
......................
Elain 6 tahun
"Mama, kenapa papa dan kakak belum pulang?". Tanya Elain kecil yang tengah duduk dipangkuan mamanya.
Wanita cantik berambut hitam itu tengah menyisir rambut putrinya. Kemudian menatapnya sembari tersenyum melalui kaca besar dihadapan mereka.
"Elain, papa dan kakak sedang bekerja dan mereka akan berjanji untuk pulang, bukan?".
Elain mengerucutkan bibirnya keras kepala. Wajahnya cemberut mendengar perkataan mamanya. "Kakak kan belum besar. Kenapa ikut papa bekerja?". Tanyanya polos.
Evelyn Volkova menyentuh wajah putrinya lembut. "Karena sayang, papa sedang mengajari kakak cara berbisnis"
Elain mengangguk walau sebenarnya ia sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud mamanya. Mungkin ini yang kakaknya, Igor namakan sebagai "Kau itu masih kecil mana tahu hal seperti ini"
Sayangnya ketenangan mereka harus terganggu ketika seorang pelayan datang secara tergopoh gopoh.
"Nyonya. Anda dan Nona harus segera pergi!". Peringatnya dengan panik.
Evelyn sontak berdiri kemudian menyembunyikan Elain dibalik tubuhnya.
"Ada apa ini?"
Belum sempat pelayan itu menjawab, pintu sudah dibuka dengan paksa.
Elain kala itu tidak dapat melihat dengan jelas karena ia berlindung dibalik tubuh mamanya. Yang ia lihat adalah sekumpulan pria berbaju hitam yang menendang pelayan itu sampai pingsan.
"Mau apa kalian disini?". Suara Evelyn bergetar. Masih tetap berusaha melindungi Elain dibelakangnya. Gadis kecil itu memegang erat dress mamanya.
Salah satu dari mereka tertawa —tawa jahat yang sama sekali tidak Elain suka.
"Kau adalah istrinya si br*ngsek Ivan bukan? Suamimu baru saja membunuh pemimpin kami!"
"Apa yang kalian mau?"
Salah satu dari mereka maju, menodongkan senjatanya pada Evelyn. "Kau harus membayar untuk ini"
Setelahnya, Elain harus melihat ketika mamanya diseret kesana kemari oleh orang orang jahat itu. Gadis kecil itu berteriak namun seseorang datang dan mencekal tubuhnya.
"Mama! mama!". Teriaknya. Evelyn menatapnya sedih. Air mata membanjiri kedua ibu dan anak itu.
Elain terus berteriak dan meronta.
Ketika orang jahat itu mulai memukuli mama.
Ketika orang jahat itu mulai menendang perut mama.
Ketika orang jahat itu melempar mama sampai kepalanya mengeluarkan darah.
Bahkan ketika orang jahat itu mel*cehkan mama dengan paksa.
Elain terus berteriak. Ia ingat betapa keringnya tenggorokanya. Dan selama itu, mamanya terus menatap ke arahnya. Mengisyaratkan seolah ia baik baik saja.
Namun keadaanya adalah semua tidak baik baik saja.
Elain harus melihat cahaya kehidupan menghilang dari mata Evelyn.
Orang jahat itu datang kepadanya, dan menampar pipinya hingga berdarah kemudian menjambak rambutnya.
"Haha... Jadi ini adalah putri j*lang itu! aku berani bertaruh bahwa tubuhnya pasti seenak tubuh ibu j*langnya". Pria itu berusaha membuka dressnya.
Hingga kemudian keajaiban datang.
Papa dan kakaknya datang.
Mereka mengalahkan orang jahat itu.
Namun semuanya terlambat.
Mama sudah terlebih dahulu meninggalkan mereka.
......................
Elain 8 tahun
"Papa papa... Lihat! Elain membuat sesuatu untuk papa"
__ADS_1
Ivan Volkov tidak menggubrisnya.
"Papa.. Sekarang sedang petir. Elain takut untuk tidur sendiri"
Ivan Volkov menatapnya dingin. "Kau sudah besar. Cobalah untuk tidak manja dan jangan menyusahkanku"
"Papa.. Besok aku mau pergi jalan jalan bersama papa".
Ivan Volkov hanya berfokus pada kertas dihadapannya. Sama dekali tidak menanggapi permintaan Elain.
Elain seringkali menangis sendiri dikamarnya. Papanya sudah tidak menyayanginya. Papa yang dulu selalu tersenyum, sekarang sudah tidak ada.
Pada hari mamanya meninggal. Ia tak hanya kehilangan sosok seorang ibu, namun juga sosok ayah.
......................
Elain 11 tahun
"Haloo... Namaku Elain"
"Hai, aku Olivia".
Elain tersenyum. Kemudian mulai berbincang bincang dengan teman barunya. Ini adalah hari pertama ia bersekolah setelah sebelumnya pindah dari sekolah lamanya.
"Woww... Kau sangat cantik Elain"
"Iya, cantik sekali. Seperti model saja"
Semua perempuan mengerubunginya. Memuji betapa cantiknya ia.
"Kalian semua juga cantik, kok" Jawab Elain.
"Elain baik sekali"
"Sudah cantik. Baik pula. Ah, Elain memang sempurna"
Saat itu, Elain sukses membuat teman dengan para perempuan dikelasnya.
Sudah seminggu Elain bersekolah. Kali ini ia akan pergi ke kantin ketika merasakan seseorang menabraknya. Ia mendongak, mendapati Jason Blackford —laki laki paling terkenal dan dikagumi seluruh sekolah berada di depannya.
"Maaf, aku tidak sengaja". Mereka sama sama menunduk untuk memungut gelas yang terjatuh.
Jason menatapnya bingung. "Kau baik baik saja?"
Jason mengulurkan tangannya. Kemudian menyentuh tangan Elain yang ditepis kasar oleh Elain.
Gadis itu benar benar terlihat ketakutan sekarang.
"JANGAN SENTUH AKU!". Teriaknya histeris.
Bayangan bayangan peristiwa mengerikan itu terus berputar dikepalanya. Bagaimana pria pria jahat itu menyentuh mama dan hampir menyentuhnya. Seluruh tubuh gadis itu bergetar sekarang.
Teriakan Elain sontak memancing perhatian seluruh penghuni kantin yang menatap bingung.
Kini gadis itu memeluk dirinya sendiri sembari menangis di tengah kantin sembari terus bergumam pada dirinya sendiri.
"Jangan sakiti aku"
"Please... Don't touch me"
"Lepaskan mama"
Semenjak kejadian itu, seluruh siswa menatapnya dengan pandangan aneh dan mencibir. Tak jarang dari mereka yang mengatakan kata kata menyakitkan didepan Elain.
"Lihat dia! sangat aneh"
"betul. Sayang sekali ya cantik tapi gila"
Elain berusaha untuk menulikan telinganya akan hinaan itu.
......................
Elain 12 tahun
"Aku tidak mengerti. Kenapa aku tidak ikut kakak saja?". Tanya Elain pada Igor.
Kakaknya hanya menggandeng tanganya menuju pintu depan. "El, aku harus menangani urusan bersama papa. Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri disini"
"Memang siapa teman kakak?"
__ADS_1
"Dominick Ivanov"
Merekapun berjalan menuju pintu utama. Igor membukakan pintunya, dan nampaklah laki laki paling tampan yang pernah ia lihat.
Rambut hitam, mata biru dan rahang tegas. Rasanya laki laki ini memang datang dari dunia disney.
Laki laki itu memberikan senyum hangat pada Igor dan Elain.
"Dominick, ini adikku Elain. Elain ini temanku Dominick"
Laki laki itu, Dominick mengedip pada Elain. "Kau mempunyai adik yang sangat cantik Igor"
"Jangan berani berani kau. Sudahlah aku mau pergi dulu. Elain, jika dia berbuat yang tidak senonoh tolong laporkan padaku". Elain mengangguk. Igor memberikannya satu kecupan di pucuk kepala lalu pergi.
Setelah Igor pergi, Elain tidak tahu apa yang harus ia katakan. Iapun dengan canggung berkata.
