
......................
Sekarang, Alessio tengah melakukan pertemuan dengan para petinggi Bratva. Namun kali ini, Igor Volkov membawa adiknya serta bersamanya, namanya adalah Elain Volkova.
gadis itu berusia delapan belas tahun. Hanya terpaut satu tahun dengan Lyra. Dengan rambut hitam kecoklatan dan mata coklat gelap. Lyra bertanya tanya bagaimana gadis semanis ini tidak menjadi model.
Saat ini, mereka tengah menikmati teh dikebun belakang.
"Wow.. Kak, ini benar benar sangat indah". Ujar Elain terkagum kagum.
Lyra tersenyum. Elain benar benar tipe gadis yang easygoing dan gampang berkenalan dengan orang baru. Gadis itu juga tak canggung mengobrol dengannya.
"Benarkah? Alessio membuatkannya untukku".
Elain semakin menatapnya berbinar. "Wah... Tuan muda Alessio memang benar benar memanjakanmu, kak. Hebat sekali. Kakakku sangat menyebalkan, tidak charming seperti tuan muda Alessio"
Memikirkan tentang itu, Lyra jadi ikut bertanya tanya. "Kakakmu itu memang sangat mengintimidasi, aku saja ngeri jika bersamanya"
"Benar kan! kak Lyra tidak akan tahan sifatnya jika dirumah. Mengaturku ini dan itu, El jangan main ini atau kau akan terluka! El jaga dirimu baik baik! Huft terkadang aku sangat muak dengannya"
"Haha.. Aku juga mempunyai kakak laki laki dirumah. Dan dia juga sangat overprotektif".
"Memang semua kakak laki laki itu sama saja". Gerutu Elain.
Mereka melihat para pria tengah berbincang santai di gazebo pinggir taman. Lyra menyadari jika mata Elain sedari tadi tidak terlepas dari Dominic Ivanov.
"Apa kau menyukai Dominick?"
Ditanya seperti itu, Elain jadi kelabakan sendiri. Gadis itu berulang kali menggelengkan kepalanya sebelum kemudian menyerah. "Iya, aku mencintainya sejak aku kecil"
Pernyataan itu membuat Lyra membelalakkan matanya. Tidak menyangka jika Elain sudah diam diam mencintai Dominic selama itu.
"Serius?"
Elain menatapnya sedih. "Sangat serius. Aku sudah mencintainya semenjak aku sendiri tidak tahu apa artinya cinta. Dulu, kakakku sangat jarang dirumah. Dan ia selalu menitipkanku pada temannya yaitu Dominic. Aku tidak tahu lagi jika bukan karena Dominic, pasti masa kecilku akan sangat kesepian. Mama sudah tidak ada dan Papa selalu sibuk dengan Igor"
"Tapi aku sadar jika Dominic itu sama sekali tidak mempunyai rasa padaku. Aku sudah menerimanya dari awal". Ujarnya sedih.
Lyra bisa merasakan airmata dibalik pelupuk matanya. Entah mengapa mendengar cerita Elain membuatnya ikut sedih. Alessio sudah bercerita padanya perihal kebiasaan Dominic yang suka bergonta ganti pasangan layaknya berganti baju. Ia tak bisa membayangkan menjadi Elain harus melihat itu semua.
"Apa kau sudah menyatakan perasaanmu padanya?"
Elain menggeleng, "Tidak. Tapi aku yakin perasaan ini hanya sepihak. Dominic tidak pernah melihatku lebih dari adik kecil temannya"
Lyra menggapai tangan Elain diatas meja dan mengenggamnya. "Jika memang dia bukanlah takdirmu, Tuhan pasti akan mengirimkan yang lebih baik untukmu".
__ADS_1
Mata Elain berkaca kaca. Gadis itu balas mengenggam tangan Lyra. "Terimakasih kak, kau teman pertamaku".
"Kau.... Tidak memiliki teman?"
"Tidak. Entah mengapa semua orang tidak suka padaku. Terkadang aku berandai andai apakah memang hidupku ini penuh kesialan karena dosaku?"
Lyra menatapnya tak suka. "Jangan berkata seperti itu, El. Semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Jika mereka memang tidak mau berteman denganmu, mereka yang rugi. Mulai sekarang, jika mau bercerita jangan sungkan bercerita padaku okay"
"Tentu kak"
Mereka terdiam. Masing masing sibuk dengan pikiranya sendiri. Sebelum kemudian Elain berceletuk.
"Kau sangat beruntung kak. Tuan muda Alessio terlihat sangat menyayangi anda"
"Iya. Aku sangat beruntung"
Kemudian tiba tiba saja Alessio menoleh. Mata mereka tertuju pada satu sama lain. Dunia terasa berhenti, dibawah sinar matahari yang membelah cakrawala.
