
......................
Sekali lagi, Lyra memijit keningnya yang terasa berdenyut denyut. Rasa bercampur aduk di perutnya yang membuatnya tak selera makan serta merasa mual itu kembali datang.
Maka dari itu, gadis itu sedari pagi hanya bermalas malasan di kasur sembari bermain sosial media di ponselnya.
Rasanya Lyra tidak memiliki semangat untuk beranjak dari kasur barang sedetikpun. Bahkan Nanny Elise saja sampai memarahinya, katanya Lyra membutuhkan asupan cahaya matahari pagi untuk kesehatannya. Lyra hanya menggerutu dalam hati, kenapa ia malah jadi seperti bayi jika dikatakan seperti itu?
Lalu, berbicara tentang Alessio. Lyra tidak tahu dimana laki laki itu. Alessio sudah keluar sejak kemarin. Lyra tidak tahu Alessio kemana dan ia tidak peduli.
Oke, mungkin dia memang peduli jika bukti bahwa Lyra menangis semalaman dan tidak bisa tidur karena tidak dipeluk oleh Alessio.
Sekarang ia benar benar kesal —ralat, marah pada laki laki itu. Bisa bisanya Alessio meninggalkannya sendiri tanpa memberi tahu dulu?
Ah, memikirkannya saja jadi membuat Lyra ingin menangis. Entahlah, emosinya akhir akhir inj benar benar kacau. Ia dapat tertawa namun kemudian sekejap menangis. Ia jadi heran sendiri.
Aish... sekarang lihat saja. Memikirkan tentang Alessio saja sudah membuat moodnya yang buruk jadi tambah memburuk.
Lyra berpikir. Tiba tiba saja ia kangen dengan mommy dan daddy. Memang sih, dia sering menelepon keluargannya. Tapi tetap saja...
Oleh karena itu, Lyra mengambil ponselnya dan segera menghubungi mommy.
Tut...Tut...
"Halo..."
"Mommy! aku rindu!"
"Sayang, mommy juga sangat rindu Lyra. Apa disana baik baik saja?"
Samar samar, Lyra dapat mendengar suara Leo kakaknya yang meminta telepon. Namun mommy justru memarahinya. Lyra terkikik geli, sebuah kebiasaan yang sangat familier jika ia berada di rumah kedua orang tuannya.
"Aku baik baik saja. Hanya rindu dengan mommy"
"Lalu, bagaimana dengan Daddy?"
Tiba tiba saja, suara mommy sudah berganti dengan daddy. Ia dapat mendengar mommy yang mengomeli daddy karena tiba tiba merebut telepon mommy.
Entah mengapa, tiba tiba saja Lyra ingin menangis. Ia tidak tahu mengapa. Namun ia merasa sangat rindu dengan mereka, rindu akan daddy yang selalu memanjakannya, masakan mommy, bahkan perdebatannya dengan Leo. Lyra rindu semua itu. Momen momen bersama keluargannya.
Ia terlalu larut dengan pikirannya sendiri sehingga tidak sadar jika sedari tadi mommy memanggilnya di telepon.
"Lyra... Kau masih disana, nak?"
Cepat cepat Lyra mengusap setitik air mata yang tidak ia sadari telah keluar dibalik pelupuk matanya. Kemudian menengadah, berusaha untuk tidak terisak.
"Aku masih disini, mom"
"Ada apa? kau terdengar tidak baik baik saja, sayang?"
"Jika Alessio menyakitimu. Beritahu saja pada daddy"
__ADS_1
"Padaku juga"
Tadi yang terakhir dari daddy dan Leo. Lyra terkekeh. Lihat saja, ia sangat beruntung memiliki keluarga yang sangat menyayangi dan menjaganya seperti mereka.
"Aku tidak apa apa. Hanya rindu kalian"
"Oh, my star. Daddy juga sangat merindukanmu. Rumah benar benar sepi tanpamu"
Dan saat itulah pertahanan diri Lyra runtuh, air matanya pun mengalir deras. Bukti seberapa rindunya ia dengan keluargannya. Apalagi pada daddy yang memberikan pelukan terbaik.
"Daddy... aku..". Lyra tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena menangis.
"Lyra, kenapa? kau membuat kami khawatir....bicaralah pada daddy"
Lyra kembali mengusap air matanya. Ayolah... ia tidak boleh menangis hanya karena alasan konyol ini.
"Sudah kubilang tidak apa apa daddy, aku hanya rindu kalian"
"Baiklah... karena putriku sedang rindu. Aku akan menyiapkan penerbangan menuju Rusia sekarang"
Mendengar kata daddynya, membuat Lyra membelalakkan mata. Daddy nya itu tidak main main dengan ucapannya.
