
......................
Ketika Lyra sudah terlelap dengan lengan Alessio yang melingkari perutnya. Sangat kelelahan setelah aktivitas panas mereka.
Sementara Alessio, laki laki itu masih terjaga. Menatap pada kejauhan. Tangannya masih melingkar di tubuh polos gadis yang ada di pelukannya.
Kemudian laki laki itu mendengar suara notifikasi dari ponsel disebelah meja tempat tidurnya. Berhati hati agar tidak membangunkan gadis itu, ia memindahkan satu lengannya yang digunakan sebagai bantalan Lyra.
Ia mengecek ponselnya, mendapati satu panggilan keluar dari Asteria. Niat hati ingin mengabaikannya, namun Alessio mengurungkan niatnya begitu mengingat ancaman Asteria.
Laki laki itu dengan perlahan bangun kemudian memakai kimono yang telah disiapkan. Mengambil satu pandang pada Lyra yang masih terlelap —Alessio keluar menuju balkon dan menelepon Asteria.
"Alessio. Dari mana saja kau? apa yang sedang kau lakukan sekarang?"
Sama sekali mengabaikan pertanyaan Asteria, laki laki itu bertanya. "Kenapa meneleponku?".
"Kau tidak kesini Alessio, tadi ayahku datang dan aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya"
Alessio menghela nafas. Kemudian berpikir sejenak sebelum kembali berujar. "Aku akan kesana sekarang"
"Terimakasih Alessio". Tanpa membalas perkataan Asteria, Alessio mematikan teleponnya.
Laki laki itu kemudian berjalan menuju ranjang dan memberikan satu kecupan terakhir untuk Lyra sebelum mengganti pakaiannya dan pergi.
......................
Asteria mematut pantulan dirinya pada kaca full body yang ada dikamarnya. Wanita itu tengah menggenakan baju tidur satin berwarna hitam. Ia tersenyum lembut —merapikan rambut hitam lurusnya lalu menatap pada mata hijaunya. Wanita itu menghembuskan nafasnya.
Sudah lama semenjak kejadian di rumah selingkuhan itu ia tidak bertemu dengan Alessio. Hari harinya ia habiskan dengan menangis dan meratapi nasib percintaannya yang sungguh tak beruntung.
Beberapa teman bahkan orang tuannya pun mempertanyakan ke absenan Alessio. Dan Asteria akan selalu menjawab dengan senyuman bahwa suaminya itu sangat sibuk.
Sejujurnya ia sangat lelah dengan semua kepura puraan ini. Ia berpura pura baik baik saja didepan dunia. Ketika bahwa kenyataanya ia saat ini tengah tidak baik baik saja.
Sama halnya saat mengunjungi rumah Lyra beberapa hari yang lalu. Rasanya ia ingin menangis saja, bahkan Alessio memberikan rumah yang lebih besar dua kali lipat darinya.
Bukankah itu sungguh tidak adil?
Ia terus memperlihatkan wajah tangguh dan tidak pedulinya ketika berbicara dengan perempuan itu, disaat kenyataanya ia ingin marah dan menangis. Mempertanyakan kenapa Lyra merebut satu satunya hal bahagia di hidupnya.
__ADS_1
Apalagi ketika Alessio lebih memilih wanita itu dibanding dirinya, hatinya terasa sangat hancur. Namun ia tetap memasang wajah tidak apa apanya.
Ia bertanya tanya pada dunia. Apa yang ia lakukan salah hingga semuanya menjadi seperti ini? Ia mencintai Alessio dengan segenap jiwa dan raganya.
Tidak. Ia tidak boleh bersedih. Ia sudah berjanji untuk memperjuangkan laki lakinya bukan?
Maka dengan itu, Asteria kembali memasang senyum diwajahnya. Mengatur degub jantungnya yang berdetak sangat cepat.
Seseorang mengetuk pintu kamarnya, Asteria menatap tatapan tubuhnya sekali lagi kemudian keluar membukakan pintu.
Nampak seorang pelayan menunduk di depan pintu. "Maaf nyonya, saya kemari ingin memberitahukan bahwa Tuan Alessio telah kembali".
Asteria tidak dapat membendung senyuman yang terukir di bibirnya. Ia mengangguk pada pelayan itu kemudian turun. Mendapati suaminya sudah terduduk manis di sofa.
Wanita itu kemudian mengambil tempat duduk disebelah Alessio. Hidungnya menangkap bau yang tak biasa dari suaminya.
