
......................
Aluna Grace.
melihat profilnya saja sudah membuat Elain insecure.
Setelah menangis meratapi patah hatinya, Elain pun memberanikan diri untuk mencari info tentang Aluna menggunakan mesin pencarian google.
Dan sekarang ia meratapi keputusannya.
Bagaimana tidak?
Aluna itu salah satu model dunia yang terkenal. Dengan rambut coklat keemasan dan mata hijau yang memukau. Kecantikannya sudah tersohor kemana mana. Banyak aktris papan atas yang mengidolakannya. Serta, Aluna adalah Brand Ambassador dari salah stau brand ternama dunia.
yaitu, Louis Vuitton.
Astaga... Dominick benar benar tidak main main dalam memilih wanita.
Untuk mengenyahkan pikirannya sementara dari masalah ini. Elain memutuskan untuk mengajak Lyra pergi ke mall yang diiyakan gadis itu —walau dengan kawalan ketat para bodyguard Lyra.
Moodnya masih baik baik saja, sampai dimana ia bolak balik melihat wajah Aluna yang dipajang di setiap sudut mall. Membuatnya seketika tak lagi selera untuk berbelanja.
Ia kembali ke rumahnya kemudian menangis lagi. Lalu memutuskan untuk mengoogle nama Aluna.
Rupanya, menangis membuatnya haus. Maka dari itu Elain membuat keputusan untuk turun dan mengambil air minum.
Saat berada di dapur, dia dikejutkan dengan sosok Ivan Volkov —papanya yang baru saja masuk ke dapur.
Elain berdiri canggung. Kemudian memutuskan untuk menyapa papanya.
"Selamat siang, papa"
Tidak ada sahutan, namun Elain sudah terbiasa untuk itu. Gadis itu mengambil langkah untuk menuangkan air.
"Aku mendapat laporan jika Akhir akhir ini kau terus terusan keluar. Aku membiayaimu homeschool bukan untuk bermalas malasan".
Elain menghela nafasnya. kemudian berbalik dan menampilkan senyum terbaiknya pada Ivan.
"Maaf papa, aku akan belajar lebih giat mulai dari sekarang"
Ivan menatapnya tanpa ekspresi. Sebuah pemandangan yang menjadi makanan sehari hari Elain.
"Aku tidak peduli. Atas jangan merusak nama keluarga". Tanpa menatap ke arah putrinya, Ivan Volkov keluar dari dapur.
Elain menyandarkan tubuhnya pada meja. Sembari menenggak segelas air untuk menata emosinya. Memang ia sudah terbiasa, tapi melihat papanya mengacuhkannya setiap kali rasanya seperti meneteskan jeruk pada luka yang masih baru.
Ia sudah melakukan semuanya agar papa kembali melihatnya, mulai dari belajar dan berlatih olahraga kesukaan papa yaitu boxing —yang berakhir mendapatkan memar diseluruh tubuhnya. Namun tak ada satupun yang berhasil.
Sikap papanya benar benat berubah seratus delapan puluh derajat setelah kematian mama. Dulu, papa bagaikan superhero untuknya. Dan sekarang, Elain tidak bisa mencegah pikiran bahwa papa membencinya karena kematian mama.
__ADS_1
Saat kasus pembullyanya. Disekolah papa memang membelanya dihadapan kepala sekolah. Namun dirumah ia dimarahi habis habisan seolah kasus bully karena traumanya itu adalah hal yang bisa ia kendalikan.
Dan berakhir dengan Elain bersekolah homeschool.
......................
Lagi lagi Dominick datang kerumahnya. Entahlah, ia tidak se excited dulu saat Dominick datang kerumahnya. Mungkin itu adalah akibat dari laki laki ini yang sedari tadi tak berhenti mengoceh tentang Aluna.
"Elain. Kau tahu? Aluna itu sangat cantik sampai sampai aku terbawa mimpi"
"Aku sudah tahu dia adalah wanita yang tepat semenjak kami bertemu di pesta"
"Kau harus lihat dia dari dekat! dia benar benar mempesona"
"Kudengar dia sedang ada pemotretan couple. Aku sangat kesal, ingin rasanya mematahkan tangan laki laki itu"
"Aluna itu kudengar sangat pandai memasak. Kau bayangkan itu?"
"Aluna itu..."
"Aluna itu..."
Aluna ini.
Aluna itu.
Elain jadi muak sendiri. Jadi gadis itu menghempaskan buku ditangannya dan berdiri.
"Sedari tadi kau membicarakan itu. Aku jadi bosan sendiri"
Dominick menatapnya menyelidik. "Elain... Apa kau cemburu?"
Ditanya seperti itu, membuat tubuh Elain berkeringat dingin. Tubuhnya terasa membeku.
