Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 52 | Made for Me


__ADS_3


......................


Lyra kini berada dibawah kungkungan tubuh Alessio. Gadis itu mend*sah frustasi kala Alessio menjamah setiap inci tubuhnya dengan sentuhannya. Mereka berdua sama sekali tidak memakai sehelai benang pun. Kulit mereka saling bergesekkan dalam gairah yang membara.


Halusnya kain sutra yang melapisi ranjang tempat ia berbaring membuat kulit Lyra meremang. Gadis itu sadar jika Alessio sudah selesai melucuti setiap helai pakaiannya. Tangannya mencengkram erat seprai dibawahnya.


Alessio menyeringai. Kemudian melanjutkan aktivitasnya dalam memuja tubuh Lyra. Memberikan kecupan di bibirnya, kemudian turun dan turun hingga kecupan basah itu berhenti di daerah dada dan perutnya.


Lyra merupakan sejenis narkotika bagi Alessio. Begitu candu dan memabukkan. Hanya saja candunya kali ini memiliki wujud secantik malaikat dengan iris mata bak madu yang dapat menghipnotisnya.


Seperti nyanyian siren yang menggodanya untuk selalu mengikutinya. Alessio bagaikan pelaut di tengah laut yang terjebak oleh nyanyian Lyra.


"Alessio....ughhh... shhh". Gadis itu berulang kali melenguh ketika Alessio menyentuhnya di titik sensitifnya. Punggungnya melengkung merasakan kenikmatan yang Alessio berikan untuknya.


Lenguhan dan des*han Lyra membuat Alessio semakin terbakar. Tubuh gagahnya yang berada di atas Lyra bergerak semakin cepat ketika mendengar gadisnya itu menyerukkan namanya.


Lyra hanya bisa mend*sah lemas.


Tangannya yang tadinya meremas seprai kini berpindah di belakang kepala Alessio. Sesekali menjambak surai hitam legam Alessio ketika laki laki itu semakin kuat menghujaminya.


****! Lyra bahkan merasakan tubuh bagian bawahnya sudah agak nyeri. Namun kenikmatan yang diberikan Alessio tak ayal membuat gadis itu tak mampu memprotes.


D*sahan Lyra tertahan ketika Alessio membuat gerakan meremas di pay*dara kanan Lyra. Jemari panjang Alessio sesekali menekan pada p*ting gadis itu yang sudah merah menantang.


Tangan kanan Alessio pun tak tinggal diam. Laki laki itu menyentuh setiap inci tubuh Lyra dengan sentuhan ringan namun dapat membakar tubuh gadis itu dalam gelora kenikmatan.


Terasa lembut dan panas membuat Lyra semakin bergairah. Alessio benar benar menstimulasinya dengan baik.


Kemudian Alessio menatap lurus di matanya.


Kedua manik abu abu kelam yang bagaikan badai itu menatapnya. Lyra tidak bisa berkedip. Tajam dan intens. Serasa menusuk pada retina matanya. Menghantarkan api gairah yang semakin berkobar dalam diri Lyra.


Alessio bahkan semakin berani. Laki laki itu mengigiti kulit leher Lyra. Membuat bekas bekas kemerahan tercetak di kulit putihnya. Lyra akan menjerit jika saja Alessio tak segera membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman.


Lyra mendonggakkan lehernya. Membiarkan Alessio berbuat lebih jauh dengannya. Leher putih nan jenjangnya itu bagaikan kanvas yang dilukis oleh Alessio. Nafasnya terbata bata oleh perlakuan panas yang Alessio berikan padanya.


Lyra dibuat benar benar melayang. Matanya menutup karena kenikmatan.


"Baby, lihat aku". Titah Alessio dengan suara rendahnya.

__ADS_1


Lyra pun membuka matanya dan mendapati rambut hitam legam Alessio di ranah pandangannya. Gadis itu lalu mengatur tempo pernafasannya yang tak teratur. Keringat mengucuri tubuh polosnya. Lyra benat benar merasa gerah sekarang.


"Did i hurt you?". Tanya Alessio lembut, menatap pada netra hazelnya untuk mencari sebuah kebenaran. Lyra tersenyum, kemudian mengangkat tangannya dan memperbaiki surai hitam Alessio yang turun di wajahnya.


[ Translate : Apa aku menyakitimu? ]


Astaga! Laki laki ini benar benar s*ksi.


"Tidak"


Namun kelihatannya Alessio tidak mempercayai perkataan Lyra. Karena laki laki itu menatapnya dengan pandangan menelisik.


Gadis itu menghela nafasnya, kemudian menangkup wajah prianya dan memberikan kecupan singkat di bibirnya. "Aku benar tidak apa apa, Alessio"


"Tapi kau bahkan belum pulih sepenuhnya, princess. Haruskah aku berhenti?"