Hatinya mencelos begitu mengenali bau itu. Bau wanita. Otaknya langsung menghubungkan itu dengan keberadaan Lyra.
Sebelum ia sempat memproses, mulutnya sudah terlebih dahulu bersuara.
"Apa kau bersama dengan peremuan itu sebelum kesini?".
Jawaban Alessio membuat hatinya sangat sakit. Ia harus mengepalkan tangannya dipangkuannya.
Bagaimana suaminya bisa menjadi laki laki yang sangat kejam?
"Kau sangat jahat, Alessio. Aku ini istrimu! Kenapa kau bersikap seperti ini, Alessio". Ujarnya hampir menangis. Namun ia sekuat tenaga menahan dirinya untuk tak menangis. Asteria tak mau dianggap lemah oleh Alessio.
Alessio tidak menjawab. Dan Asteria semakin susah untuk menahan tangisannya.
"Kau adalah istriku Asteria". Jawabnya simpel.
Asteria menarik nafas dalam kemudian memberanikan diri menatap Alessio. "Kalau begitu buktikan". Tantangnya.
"Maksudmu?"
Asteria tidak banyak bicara. Perempuan itu mencondongkan kepalanya kemudian mulai mencium bibir Alessio. Alessio yang masih terpaku sama sekali tidak diberikan waktu untuk merespon.
Menyadari tidak ada respon dari sang empu, Asteria kemudian menyudahi ciumannya kemudian berbisik pelan pada Alessio. "Cium aku Alessio, jika aku istrimu maka ciumlah aku. Kau tahu apa kewajiban setiap suami bukan?". Lalu lanjut mencium Alessio.
Laki laki itu membalasnya, walaupun dengan ragu ragu. Asteria berdiri menarik Alessio ke kamarnya dimana disana perempuan itu mencopoti baju yang dipakai oleh Alessio.
__ADS_1
"Buktikan, Alessio. Peraturan yang selama ini nenek moyang kalian junjung tentang menghormati istrimu. Bagaimana jika mereka tahu kau menduakanku".
Lalu kemudian Asteria menarik Alessio pada ranjangnya.
......................
Alessio memakai kembali pakaiannya. Sementara Asteria melihatnya dibalik selimut. Wanita itu masih tel*njang. Meskipun **** dengan Alessio selalu terasa hebat —namun ia tahu jika pikiran laki laki itu sedang tidak bersamanya sekarang.
"Kau mau kemana? Kau tidak mungkin pergi bukan?". Tanyanya ketika melihat Alessio selesai berpakaian.
Laki laki itu menoleh sekilas, "Aku akan tidur dikamarku". Kemudian pergi tanpa kata.
Satu hal lagi yang membuat Asteria iri pada Lyra. Yaitu kenyataan bahwa setiap bersamanya, mereka tidak pernah satu ranjang. Mereka memiliki kamar yang terpisah. Dan entah mengapa, kenyataan bahwa seseorang tidak memberikanya perhatian setelah berc*nta membuatnya ingin menangis.
Maka menangislah yang ia lakukan. Namun wanita itu menutupi wajahnya menggunakan bantal untuk meredam suara tangisnya.
Rasanya sesak. Ia bahkan kesulitan bernafas. Ketika suamimu memilih wanita lain secara terang terangan dihadapanmu.
......................
Lyra terbangun dan meraba raba kasur disebelahnya. Menemukan bagian sebelahnya dingin. Gadis itu mencebik. Kemudian perlahan membuka matanya dan tak menemukan sosok Alessio disana.
Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Biasanya ini masih terlalu awal untuk Alessio bangun. Tapi ketika ia pikirkan lagi, apakah Alessio sama sekali tidak tidur? karena kasur disebelahnya terasa sangat dingin.
Hingga netra hazelnya menangkap pemandangan Alessio yang datang membawa nampan berisi English Breakfast ditangannya. Kemudian menempatkannya pada meja disebelah ranjang.
"Morning, princess". Sapanya sembari memberikan kecupan pada pelipisnya dan mengusap rambutnya.
Lyra tidak membalas sapaan Alessio. "Kemana saja kau?".
Keterkejutan menghiasi wajah Alessio, sebelum kemudian hilang. Namun itu ada dan Lyra melihatnya. Laki laki itu juga nampak ragu sebelum kemudian menjawab.
"Apa maksudmu? Aku membuatkanmu sarapan"
Lyra mengangguk. Walaupun ada bagian didalam dirinya yang sedikit curiga, namun ia mengabaikannya.
......................
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo.
__ADS_1