Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 19 | Become Selfish


__ADS_3


......................


"Kenapa kau membawanya kesini? kau bilang semuanya sudah kau urus dan aku tidak perlu khawatir". Lyra menangis, memukuli d*da Alessio seolah semua itu salahnya. Dia menjadi histeris —Lyra tahu itu, tapi semua orang tidak bisa menyalahkannya.


Kepercayaan dirinya hilang bersamaan dengan Asteria yang juga keluar. Yang tersisa hanyalah rasa hampa yang seakan tak berujung.


Ia akui, semua yang Asteria itu benar. Dan ia sedikit merasa bersalah telah merebut laki laki itu dari istri sahnya. Namun semua memang bukan salahnya! Jika Alessio tidak membawanya kesini, ia juga tak mau ada disini.


Satu hal lagi yang membuatnya sakit hati, ketika seluruh dunia tahu bahwa Alessio Romanov adalah suami dari Asteria, sementara ia disini disembunyikan layaknya rahasia kotor.


Lyra tertawa pahit.


"I know, i know. Princess. Sshh... berhentilah menangis sekarang. Aku tidak tahu jika ia akan masuk kesini. I'm sorry please don't cry" bisiknya sambil mencium rambutnya.


"Aku benci padamu".


Perkataan Lyra membuat gerakan tangan laki laki itu yang tengah mengelus rambutnya terhenti. Lyra merasakan tubuh laki laki yang tengah memeluknya itu mematung.


Lama ia terdiam. Kemudian Alessio menarik diri, menatap ke arah Lyra dengan ekspresi yang tak dapat ia baca —namun dibalik mata abu abunya. Ia bisa melihat rasa terluka.


Yang benar saja!


Seorang Alessio Romanov? Terluka.


Laki laki itu bahkan tidak memiliki hati.


Entahlah, kalian bisa mengecap Lyra sebagai petempuan plin plan dan lainnya. Namun nyatanya disini ia hanya bingung. Wanita mana yang suka dijadikan yang kedua?


Dan ini tetap salah Alessio titik! Jika saja laki laki itu tidak menyeretnya kesini dan membuatnya bergantung padanya. Pasti sekarang Lyra tengah bersenang senang dengan kesenangan duniawi.


Kemudian ia merasakan seseorang memeluknya sangat erat —terlalu erat, Lyra merasa agak sesak.


"Jangan benci aku. Apapun itu, asalkan jangan membenciku. Aku akan memberikanmu segalanya didunia, Lyra". Alessio berkata serak, suarannya teredam akibat kepala laki laki itu yang berada di ceruk lehernya.


Lyra mengepalkan tangannya yang berada di sisi tubuhnya —melawan instingnya yang berkata untuk membalas pelukan Alessio.


Air matanya kembali keluar, lalu Lyra mengambil sebuah langkah. Gadis itu melingkarkan tangannya pada Alessio. Membenamkan wajahnya pada d*da Alessio.


Rasanya nyaman. Seperti rumah.


Lyra merasa aman— terlindungi seolah tak ada satupun didunia yang bisa menyakitinya.


"Jangan... Kumohon jangan tinggalkan aku". Lirihnya. Selama tinggal disini, Lyra merasa bahagia. Hanya kali ini ia merasa sangat mellow. Ketakutannya adalah ketika Asteria datang —Alessio akan meninggalkannya.


Lyra sudah terjatuh. Dan sekarang sudah tidak ada cara untuk kembali.

__ADS_1


Maka dari itu ia akan mengusahakan semuanya untuk mendapatkan —Ralat, mempertahankan karena ia sudah mendapatkan Alessio.


Pelukannya mengencang pada Alessio. Laki laki itu mengambil nafas lalu mengecup penuh kasih pelipisnya, "Tidak akan. I'll never leave you princess". Janjinya. Lyra akan terus mengingatnya.


Gadis itu kemudian mendongak pada Alessio dengan matanya yang masih berkaca kaca —membuat hati Alessio terasa nyeri melihatnya. "Kau berjanji? bahkan untuk Asteria?".


Alessio membungkuk dan memberikannya satu kecupan singkat seringan bulu di bibirnya. Kemudian menghapus sisa air mata di pipinya menggunakan tangannya. "I promise, princess. Aku tidak akan meninggalkanmu. Ketika kau sudah jadi milikku, tidak ada jalan keluar lagi".


"Sekarang, jangan menangis okay? aku tidak suka melihatmu menangis, sayang". Lyra mengangguk.


Laki laki itu mengejutkannya ketika ia mengangkat tubuhnya dan menggendongnya. Lyra secara reflek mengalunkan tangannya pada leher Alessio.


Alessio membawa mereka pada sebuah sofa. Kemudian duduk disana dan mendudukkan Lyra di pangkuannya. Gadis itu masih bergelayut manja sembari terus melingkarkan tangannya pada leher Alessio.


Alessio mengelus rambut dan punggungnya —membuat Lyra semakin betah. Kemudian laki laki itu mulai bermain main dengan rambutnya, Lyra merasa seperti anak kucing.


"Jadi, apa yang kau bicarakan dengan ayahmu?". Tanya Lyra sembari mengendus ngendus leher Alessio. Laki laki itu sangat wangi —Lyra bisa bisa tertidur karena nyamannya.


