
......................
Elain tengah mengerjakan pr nya dirumah saat ponselnya berdering. Id caller manampilkan nama yang langsung membuat matanya membulat.
Dominick Ivanov.
Dengan segera gadis itupun mengangkat teleponnya.
"Halo?".
Elain menjaga suaranya agar tidak terlalu semangat.
"Hei, El. Sedang apa?"
Elain menatap pada setumpuk pekerjaan rumah yang diberikan oleh gurunya.
"Uhmm... Sedang bersantai. Memangnya kenapa?"
"Aku mau ke mansion Alessio. Mau ikut?"
"Mansion utama?"
"Bukan?"
"Lalu yang mana?"
"Sudahlah, nanti akan kuberitahu. Mau ikut atau tidak?"
Tidak butuh waktu lama bagi Elain untuk menyetujuinya.
"Tentu"
"Great. Aku akan menjemputmu setelah ini"
"okay"
Telepon pun terputus.
Elain memeluk ponselnya. Setelah bercakap cakap dengan Dominick selalu memiliki efek tidak sehat bagi hatinya. Hanya mendengar suaranya saja sudah membuat Elain mau pingsan saja.
Kalian bisa menganggapnya konyol atau apa. Karena nyatanya, Elain awalnya awam dengan perasaan ini. Ia baru pertama kali jatuh cinta dan ia akan menjaga cinta itu dihatinya.
Elain tahu jika Dominick menganggapnya sebagai adik sahabatnya. Dan rasanya sakit ketika laki laki itu menggandeng wanita lain.
Sudah berapa tahun ia berandai andai bahwa ialah kelak yang akan menjadi wanita Dominick Ivanov? Mungkin lebih lama dari yang ia kira.
Namun tak apa. Selama Dominick sendiri tudak berkata bahwa Elain harus menjauhinya, maka gadis itu tidak akan menjauh.
Elain mulai bersiap siap. Memakai riasan netral dan juga menyisir rambutnya. Kemudian seorang pelayan datang mengatakan bahwa Dominick sudah menunggu didepan.
Elain pun dengan semangat berjalan menuju ruang tamu, nampak laki laki memakai kaus putih dan jaket hitam disana.
Dominick berbalik. Dan Elain tidak pernah gagal terpana setiap kali melihat pria itu. Sungguh, rasanya Dominick itu lebih cocok menjadi model Armani dengan wajah dan tubuh proposionalnya yang mendukung.
Laki laki itu tersenyum ke arahnya. "Sudah siap?"
"Tentu".
Dominick menawarkan lengannya. Elain pun tak mengambil banyak waktu untuk mengaitkan tangannya dengan lengan Dominick.
Mereka pun memasuki mobil Dominick di kursi penumpang. Kemudian mesin menyala dan sopir Dominick pun menyetir mobil keluar dari area Mansion Volkov.
"Dom, kita mau kemana?". Tanya Elain. Berusaha mengambil perhatian Dominick yang sedari tadi sibuk berkutat dengan ponselnya.
__ADS_1
Dominick mematikan ponselnya. Kemudian menatap ke arah Elain. "Ke Mansion Alessio"
Dahi gadis itu berkerut bingung. "Tapi tadi katamu bukan ke Mansion utama?"
"Memang bukan"
"Lalu kemana?"
Domincik mendecakkan lidahnya kemudian menyentil pelan pelipis Elain. membuat gadis itu mengaduh kemudian mengusap usap pelipisnya yang terkena sentilan oleh Dominick.
"Kau ini. Sangat keras kepala"
"Ishh... Itu karena kau selalu main rahasia, Dominick. Aku kan penasaran". Ujarnya mencebik.
Domincik menghela nafasnya. "Baiklah. Akan kuberitahu tapi kau harus menjaga ini menjadi rahasia"
Elain mengangguk antusias.
"Kita akan ke mansion Alessio yang ia beli untuk wanitanya"
"Wanitanya? Maksudmu Asteria?"
"Bukan"
Elain terdiam. Butuh beberapa saat bagi gadis itu untuk mencerna perkataan Dominick. Matanya membulat begitu paham dengan maksud dari perkataan Dominick.
"Tuan muda Alessio punya selingkuhan?"
Dominick mendelik padanya. "Jangan sampai Alessio mendengar itu atau kau akan merasakan kemarahannya"
Elain membuat gestur menutup mulutnya seperti resleting.
"Jangan khawatir. Lagipula aku tidak suka dengan Asteria"
Dominick mengelus rambutnya pelan, sebuah gestur yang membuat perutnya serasa dihinggapi ribuan kupu kupu.
"Itu bagus. Lyra juga kesepian disana, mungkin kau bisa menjadi temannya"
"Lyra? namanya Lyra?"