Si*lan! apakah Dominick tahu?
Laki laki itu kemudian menepuk nepuk pelan pucuk kepalanya. "Jangan khawatir El, meskipun nanti aku bersama Aluna. Kau akan tetap menjadi gadis kecilku"
Elain tersenyum paksa. Perasaanya terbagi antara dua yaitu kelegaan dan juga rasa sakit. Terbukti bukan? selama ini laki laki itu bahkan tidak pernah menganggapnya lebih dari adik kecil sahabatnya?
Elain menjulurkan lidahnya. "Ya, itu harus kau lakukan. Kalau tidak aku akan membencimu"
"Tenang saja. Ngomong ngomong, kau akan ke pesta keluarga Petrov malam ini?"
Malam ini, Presiden Rusia —Timofrey Petrov mengadakan pesta dikediamannya. Sebuah pesta yang rutin dilakukan oleh para konglomerat untuk memamerkan kekayaan —terkadang sebagian dari mereka berkedok sebagai acara amal.
"Tentu saja. Kau juga dapat undangan?"
Mendengar pertanyaan Elain membuat Dominick tergelak.
"Pertanyaan macam apa itu? tentu saja aku diundang. Kau lupa siapa aku? Dominick Ivanov. Seluruh dunia pun mengetahui namaku.
__ADS_1
Ingin saja Elain menjawab, bahwa bagaimana ia tidak tahu nama laki laki itu disaat namanya sudah terukir di hatinya?
Namun Elain memilih menjawab, "Kau terlalu percaya diri"
......................
Elain berdiri sembari menyesap champagne yang ada ditangannya. Sembari mengawasi orang orang dari netra coklatnya. Gadis itu saat ini tengah berada di pesta presiden Rusia.
Gadis itu tengah menggenakan evening gown berwarna silver dengan model mermaid yang ditaburi payetan yang membuatnya bersinar dibawah cahaya lampu. Dengan model neckline plunging yang memperlihatkan sebagian belahan d*danya namun tidak dilevel yang ekstrem. Cukup membuatnya tampil dengan elegan.
Disebelahnya, nampak Dominick yang sempurna seperti biasa. Seperti pangeran negeri dongeng dengan jas hitammnya yang kontras dengan mata birunya yang sedari tadi mencari kesana kemari. Elain tidak butuh Dominick untuk memberitahunya. Karena ia sudah tahu siapa yang dicari laki laki itu.
Aluna.
Mengabaikan rasa nyeri dihatinya, ia mengamati setiap orang di pesta. Ia melihat Alessio Romanov yang datang bersama Asteria. Dengan tangan laki laki itu di punggung Asteria. Walaupun Alessio tersenyum ramah pada setiap tamu yang ada —namun Elain bisa melihat bahwa tempat terakhir yang ingin laki laki itu kunjungi adalah tempat ini.
Ia menyadari jika Dominick kini telah berdiri tegap. Pandangannya menuju pada satu titik.
Dan disanalah ia. Aluna Grace.
Tampak cantik seperti biasanya.
Dengan memakai halter dress berwarna putih yang memeluk tubuh modelnya. Perempuan itu sukses menarik perhatian seluruh tamu undangan.
Tak terkecuali Dominick. Yang menatapnya seolah Aluna adalah bintang itu sendiri. Nampak mamukau dan bersinar.
Saat itulah Elain menyadari bahwa ia sudah kalah. Tidak ada kesempatan lagi baginya. Gadis itu tersenyum getir, kemudian menyentuh lengan Dominick untuk mendapatkan perhatiannya.
"Tunggu apa lagi? ayo hampiri dia"
Dominick mengangguk antusias, namun kemudian wajahnya berganti menjadi tidak yakin.
"Kau yakin tidak apa apa? aku tidak akan meninggalkanmu jika kau tidak mau"
Oh, Dominick. Kenapa disaat seperti ini masih saja sangat perhatian dengannya?
Dominick tentu tahu tentang traumanya, dan berada diruangan penuh dengan laki laki tentu akan membuatnya khawatir.
Elain memberikannya senyum kecil, "Tidak apa apa Dominick. Aku akan baik baik saja"
Dominick mengangguk. Kemudian berjalan menuju Aluna. Berdua mereka tampak serasi, seperti pasangan yang keluar dari negeri dongeng.
Apalagi ketika melihat Dominick bersama Aluna, laki laki itu jadi mudah tertawa dan tersipu. Sesuatu yang asing dikaitkan dengan Dominick.
Elain kembali menenggak champagne nya, merasakan rasa pahit ditenggorokan yang selaras dengan kepahitan hatinya.
......................
Ini dress yang dipake sama Elain
__ADS_1
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusias kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo.