
......................
Asteria berjalan mondar mandir di taman belakang mansion Alessio dan Lyra. Sebenarnya ia juga enggan menginjakkan kaki kembali ke mansion ini. Namun hari hari ini Alessio sangat susah dihubungi hingga dia harus dengan terpaksa menemuinya disini.
Pasalnya, tempo hari yang lalu ibu dan ayahnya pergi menemuinya di mansionnya.
Saat itu, ibu dan ayahnya mengunjungi mansion saat Asteria tengah sibuk mengatur acara amal yang akan segera dilaksanakan di kediaman Facullo.
Keluarga Facullo dan Mikhalov memiliki hubungan yang masih baik. Pewaris Facullo juga merupakan sepupu dari Asteria.
Isabella dan Andrew Mikhailov datang tanpa berbicara. Selama ini, jika ayah dan ibunya akan berkunjung. Biasanya mereka akan memberitahu Asteria terlebih dahulu.
Saat ini, mereka tengah duduk diruang tamu.
Asteria memeluk kedua orang tuanya. Kemudian berucap.
"Ayah, ibu. Ada apa kalian kemari? tumben sekali? bukanya aku tidak suka. Hanya bertanya tanya saja". Tanya Asteria hati hati. Tidak ingin menyinggung perasaan kedua orang tuanya.
Andrew dan Isabella saling berpandangan. Kemudian Isabella berdeham.
"Begini nak... Sebelumnya ibu ingin bertanya, bagaimana kau dengan Alessio. Apa kalian baik baik saja?"
Asteria mengerutkan dahinya. Sebuah pertanyaan yang sama setiap kali ibunya berkunjung.
Ia jengah.
Dengan itu ia memperlihatkan senyum palsu terbaiknya. "Tentu saja kami baik baik saja"
Ayahnya menatapnya rinci. Membuat Asteria menahan sebuah insting untuk bergerak tidak nyaman.
Sepanjang ia mengenal ayahnya, ia tidak akan mengatakan jika Andrew Mikhailov itu orang tua yang baik —namun disisi lain juga bukan orang tua yang buruk pula. Hubungan mereka bisa dibilang terlalu formal untuk dijabarkan.
Asteria tahu, ayahnya sangat menginginkan seorang penerus laki laki yang dapat ia jadikan penerus keluarga mereka.
Maka dari itu, dari kecil Asteria selalu di didik se sempurna mungkin. Mulai dari kelas etika dan kelas menari yang wajib ia datangi. Kelas piano, agar disetiap acara keluarga ia bisa dipamerkan sebagai putri yang "sempurna" dari keluarga Mikhailov.
Perjodohan dengan Alessio pun ayahnya yang mengatur. Ia masih teringat kata kata Andrew yang kala itu menguruinya.
"Asteria Mikhailova. Inilah yang dipersiapkan untukmu. Menjadi istri seorang Alessio Romanov adalah sebuah kebanggan yang sangat besar bagi keluarga kita. Kuharap kau tidak berbuat macam macam tentang ini".
Asteria, yang sedari kecil memang suka untuk menyenangkan ayahnya. Ia yang saat itu masih gadis kecil dengan semangat menganggukkan kepalanya.
Dan sekarang, ia menyesal menerima perjodohan itu. Namun satu yang ia tidak sesali, yaitu rasa cintanya pada suaminya —Alessio Romanov.
Kemudian Andrew berkata dengan nada autoriternya. "Kalau begitu, bisa kau jelaskan rumor rumor yang beredar dikalangan atas tentang renggangnya pernikahan kalian".
__ADS_1
Asteria dapat merasakan tubuhnya mematung oleh ucapan Andrew.
"Ditambah lagi, rumor yang menyatakan jika Alessio memiliki wanita lain dibelakang"
Asteria berusaha untuk tidak menunjukkan kegugupannya. Ia benar benar tidak tahu bagaimana ayahnya bisa mendengar rumor seperti itu. Namun Andrew Mikhailov memiliki seribu satu cara untuk mengetahuinya.
Ia tidak buta dan tuli untuk mengetahui jika wanita wanita kalangan atas itu menggunjing dirinya dari belakang.
Ini bisa gawat jika ayahnya tahu yang sebenarnya.
Asteria memasang tampang berpura pura bodohnya. "Ayah, aku tidak tahu jika ayah mendengarkan gosip murahan seperti itu. Aku dan Alessio baik baik saja. Sekarang suamiku sedang ada urusan dengan Maxim". Jawabnya berbohong.
