
......................
Pergi atau tidak?
Pergi atau tidak?
Pergi atau tidak?
Itulah yang sedari tadi dipikirkan oleh Lyra. Gadis itu kini tengah berjalan mondar mandir dikamarnya. Menggigiti kuku jarinya. Lyra bingung harus berbuat apa.
Sebenarnya apa yang Alessio lakukan? Apa maksud pria itu sebenarnya? apakah ia memang benar benar ingin membunuhnya?
Memikirkannya saja sudah membuat Lyra bergidik ngeri.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Kurang satu jam lagi waktu yang ditentukan oleh Alessio agar ia ke penthouse laki laki itu.
Ya, Alessio mengiriminya pesan lagi dan memberitahunya untuk datang sebelum jam dua belas malam. Dan Lyra tahu betul tempat yang dimaksud oleh Alessio itu adalah penthouse-nya.
Lyra lagi lagi dilanda kebimbangan. Menilik pro dan kontra akan alasan mengapa ia harus pergi. Kemudian menghela nafas.
Sudahlah, kita lihat apa yang ingin dibicarakan oleh laki laki itu!
Dengan itu, Lyra mengambil mantel bulunya dan memakainya. Udara cukup dingin malam ini. Lyra tak repot repot untuk mengganti kaus putih dan celana kotak panjang yang ia kenakan dibalik mantel. Kemudian menata rambutnya dengan tangan. Ia tidak mau berdandan aneh aneh. Lagipula ia tidak akan bertemu dengan presiden Rusia bukan?
Dengan mengendap endap, Lyra berjalan keluar dari kamarnya. Lampu lampu telah mati, dan ia yakin seluruh penghuni mansion termasuk para pelayan sudah tidur. Sekarang masalah Lyra adalah agar tidak tertangkap penjaga yang dijam ini sedang berjaga.
Gadis itu memperhatikan langkahnya ketika ia keluar dari pintu belakang. Memastikan menghindari setiap cctv yang ada dan juga penjaga yang berlalu lalang.
Hingga akhirnya dengan sedikit berlari, iapun sampai di jalanan utama.
Lyra berusaha mengatur nafasnya setelah berlari. Kemudian mengelus dadanya. Ia melihat kesana kemari dan mendapati taksi yang akan lewat. Tanpa pikir panjang iapun menyetop taksi tersebut.
Selang berapa lama, iapun sampai ditempat yang ia tuju. Melihat gedung tinggi ini, membuat memori kala itu kembali. Tanpa sadar pipi Lyra pun memanas.
Oh, ayolah! Jangan pikirkan hal itu di keadaan seperti ini.
Ketika ia tengah asyik mengamati keadaan sekitar, ia dapat melihat seorang pria tampan berambut coklat gelap sedang berjalan tergopoh gopoh ke arahnya.
__ADS_1
"Apa kau Lyra Estrella?". Tanya pria itu. Lyra yang saat itu terkejut pun mulai takut. Bagaimana pria asing ini bisa tahu namanya? Lyra menoleh kekanan dan kekiri hendak mencari pertolongan.
Laki laki itu mendekatinya dengan wajah panik, "Hei hei, tidak perlu takut. Aku disini hanya untuk mengantarmu pada Alessio".
"Alessio?". Tanya Lyra memastikan
"Iya, Alessio. Sekarang ayo ikut aku". Ajaknya yang disetujui oleh Lyra. Namun belum sampai beberapa langkah iapun berhenti.
"Tunggu! aku tidak tahu siapa namamu?".
Laki laki itu tersenyum, "Theodore Romanov. Kau bisa memanggilku Theo"
"Romanov? Kau saudaranya Alessio?".
"Bisa dibilang begitu". Jawab Theo misterius. Membuat Lyra mengerucutkan bibirnya kesal.
Mereka pun berjalan dalam keheningan. Namun Theo tidak bisa berhenti mencuri pandang pada gadis disebelahnya. Sungguh, saat ia melihatnya di lobby tadi, Theo hampir lupa bagaimana caranya bernafas. Bagaimana ada seorang wanita diciptakan secantik ini? benat benar tidak adil.
Namun ternyata hal itu tidak ada apa apanya. Lyra terlihat lebih cantik ketika dilihat dari dekat. Mata hazelnya yang bulat, hidung mancungnya, wajahnya yang kecil dan mulus. Serta ekspresi polosnya. Theo bisa tahu kenapa Alessio tertarik pada gadis disebelahnya.
Lift mengantar mereka dilantai teratas gedung ini. Hingga kemudian merekapun sampai di pintu yang familier bagi Lyra. Ia menatap ke arah Theo yang ternyata sudah menatapnya. Laki laki itu berdeham dan Lyra bisa bersumpah melihat guratan merah pada telinganya tadi.
Lyra mengangguk. Dan dengan itupun Theo pergi.
Lyra mengambil nafas kemudian menghembuskannya. Kemudian dengan keadaan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat dari pada biasanya, gadis itupun membuka pintu.
Dapat terlihat ruang tamu itu gelap gulita. Kecuali cahaya dari lampu kota yang menembus lewat dinding jendela kaca yang tidak di tutup. Dan disanalah ia.
Alessio Romanov.
Laki laki itu berdiri menghadap pada dinding kaca, melihat pemandangan kota London. Siluet tubuhnya membuat bayangan di ruangan temaram yang disinari cahaya bulan itu.
Bahkan dari belakang, Laki laki itu masih memiliki kemampuan untuk terlihat s*ksi. Lyra menenggak ludahnya ketika melihat otot otot yang terlihat tercetak dibalik kaus putih yang dipakainya. Laki laki itu sangat tinggi, dibandingkan Lyra yang hanya mencapai se pundaknya.
Kemudian laki laki itu berbalik, dan wajah tampan itu kembali menatapnya. Membuat Lyra terpaku tidak bisa berbuat apa apa, seolah olah ia benar benar berada di bawah kuasa Alessio.
Lelaki itu kemudian berjalan mendekat. Setiap langkahnya terlihat penuh perhitungan. Hingga kemudian ia sampai didepan Lyra.
Laki laki itu mengulurkan tanganya, mengambil sejumput rambut coklat keemasanya dan memelintirnya di jari telunjuknya. Kemudian membawanya pada indra penciumannya. Menghirupnya dalam, membuat Lyra sekali lagi tercekat.
__ADS_1
"Kenapa saat itu kau pergi?". Suaranya serak, membuat Lyra lagi lagi merasa lemas.
"A—aku....", bahkan ia tidak bisa mengatakan kata kata yang ia ingin katakan.
Laki laki itu semakin mendekat, kali ini menyerukkan wajahnya pada leher Lyra, menghirup dalam aromanya. Lyra meremang.
"Apakah kau tahu? kau wanita pertama yang kabur dari ranjangku. Padahal kita bisa melihat dokumentasinya saat itu". Perkataan Alessio bagaikan petir di siang bolong bagi Lyra. Membuat gadis itu pulih dari fase mematungnya.
"Maksudmu?".
"Kau gadis pintar kan? Kau mengerti maksudku"
Lyra mengerjap, satu kemudian dua kali. Mengepalkan tangannya dan kemudian memukul dada Alessio bertubi tubi.
"Apa maksudmu! Dasar b*jing*n tidak tahu diri!". Ujarnya terus terusan memukul Alessio.
Alessio, laki laki itu mengeraskan rahangnya. Kemudian mencekal lengan gadis yang berusaha memukulnya, cukup erat membuat Lyra meringis.
Kali ini tidak ada raut tenang yang ada diwajah Alessio. Hanya kemarahan. Lyra pun takut.
"Mulai dari sekarang, kau harus menjaga sikapmu padaku. Aku tidak mentoleransi siapapun yang bersikap tidak sopam padaku". Ujarnya tajam. Kemudian melepaskan cengkramannya pada lengan Lyra. Lyra melihat bekas merah disana, air matanya pun tumpah.
"Apa yang kau inginkan?". Ujarnya lemas. Menatap Alessio yang sama sekali tak terlihat iba padanya.
"Aku ingin kau menjadi milikku".
Perkataan enteng Alessio justru semakin membuat Emosi Lyra menggebu.
"Apa kau gila! kau sudah punya istri! lagipula aku tidak mau diduakan. Aku! Lyra Estrella! aku tidak pernah menjadi nomor dua dalam sepanjang hidupku"
"Silahkan saja kalau kau menolak... akan kupastikan video ini tersebar dan semua orang mengetahui sifat asli dari Lyra Estrella".
Kini, Alessio semakin dekat. Bahkan bibirnya menyentuh pipi kirinya. Kemudian secara tidak terduga tangan besar laki laki itu berada pada perutnya. Melakukan gerakan memutar disana. Lalu bersuara dengan rendah, nyaris seperti bisikan.
"Lagipula siapa yang tahu? benihku bisa saja sudah tumbuh di dalam dirimu. Aku tidak memakai pengaman malam itu".
Alessio pun mejauh namun sebelum itu sudah terlebih dahulu mengecup kening Lyra. Kemudian mengambil langkah, hendak pergi. Sebelum Lyra bersuara lirih.
"Kenapa kau melakukan ini?".
__ADS_1
Alessio berhenti sebentar. Tidak menjawab kemudian kembali melanjutkan langkahnya pergi, tidak memperdulikan tangisan Lyra dibelakangnya.