Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 62 | Love bite


__ADS_3


......................


Besoknya, yang pertama terbangun dari mereka berdua adalah Dominick. Pria itu terbangun karena rasa geli yang menyentuh hidungnya. Ia menggeleng beberapa kali, namun rasa geli itu tak kunjung hilang.


Ia mengerjap, kepalanya masih terasa berat. Dominick beberapa kali meringis ketika kepalanya terasa berdenyut. Laki laki itupun menyadari jika rasa geli itu berasal dari rambut yang ada di wajahnya.


Sontak Dominick pun membelalakkan matanya. Kilasan kejadian semalam pun mengelilingi kepalanya.


Astaga... bagaimana ia bisa begitu bodoh!


Apa yang ia lakukan? ia telah meniduri —bahkan merenggut keper*wanan gadis yang selalu ia pandang sebagai adiknya sendiri.


Walaupun dalam keadaan mabuk, Dominick tetap tidak bisa menormalisasi kan keadaan. Seharusnya ketika ia melihat Elain mabuk, harusnya ia menjadi yang waras disini. Bukan malah mabuk dan berbuat lebih jauh dengan Elain.


Tapi apakah itu memang salah? mereka sudah sah menjadi suami istri. Namun kenapa Dominick tidak bisa menghilangkan rasa nyeri dan bersalah di hatinya. Bayang bayang wajah Aluna dikepalanya membuat Dominick merasa sebagai pria paling br*ngsek sedunia.


Ia masih mengusap wajahnya kasar. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan sehabis ini. Tentang Elain dan hubungannya dengan Aluna. Semuanya terasa sangat rumit.


Ia tidak bisa begitu saja meninggalkan kewajibannya akan Aluna. Namun disisi lain, ia juga memiliki Elain yang berada penuh menjadi tanggung jawabnya.


Ia telah berjanji pada Aluna. Dan Dominick itu pria yang selalu menepati janjinya. Apalagi pada wanita yang ia cintai. Ia egois, ia tidak mau melepaskan Aluna begitu saja. Maka dari itu, inilah konsekuensi yang harus ia tanggung. Aluna adalah kewajibannya, dan Dominick tidak bisa lalai dari itu.


Ketika tengah asyik berpikir, tiba tiba teleponnya berkedip. Untung saja Dominick mengatur ponselnya dalam mode diam semalam, karena jika tidak. Maka Elain akan sudah terbangun, dan Dominick tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat gadis itu terbangun nantinya.


"Halo"


"Halo... Dominick?"


Tubuh Dominick pun menegang begitu mendengar suara Aluna yang terdengar ketakutan.


"Ada apa, sayang?"


"Dominick. Apa kau sibuk?"


Dominick melirik ke arah Elain yang tengah tertidur pulas.


"Tidak"


"Bisakah kau kemari? Aku tidak tahu —aku merasa takut, Dominick"


"Baiklah. Tenang saja, sayang. Kau tetap disana. Aku akan segera ke apartemenmu"


"Okay. Hati hati. Aku mencintaimu"

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu"


Setelah mematikan teleponnya, Dominick pun bergegas memakai pakaiannya dengan terburu buru. Lalu memandang pada wajah tertidur pulas Elain. Tanpa berpikir panjang, pria itu mengecup singkat kening gadis itu lalu berbisik.


"Maafkan aku"


......................


Sebenarnya sedari tadi Elain itu sudah bangun. Namun sama seperti Dominick. Ia juga memiliki gundah gulana yang sama. Oleh karena itu ia takut untuk membuka mata.


Takut dengan Dominick. Setelah perbuatan agresifnya semalam. Bagaimanan ia bisa menatap laki laki itu lagi? memikirkannya saja sudah mau membuat Elain pindah ke planet Mars.


Oke, tidak apa apa. Yang semalam itu hanya pengaruh alkohol. Elain tidak melakukan hal itu di keadaan yang sadar. Namun hal itu sama sekali tidak menyelesaikan rasa resah di hatinya.


Ia mendengar Dominick yang bolak balik menghela nafasnya. Ia tahu jika suaminya itu tengah berpikir berat sekarang.


Apakah Dominick menyesali apa yang mereka lakukan semalam?


