Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 32 | Suspicious


__ADS_3


......................


Lyra menatap curiga pada sebelas foto yang ada ditangannya. Ia tidak pernah mengingat pernah mengambil foto ini sebelumnya. Lantas bagaimana Alessio bisa mendapatkannya?


"Princess?".


Lyra terlonjak. Kemudian sontak membalikkan tubuhnya ke belakang. Mendapati Alessio yang sudah masuk ke dalam dan menatapnya heran.


Pandangan laki laki itu sejenak jatuh kepada lembaran foto yang ada ditangannya. Dan Lyra bersumpah ia melihat kepanikan sekilas dimatanya.


Laki laki itu kemudian berjalan ke arahnya, lalu memegang kedua bahu Lyra.


"Kenapa ada disini, hmm?"


Lyra menatapnya lekat tanpa berkedip. "Aku mencarimu tadi Alessio. Kenapa kau bisa mendapatkan foto ini?"


Ujarnya sembari menyodorkan foto foto masa kecilnya pada laki laki itu.


"Aku sama sekali tidak ingat memiliki foto itu. Bagaimana kau bisa mendapatkannya?". Cercar Lyra.


Alessio kemudian memasukkan kembali foto foto itu ke dalam lacinya.


"Apa maksudmu, sayang? aku mendapatkan foto ini dari orang orangku, tentu saja. Orang tuaku pernah mengambilnya dulu"


Lyra menggelengkan kepalanya. "Tidak, Alessio. Kau salah. Kami tidak pernah —"


Kali ini Alessio menggengam bahunya lebih erat. Memandangnya dengan serius. "Sayangku, kau hanya melupakannya. Sudah, ayo kita pergi ke ruang bioskop".


Lyra mengerutkan dahinya. Gadis itu berpikir untuk terus menginterogasi Alessio soal ini, tapi untuk kali ini ia memutuskan untuk membiarkannya.


......................


Entah mengapa sedari tadi Lyra tidak dapat mengenyahkan pikirannya dari foto itu tadi. Ia tidak tahu apakah ia benar benar paranoid atau membesar besarkan masalah.


Hingga akhirnya. Ia memutuskan untuk menelepon Leo untuk mengklarifikasi.


"Hai, brother"


"Lyra. Tumben menelepon?"


"Aish... Tidak bolehkah adikmu sendiri menghubungi kakaknya"


"Aduh, bukan itu yang kumaksud. Ah sudahlah... "


"Hehe.. Kakak, aku mau bertanya sesuatu"


"Bertanya apa?"


"Apakah kau pernah menemukan fotoku saat kecil yang diambil di taman kota? saat itu aku menggenakan gaun pink pastel tanpa lengan dengan pita besar dibagian tengahnya".


Terdengar jeda sebelum kemudian Leo menjawab.


"Tidak ada"


"Kenapa kau begitu yakin? bisa saja kan kau tidak tahu"


"Lyra... Foto dirumahmu tidak ada satupun yang aku tidak tahu. Tidak mungkin aku tidak pernah melihat foto itu?"


"Kau yakin?"

__ADS_1


"Yasudah. Kalau kau tidak percaya. Aku akan menanyakannya pada mommy dan daddy"


"Okay, terimakasih brother Leo"


"Ya.. Sama sama"


"Kak.. sampaikan salamku pada mommy dan daddy"


"Sampaikan saja sendiri. Dasar durhaka"


"Ish menyebalkan". Lyra pun menutup teleponnya.


Sekarang hanya menunggu respon dari mommy dan daddynya baru Lyra bisa yakin.


......................


"Halo, baby".


Alessio memeluk tubuhnya dari belakang saat gadis itu selesai bermain piano. Menunggu hingga permainannya selesai kemudian mengecup pipinya.


"Tidak kelelahan seharian ini sayang?"


Lyra berdecak. Memang ia baru saja pulang setelah pergi berbelanja dengan Elain ke mall untuk berbelanja.


Oh ya, berbicara tentang pergi ke mall.


"Alessio". Panggil Lyra.


Laki laki itu bergumam sembari terus mengendusi lehernya.


"Tadi, saat aku di mall bersama Elain. Ada paparazzi yang mengambil foto kami"


Hal itu sontak menarik perhatian Alessio. Laki laki itupun duduk tegap dan menatap serius pada Lyra.


Lyra mencebikkan bibirnya kesal. "Ish kan sekarang aku akan bilang".


Alessio tidak berkata apa apa. Kemudian laki laki itu mendekat dan mecium bibirnya. Lyra dengan sigap mengalunkan tangannya pada leher Alessio.


Hingga kemudian Alessio menarik diri dan hendak pergi sebelum Lyra memegangi bajunya.


"Mau kemana?". Tanyanya dengan puppy dog eyes yang sangat menggemaskan di mata Alessio.


