Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 42 | Hold On


__ADS_3


......................


Lyra sudah berada disini selama dua hari. Memang ia tak lagi diikat dikursi. Namun ia ditinggalkan sendiri di ruangan temaram ini. Mereka memberikannya makanan dan minuman melalui lubang kecil dibawah pintu.


Alberto pun tidak mengunjunginya lagi setelah pertemuan mereka kala itu. Lyra benar benar putus asa sekarang.


Ia sangat merindukan Alessio. Dimana laki laki itu? apa Alessio repot repot mencarinya?


Ia harus berpikir positif. Tentu saja Alessio mencarinya, yang ia lakukan hanyalah bertahan sampai laki laki itu datang saja.


Lyra sempat mendengar penjaga didepan mengatakan bahwa mereka akan kedatangan seseorang yang penting hari ini.


Gadis itu tengah meringkuk dipojok ruangan. Memeluk dirinya sendiri. Ruangan ini sangat dingin, dan Lyra sangat kedinginan ketika malam datang. Giginya bergemelatuk menahan dingin.


Matanya kembali mengeluarkan air mata. Sungguh, ia sangat takut berada disini. Setiap malam ia harus mendengarkan suara penjaga diluar berkikik bagaimana mereka berfantasi ingin meny*tubuhinya.


Lyra bahkan tidak bisa tidur. Ia takut jika ia menutup matanya, para orang jahat itu datang dan melakukan sesuatu yang tidak tidak padanya.


Tenggorokannya terasa kering, mereka sama sekali tidak memberikannya minum seharian ini. Tubuhnya juga terasa lemas, bahkan untuk menggerakkan tangannya saja butuh tenaga ekstra.


Perlahan matanya terasa berat, dan disisa sisa kesadarannya, Lyra membisikkan nama Alessio bagaikan doa.


"Alessio"


......................


Kepalan tangan Alessio membuat kontak dengan laki laki dihadapannya. Suaranya memekakkan telinga di ruangan ini. Semua orang terdiam —menunggu perintah selanjutnya dari Underboss.


Alessio tidak merasakan apa apa ketika baj*ingan pengecut dihadapannya menerima ujung tinju nya. Korbannya merintih kesakitan. Alessio menarik sebuah kursi dan mendudukkan dirinya didepan pria naas itu.


Laki laki itu menatap Alessio melalui matanya yang membengkak. Wajahnya babak belur dengan darah dimana mana. Bibirnya sobek hingga mengeluarkan darah dibagian ujungnya. Pangkal hidungnya juga patah hingga mimisan.

__ADS_1


Mulutnya terbuka, namun suara suara yang datang cukup lirih untuk bisa didengar. Samar samar Alessio dapat mendengar, "Jika ingin membunuhku maka lakukanlah, aku tidak tahu dimana dia"


Sudah dua jam lebih Alessio memaksa laki laki ini untuk berbicara dan diikat di sebuah kursi dengan Alessio yang menghajarnya habis habisan. Namun pria baj*ngan didepannya juga tak membuka mulut.


Sudah dua hari Lyra dibawa pergi. Alessio tidak peduli jika dalam kurun waktu dua hari ini ia sudah membunuh tujuh orang anggota Cosa Nostra, kalau perlu ia akan membantai seluruh organisasi untuk mendapatkan Lyra kembali.


Tidak peduli jika itu menyebabkan peperangan.


Mencondongkan dirinya kedepan, Alessio meraih jari kelingkingnya. Ia melihat wajah laki laki dihadapannya sudah menggeleng panik.


Alessio tidak memperdulikannya.


Ia menekuk jari itu di arah yang berlawanan. Membuat suara retakan terdengar bersamaan dengan jeritan pria dihadapannya. Tubuh laki laki itu bergetar dan memberontak ingin lepas.


Alessio tidak akan membiarkannya. Tidak ada ampunan sama sekali untuk laki laki ini.


Tidak sampai Lyra-nya ditemukan.


Jeritannya masih beresonansi di sekitar ruangan ketika Alessio meraih dua jari lagi, menekuk mereka ke sudut yang mustahil sampai terdengar suara retakkan. Kali ini separuh jarinya benar benar copot dengan tulang dan daging yang terlihat di ujungnya.


"A—aku ti...tidak ta...hu". Jawab laki laki itu terbata bata dibalik tangisannya —memandang pada jari jarinya yang sudah tidak tersambung.


