Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 25 | Bratva


__ADS_3


......................


Alessio melangkahkan kakinya menuju ruang bawah tanah mansionnya. Ruang yang dikhususkan untuk melakukan segala kegiatan gelap serta beberapa sindikat kriminal mereka.


Melewati tempat penyimpanan senjata ilegal dan juga klub, Alessio sampai di pintu berukiran emas.


Kenyataanya adalah, ketika arsitektur lantai utama dan lantai atas lebih netral dan elegan. Di lantai bawah justru memiliki warna warna gelap yang sangat mengintimidasi.


Alessio memasuki ruangan megah dengan meja panjang di tengah ruangan. Disana ia bisa melihat lima petinggi Bratva dengan ayahnya, Nikolai yang ada di kursi paling ujung. Mereka adalah keluarga Volkov, Konstantine, Ivanov dan Vasiliev, dengan Romanov sebagai petinggi paling agung atau Pakhan.


Tak juga itu, tujuh tetua utama Bratva juga hadir. Mereka adalah peraturan itu sendiri, ketika dalam Bratva terjadi sebuah pelanggaran maka merekalah yang menghukum. Tetua berasal dari klan utama.


Laki laki itu mengambil tempat duduk disamping kanan Nikolai.


"Maafkan aku terlambat. Ada beberapa urusan yang harus kukerjakan".


Nikolai menatap Alessio tak suka, namun pria itu tak mengatakan apapun. Begitupun dengan semuanya.


Nikolai memulai pembicaraan, "Baiklah, gentleman. Disini aku akan mengatakan bahwa Italian berhasil membobol salah satu kasino milik Damien Ivanov. Salah satu orangku menangkap bahwa itu adalah orang dari De Luca"


Damien Ivanov, disebelah kiri Nikolai menyahuti, "Benar. Bahkan mereka mencuri persediaan obat yang ada di brangkas rahasia"


Obat disini yang dimaksud bukanlah obat obatan untuk penyakit. Melainkan obat obatan ilegal.


Sambil menumpukan wajahnya di telapak tangan, Igor Volkov —putra dari Ivan Volkov yang juga hadir disamping ayahnya berucap dengan santai. "Aku menempatkkan orangku di De Luca. Namun ia sama sekali tidak mendapati gerakan mencurigakan darinya"


"Bisa saja orangmu salah, bukan?". Maxim Vasiliev bertanya. Laki laki itu adalah yang termuda diantara mereka —putra tunggal Ignatius Vasiliev yang masih berusia sembilan belas tahun. Sama dengan Lyra.


"Itu tidak mungkin, Yegor adalah orang kepercayaanku dan satu satunya Rusia yabg dapat menembus inner circle dari De Luca". Ujar Igor percaya diri.


Sementara itu Alessio hanya diam. Mengamati dalam diam interaksi mereka. Para pemimpin Bratva yang sangat ditakuti dan disegani.


Akhir akhir ini, Italia memang sering membuat ulah. Mengacaukan peredaran bisnis mereka. Tak hanya sampai disitu, mereka dengan terang terangan berusaha menembak presiden Rusia, Timofey Petrov di pidato kenegaraan pekan lalu. Namun untung saja peluru meleset.


Jika dipikir pikir lagi, Alessio merasa penembakkan itu memang disengaja meleset dengan maksud sebagai ancaman. Hubungan antara Rusia dan Italia semakin tidak baik —golongan dalam politik semakin gencar menggepur satu sama lainnya.

__ADS_1


Lalu, jika kesaksian antara mereka sama sama benar. Alessio merasa ada yang aneh. Maka dari itu ia melirik pada Alexander Konstantine yang duduk dengan anggun nan tenang. Menggantikan ayahnya —Andrei Konstantine yang tengah absen.


Sepanjang ia mengenal para penerus Bratva semenjak pertemuan pertama mereka saat masih kecil dulu, Alessio hafal sifat satu persatu mereka. Contohnya saja Damien Ivanov yang walaupun suka bermain main adalah yang paling mengerikan diantara mereka —laki laki itu sungguh haus darah.


Lalu Ivan Volkov yang terlepas dari kesombongannya merupakan seseorang yang sangat licik dan pintar memanfaatkan keadaan. Laki laki itu sangat pintar memanipulasi lawan bisnisnya.


Kemudian ada Maxim Vasiliev yang walaupun adalah yang termuda namun ia jugalah yang paling bertanggung jawab dan tidak main main dengan ucapannya. Terkadang Alessio berpikir jika Maxim sangat tidak cocok didunia gelap mereka.


Dan yang terakhir, Alexander Konstantine. Laki laki ini yang sedari dulu membuat Alessio was was sekaligus kagum. Ia adalah yang paling tenang dan kalem diantara mereka, sangat irit berbicara. Namun kemampuannya tak bisa diremehkan, si jenius dengan strategi dan siasatnya yang tak pernah gagal. Bahkan Alessio mengakui jika kehebatan Alexander hampir menyamainya.