"Ayo masuk"
Namun, laki laki itu tak kunjung masuk. Hingga kemudian Dominick berkata lembut. "lebih baik kita duduk di taman depan. Aku sangat suka pemandangan disana".
Elain mengangguk setuju. Kemudian menuntun Dominick pada Gazebo. Mereka duduk disana.
"Taman yang bagus. Aku mendengar dari Igor bahwa kau yang setiap hari merawatnya"
Elain menunduk malu. Kemudian bergumam, "iya"
Dominick tersenyum kecil padanya. "Kau sangat pandai menata. Aku yakin suatu saat menjadi arsitek akan sangat cocok untukmu"
Elain tidak bisa menahannya. Gadis itu tertawa lepas. Selama ini orang orang selalu mengatakan bahwa ia cocok menjadi model, atau aktris. Namun tak ada satupun dari mereka yang mengatakan bahwa ia akan cocok menjadi arsitek.
Astaga, Elain sampai lupa bagaimana rasanya tertawa sebebas ini.
"Kenapa tertawa? ada yang lucu". Tanya Dominick menatap ke arahnya.
"Aku tidak pernah mendengar orang orang berkata seperti itu sebelumnya. Semua mengasumsikan aku menjadi model atau aktris"
Dominick menatap lekat, membuat nafas Elain tercekat. "Lalu, apa yang kau mau?"
Seketika, dunia terasa berhenti. Ini adalah kali pertama seseorang menanyakan apa yang ia inginkan. Elain tidak bisa menahan rasa panas dibalik kelopak matanya.
"Aku.... Aku... Aku ingin menjadi desainer tanpa ada embel embel nama Volkova dibelakang namaku. Aku ingin membangun panti asuhan untuk anak anak yatim yang tidak memiliki orang tua, aku juga ingin memperjuangkan hak hak anak anak yang teraniaya"
Semakin itu, suaranya semakin mengecil. Seolah Elain berharap Dominick akan menertawai keinginan konyolnya.
Namun laki laki itu justru tersenyum hangat padanya. "Aku yakin kau bisa mewujudkan semuanya"
Namun kemudian, perasaanya berubah tak kala Dominick mengenggam tangannya. Gadis itu menarik tangannya dengan kasar dan menatap panik pada Dominick.
Dominick menatapnya terkejut. Namun laki laki itu tak berkomentar apapun. Elain tertunduk. Pasti setelah ini laki laki itu akan merasa jijik pada gadis aneh sepertinya.
Namun hinaan itu tak kunjung datang.
Elain mendongak. Mantap pada Dominick yang tengah menatapnya sedih dan bergumam. "Kenapa kau tidak pergi?"
"Pardon?"
Setetes air mata itu jatuh, "Semua orang akan seperti itu. Pergi setelah tau tentang diriku"
"Elain. Tatap aku"
Gadis itu menggeleng. Maka Dominick kembali mengeluarkan suaranya, kali ini lebih tegas.
"Elain Volkova. Tatap aku"
Kali ini wajah yang berlinang air mata itu mendongak. Dominick dengan lembut berkata. "Ini sama sekali bukan salahmu, jangan biarkan orang lain menilaimu atas sesuatu yang diluar kehendakmu. Kau, Elain Volkova adalah perempuan hebat dari jutaan perempuan hebat diluar sana. Aku sangat bangga bisa bertemu denganmu"
Mendengar perkataan itu, Elain semakin menangis keras. Sungguh, hatinya benar benat tersentuh oleh ucapan Dominick.
"Bolehkah... bolehkan aku menyentuhmu?" Tanya Dominick ragu.
Elain dengan pelan menganggukinya. Kemudian tangan Dominick terulur dengan pelan —seakan takut membuat gadis itu ketakutan. Kemudian menghapus air mata Elain dengan penuh kelembutan.
"Kau, Elain. Sangat berharga. Dan semua orang menyayangimu".
Saat itulah, Elain sadar. Ia baru saja memiliku cinta pertamanya.
......................
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
__ADS_1
Xoxo.