"Iya, nanti juga kau tahu"
......................
Akhirnya merekapun sampai di mansion megah yang membuat Elain terperangah. Mansion itu benar benar besar. Lebih besar daripada mansion Volkov dan Mansion utama.
"Wow". Ujarnya takjub.
Dominick menggandeng tangannya. Membawanya menuju taman belakang dimana ia melihat seorang perempuan yang sangat cantik tengah duduk di sana.
Perempuan itu sangat cantik, seperti tokoh tokoh putri di negeri dongeng yang sering ia lihat. Dengan gaun putih dan rambut coklat yang terurai. Kecantikannya benar benar membuat ia —yang notabenya adalah seorang wanita terpana.
"Ya Tuhan, dia sangat cantik. Tidak heran Alessio tertarik"
Domincik meletakkan tangannya dipunggungnya, kemudian memberikannya sedikit dorongan. "Ayo. Berkenalanlah, aku yakin kalian akan menjadi teman baik"
Dan benar apa yang dikatakan oleh Dominick. Ia dan Lyra menjadi teman baik. Perempuan itu benar benar cantik dan agaknya membuat Elain sedikit gugup saat pertama berbicara dengannya.
Namun nyatanya, Lyra adalah wanita yang sangat baik. Ia mampu mendengarkan segala keluh kesahnya tanpa menilainya.
Ia juga melihat bagaimana cara Alessio memandang Lyra. Seperti seluruh dunianya tertumpu pada kaki Lyra. Alessio terlihat sangat memuja dan menyayanginya.
Membuat Elain iri. Karena Dominick tidak akan pernah memandangnya seperti itu.
......................
__ADS_1
Kali ini, Elain tengah membaca buku saat Dominick tiba tiba datang tanpa diundang dan duduk disebelahnya dengan entengnya.
Elain hanya melirik laki laki itu dari sudut matanya. Melihat bahwa Dominick tengah tersenyum senyum sendiri.
Awalnya ia membiarkannya. Namun lama lama juga meresahkan ketika dilihatnya tidak berhenti tersenyum sendiri.
Akhirnya dengan malas Elain pun menutup bukunya dan menatap penuh pada Dominick.
"Okay. Sekarang ada apa?". Tanyanya sembari menyilangkan kedua tangannya di d*da
Dominick menatapnya dengan tatapan pura pura heran. "Maksudmu?"
Elain memutar bola matanya malas, "Jangan berpura pura bodoh ya. Kenapa sedari tadi kau tersenyum senyum sendiri seperti orang gila?"
Bukanya protes seperti yang biasanya Dominick lakukan. Laki laki itu malah menggaruk tengkuknya, Elain juga bersumpah ia melihat pipi dan telinga laki laki itu memerah.
Apa apaan?
Kenapa tiba tiba Dominick menjadi aneh seperti ini?
Kemudian laki laki itu berdeham dan bertanya pelan. "Apakah kau pernah.... jatuh cinta?"
Pertanyaan Dominick membuat Elain terkejut dan salah tingkah. Gadis itu menyembunyikan pipinya yang memerah dibalik rambutnya.
"Tidak pernah. Kenapa memangnya?".
Ditanya seperti itu, Dominick semakin salah tingkah. Membuat Elain mengernyitkan keningnya heran.
Hingga kemudian gadis itu tahu jawabanya.
"Astaga, Dominick! kau sedang jatuh cinta? katakan siapa gadis itu?"
Tanyanya sembari tersenyum palsu. Kini, ketakutan terbesarnya sudah terjadi. Rasanya hatinya pecah berkeping keping. Tubuhnya menjadi lemas, dan hal yang ingin ia lakukan adalah mengubur dirinya dibalik selimut dan menangis sekencang kencangnya.
"Uh... Jangan bilang siapa siapa. Namanya adalah Aluna Grace".
Ah... Aluna Grace.
Sungguh wanita yang beruntung.
Menjadi wanita pertama yang dicintai oleh Dominick. Melihat pria yang suka berganti ganti wanita kini salah tingkah hanya karena seorang wanita.
Aluna Grace, sungguh beruntung sekali kau.
Sebisa mungkin Elain memberikan senyumannya dan menahan air matanya.
"Dia adalah wanita yang beruntung kalau begitu"
Mata Dominick berbinar "Kau pikir begitu?". Tanyanya penuh harap.
Elain mengangguk.
Tanpa diduga, Dominick memeluknya. Membuat Elain terkesiap sekaligus tidak tahu harus berbuat apa. Seluruh tubuhnya sudah lemas.
"Elain, kau benar benar teman terbaik".
Ah, Teman ya?.
Elain hanya mengangguk. Setetes air matanya turun di baju Dominick yang bahkan tidak disadari pria itu.
......................
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo.
__ADS_1