Ia merelakan sesuatu yang sangat berharga pada Dominick sebagai wanita. Dan tentu saja ia akan sedih jika memang laki laki itu menyesali apa yang mereka lakukan semalam.


Yah, walaupun itu memang dilakukan tanpa kesadaran mereka. Dan karena pengaruh alkohol...tapi tetap saja...


Belum sampai ia berpikir. Di ujung matanya yang separuh terbuka, gadis itu melihat layar ponsel Dominick yang berada di nakas berkedip. Ia berpura pura tidur saat pria itu mengambil ponselnya.


Terdengar percakapan diponsel antara Dominick dan seseorang yang tidak ia kenal.


Hatinya terasa remas. Apalagi ketika Dominick mengatakan kata 'aku mencintaimu' pada Aluna. Rasanya lebih baik ia tidak pernah mendengarnya saja.


Ia terus berdoa dalam hati, agar Dominick tidak meninggalkannya. Ia ingin sekali ini saja Dominick memilihnya.


Aku mohon, bertahanlah. Jangan pergi.


Namun sayangnya, Tuhan tidak mengabulkan doanya. Dominick pun pergi dengan sekilas kecupan dan kata maaf untuknya.


Bagi Elain, semua itu hanya omong kosong belaka.


......................


Disisi lain, Aluna tersenyum puas setelah mematikan teleponnya. Ternyata Dominick benar benar menepati janjinya yang akan selalu memprioritaskan Aluna dimananpun dan kapanpun


Kemarin, ia menghabiskan waktu seharian untuk menangisi pernikahan pria yang ia cintai dengan wanita lain. Sampai ia pun terus terusan dilanda gundah gulana.


Meskipun berstatus sebagai suaminya Elain, namun ia bisa memastikan jika ialah yang memiliki hati Dominick. Dan akan selalu seperti itu.


Tak lama kemudian, bel pintu apartemennya pun berbunyi. Ia membuka pintu dan nampaklah Dominick dengan kemeja putih dan celana hitam di depan pintu.

__ADS_1


Aluna tidak menyia nyiakan kesempatan itu untuk memeluk laki lakinya. Namun kemudian keningnya mengernyit ketika ia mencium bau tak biasa dari Dominick.


Bau parfum wanita.


Iapun mendongak. Kemudian menatap curiga pada Dominick.


Ia hanya perlu memastikan sesuatu.


Aluna pun membuka kerah baju Dominick.


Dan apa yang ia temukan membuatnya terpaku seketika.


Tanda tanda c*pangan yang ada di leher Dominick menjelaskan apa yang laki laki ini lakukan.


Tangannya terkepal. Sungguh sama dengan hatinya yang sakit melihat ini. Wanita mana yang tidak sakit hati saat laki laki yang dicintainya bercinta dengan wanita lain?


Si*lan kau Elain!


Dominick menatapnya heran. Namun Aluna menyunggingkan senyuman palsunya. Kemudian tanpa berkata apapun mengandeng tangan Dominick ke kamarnya.


Dia pikir hanya Elain yang bisa melakukan ini?


Dominick adalah miliknya. Dan akan selalu seperti itu. Aluna hanya perlu membuktikannya saja.


"Aluna, sayang. Kenapa kita ke kamarmu?". Tanya Dominick. Namun laki laki itu juga tidak mencegah Aluna yang menyeretnya ke kamar gadis itu.


Aluna menatapnya polos. "Itu karena aku takut, Dominick"


Dominick terlihat khawatir. "Takut? siapa yang menakutimu? katakan padaku?"


Aluna menyeringai tanpa diketahui oleh Dominick. Ya, memang harusnya seperti ini. Dominick akan selalu memilihnya daripada Elain. Ialah satu satunya wanita yang bertahta di hati pria itu.


"Aku takut kedingingan, maka dari itu kau harus menghangatkanku"


......................


Kalian nyadar gaksih? kalau posisi Elain sama Lyra itu kek keterbalikan banget wkwkw..


Lyra sama kek Aluna yang sama sama selingkuhan dan jadi number one priority buat laki laki mereka.


Sementara Elain sama Asteria yang sama sama istri sah, cinta sama suami tapi gak terbalas dan.... (isi sendiri)


Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusias kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡


Xoxo.

__ADS_1


- Balqis istrinya NaNa


__ADS_2