Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 58 | Love or Obsession?


__ADS_3


......................


Alessio memandang pada Lyra yang masih tertidur disampingnya. Gadis itu memeluk erat selimut dibadannya. Memakai piyama warna baby pink, gadis itu benar benar lucu dan menggemaskan.


Ia tak pernah bosan memandangi wajah cantik Lyra yang menjadi pemandangan sehari harinya setelah bangun tidur. Rasanya seperti saat ia membuka mata dan langsung disuguhkan dengan pemandangan bidadari didepan matanya.


Matanya menelisik wajah Lyra. Mulai dari rambut coklat keemasannya yang terjulur menutupi punggungnya, kemudian turun di dahinya dan hidung mancungnya, lalu pada bibir yang tak pernah lelah ia cumbu. Semua bagian dari Lyra menjadi candunya.


Alessio memiringkan kepalanya, lalu punggung telunjuknya mengelus lembut sisi kepala Lyra. Sebuah senyuman terbit di bibirnya. Hanya dengan melihat wajah Lyra.


Ketika sedang asyik mengagumi pahatan Tuhan yang sempurna satu ini, Alessio tiba tiba teringat sesuatu.


Kemarin, salah satu sahabatnya yaitu Dominick Ivanov akhirnya menikah dengan adiknya Igor, yaitu Elain Volkova. Pernikahan mereka memang dilandasi dengan perjodohan dua keluarga, namun Alessio tidak bisa ikut campur urusan mereka. Lagipula siapa ia menghakimi sementara pernikahannya dan Asteria dilandasi oleh perjodohan yang sama sama mereka tidak inginkan?


Ia ada disana, namun bukannya bersama Lyra, ia harus kesana bersama Asteria. Bagaimana pun juga, Asteria adalah istri sahnya di mata semua orang. Seberapa besar pun keinginannya untuk memamerkan Lyra kepada seluruh dunia sebagai miliknya. Ia tidak bisa melakukan itu.


Ia pun mencondongkan wajahnya. Kemudian memberikan kecupan di pelipis Lyra, bibirnya bertahan disana untuk beberapa detik. Alessio memejamkan matanya kemudian berbisik.


"Tunggulah sebentar lagi...."


Sebuah perceraian di dunia mereka merupakan hal yang susah —bahkan bisa dibilang mustahil. Pernikahan merupakan hal yang tertulis di aturan tercatat mereka sebagai hubungan seumur hidup. Apalagi dengan posisi keluarga mereka tidak boleh membuat Alessio semena mena dalam bertindak.


Apalagi, jika ia mengugat cerai Asteria, haruslah ada alasan yang kuat. Semisal, ketika ia memang memergoki wanita itu selingkuh dan ada bukti konkret nya. Jadi semuanya memang tidak bisa disepelekan.


Ah, mengingatnya ia jadi teringat dengan percakapannya dengan seseorang selepas pernikahan Dominick.


Kala itu, ia tengah berbincang bincang dengan tamu undangan lainnya ketika netra abu abunya menangkap sosok Alexander Konstantine duduk di salah satu kursi.


Ia pun berucap permisi pada lawan bicaranya, kemudian beranjak menemui laki laki bersurai pirang itu.


Tanpa banyak bicara, Alessio mengambil tempat duduk disampingnya kemudian berbicara dengan nada rendah.


"Kuperingatkan sekali lagi, jangan pernah menemui Lyra kecuali jika itu urusan mendadak atau penting"


Semua orang tidak akan tahu jika Alessio tengah mengancam Alexander. Ketika laki laki itu menyunggingkan senyum ramah seolah berbicara baik dengan teman karibnya. Kemudian Alexander juga sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejutnya —raut wajahnya masih datar bahkan sebelum Alessio datang.


"I can do whatever i want". Jawab Alexander dengan entengnya.


[ Translate : Aku bisa melakukan apapun yang kumau ]

__ADS_1


Alessio berusaha mati matian menahan amarahnya. Tangannya sudah terkepal, namun ia sebisa mungkin menahan dirinya untuk tidak menghajar Alexander dan mengobrak abrik pernikahan Dominick disini.


Ia sudah cukup menahan dirinya ketika orang orangnya memberitahu bahwa Alexander selalu datang ke mansion ketika ia tak ada dan menemui Lyra.


"Dia milikku, Alexander. Hentikan usahamu, aku masih menghargai persahabatan kita". Karena Alessio tidak ingin persahabatan yang ia bangun dari dulu dengan Alexander runtuh begitu saja karena masalah ini.


