
......................
Lyra dengan anggun menyesap perlahan teh di gelas porcelain cina digenggamannya. Sama sekali tidak memperlihatkan kegugupan yang sebenarnya dirasakan oleh gadis itu.
Ya, minum teh bersama Alexander Konstantine memang membuatnya gugup.
Lyra berusaha menetralkan ekspresinya sebisa mungkin.
"Kau suka disini?". Tanya Alexander tiba tiba. Masih dengan ekspresi datarnya.
"Tentu"
Hening lagi.
"Uhmm.. Alex —maksudku Alexander"
"Kau bisa memanggilku Alex" Potong laki laki itu.
"A... Iya Alex. Kau mau menemui Alessio?". Tanya Lyra.
Gadis itu bingung, ketika ia tengah asyik merias diri. Tiba tiba Irina mengatakan jika ada seseorang yang mencarinya. Tak tahu jika itu adalah Alexander. Karena Alessio sedang tak ada disini, jadi ia sebagai tuan rumah yang baik mengajaknya meminum teh sembari menunggu Alessio kembali.
"tidak. Aku mau menemuimu"
"Pardon?"
"Aku mau menemuimu"
Lyra membuka dan menutup mulutnya. "Tapi, ada apa?"
Alexander tidak menjawab. Hanya terus menatap kearahnya, hingga kemudian ujung bibirnya tertarik keatas —hanya sedikit. Lyra bahkan tidak tahu jika yang ia lihat nyata atau hanya khayalan belaka.
"Kau cantik memakai dress pink pastel". Ujarnya tiba tiba.
Lyra hampir tersedak teh yang ia minum. Gadis itu melotot pada Alexander. Sama sekali tidak menyangka bahwa diantara banyaknya jawaban, Laki laki itu akan berkata demikian entengnya.
"Uh.. Terima kasih". Ia harus sopan dan menghargai orang yang memujinya bukan?
Alex mengangguk. Kemudian laki laki itu menoleh ke belakang pada ajudannya yang sedari tadi sudah stand by dan memberikan isyarat dengan tangannya. Kemudian ajudan itu pergi entah kemana.
Beberapa menit kemudian, orang suruhan Alex datang membawa apa yang Lyra asumsikan sebagai kandang mini dan menyerahkannya pada Alex.
Alex membukanya, dan keluarlah anak anj*ng terlucu yang pernah Lyra lihat.
Anj*ng berjenis pomeranian teddy bear dengan warna sandy yang sangat lucu melompat tepat ke pelukannya. Ukurannya sangat mini, membuat Lyra tak ayal gemas.
"Astaga Alex, lucu sekali. Apa ini punyamu?". Ujarnya antusias. Senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Bukan. Itu milikmu". Jawaban Alexander membuat kegiatan Lyra yang tengah sibuk menguyel uyel pomeranian itu terhenti.
Gadis itu menatapnya dengan mata bulatnya yang seperti boneka. Kemudian mengedip satu kali. Membuat senyum kecil terurai di bibir Alexander.
__ADS_1
Lyra masih tidak percaya. Karena itu dia memastikan. "Maksudku? puppy ini untukku?"
"Iya untukmu. Karena kau suka puppy"
Lyra menatapnya heran, "bagaimana kau bisa tahu itu?"
Alex terdiam dan tak kunjung menjawab. jadi, daripada menjadikan suasana lebih canggung. Lyra pun menambahkan.
"Terimakasih, Alex!". Serunya antusias. Kemudian kembali bermain main dengan puppy barunya.
"Kau mau menamainya apa?"
Lyra berpikir sejenak sebelum kemudian mencetus. "well... karena warnanya agak kecoklatan. Maka aku akan menamainya Browny"
Alex mengangguk puas. Lyra kembali melanjutkan aktivitasnya bermain dengan Browny.
Hingga kemudian, dibalik punggung Alex, Lyra dapat melihat Alessio yang berjalan ke arah mereka. Gadis itu kemudian berdiri dan membawa browny bersamanya untuk menemui Alessio.
"Alessio! lihat ini! Alex memberikannya padaku. Lucu bukan?"
Alessio tersenyum lembut padanya. Kemudian menatap pada puppy di tangannya. Lyra melihat sekilas ketidaksukaan dimatanya.
"Sangat lucu, princess... Masuk dulu ya, Theo akan mengantarmu"
Dahi Lyra berkerut. "Lalu, bagaimana dengan Alex?"
"Tidak apa apa. Kau masuk saja, biar aku yang akan bicara dengannya"
Meskipun tidak mengerti. Lyra tetap menjalankan apa yang diminta oleh Alessio. Gadis itu menoleh kebelakang dan melambaikan tangannya pada Alex yang dijawab anggukan oleh pria itu.
......................
Setelah Lyra pergi, hilang sudah senyum yang tadinya menghiasi wajahnya. Tergantikan oleh sosok dingin sang pewaris Bratva.
Alessio menghampiri Alexander. Menatapnya tanpa ekspresi.
"Apa alasanmu mendekatinya? Dan sebelum kau mengelak, aku akan terlebih dahulu membolongi kepalamu menggunakan pistolku"
Meskipun mendapat ancaman dari Alessio, namun Alexander sama sekali tidak terlihat takut.
"Kau tidak bisa terus mengurungnya disini"
Alessio melayangkan tatapan membunuh pada Alexander. Rahangnya mengeras, dan ia mengambil satu langkah mendekat. Dengan tinggi sedikit lebih tinggi dari Alex —laki laki itu terlihat mengintimidasi serta mengerikan.
"Kuperingatkan padamu Alex, jangan mencampuri urusan kami". Geramnya.
Alexander menjawabnya dengan tenang. "sampai kapan kau mau mengurungnya? sampai ia mengingat masa lalu?"
Alessio mengambil langkah cepat dan mengambil kerah leher Alexander, dan menariknya mendekat. Namun lagi lagi Alexander sama sekali tidak terlihat terpengaruh sedikitpun.
"Jangan pernah membahas soal itu. Kau sama sekali tidak berhak!"
"Oh, aku sepenuhnya berhak untuk itu!"
__ADS_1
"Dia milikku!" Sentak Alessio. Nafasnya memburu, keinginan untuk membunuh Alexander semakin menjadi.
Alexander terdiam. Dan Alessio kembali melanjutkan ucapannya.
"Kau temanku, Alex. Tapi Lyra adalah milikku. Jika sampai kau menyentuh ujung rambutnya, aku tidak akan segan segan menghabisimu". Ancamnya.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak ceritakan yang sebenarnya saja padanya dan kita lihat siapa yang di akhir akan dipilih"
Alessio tersenyum miring, kemudian melepaskan cengkramannya dari kerah Alexander, membuat laki laki itu sedikit terhuyung kebelakang.
"Tidak perlu menunggu, aku selalu tahu jika Lyra akan selalu memilihku. Tidakkah pengalaman mengajarkanmu hal itu, Alex"
Alessio merapikan kerahnya, kemudian berbalik memunggungi Alex sambil berkata terakhir kalinya.
"Jikapun Lyra mengingatnya, Dia tetap akan memilihku. Because we belong to each other"
Alessio pun melangkah pergi. Mengabaikan mata biru Alexander yang menatapnya tajam dibalik punggungnya.
......................
Sementara itu, diruang tengah Lyra asyik bermain dengan Browny. Sedari kecil, ia memang sangat ingin memelihara seekor puppy, namun entah mengapa daddynya selalu melarangnya.
Kemudian ia melihat Alessio datang. Laki laki itu melepas kemejanya dan hanya meninggalkan kemeja putih dengan lengan digulung. Kemudian duduk disamping Lyra.
Alessio merasa sebal karena sedari tadi Lyra mengabaikannya hanya untuk bermain dengan puppy pemberian Alexander.
"kenapa kau suka bermain dengan anj*ng jelek itu. Aku bisa memberikanmu yang lebih terawat dan lebih mahal"
Lyra mendelik tak suka padanya. "apa kau bilang? Anj*ng jelek? hei! Browny itu puppy paling menggemaskan kau tahu? dan kau berbicara seolah olah Browny ini tidak terawat"
Alessio mendengus. "Well.. untuk berjaga jaga bukannya kita sebaiknya mengantarnya ke dokter hewan. Siapa tahu Alexander memunggutnya dari tempat sampah. Itu bisa berbahaya karena artinya anj*ng jelek itu membawa banyak virus"
Lyra memeluk Browny dengan posesif di d*danya. "Kau itu konyol sekali! tidak mau! Jauh jauh sana kalau kau mengangap puppyku ada virusnya"
Laki laki itu hanya menghela nafas. Kemudian mengeluarkan ipadnya dan mulai bekerja sementara Lyra bermain dengan Browny.
"Ngomong ngomong, Alessio. Bagaimana Alex tahu kalau aku suka puppy"
Pertanyaan Lyra membuat jarinya terhenti. Sebuah keheningan sebelum Alessio menjawab.
"Mungkin, hanya tebakan Princess".
Lyra mengangguk. Meskipun ia sendiri tidak percaya dengan ucapan Alessio.
......................
Hehe Salam dari Browny
__ADS_1
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusias kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo