas Lyra.
Gadis itu benar benar terpaku pada netra abu abu ketika Alessio menurunkan tangannya dan menempatkannya pada pinggang ramping Lyra. Kemudian menarik tubuhnya dan memeluknya.
Alessio memeluknya seolah ia sangat berharga.
Seolah hanya gadis itu yang ia lihat.
Alessio membuatnya merasa sebagai gadis paling cantik didunia.
Alessio membungkuk kemudian memberikannya sebuah kecupan lalu melangkah pergi. Menunjuk pada piano sambil tersenyum dan berkata.
"Bermainlah"
Lyra mengangguk. Berjalan menuju piano dengan daffodil yang masih ada di genggamannya. Tatapan mereka berdua masih terikat bahkan ketika gadis itu menempelkan jarinya pada tuts piano dan memainkan melodi indah dengan Alessio yang selalu melihatnya.
Setelah selesai, gadis itu berbalik dan menemukan Alessio yang masih menatapnya.
"Mengantuk, princess?". Tanyanya. Tepat ketika laki laki itu bertanya demikian, gadis itu menguap.
Alessio terkekeh kemudian tanpa kata membawa Lyra dalam gendongannya. Gadis itu hanya menurut dan membiarkan Alessio menggendongnya sampai pada kamar mereka.
Rasanya sangat hangat. Apalagi ketika menciumi aroma Alessio, membuatnya semakin mengantuk.
Alessio dengan hati hati membaringkannya. Kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut sembari mengelus rambut coklat keemasannya.
Laki laki itu mencium pipinya dengan senyuman hangat di bibirnya.
"Selamat tidur, sayangku"
Lyra pun tertidur dengan seutas senyum menghiasi wajahnya.
......................
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo.
__ADS_1