Alessio meneruskan elusannya, Lyra semakin bersandar pada pundaknya dengan posisinya di pangkuan laki laki itu.


"That's what i want to talk about with you. Ini mengenai Asteria". Mendengar nama Asteria, punggung Lyra menegak seketika. Menatap Alessio lurus di matanya.


[ Translate : Itulah yang ingin kukatakan denganmu ]


"Ada apa dengannya?"


"Father berkata, bahwa Asteria meminta —ralat mengancam untuk mendapatkan hak yang sama atas semua propertiku. Ia tahu tentang dirimu. Oleh karena itu ia mengancam agar memberitahukan masalah ini pada Hyperion Mikhailov, ayahnya jika sampai tidak dituruti". Jelas Alessio.


Lyra terdiam. Berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Alessio.


"Berarti.... Itu artinya ia bisa kesini dengan leluasa? itulah mengapa ia bisa kemari bukan?".


Alessio mengangguk membenarkan. Lyra menutup mulutnya shock. Ia mengira bahwa semenjak ia dan Asteria memiliki hunian yang berbeda, ia tidak perlu takut untuk bertemu dengan wanita itu. Namun sekarang? bahkan Asteria bisa masuk kesini kapanpun yang ia mau. Pemikiran itu membuat perutnya mual.


Alessio, merasakan keresahan Lyra pun membelai pipinya. Kemudian memberikannya senyum tipis, "Tidak perlu khawatir, princess. Aku sedang mengusahakannya. Aku tidak akan membiarkan wanita itu menganggumu lagi".


Perkataan Alessio membuat kupu kupu berterbangan di perutnya. Mendengar bahwa Alessio lebih membelanya dibanding Asteria membuatnya senang.


Namun sedetik kemudian, ia memanyunkan bibirnya. Kemudian menelusuri pundak Alessio dengan jari telunjuknya, "Tapi, itu artinya nanti kau mempunyai banyak waktu dengannya. Aku tidak suka". Ungkapnya.


Alessio terkekeh. "Kau ini benar benar paranoid sekali. Mataku hanya untukmu kau tahu?"


Dibalik senyumnya, Alessio mengutuk dirinya sendiri untuk membohongi Lyra. Karena nyatanya, ia dan Asteria memang diharuskan menghabiskan waktu bersama termasuk 'tidur' bersama agar tidak ada kecurigaan diantara keluarga Mikhailov.


Untuk kali ini ia akan menurut. Namun ketika nantinya ia sudah mengambil alih, ia akan menjadikan Lyra sebagai satu satunya. Gadis itu pantas dipuja bak seorang ratu.


Alessio tidak akan membiarkannya pergi.

__ADS_1


Ia memaklumi kecemburuan Lyra. Karena jika ia sendiri melihat laki laki lain bermesra mesraan dengan Lyra, ia tak akan segan membunuh laki laki itu ditempat. Lyra hanya miliknya dan akan selalu seperti itu.


"Benar benar perayu ulung". Cebik Lyra.


"Aku berkata yang sejujurnya, kau tahu?"


Lyra mendekatkan wajahnya dengan Alessio. "Lalu, jawab ini. Mana yang paling cantik, aku atau Asteria?"


Tanpa jeda sedikitpun, Alessio menjawab dengan mantap.


"Kau. Kau yang tercantik"


Perkataan Alessio membawa senyum pada wajah Lyra. Gadis itu kemudian memeluknya semakin erat.


Biarkan ia egois untuk kali ini.


Ia tidak peduli.


Meskipun harus menjadi antagonis diantara cerita Asteria dan Alessio.


......................


Pernah denger kalimat


"Everyone is the hero of their own life story" By John Bart. ?


[ ******Translate : Semua itu orang baik di cerita hidup mereka masing masing****** ]


Itu yang mau aku terapin di cerita ini. Aku gak mau kalian dengar cerita orang itu dari satu sisi, tapi kalian juga harus melihat dari sisi lainnya.


Mungkin disini, karena Lyra pemeran utama kalian lebih ngebela Lyra dll. Tapi apa kalian tahu kalau Lyra itu antagonis di ceritanya Asteria begitupun Asteria di ceritanya Lyra.


Aku benar benar gak ngebenerin apapun tindakan mereka yang salah. Tapi aku cuma mau negesin kalau mereka nggak sempurna! mereka serakah, egois dan semaunya sendiri. Itu sifat alami manusia.


Kadang, aku nemuin cerita yang tokohnya kurang realistis dan itu yang membuat aku maju buat tulis karakter aku sendiri. Bagi aku, kalau sebuah karakter iku sempurna tanpa cela, benar benat kurang banget. Jadi nggak seru, karena manusia tempatnya salah kan?


Disini mereka semua punya kurangnya masing masing, baik Lyra Alessio maupun Asteria. Jadi kalau kalian tanya siapa yang bener jawabannya mereka semua bener dalam konteks masing masing.


Lyra bener buat perjuangin orang yang ia mau. Karena itu haknya.


Asteria bener karena gimanapun Alessio suaminya.


*Karena d**ari awal pernikahan mereka juga tanpa cinta*.


Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡


Xoxo.

__ADS_1


__ADS_2