Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 46 | Don't Go


__ADS_3


......................


"Tidak mau.... Jangan pergi".


Lyra terus bergelayut manja pada Alessio. Sekarang sudah jam delapan pagi. Waktunya Alessio untuk menyelesaikan urusannya tempo hari yang masih belum selesai.


Namun begitu melihat Lyra yang terbangun dan langsung menahannya, membuat Alessio tidak tega. Apalagi mengingat apa yang telah terjadi tempo hari, membuatnya tidak ingin melepaskan Lyra dari pandangannya sama sekali.


Akan tetapi masalahnya, Ia mempunyai seseorang yang harus diurus di ruang bawah tanah. Kemarin setelah membantai habis seluruh warehouse pelelangan. Alessio membawa dua orang yang akan ia interogasi.


Rencananya dan Alberto berhasil. Ketika datang, laki laki itu memberitahunya untuk mengajaknya bekerja sama. Karena acara hanya diperuntukkan untuk para Italian saja, hanya Alberto yang bisa ikut acara pelelangan.


Sementara Alessio dan orang orangnya menunggu dibelakang. Acara pelelangan ini dihadiri oleh para Cosa Nostra. Namun bukan para peningginya, sepertinya perkataan Alberto yang mengatakan jika mereka diundang oleh Don gadungan itu benar. Terbukti dengan absennya para petinggi Cosa Nostra disini —minus Alberto.


Sepanjang itu, Theo harus menahannya. Karena ia selalu lepas kendali ketika melihat wanitanya dibawa ke atas panggung seperti itu. Melihat Lyra menangis —mampu membuat monster didalam dirinya lepas kendali.


Melihat gadisnya diseret ke panggung dengan pakaian minim itu. Alessio benar benar ingin membunuh semua orang yang berani melakukan itu pada Lyra-nya.


Karena dia, Alessio Romanov. Akan selalu melindungi gadisnya. Dan beraninya para cec*nguk itu dengan seenaknya menyakiti hal yang selama ini ia jaga dan lindungi.


Maka ia bertahan dengan rencana Alberto. Selama itu berusaha mengontrol monster nya yang terus terusan meminta pertumpahan darah saat gadisnya dilihat dengan tak senonoh oleh pria pria hidung belang itu.


Hingga kemudian Alberto memenangkan harga final pelelangan. Kemudian ia kembali dipertemukan dengan Lyra.


Sungguh rasanya seperti ada kepingan dari dirinya yang menghilang kemudian kembali lagi. Memeluk Lyra, semuanya terasa utuh lagi.


Kemudian Lyra pingsan. Alessio menebak gadis itu pasti kelelahan. Ia memerintahkan anak buahnya untuk menembak habis siapapun yang ada di warehouse ini. Kecuali penjaga yang menangani Lyra, serta si pembawa acara tadi.


Ia juga menyuruh orang orangnya untuk membakar habis tempat ini beserta mayat mayat yang ada didalamnya. Barulah setelah semuanya selesai, ia membawa Lyra kembali pulang dan memanggil dokter keluarga untuk menanggani gadis itu


Dan sekarang Lyra tengah memeluknya erat. Seakan tidak mau melepaskannya.


Alessio menghela nafasnya. Kemudian mengelus rambut gadis itu. Ia terus berpikir. Lyra pasti sangat ketakutan, karena semenjak kemarin gadis itu sama sekali tidak mau ditinggal.


Bahkan tadi malam, Lyra sempat terbangun karena mengalami mimpi buruk. Ia harus terjaga untuk menemani gadis itu yang tidak berhenti berhenti menangis.

__ADS_1


Ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Lyra disana. Ia ingin menanyakannya. Namun disisi lain ia juga tidak tega untuk membuat gadis itu menceritakannya.


Alessio juga takut tidak akan bisa mengontrol emosinya di depan Lyra nanti jika gadis itu bercerita.


Maka sekarang yang bisa ia tawarkan hanyalah rasa kenyamanan yang terus diminta gadis itu padanya.


"Alessio jangan tinggalkan aku..."


Alessio mengecup kening gadis itu, matanya menerawang kedepan. "Tidak akan. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi".


Lyra mendongak pada Alessio. Matanya menatapnya bak anak anjing, Alessio benar benar bisa melakukan apapun jika Lyra menatapnya seperti itu. Tak peduli jika permintaannya sesulit memindahkan bulan sekalipun.


"Janji?"


Laki laki itu tersenyum. Kemudian mengenggam tangan Lyra ditangannya yang jauh lebih besar. "Janji"


Kemudian mereka tetap seperti itu. Alessio memeluk Lyra erat dan tak melepaskannya.