Laki laki itu tidak bisa menahannya. Kemudian menciumi gemas pipi Lyra.


"Ada sesuatu yang harus kuurus, baby"


"Tapi kau akan kembali kan?"


Astaga... Dia bagai memiliki seorang bayi besar. Namun Alessio sangat suka ketika Lyra manja padanya.


"Tentu, princess. Wait for me"


......................


Setelah menelepon Viktor. Tak lama laki laki itupun muncuk dihadapannya. Alessio tak membuang waktunya untuk memberitahu Viktor apa yang ia inginkan.


"Aku ingin kau mencari paparazi yang memotret foto Lyra sampai dapat"


Viktor mend*sah sebal. "Astaga, aku baru saja mendapatkan dua jam tidur dan kau memanggilku untuk hal sepele ini?"


Alessio menatapnya tajam, membuat Viktor menenggak ludahnya. "Ini bukan hal biasa, aku ingin kau cepat menyelesaikannya"

__ADS_1


"Okay. Tapi setidaknya kau tidak perlu segitunya, Alessio. Lyra itu putri dari salah satu billionarie dunia. Tentu saja paparazzi akan mengikutinya dan mengambil fotonya"


Alessio mendudukkan dirinya disofa. Kemudian mengambil sebatang rokok dan menyelipkannya di mulutnya kemudian menyalakan ujung rokok menggunakan korek api.


"Aku tidak ingin wanitaku dijadikan objek fantasi n*fsu oleh pria pria mesum diluar sana"


Viktor menatapnya tak mengerti. "Maksudmu?".


"Kau mengerti maksudku, Viktor. People will lusting after my girl seperti dia adalah objek. Kau tahu sendiri kan foto perempuan cantik seringkali dijadikan bahan m*sturb*si diluar sana? aku tidak akan membiarkan orang orang melakukan itu pada Lyra. Kau harus segera mengurusnya"


Viktor mengangguk setuju, "Baik Alessio"


......................


"Kau tidak mau membaca untuk malam ini, Princess?". Alessio bertanya


Lyra berjalan melewati Alessio untuk mengambil buku disamping meja kopi. "Iya"


Lyra mengambil tempat duduk disebelah Alessio. "Ini benar benar buku yang bagus, Alessio"


"Aku lega jika kau menyukainya"


Lyra pun membuka buku itu dan mulai membaca. Merasakan tatapan Alessio padanya disepanjang waktu. Gadis itu harus menahan dirinya sendiri untuk tidak mengintip pada Alessio.


Dan dia hampir saja kalah beberapa kali.


Setiap kali mata mereka bertemu, Alessio akan memberikanya senyuman yang juga dibalas oleh Lyra.


Jantung gadis itu melakukan jungkir balik. Perutnya terasa dipenuhi oleh kupu kupu. Tubuhnya terasa ringan oleh euforia dan rasa damai yang menguasainya.


Lyra ingin terus seperti ini, sayangnya beberapa detik kemudian gadis itu menguap.


"Kau harus tidur, sayang". Ujar Alessio terdengar kecewa.


"Hmm". Lyra menutup bukunya.


Kemudian gadis itu mendapati Alessio yang mencondongkan diri ke arahnya. Dan menyisir beberapa helai rambutnya ke belakang —membiarkan jarinya menempel lebih lama dari yang seharusnya. Tatapanya sangat lembut —dan Lyra kerap kali melihat jenis tatapan seperti ini ketika Daddynya menatap pada mommynya.


"Tidurlah terlebih dahulu, aku ada urusan sebentar". Lyra mengangguk.


Alessio mengusapkan ibu jarinya pada bibirnya. Membuat Lyra merintih ketika bibir laki laki itu mulai mengklaim bibirnya. Memberinya kecupan cepat kemudian bersandar pada sofa membiarkan Lyra pergi.


Padanya Lyra berbisik.


"Selamat malam"


"Selamat malam, princess". Jawabnya.


Bahu Lyra turun dengan kekecewaan karen menyadari bahwa Alessio tidak akan memeluknya sebelum tidur.


Memberikan pandangan terakhir, gadis itu akan pergi ketika tiba tiba lengan Alessio melingkar pada pinggangnya dan menjatuhkannya tepat di pangkuan laki laki itu. Kemudian memberika kecupan singkat lagi kepada Lyra.


Gadis itu terkikik.


"Aku suka suara tawamu, bagaikan musik yang ingin kusimpan seumur hidup".


Lyra memerah oleh kata kata Alessio. Laki laki itu benar benar memiliki seribu satu cara untuk membuatnya semakin tergila gila.


"Selamat malam, princess-ku. Semoga kau bermimpi indah"


......................

__ADS_1


Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusias kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡


Xoxo.


__ADS_2