
......................
Malam ini, Elain habiskan dengan menatap bintang di langit. Setelah pesta, Dominick mengantarkan Aluna pulang. Namun bukan berarti laki laki itu tidak bertanggung jawab.
Dominick meminta sopirnya untuk mengantar Elain pulang.
Walaupun sebenarnya bukan itu yang Elain mau.
Elain memandang pada bintang bintang dari balik balkon kamarnya.
Pemandangannya benar benar indah. Di malam November ini ia bisa melihat konstelasi bintang Andromeda, Cepheus dan Cassiopeia. Ia jadi teringat akan Lyra.
Gadis itu kerap bercerita tentang tradisi keluarganya yang menamakan anak mereka dari nama bintang. Dan setiap bintang konstelasi mereka muncul. Seluruh anggota keluarga akan berbondong bondong untuk melihatnya.
Elain sangat iri akan Lyra. Keluarga Lyra terlihat sangat hangat dan saling menyayangi satu sama lain.
Berbeda jauh darinya.
Pikiran itu membuatnya terbayang akan kejadian yang sama sama terjadi di malam November beberapa tahun yang lalu.
Kala itu, Elain baru saja membuka pintu rumahnya. Gadis remaja itu baru saja menikmati waktu pertama kalu bersama Igor di pasar malam.
Semenjak tahu akan ada pasar malam di kota mereka, gadis itu merengek seharian meminta untuk pergi. Ia sangat bersemangat. Elain tidak pernah pergi ke pasar malam sebelumnya.
Igor menyetujuinya, walaupun disertai dengan segala macam ceramah tentang apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan disana.
Overall, Elain menikmati waktunya. Walaupun sedikit sedikit Igor terus mengenggam tangannya seakan Elain itu anak ayam yang akan terlepas dari induknya.
Ia benar benar bahagia. Itu sederhana, tapi tetap membuatnya bahagia.
Kemudian ia dan Igor pulang.
Dan papanya menunggu dengan raut amarah.
Elain masih ingat bagaimana takutnya ia saat itu.
Papanya berkata dengan dingin. "Igor. Pergi ke kamarmu"
Igor menatap ke arahnya. Elain memberikannya tatapan memelas. Igor juga akan memprotes pada Ivan, papa mereka namun Ivan lebih dahulu menyentakknya.
"Pergilah ke kamar, Igor Volkov"
Igor mengangguk patuh. Kemudian melayangkan satu pandangan meminta maaf pada Elain. Saat melewati papa mereka, ia berbisik.
"Papa, jangan terlalu keras pada Elain. Ini salahku"
__ADS_1
Ivan mendengus. "Apa aku meminta pendapatmu, boy? sekarang pergilah"
Kini hanya tersisa Elain dan papanya disini. Gadis itu sedari tadi sibuk memelintir ujung kaosnya. Tatapan papa benar benar mengerikan. Ia dapat merasakan tubuh mungilnya yang bergetar.
Ivan Menatapnya seperti laki laki itu sangat membencinya.
Dan tebakan Elain, papanya memang membencinya.
Ivan Volkov kemudian mendekat padanya. Rasanya Elain ingin memundurkan diri saja disetiap pijakkan yang ditempuh Ivan padanya.
"Kenapa kau pulang malam?".
Khas papanya. Sangat tidak berbasa basi dan lebih memilih untuk to the point dengan ucapannya.
Elain menunduk. Tidak berani bertatapan dengan netra gelap sang ayah.
"Jika seseorang berbicara padamu. Pandang ia di matanya!". Sentak Ivan. Elain terkesiap.
Gadis itu merasakan keringat dingin membanjiri pelipisnya. "A—aku sehabis pergi ke pasar malam bersama Igor". Jawabnya terbata.
"Seharusnya kau malu! kau ini putri keluarga Volkov! apa yang akan mereka katakan jika melihatmu pergi berkeliaran malam malam! kau mau memalukan keluarga kita?"
Elain dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak papa! itu sama sekali bukan maksudku! aku hanya pergi sebentar". Air mata lolos dari netranya.
"Sudahlah, jangan menangis. Jangan jadi lemah. Jangan mempermalukan keluarga ini lagi". Ivan pun pergi.
Ia sedang menangis dengan ditemani bintang dan bulan ketika ia melihat seseorang berbicara dengan Igor di balkon kamar laki laki itu.
Awalnya, Elain sama sekali tidak memperdulikannya. Gadis itu bertumpu pada tiang pembatas. Kemudian menangis tanpa suara. Air matanya mengalir begitu saja. Kenapa papanya tidak pernah menatap pada Elain semenjak kejadian itu? Elain tidak tahu apa salahnya.
Kemudian ia mendengar sebuah suara dari balkon Igor.
"psst... psttt".
Elain dengan cepat menghapus air matanya kemudian menoleh. Mendapati Dominick Ivanov yang berada di balkon kakaknya.
Ini kali kedua pertemuannya dengan Dominick. Semenjak kejadian ia jatuh hati pada Dominick di pertemuan pertama mereka, membuat Elain tidak berani menatap laki laki itu tepat di matanya.
Dominick sering berkunjung ke mansion mereka karena ia adalah sahabat dekat kakaknya. Daan saat itu juga ia dengan gencar menghindari laki laki dengan marga Ivanov itu.
Elain tidak ingin Dominick melihatnya disaat saat lemahnya seperti ini. Karena itulah sebelum Dominick dapat melihat wajahnya yang banjir air mata, ia lebih dahulu sudah menghapus sisa sisa air matanya.
Ia pun berbalik. Mendapati laki laki itu yang bersandar di tiang balkon kamar kakaknya. Tatapanya sayu serta sendu. Seakan Dominick tahu kalau Elain tidak merasa baik baik saja sekarang.
Tanpa kata, laki laki itu merogoh sesuatu dari balik dompet celananya. Kemudian mengulurkan sebuah sapu tangan berwarna putih polos yang diterima oleh Elain.
Sapu tangan itu berwarna putih. Dengan rajutan benang emas di sekelilingnya. Dapat ia lihat di pojok kiri itu bertuliskan.
__ADS_1
D.I
Sebuah inisial untuk Dominick Ivanov.
Kemudian laki laki itu bersuara. Suaranya sangat lembut begitu juga dengan tatapannya. Membuat Elain terhipnotis akan netra biru cerah itu.
"Its okay. Memang menangis tidak menyelesaikan semuanya. Namun dengan menangis kau dapat menyalurkan emosimu. Lebih baik kau melampiaskannya dengan menangis daripada melampiaskannya pada orang lain"
Sampai sekarang. Elain masih teringat akan kata kata laki laki itu.
Elain pun menengandah. Kemudian berbisik. "Kalau begitu... bolehkah aku menangis sekarang, Dominick?"
"Kenapa menangis?".
Elain menoleh pada sumber suara. Kemudian matanya membola begitu melihat Dominick yang berjalan ke arahnya.
Laki laki itu kemudian menangkup wajahnya. Tidak tahu jika aksi yang dilakukannya itu membuat sang gadis memerah.
"Tidak apa apa". Tatapan Dominick menyelidik. Seolah ingin tahu kebohongan Elain. Gadis itu berdoa dalam hatinya semoga Dominick tidak mengetahui kebohongannya.
Dominick kemudian menghela nafasnya. Laki laki itu tahu jika Elain berbohong. Namun ia tidak akan pernah memaksanya untuk bercerita jika Elain sendiri tidak siap.
Elain dapat merasakan Dominick mengusap pipinya pelan. "Tidak apa apa kalau tidak mau bercerita. Kau cukup tahu jika aku ada disini untukmu". Elain mengangguk.
"Kenapa kau ada disini?"
Dominick menurunkan tangannya. "Oh, karena itu. Aku disuruh papamu untuk membawamu kebawah. Ada sesuatu yang mau dibicarakan katanya".
Walaupun bingung, Elain tidak memprotes saat Dominick menggandengnya dan membawanya ke bawah. Disana, ia bisa melihat ayah Dominick, Damien Ivanov dan ibunya, Evanna Ivanov tengah tersenyum ramah padanya.
Tak hanya orang tua Dominick, ia juga dapat melihat papanya dan Igor disana. Ia bertanya tanya apa yang akan terjadi.
Kemudian Damien Ivanov bersuara.
"Kalian pasti bertanya tanya apa yang membuat kami datang. Aku dan Ivan sudah membuat keputusan untuk menjodohkan Dominick dan Elain. Pernikahan kalian dilakukan dua minggu lagi"
......................
**Maaf banget kemaren nggak update karena aku bener bener sibuk sama sekolah, baru aja pulang habis maghrib. Jadi mohon pengertiannya ya...
Anyway..
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo.
- Balqis istrinya NaNa**
__ADS_1