
......................
"Apa yang terjadi padamu, Lyra?". Tanya Elain lirih. Hatinya ikut sakit saat melihat sahabatnya seperti ini.
Lyra semakin terisak. Ingatan buruk yang menghantuinya kembali datang. Sudah segala cara ia lakukan untuk memblokir ingatan itu dari pikirannya. Namun hasilnya nihil.
Ia pun menceritakan segalanya pada Elain. Menumpahkan segala gundah gulana yang menerpa pikirannya.
Selama itu Elain mendengarkannya dengan sabar dan tanpa menyela. Sesekali menghapus air mata Lyra menggunakan tisu. Tanpa disangka air mata gadis itu pun keluar ketika mendengar cerita Lyra.
Mereka berpelukan. Bak kakak adik yang saling menumpahkan isi hati mereka. Sama sama menangis.
"Jahat sekali mereka, Lyra. Aku akan mengadukannya pada Dominick agar diberi pelajaran!".
Lyra tertawa disela sela tangisannya. Disaat seperti ini saja, Elain teringat dengan Dominick. Sepertinya gadis didepannya benar benar mencintai Dominick.
"Dominick? Bukan Igor?". Goda Lyra. Elain menatapnya tajam dengan mata yang memerah karena sehabis menangis.
"Ishh... Menyebalkan sekali. Itu karena kebetulan aku sedang berpikir tentang Dominick saja!". Keukeuh Elain.
Lyra sebenarnya ingin menggoda gadis itu tentang bagaimana ia memikirkan tentang Dominick terus menerus. Namun ia kemudian mengubah pikirannya. Elain pasti malu jika terus terusan ia goda.
Mereka terdiam. Sebelum kemudian Elain dengan ragu bertanya.
"Lyra... Apa kau sudah bercerita pada Tuan Alessio tentang ini?".
Lyra menghela nafasnya. "Aku tidak tahu. Aku tidak ingin pandangannya tentangku berubah karena masalah ini".
Lyra bermain dengan ujung jarinya. Kemudian Elain mengambil tangannya dan mengenggamnya.
"Hei, kenapa pandangannya padamu harus berubah?".
Air mata Lyra turun lagi —astaga, ia benar benar sangat cengeng. "Itu karena aku kotor! aku membiarkan seseorang selain Alessio melihat tubuhku".
"Lyra... Ini sama sekali bukan salah mu. Aku yakin Alessio pasti akan mengerti".
Lyra terdiam. Tidak menjawab ataupun menanggapi ucapan Elain. Elain menghela nafas, ia tahu jika topik ini adalah topik yang berat untuk Lyra. Maka dari itu ia mencoba mengganti topik pembicaraan mereka.
"Sudahlah.... Tau tidak, tas yang kita incar selama beberapa bulan akhirnya keluar juga!".
Mata Lyra berbinar. Kemudian dua gadis itu larut dalam obrolan random mereka masing masing.
Kemudian suara pintu terbuka. Menyebabkan kedua wanita itu menoleh pada asal suara.
Alessio memasuki ruangan. Wajahnya seketika panik membuat kedua wanita itu bingung.
Alessio berjalan cepat mendekat pada Lyra, kemudian mengangkup wajahnya dan meneliti wajah Lyra. "Kenapa menangis, baby? Ada yang sakit?".
Lyra saling bertukar pandangan bingung dengan Elain. Alessio mengira ia menangis karena kesakitan?
Lyra mengenggam tangan Alessio yang ada di pipinya. "Aku tidak sakit"
__ADS_1
Alessio menghembuskan nafasnya lega. Tangannya terus mengusap sisi wajah Lyra.
Elain yang merasa menyaksikan momen privat diantara kedua pasangan itupun kemudian berdeham dengan canggung. Membuat perhatian Lyra tertuju padanya —sedangkan Alessio? Laki laki itu sama sekali tidak memalingkan wajahnya sedikitpun dari Lyra.
Sungguh, Elain benar benar iri. Jika saja Dominick menatapnya seperti Alessio menatap Lyra. Sudah pasti ia menjadi wanita paling beruntung sedunia.
"Lyra. Aku harus pergi dulu... Kau istirahat ya?".
Lyra memasang wajah sedihnya. "Kau sudah mau pergi? Padahal kita baru saja bertemu"
"Tidak apa apa. Aku akan sering sering mengunjungimu". Dengan itu Lyra pun mengangguk antusias.
Elain memberikan tatapan terakhir pada Lyra. Yang diangguki oleh Lyra.
Setelah kepergian Elain. Kini hanya tersisa Lyra dengan Alessio saja.
Laki laki itu tengah sibuk mendusel ndusel ceruk lehernya. Lyra meyusuri surai hitam Alessio dengan jari jarinya. Membuat laki laki itu menghela nafas keenakan.
Lyra tidak tahu apa yang membuat Alessio jadi tiba tiba bermanja manja padanya seperti seekor kucing. Tapi ia suka dengan ini, laki laki yang biasanya terlihat menyeramkan justru terlihat cute sekarang.
Lyra terus mengelus surai hitam Alessio. Ia dapat merasakan nafas hangat laki laki itu di lehernya.
Kemudian pikirannya kembali berkenala pada pembicaraanya dengan Elain tadi. Tanpa sadar elusannya pada rambut Alessio terhenti. Menyebabkan laki laki itu menatap heran padanya.
"Kenapa berhenti?". Tanyanya.
Dan apa itu yang Lyra lihat? Apakah Alessio tengah merajuk?
Ugh, ingin sekali rasanya Lyra mengabadikan momen ini di kamera ponselnya.
Lyra tersenyum lembut. Kemudian melanjutkan elusannya pada surai hitam Alessio. Laki laki itupun kembali menyerukkan wajahnya di leher Lyra. Tak lupa melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu.
Untuk sesaat mereka seperti itu. Saling berpelukan mesra layaknya pasangan pasangan normal lainnya. Namun tak peduli seberapa keras ia memblokir pikiran pikiran itu, tetap saja Lyra tidak tenang karena memikirkannya.
Apakah ia harus memberitahu Alessio?
Lyra menghela nafas.
Keputusannya sudah bulat.
Ia kemudian menghentikkan elusannya. Kemudian meraih kepala Alessio. Menangkup wajahnya dan membuatnya menghadap padanya.
"Alessio... Aku ingin mengatakan sesuatu"
Alessio menatapnya bingung. Menunggu Lyra melanjutkan ucapannya.
"Aku mau bercerita. Apa yang terjadi padaku saat mereka menculikku".
Alessio mengakkan badannya. Menatap lurus pada Lyra di mata hazel gadis itu.
Lyra berulang kali membuka mulutnya, namun tak ada kata yang keluar. Ia menghela nafasnya. Matanya memanas.
Alessio yang memahami kesulitan gadis itupun memegang kedua bahunya. Kemudian memberikannya senyum tipis. "Tidak perlu diceritakan jika memang tidak siap, princess"
__ADS_1
Lyra tercekat. Kemudian gadis itu menggeleng. Meraih tangan Alessio yang berada di pundaknya lalu mengenggamnya dan membawanya ke pangkuannya.
"Tidak Alessio. Aku harus menceritakan ini. Ini sudah menghantui pikiranku sedari tadi".
Alessio mengangguk mengerti. Kemudian meremas tangan Lyra sebagai bentuk dukungannya.
Gadis itu menarik nafas lalu memulai ceritanya.
"Saat itu, aku terbangun dengan keadaan terikat disebuah kursi. Dan Alberto ada di depanku. Dia menjelaskan situasinya padaku yang pastinya kau tahu bukan?"
Alessio mengangguk.
Kemudian memikirkan kejadian itu membuat air matanya kembali lolos. Alessio menatapnya panik, namun gadis itu mengangkat tangannya meminta agar Alessio tidak memotong ucapannya.
"Setelah itu, Alberto tidak mengunjungiku lagi. Mereka tidak lagi mengikatku. Tapi mereka tidak memberikanku minum. Setiap malam, aku harus mendengarkan bisikan kotor mereka tentang bagaimana mereka ingin menikmati tubuhku. Hingga kemudian.....".
Lyra menangis semakin kencang. Alessio panik gadis itu akan membuat nafasnya sendiri jadi sesak.
Alessio kemudian mendekapnya. "Jangan menangis, sayang. Nanti nafasmu sesak". Ujarnya khawatir.
Lyra terus terisak di pundaknya. Kemudian ia berbisik lirih. "Dia melecehkanku, Alessio".
Ucapan Lyra membuatnya menegang.
Dilecehkan. Lyranya.
Ketika Lyra mengungkapkan kebenarannya. Menceritakan kronologinya secara rinci, raut wajah Alessio berubah. Begitu banyak amarah, Lyra bisa merasakannya di udara.
Udara disekitar mereka berubah kaku —lengkap dengan aura gelap Alessio. Terasa sangat menyesakkan.
"Siapa yang berani melakukan itu padamu". Alessio menggeram. Suaranya mematikan, kata-katanya begitu tajam rasanya seperti cambuk yang diiris di udara. Dan matanya ...
Lyra bisa melihat monster disana. Sosok yang selama ini ditakuti oleh orang orang.
Lyra merasakan dadanya yang terasa berat oleh tekanan batin yang ia rasakan. Ia tidak tahu harus bagaimana. Alessio terlihat marah namun juga kesakitan.
Wajahnya sudah menjadi topeng kemarahan, tapi itu menjadi lebih gelap per detik kekosongan mengisi mereka berdua.
Lyra menahan napas ketika melihat Alessio mengepal lalu membuka kepalan tangannya.
Alessio melakukan itu beberapa kali, dan setiap kali dia mengepalkan tinjunya, jantung Lyra terasa berdegup kencang.
Gadis itu menatap Alessio dibalik buramnya air mata di netra hazelnya.
"Lorenzo Marquez"
......................
**Nanti up lagi kalau rame hehe.... *kedip* 😎😏😌
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo**.
__ADS_1