Andrew menatapnya tak percaya. Namun sedetik kemudian laki laki paruh baya itu menghela nafas. "Jangan mengecewakanku, Asteria. Aku tidak suka keluarga kita dipermalukan. Lagipula, aku kemari ingin bertanya. Kenapa kau belum hamil juga?"
Ditanya seperti itu, membuat Asteria terbungkam. Wanita itu tahu jika ayahnya memanglah sosok yang suka asal gamblang jika berbicara. Namun tetap saja, ditanya seperti ini membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
Rupanya, bukan hanya ia yang merasa begitu. Karena Isabella juga melirik ke arahnya. Wanita itu jelas tidak nyaman, namun ia juga tidak berani untuk melawan Andrew suaminya.
Asteria yang ditanya seperti itu juga tidak tahu harus berkata apa. Alessio selalu memakai pengaman jika bersamanya.
Melihat keterdiaman putrinya, Andrew pun berkata. "Seorang putra akan menjamin posisimu sebagai nyonya Romanov semakin kuat. Jika kau memberikan Alessio pewaris. Maka niscaya derajatmu sebagai Nyonya Romanov akan semakin diakui. Kau harus bergerak cepat Asteria, banyak wanita di luar sana yang mengimpikan menjadi istri Alessio. Kau harus menggunakan kesempatan ini sebaij baiknya"
Inilah alasan mengapa Asteria merelakan diri menginjakkan diri ke rumah Lyra dan Alessio. Semua orang mulai curiga, juga rumor mulai tersebar. Ia harus cepat cepat mendiskusikan hal ini dengan Alessio.
Namun hasilnya nihil. Ia sudah disini selama satu jam. Dan baik Lyra maupun Alessio —Asteria tidak melihat keduanya disini. Para pelayan pun menutup mulut tak ada yang mau memberitahunya.
Kemudian saat ia hampir putus asa, ia melihat laki laki dengan rambut pirang dan setelan hitam yang berlalu di depannya.
Alexander Konstantine.
Dengan segera ia mengejar laki laki itu. Ia berkali kali memanggil namanya namun tidak dihiraukan laki laki berambut pirang itu.
"Alexander!"
"Alexander!"
"Alexander!"
Karena kesal diabaikan. Asteria pun meraih tangan Alexander dan menghentikan langkah laki laki itu.
Alexander pun berbalik. Mata birunya menatap tajam pada Asteria. Asteria menenggak ludahnya.
Dari semenjak ia kenal dengan Alessio. Asteria tidak pernah berinteraksi dengan Alexander. Laki laki itu terlalu mengintimidasi. Alexander juga terlihat tidak suka padanya.
"Alexander. Apa yang kau lakukan disini?".
Alexander menatapnya datar. Sama sekali tidak menunjukkan tanda bahwa ia senang berbincang bincang dengan Asteria.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disini?"
Tipikal lelaki seperti Alexander. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
Dia harus sabar banyak banyak untuk itu.
Asteria menghela nafas kasar. "Tidak boleh? ini rumah suamiku. Kau apa yang kau lakukan disini?"
"Tidak ada"
Asteria menukikkan alisnya. "Tidak ada. Jadi kau tidak kesini untuk mencuri?"
"Itu sama sekali bukan urusanmu"
"Hey! Alessio itu suamiku. Dan ini rumahnya. Tentu saja ini adalah urusanku!"
"Lalu? nyonya dirumah ini bukan dirimu"
Asteria benar benar tertohok. Perkataan Alexander benar benar menusuk.
Asteria mengepalkan tangannya. Berusaha untuk bersabar menangani manusia es satu ini.
"Terserah. Katakan saja padaku, dimana Alessio?"
"Di Maldives"
"Pardon?"
"Dia sedang berada di Maldives bersama Lyra"
Asteria dapat merasakan tubuhnya lemas seketika mendengar pengakuan Alexander. Alessio mengajak Lyra ke Maldives?
Sebuah destinasi wisata yang selalu ingin Asteria kunjungi. Bahkan saat awal awal pernikahan mereka, Asteria memberitahukan pada Alessio bahwa ia ingin berbulan madu ke Maldives. Namun Alessio selalu menolak.
Dan sekarang laki laki itu membawa Lyra ke Maldives?
Saking terkejutnya ia, Asteria tidak menyadari jika Alexander sudah berada disampingnya.
Laki laki itu kemudian berbisik rendah di telinganya. "Kusarankan kau menyerah saja, Lyra bukanlah tandinganmu".
...----------------...
***Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo.
- Balqis istrinya NaNa***
__ADS_1