"Daddy.. itu tidak perlu. Lagipula aku hanya rindu saja"
"Aku tidak akan membiarkan putriku gundah gulana karena rindu. Tunggulah disana, kami akan datang"
"Mommy, lihatlah daddy sangat keras kepala!"
Kali ini, mommy nya lah yang menyahuti.
"Tapi mom..."
"Kenapa kau sangat tidak ingin kita kesana? kau bilang dirimu baik baik saja. Kecuali ada sesuatu yang kau sembunyikan"
Lyra mengigit bibirnya begitu mendengar pernyataan dari Leo. Seperti biasa, tebakkan kakaknya itu memang selalu tepat sasaran.
"Ish.. tidak. Yasudah, kalau kalian mau kesini ya silahkan"
"Nah, begitu dong Lyra. Nanti kami akan menghubungimu lagi. Daddy mu juga sudah menyiapkan penerbangan. Mommy akan bersiap"
"Iya mom"
"Hei, jangan lupa tour rumahmu ya nanti!"
"Iya, kakak. Aku akan menunggu kalian"
"Sampai jumpa nanti, putrinya mommy"
"sampai jumpa"
Sambungan pun terputus. Lyra kembali merebahkan dirinya dikasur. Perkiraanya, mungkin keluarganya akan sampai besok pagi. Karena ia tahu betapa sibuknya daddy. Dan perihal merubah jadwal itu bukanlah hal yang gampang, perlu dilakukan perubahan disana sini.
Ketika tengah asyik merebah. Pintu kamarnya terbuka dan menampakkan Alessio dengan kemeja yang digulung ke siku memasuki ruangan.
__ADS_1
Laki laki itu lalu berjalan ke arahnya. Lalu mendudukkan diri disamping Lyra. Tangannya terulur untuk mengelus kepala gadisnya.
"Kenapa tidak sarapan, hmm? pelayan tadi memberitahukan padaku bahwa kau belum sarapan"
Lyra kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Alessio dan memeluknya. Namun sesaat kemudian, hidungnya mengerut begitu mencium aroma yang membuatnya merasa tidak enak.
Aroma peach.
Sontak, gadis itu merasa perutnya seperti diaduk aduk lagi. Kemudian menjauh dari Alessio sembari menutupi hidungnya.
"Kenapa kau memakai parfum menyengat seperti itu? aku tidak suka baunya".
Lyra dapat melihat wajah Alessio yang menegang, sebelum sedetik kemudian laki laki itu menetralkan lagi ekspresinya.
"Baiklah. Aku akan mengganti baju dulu". Lyra pun mengangguk. Menatap pada punggung Alessio yang menjauh dan masuk ke dalam walk in closet.
Selang beberapa lama kemudian, Alessio pun kembali dengan menggunakan pakaian yang baru dan lebih casual. Dengan celana abu abu dan kaos putih.
Lyra pun merentangkan tangannya, sebuah tanda bahwa ia ingin dipeluk oleh Alessio. Laki laki itu tersenyum kecil, kemudian ikut masuk kedalam selimut dan memeluk Lyra.
"Kenapa tidak sarapan, princess?". Tanya Alessio lagi sembari mengelus rambut Lyra.
"Tidak selera, Alessio"
"Kenapa? makanannya tidak sesuai dengan seleramu. Mau kumintakan pelayan membuatkan yang baru?"
"Tidak mau. Perutku terasa mual"
Elusan dikepalanya pun terhenti. Alessio lalu menatap Lyra khawatir.
"Kenapa tidak bilang dari tadi! aku akan meminta dokter untuk kesini"
Baru saja Alessio akan beranjak, Lyra sudah terlebih dahulu menahan lengan laki laki itu.
"Tidak perlu Alessio. Aku hanya masuk angin biasa. Tidak perlu berlebihan". Ujar gadis itu memelas. Lyra tidak suka dengan dokter.
"Lyra... jangan disepelekan. Aku akan pergi"
"Tidak mau!". Tiba tiba saja Lyra sudah menangis. Membuat Alessio bingung sendiri. Laki laki itu kemudian kembali memeluk tubuh gadisnya dan menenangkannya.
"Baiklah. Baiklah. Tidak ada dokter. Tapi kau harus sarapan. Oke?". Tawar Alessio sembari mengecup pucuk kepalanya.
Lyra mengangguk.
......................
Huhu dari kemarin wifi error gais.. jadi gabisa update. Ini aja aku nebeng dirumah temen hiks..
Seperti biasa, yang dicetak miring berarti lawan bicara ya.
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusias kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo.
__ADS_1
- Balqis istrinya NaNa