Maka dari itu, Alessio menoleh pada Alexander yang sedari tadi hanya menjadi pengamat dan tersenyum miring padanya.


"Lalu kau Alexander? apa pendapatmu tentang peristiwa ini?"


Alexander awalnya terdiam. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Rambut pirangnya terlihat kontras di ruangan ini.


"Menurutku, seseorang sengaja melakukan ini untuk mengadu domba kita"


Jawaban Alexander membuat gaduh seluruh ruangan. Para tetua mulai memprotes, mengatakan bahwa hal tersebut sangat tidak mungkin dan hanya akal akalan dari para Italia saja. Namun tak sedikit juga dari mereka yang menyetujui perkataan Alexander.


"Itu tidak mungkin! siapa yang mau mengadu domba kita?"


"Jika dipikir pikir memang ada benarnya, tapi bukan berarti Italia tidak suka mencari masalah"


Dan bisikan lainnya pun terdengar. Hingga kemudian Nikolai mengangkat tangannya dan seluruh ruangan hening seketika.


"Tuan tuan, sekarang bukan saatnya untuk memperebutkan. Namun disini, lebih baik kita menyelidiki lebih dalam permasalahan ini. Jika memang yang dikatakan tuan Konstantine benar, maka ini tidak bisa dibiarkan karena mereka telah membuat kita berperang dingin dengan Italia semenjak beberapa dekade lalu"


Mereka berbisik mengiyakan.


Nikolai menoleh pada Igor, "Tuan Volkov, tetap tempatkan orang kepercayaan anda disana. Kita harus tetap waspada pada Italia baik benar atau tidaknya kecurigaan ini"


"Tentu, Pakhan". Jawab Igor patuh.


"Baiklah, kalau begitu kita akan mulai membahas perdagangan di Cartel...."


Semua orang pun sibuk mendiskusikan perdagangan dan masalah masalah mereka. Hingga tiba tiba, pintu terbuka dengan sendirinya dan Lyra yang tengah memakai gaun malam berbahan satin datang. Gadis itu tengah menangis.

__ADS_1


Alessio dengan sigap berdiri begitu melihat pemandangan gadis favoritnya itu dengan wajah berlinangan air mata. Pria itu bergerak menuju Lyra kemudian membawanya ke pelukannya menyembunyikan gadis itu dibalik d*danya agar tidak ada orang melihatnya.


"Maafkan aku, gentleman. Kalian bisa melanjutkan pertemuannya". Tanpa memperdulikan lirikan tajam dari Nikolai, Alessio pun membawa Lyra pada ruangan yang terhubung namun lebih privat.


Laki laki itu mendudukkan Lyra diatas pangkuannya kemudian menghapus air matanya.


"Ada apa, princess.... Apa kau terluka? merasa sakit?". Tanyanya khawatir.


Lyra menatapnya manja, "Tadi aku tidak sengaja mendengar pelayan berkata bahwa aku hanya wanita simpanan tuan muda mereka. Aku tahu itu benar, tapi kenapa mereka harus membicarakannya pada semua orang? apakah mereka diam diam selama ini membicarakanku dibelakang? itu sangat jahat"


Lyra semakin menangis kencang. Alessio bingung kemudian laki laki itu menenangkannya. "Shh.. Shh.. Jangan menangis, sayangku. Aku akan menghukum para pelayan itu. Tidak akan kubiarkan siapapun lolos setelah menyakiti kesayanganku"


"Okay".


Alessio terus menenangkannya dengan mengelus punggung dan rambutnya —tak lupa memberikan kecupan kesana dan kemari hingga gadis itu berhenti menangis.


"Maafkan aku menganggu pertemuan kalian"


Alessio tersenyum kecil, kemudian mengecup pucuk kepalanya manis, "Tidak apa apa sayang, kau adalah yang terpenting untukku".


Untuk sesaat, Lyra menyandarkan dirinya pada Alessio hingga kemudian suara pintu terbuka membuatnya terlonjak.


......................


Jadi, sampai chapter ini akan ada beberapa revisi.


Yang pertama, untuk penamaan marga. Orang Rusia biasa menambahkan 'a' setelah marga keluarga untuk para wanita.


Misal. Asteria Romanov jadi Asteria Romanova.


Sejak awal cerita, aku udah nge wanti wanti ini. Enaknya aku ikut sistem penamaan Rusia apa tetep aja?


Nah sekarang aku putusin buat ganti karena aku sadar semua karakter disini namanya pure Russian. Jadi gak afdol kalau semisal gak ngikutin tradisi mereka.


Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡


Xoxo.

__ADS_1


__ADS_2