Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 24 | Tattoo


__ADS_3


......................


Saat ini Lyra tengah menikmat indahnya taman belakang. Duduk di bangku taman putih ditengah tengah hamparan bunga. Sungguh, taman ini sangat luas. Dengan sebuah labirin yang terbuat dari tanaman dan juga kolam ditengahnya.


Jalan setapak yang melingkari sepanjang taman dengan lampu lampu taman yang nampak cantik dimalam hari, juga beberapa bunga bunga dan bangku yang membuat suasana taman semakin asri.


Gadis itu menatap pada kolam ikan yang terletak di tengah. Sibuk dengan fikirannya sendiri.


Akhir akhir ini, ia jarang melihat Alessio ada di rumah. Ia tahu jika alasannya adalah karena laki laki itu menghabiskan waktu di mansion utama. Namun membayangkan jika ia menghabiskan waktu dengan Asteria membuat dadanya nyeri.


Maka gadis itu berusaha menghindari Alessio beberapa hari ini. Karena jika ia melihat Alessio, ia akan langsung luluh begitu saja.


Terlalu sibuk memandangi taman, ia tak sadar jika seseorang tengah mendekat. Nafasnya tercekat tak kala ia merasakan seseorang merangkul lehernya dari belakang.


"Halo, princess-ku". Sapa Alessio sembari mengecup pipi kiri gadis itu.


Lama terdiam. Alessio mengerutkan keningnya heran begitu tidak mendapat respon apapun dari gadis itu. Ia melirik, dan mendapai Lyra yang sama sekali tidak memandang ke arahnya. Sungguh fenomena yang aneh, dimana biasanya gadis itu akan selalu memeluknya jika ada Alessio.


Laki laki itu kemudian mengambil tempat duduk disebelah Lyra dengan posisi badan miring agar bisa menatap penuh pada gadis itu.


Alessio membelai pipinya yang sangat halus, "Kenapa sayangku ini jadi diam saja ,hmm?". Lyra tetap tidak menyahut.


Jadi Alessio membuat keputusan untuk meraih dagunya dan memiringkan wajah gadis itu untuk membuatnya menatap pada Alessio.


Alessio menatapnya khawatir, "Katakan padaku, baby. Apa ada yang menganggumu?"


Lyra mengigit bibir bawahnya. Tidak berani menatap Alessio —bukannya apa apa, ia sangat lemah dengan mata abu abu yang menatapnya dengan penuh perhatian itu.


Lagipula, jika dirasionalkan. Ia sama sekali tidak ada hak untuk marah, bukan? Secara disini Asteria adalah istri sah dimata hukum dan Tuhan. Malah disini ia yang jahat karena merebut laki lakinya.


Tapi apakah salah menjadi egois?


Maka dari itu, Lyra menampilkan senyum terbaiknya —walaupun terpaksa. Kemudian mengenggam tangan Alessio. "Aku tidak apa apa, hanya memikirkan sesuatu". Jawabnya.


Namun Alessio sama sekali tak percaya. Ia menatap intens pada Lyra membuat Lyra semakin bergerak tidak nyaman.


Entah mengapa laki laki itu selalu tahu ketika ia berbohong.


Alessio memandangnya lembut, kemudian mengulurkan tangannya untuk menyelipkan anak rambutnya dibelakang telinga Lyra. Tatapanya masih khawatir. "Katakan padaku apa yang membuatmu resah, sayang. Aku tidak suka melihatmu seperti ini. Hariku sangat sepi tanpa senyumanmu"


Hatinya sontak menghangat mendengar kata kata manis dari Alessio. Tanpa sadar, buliran bening berkumpul dimatanya. Lyra berusaha keras untuk menahannya.


Alessio semakin panik begitu melihat wajah murung dan juga mata berkaca kaca dari Lyra. Laki laki itu tanpa kata langsung membawa Lyra dalam pelukannya.

__ADS_1


Lyra mengenggam erat kaus yang dipakai Alessio. Bibirnya bergetar. Ugh... Kenapa dia jadi secengeng ini, astaga!


"Katakan yang sejujurnya. Biarkan aku memperbaikinya, jangan menangis.... kumohon sayang"


Ketika mendengar kata itu, justru Lyra mulai menangis tanpa suara. Alessio merasakan kaus yang ia pakai basah pun menatap kebawah dan melihat sebuah pemandangan yang menyayat hatinya.


Ia sangat benci ketika Lyra menangis. Apalagi karena dirinya, itu akan membuatnya membenci dirinya sendiri.


"Lalu kalau begitu kenapa kau lebih sering menghabiskan waktu dengan Asteria?"


Dia tidak bermaksud meratapi pertanyaan itu tetapi begitulah yang keluar. Menangis tersedu sedu dipelukan Alessio.


"Ya, Tuhan". Alessio semakin mengeratkan pelukannya pada gadis itu. Membawanya lebih dekat hingga tak tersisa jarak diantara mereka.


"Maafkan aku, princess. Aku memang terlalu sibuk akhir akhir ini —sibuk dalam artian tidak hanya ke mansion utama tapi juga ada beberapa pekerjaan yang harus kukerjakan".


Lyra mencerna semuanya. Penjelasan Alessio memang masuk akal, namun kenapa rasa sesak itu masih ada?


Lyra melepaskan pelukannya. Kemudian kembali menatap lurus kedepan, gadis itu menghela nafas. "Tidak. Jikapun kau benar bersamanya, aku sama sekali tidak ada hak untuk marah. Kalian adalah suami istri, Demi Tuhan!". Ujarnya sembari tertawa sarkas.


Alessio tidak berkata apa apa. Lyra mengigit bibir bawahnya gugup. Kenapa laki laki itu malah diam?


Selang beberapa detik, Alessio mengeluarkan ponsel dari sakunya kemudian menelepon seseorang.


"Viktor. Aku ingin kau mengirim Reynold padaku sekarang juga"


Lihat saja nanti!


Kemudian, Alessio menatap pada jam tangan yang melingkar pada lengannya kemudian mengulurkan tangan pada Lyra.


"Ayo, ikut aku". Ajaknya lembut.


Lyra menatapnya sinis. "Kemana?". Tanyanya jutek.


Alessio terkekeh. Kemudian karena gemas menyubit pipi gembil gadis itu, membuat sang empu mengaduh dan menatap nyalang padanya.


"Sudah. Ayo ikut saja". Ujarnya lembut.


Lyra menatap uluran tangan Alessio dengan menyipit. Sebenarnya apa yang ingin direncanakan oleh laki laki ini?


Dengan menghela nafas, iapun menerima uluran tangannya. Dan Alessio kemudian menuntunnya untuk kembali masuk menuju ruang tamu.


Dahinya berkerut begitu melihat sosok yang asing bersama dengan Viktor dan Theo diruang tamu. Laki laki itu memiliki warna rambut yang dicat merah dengan tato dan tindik yang menghiasi seluruh tubuhnya.


Begitu mendapati Alessio datang, ketiga orang itupun berdiri.

__ADS_1


"Halo, boss...". Sapa laki laki itu mengulurkan tangannya yang dijabat oleh Alessio.


"Lyra, kenalkan ini Reynold. Dan Reynold ini Lyra".


Lyra tersenyum sopan, kemudian menjulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Reynold.


Alessio beralih pada Theo, "Theo. Kau sudah membawa apa yang kuperintahkan?"


"Tentu saja"


Theo kemudian membaw atas berisi barang barang yang aneh dimata Lyra.


Kemudian Alessio membuka kaosnya, membuat Lyra membelalakkan matanya.


"Alessio! apa yang mau kau lakukan?". Gadis itu berseru sembari menutupi wajahnya.


Alessio tersenyum kecil, "Kenapa, princess? bukankah kau sudah melihat semuanya?"


Lyra mendelik sementara semua orang tertawa.


Ia melihat Alessio membaringkan dirinya disofa kemudian Reynold mengoleskan sesuatu pada d*da Alessio. Karena posisi Reynold membelakangginya, Lyra jadi tidak tahu apa yang dilakukan para pria itu.


Beberapa menit pun berlalu, suara mesin terdengar. Lyra mengigit kukunya dengan gugup. Hingga kemudian ketika Reynold menyingkir, Lyra membelalakan matanya karena terkejut.


Di d*da bagian kiri Alessio. Terdapat tato dengan bertuliskan


Lyra


"Dengan ini, mereka akan tahu jika aku milikmu princess". Lyra mengangguk, pipinya memerah.


Degupan jantungnya kembali bertambah. Alessio benar benar memberikan efek tak sehat baginya.


"Wow, love. Kau bisa cemburu juga?". Goda Viktor sembari mengedipkan matanya. Semua orang tertawa.


Alessio menjawab, menatap lurus pada Lyra.


"Biarkan saja. Aku suka jika dia cemburu"


......................


Alessio ke Lyra : 😍🥰🤩😰👑


Alessio ke Asteria : 🧊😑😶😡😐


Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡

__ADS_1


Xoxo.


__ADS_2