Suara ketukan pintu membuyarkan momen mereka. Alessio menatap Lyra dibawahnya. Gadis itu mengangguk seolah mengijinkan Alessio untuk membukakan pintu.


Alessio pun bangun, setelah berhati hati melepaskan tubuhnya dari rangkulan Lyra. Memandang pada gadis itu terakhir kali, laki laki itupun pergi.


"Maaf Tuan Muda, saya disini ingin memberitahu perihal kedatangan nona Elain kesini".


"ELAIN?". Bukan Alessio yang merespon, melainkan Lyra yang ada dibelakangnya.


Alessio mendecakkan lidahnya. Menatap tajam pada Lyra yang sudah semangat. "Kau tidak boleh terlalu lelah, princess. Bagaimana jika lain kali saja?". Bujuknya.


Lyra mengerucutkan bibirnya tidak suka. Kemudian menggelengkan kepala bak anak kecil. "Tidak mau. Aku sangat rindu dengan Elain, mau bertemu dengan Elain. Please... Alessio".


Sebenarnya Alessio mau menolak. Namun ia juga tahu betapa kesepiannya gadis itu. Ia pun menganggukinya dengan berat hati.


"Baiklah. Biarkan dia masuk". Titah Alessio. Pelayan itupun pergi.


Lyra bersorak gembira. Kemudian mengulurkan tangannya pada Alessio. Menatapnya manja. "Alessio. Bantu aku duduk".


Alessio menuruti perintah Lyra. Membantu gadis itu duduk di kasur kingsize mereka. Selang infus masih menyalur ditanggannya.

__ADS_1


Lalu tak lama kemudian, Elain Volkov datang. Dengan mata berkaca kaca. Lalu mendekat dan memeluk Lyra. Kedua wanita itu saling menangis dalam pelukan masing masing.


Alessio ingin menengahi. Karena sesungguhnya ia meringis setiap kali Elain memeluk Lyra terlalu erat. Ia takut gadisnya itu kesakitan.


Seakan menyadari kehadiran Alessio, kedua perempuan itu menoleh padanya. Namun ekspresi keduanya benar benar keterbalikan. Elain menatapnya malu sekaligus takut, sementara Lyra menatapnya tajam dengan mata menyipit.


"Kenapa masih disini? aku mau dengan Elain dan kau menganggu. Keluarlah, Alessio"


Alessio menatapnya konyol. "Tadi aku disuruh tinggal. Sekarang sudah disuruh pergi?". Ia berkata sembari menaikkan satu alisnya.


Gadis itu mencebik. Kemudian menunjuk pada pintu. "Ish... Sekarang kan ada Elain. Masa kita berdua berbicara dengan kau disini?".


Alessio menghela nafasnya. Ia harus banyak banyak sabar ketika beradu argumen dengan makhluk yang selalu benar yaitu wanita.


Ia bergerak mendekati Lyra. Kemudian mengusap rambutnya dan mengecup keningnya. "Baiklah. Akan ku tinggal dulu. Jika butuh apa apa, tinggal panggil pelayan saja ya sayang". Lyra mengangguk.


Alessio pun pergi.


Elain yang menjadi saksi ke uwuan mereka itu kemudian menatap Lyra dengan cemberut. "Kak.. Kakak itu beruntung sekali. Tuan Alessio terlihat sangat menyayangi kakak".


Lyra terkekeh. "Jangan panggil aku kakak. Lyra saja ya...". Elain mengangguk.


Wajah ceria gadis itu kemudian berubah murung. Elain mengenggam erat tangannya. "kakak—maksudku Lyra. Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku. Aku berdoa setiap hari agar Tuhan selalu melindungimu. Aku bahkan selalu mengikuti kakakku kemanapun karena ingin tahu tentangmu".


"Terimakasih Elain. Aku mendengar kau juga mengalami penyerangan. Apa kau baik baik saja?". Lyra menatapnya khawatir.


Elain balas menatapnya sendu. "Bagaimana kau bisa bicara seperti itu, Lyra? Aku baik baik saja. Tapi bagaimana denganmu? kau pasti sangat takut"


Air mata Lyra kembali jatuh. "Aku... Aku sangat takut, Elain. Aku merasa putus asa. Aku merasa kotor saat mereka melecehkanku seperti itu. Kenapa ini terjadi padaku?".


Tangisan nya berubah menjadi histeris. Elain memeluk Lyra, membiarkan gadis itu menangis di pelukannya.


......................


**Nanti lagi kalo rame😌😏 hehehe


Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡

__ADS_1


Xoxo****.


__ADS_2