Ya, Lyra tahu itu. Ia memang masih merasa agak lemas dan terdapat beberapa goresan yang masih agak nyeri ditubuhnya. Namun ia juga tidak ingin diangap lemah.


Ia juga tidak tahu apa yang merasukinya hingga dengan beraninya ia tadi meminta Alessio melakuka 'itu'. Awalnya tentu Alessio pasti menolaknya dengan alasan kesehatannya.


Lyra sangat muak.


Tapi tidak apa apa. Itu sudah berlalu. Sekarang pun ia sudah berhasil menggoda Alessio.


Gadis itu menatapnya serius. Kemudian berucap. "Aku benar benar tidak apa apa, Alessio"


Kemudian Lyra membuat langkah terlebih dahulu. Gadis itu lalu mengalunkan tangannya di leher Alessio kemudian menciumnnya. Lama kelamaan Alessio pun membalas ciumannya.


"Kau sangat indah. Diciptakan hanya untukku. Untukku seorang. Milikku untuk kulindungi, kupuja dan kupuaskan". Lyra memerah mendengar kata kata Alessio semakin membuat api di dalam dirinya semakin membara.


Kemudian Lyra merasakan tubuhnya yang menegang.


Kedua tangannya memeluk tubuh Alessio yang berada di atasnya. Hingga mereka berdua mencapai nirvana dan kehangatan melingkupi Lyra.


"Alessio....". Lyra bahkan kehilangan kemampuannya untuk membentu kalimat.


Sementara itu, Alessio terdiam. Laki laki itu menghirup dalam dalam aroma tubuh Lyra. Alessio benar benar menikmati apa yang telah terjadi. Lyra benar benar miliknya. Baik luar maupun dalamnya.


Alessio melirik gadis yang ada dibawahnya itu. Lyra masih sibuk mengatur nafasnya sembari memejamkan matanya.


Perlahan, Alessio bergerak. Laki laki itu mengangkat tubuhnya, menyingkir dari atas tubuh mungil Lyra. Alessio tak ingin gadis itu kesulitan bernafas karena menahan beban bobot tubuhnya itu. Alessio bergeser ke sisi ranjang yang kosong.

__ADS_1


Tangan kanannya menarik tubuh Lyra, membawa gadis itu kedalam dekapannya. Lyra langsung bergelung manja. Gadis itu mendongak dan mendapati Alessio menatapnya khawatir.


"Yakin tidak ada kenapa napa?". Tanyanya khawatir.


Lyra memutar bola matanya dan berdecak. "Serius Alessio, jika kau bertanya seperti itu sekali lagi. Aku akan menendangmu dari sini". Ancamnnya.


Kemudian Lyra berpikir sejenak dan melanjutkan perkataanya.


"Tapi jika kau benar benar bertanya tanya. bagian bawahku rasanya memang agak nyeri"


Lyra meringis begitu mendapati tatapan tajam dari Alessio. Laki laki itu kemudian bangkit dan memakai kimono yang selalu tersedia di bagian samping ranjang mereka. Kemudian begerak ke kamar mandi yang tidak diketahui apa tujuannya oleh Lyra.


Tak lama kemudian, laki laki itu berbalik membawa sebuah handuk. Dan tanpa berkata kata menyibak selimut yang menutupi tubuh Lyra. Gadis itu baru akan memprotes sebelum kemudian Alessio berbicara.


"Buka kakimu"


"Apa? tidak mau!". Tolak gadis itu. Yang benar saja! ia malu.


Namun sayangnya Alessio memberikannya tatapan tajam. Yang membuat Lyra mau tak mau menurut. Iapun membuka kakinya. Dan melihat Alessio mendekatkan handuk itu ke bagian inti tubuhnya, wajah Lyra benar benar memanas saat ini.


Ternyata, handuk itu sebelumnya sudah dicelupkan dengan air hangat. Efeknya membuat sarafnya yang tegang pun rileks. Lyra pun semakin rileks ketika Alessio dengan telaten menyeka bagiannya dengan handuk itu.


Kemudian setelah selesai, laki laki itu berbalik dan menempatkkan handuk kembali ke kamar mandi.


Setelah itu, Alessio pun menyusul Lyra berbarik di ranjang. Kembali memeluk tubuhnya dan memberikan satu kecupan kecil di keningnya.


"Sudah lebih baik?"


Lyra tersenyum. "Iya"


Kemudian mereka berdua terlelap dengan tubuh saling berdekatan, dengan Lyra yang mendengarkan jantung Alessio berdebar kencang.


Yang ia tidak ketahui alasannya.


......................


Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡


Xoxo.


- Balqis istrinya NaNa

__ADS_1


__ADS_2