Theo meraih rambut laki laki itu ditangannya dan membuatnya menarik kepala laki laki itu kebelakang. Sebelum laki laki itu bisa memprotes, Theo sudah terlebih dahulu mengambil kain basah yang sebelumnya sudah dimasukkan kedalan freezer dan menutupi seluruh wajah kep*rat itu dengan kain itu. Menutup jalur sirkulasinya hingga laki laki itu memberontak dibalik tubuhnya yang terikat.


"Aku akan bertanya padamu untuk yang terakhir kalinya, dimana Lyra?!". Bentak Alessio sembari mendorong kursi laki laki itu.


Laki laki itu menggelengkan kepalanya beberapa kali. "A-aku t tidak tahu....Me—mereka ti-tdak memberitahuku".


Tinju Alessio menghantam perutnya bersamaan dengan Theo yang kembali menutup wajah laki laki itu dengan kain basah tadi. Itu lebih basah kali ini, Dan Alessio bisa memastikan bahwa air itu mengisi air dan hidungnya. Membuatnya lemas.


Ketika Alessio melihat tubuh pria itu yang sudah menyerah pada kehidupan, ia mengangguk pada Theo.


Tubuh Alessio menjulang diatas tubuh laki laki yang sudah tidak karuan bentuknya itu. Alessio menatapnya dengan penuh kebencian yang ia punya.

__ADS_1


Jari jari Alessio melilit tangannya, dan Alessio menekannya dengan keras, memutar sampai pergelangan tangannya bengkok di bawah tangannya. Matanya melebar sebagai teriakan keluar dari tenggorokannya. "Tolong ... Bunuh ... aku ..." Dia memohon, berjuang tetapi terlalu lemah untuk melawan. Dia tahu kematiannya akan datang. Dan dia memohon untuk itu.


Bed*bah sialan!


Menarik pistolnya, Alessio membidik lutut laki laki itu. Kemudian menarik pelatuknya, sebuah peluru terjun menembus tempurung lututnya menciptakan sebuah lubang yang membuat darah segar mengalir disana.


Laki laki itu berteriak. Dan Alessio terkekeh puas. Monster dalam dirinya mengaum dalam tawa. Menuntut lebih banyak darah untuk ditumpahkan. Darah para panculik princess-nya.


Tembakkan lain terdengar. Peluru kembali ditembakkan, kali ini dibagian lutut yang satunya. Jeritannya memekikkan—menusuk telinga Alessio. Namun itu tidak cukup —dan tidak akan pernah cukup.


Alesaio merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah pisau spiral. Mata pria itu melebar, dan dia menggelengkan kepalanya, rengekannya semakin keras. Dia pikir Alessio akan mengakhiri hidupnya dengan mudah. Betapa naifnya dia.


Theo tersenyum dan mengeluarkan pisaunya juga. Satu iris di lehernya. Cepat dan cepat. darahnya mengalir di lantai bawah tanag yang dingin dan tulang tulangnya terlihat. Pria itu membuat suara berdeguk, darah mengalir dari sayatan pisau pada tingkat yang dipercepat.


Tapi itu belum berakhir. Belum. Alessio memegang pisaunya dengan ketat di tangannya, kemudian menggoreskannya ke dadanya, tepat di hatinya. Mulutnya terbuka dalam jeritan bisu, darahnya menyemprotkan di sekitar mereka.


Lantai ditutupi dengan darah segar. Udara berbau kematian dan bau tembaga serta amis darah. Alessio menyeringai saat dia kejang dan kemudian runtuh melawan kursi, mata terbuka lebar. Mereka penuh ketakutan sampai dia tak bernyawa. Hanya mayat lainya yang mati menggenaskan.


Sebuah langkah kaki datang diantara heningnya ruangan. Alessio membalikkan tubuhnya, dengan sekujur pakaiannya yang berlumuran darah. Serta ekspresi membunuh masih di wajahnya.


Aleksei memasuki ruangan. Sama sekali tidak terpengaruh dengan itu semua seakan itu adalah keadaan yang normal.


"Kita kedatangan tamu"


Alessio mengambil sebuah sapu tangan. Kemudian mengusap tangannya yang penuh darah dengan itu.


"Siapa?"


"Alberto Moretti"


......................


**Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡

__ADS_1


Xoxo**.


__ADS_2