Dan saat itulah Lyra menyadari bahwa ia mencintai Alessio Romanov.
......................
Ia mencintai Alessio.
Ia mencintai Alessio.
Ia mencintai Alessio.
Satu.. Dua...
Lyra tak henti hentinya memutari kamar secara bolak balik. Gadis itu mengigit kukunya dengan gugup. Pikiranya penuh dengan perasaan yang baru saja ia akui itu.
Oke, Alessio tidak boleh tahu ini.
Rasanya ia ingin menangis saja. Kalau begini apa bedanya ia dengan Asteria. Mereka berdua sama sama terjatuh pada Alessio. Lyra tidak ingin nasibnya berakhir seperti Asteria.
Gadis itu kemudian memutuskan untuk mencari Alessio. Ia kembali ke taman belakang namun tidak menemukan tanda tanda pria itu disana.
Lyra pun menuju ruang kerjanya.
Berdiri didepan pintu gelap mahogani ini, membuat Lyra menyadari bahwa sejak pertama kali ia kesini. Ia sama sekali belum pernah masuk kedalan ruangan kerja laki laki itu. Iapun memutuskan untuk mengetuk.
Tok...Tok...
Tok...Tok...
Begitu hingga ketukan ke empat dan masih tidak ada sahutan dari dalam. Lyra iseng memutar kenop pintu dan ternyata pintunya tidak dikunci.
__ADS_1
Iapun membukanya. Dan seketika merasa takjub dengan keadaan ruangan. Ruangannya sangat besar dan terlihat sangat regal. Berwarna hitam dengan ornamen ornamen berwarna emas.
Lyra semakin melangkahkan kakinya memasuki ruangan. Matanya tak henti hentinya menatap takjub.
Yang menarik matanya adalah foto besar keluarga Romanov. Dipose itu terdapat Nyonya Romanov yang tengah duduk disebuah kursi, Tuan Romanov berdiri disebelahnya dengan satu tangannya berada di pundak Nyonya Romanov. Kemudian Alessio kecil yang ia perkirakan masih berusia sembilan tahun berdiri didepan ibunya.
Lyra tersenyum pada dirinya sendiri. Bahkan ketika masih kecil, laki laki itu sudah terlihat sangat tampan. Dengan mata abu abunya dan rambut hitam. Ekspresinya sangat datar untuk bocah berusia 9 tahun.
Kemudian ia menatap pada ibu nya Alessio. Wanita itu sangat cantik dan elgean. Ini kali pertamanya ia melihat nyonya Romanov. Semua orang mengatakan bahwa wanita itu meninggal, namun tak ada satupun dari mereka yang memberi tahu penyebabnya.
Wanita itu sangat cantik dan anggun. Dengan rambut sehitam malamnya yang kontras dengan mata birunya. Lyra bisa melihat kemiripan Alessio dengannya.
Kemudian matanya menatap salah satu foto yang ada di meja kerja Alessio. Foto itu adalah dirinya, diambil ketika ia bermain piano dengan dress putihnya dibawah sinar bulan.
D*danya seketika menghangat. Apakah ini artinya ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan perasaan Alessio?
Lyra kemudian mendekat pada meja kerja laki laki itu. Ia menemukan banyak dokumen yang tertumpuk yang bahkan ia tak tahu apa apa tentang itu.
Matanya menyapu ke sekeliling ruangan. Sama sekali tidak mendapati foto Alessio dengan Asteria dimana mana. Kemudian Lyra tanpa sengaja menyenggol meja hingga kertas kertas itu jatuh..
Dengan segera ia memunggutinya dan berniat menggembalikannya di meja. Akan tetapi ia melihat salah satu laci meja ada yang terbuka dan ia berniat menutupnya.
Matanya menemukan sesuatu didalam laci. Dengan ragu Lyra mengambilnya.
Alangkah terkejutnya ia begitu mendapatkan foto masa kecilnya. Tidak hanya satu melainkan sebelas. Difoto itu Lyra berusia tujuh tahun. Latarnya pun berbeda beda. Ada yang ditaman, di teras rumah dan lain lain.
Sontak ia menutup mulutnya karena terkejut.
Pertanyaanya adalah
Bagaimana Alessio bisa mendapatkan foto foto ini?
......................
Haloo... Jadi disini kalian udah mulai dikenalin ke side couple kita yaitu Elain—Dominick. Konfliknya juga perlahan bakalan mulai muncul.
Satu lagi, huhu aku lupa kalau Damien itu sebenernya nama bapaknya Dominick kalau di alur yg aku tulis. Jadi disini aku ganti.
Bapaknya : Damien Ivanov
Anaknya : Dominick Ivanov
Btw chap next bakalan full ttg backstorynya Elain huhu... Kalau cerita Lyra lebih ke greget gimana tapi kalau Elain lebih ke angst gitu deh..
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo.
__ADS_1