"Jika kau terus menyembunyikannya, lebih baik kau melepaskannya saja".


Jawaban dari Alexander membuat Alessio benar benar naik pitam.


Laki laki itu menggeram kesal. "Tahu apa kau tentang ini? jika sudah, aku akan menikahinya dari dulu. Ini tidak semudah yang ia kira"


Alexander akhirnya menoleh padanya. "Kalau begitu lepaskan ia"


Alessio tertawa sarkas. "Kenapa? agar kau bisa mengambilnya dariku?". Ejek Alessio.


"Dia tidak pernah milikmu, Alessio. I found her first"


[ Translate : Aku yang menemukannya duluan ]


"Aku tidak peduli. Sampai kapan dia adalah milikku, aku tidak akan segan mengotori tanganku dengan darah sahabatku jika itu yang diperlukan untuk mendapatkannya"


Pikiran itu berlalu, meninggalkan Alessio yang sekali lagi menatap pada wajah Lyra.


Tidak akan ada yang mengambil Lyra-nya darinya.


Tidak satupun.


Termasuk Alexander Kosntantine.


Atensinya teralihkan begitu mendengar suara nafas gadinya yang mulai naik. Ia pun menoleh, mendapati iris hazel itu terbuka. Alessio sangat suka bagian ini, bagian ketika hal pertama yang dilihat Lyra di awal paginya adalah dirinya.


"Kau sudah bangun daritadi?". Tanya gadis itu dengan suara khas bangun tidurnya yang menggemaskan. Sembari mengucek matanya.


Alessio terkekeh. "Well, good morning to you too. Kau mungkin yang tidur terlalu lama, sleepyhead"


Lyra mencebikkan bibirnya. "Kau ini, pagi pagi sudah menyebalkan sekali"


Alessio tertawa. Namun sejurus kemudian laki laki itu melayangkan satu ciuman di keningnya.


"Nanti sarapan jangan tunggu aku, aku akan keluar"

__ADS_1


Ia bisa melihat raut kecewa di wajah Lyra. Gadis itu menunduk, kemudian jarinya memilin selimut yang masih ia genggam.


"Pergi lagi?". Lirihnya bak anak kecil. Sungguh, jika seperti ini Alessio semakin tidak tega untuk meninggalkan gadis ini sendirian.


Apalagi mengingat jika kepergiannya selalu dimanfaatkan oleh Alenxander untuk kemari.


Mengingatnya, membuat mood pagi hari Alessio yang awalnya baik jadi mendadak rusak. Ia menatap dengan serius ke arah Lyra.


"Princess, jika Alexander kesini abaikan saja"


Lyra menatapnya tidak mengerti. Gadis itupun bangun lalu bersandar di headboard. "Hah? Kenapa, Alessio?"


"Lakukan saja"


Oke Lyra jadi emosi sekarang. Ia benci jika orang melarangnya melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas.


"Kau ini kenapa sih? tiba tiba saja melarangku bertemu dengan Alex! asal kau tahu ya, Alessio. Saat kau pergi, aku benar benar kesepian disini. Tidak ada yang bisa kuajak berbicara, kau juga mengurungku disini dan tidak memperbolehkanku pergi. Dan sekarang kau melarangku bertemu dengan seorang teman sendiri?".


Karena marah, gadis itupun membalikkan badannya. Merasa enggan dengan Alessio yang menghancurkan moodnya dipagi hari.


Alessio menghela nafasnya. Ucapan Lyra memang ada benarnya, ia tidak bisa mengurung gadis itu disini dan membatasi komunikasinya. Ia jadi merasa bersalah.


Laki laki itu kemudian menyentuh pundak gadisnya. "Aku minta maaf. Aku tidak mengerti, aku hanya khawatir Princess"


Lyra menghela nafasnya. Kemudian berbalik. "Apa yang kau khawatirkan Alessio?"


Melihat Alessio yang tidak menjawab dan hanya memandangnya lekat. Lyra memutar bola matanya. "Fine jika kau tidak ingin memberitahuku. Tapi tolong menyingkirlah, kau bau"


Alessio menaikkan satu alisnya. "Benarkah? tapi kau lebih bau"


"ish menyebalkan"


......................


**Huhu... Baru bisa update soalnya aku udah mulai sekolah full day gaiseu.. jadi ini jg nyempet nyempetin lol ಠ_ಠ (⊙_☉)


Gak ada waktu ngebucin 23 bujank


Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡


Xoxo.

__ADS_1


- Balqis istrinya NaNa + NoNo**


__ADS_2