Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 43 | Unexpected Offer


__ADS_3


......................


"Alberto? Apa yang dilakukan baj*ngan itu disini?".


Aleksei menjawab. "Tidak tahu. Katanya penting".


Alessio mengangguk dan memberikan pisaunya pada Theo. Laki laki itu kemudian pergi ke wastafel kemudian membasuh wajahnya. Lalu menyempatkan diri untuk berganti pakaian.


Setelah dirasa tubuhnya bersih tanpa ada bekas setitik darah sedikitpun, Alessio pun kemudian menuju pada ruang tengah.


Nampaklah sosok Alberto yang terduduk disofa dengan ekspresi pasif. Meskipun laki laki itu jauh lebih tua, namun Alessio sama sekali tidak merasa terintimidasi dengannya.


Alessio mendudukkan diri didepan Alberto. Kemudian menyilangkan kakinya didepan kaki satunya, menunjukkan dominannya.


"Pemberani sekali, kau kesini sama dengan melemparkan dirimu ke kandang singa". Ejek Alessio.


"Aku tidak disini untuk mencari keributan denganmu". Jawab Alberto tenang.


"Lalu apa tujuanmu kesini"


"Lyra".


Alessio benat benar kacau. Namun dengan satu kali sebutan nama Lyra dapat membuat laki laki itu lepas kendali.


Alessio meraih kerah kemeja Alberto kemudian menariknya mendekat. Ia merasa deja vu, sebab pernah melakukan hal ini saat bertemu dengan Alberto di mall pada waktu lalu.


"Aku bersumpah, jika aku menemukan kau ada hubungannya dengan hilangnya Lyra, aku akan membuatmu menyesal pernah bernafas". Ancamnya dengan nafas memburu.


Alberto mengangkat tangannya kemudian meletakkannya diatas tangan Alessio. Kemudian melepaskan genggaman tangan Alessio pada kerahnya dengan kasar.


"Aku ingin membantumu, si*lan!".


Dengan itu Alessio terpengkur. Iapun mundur satu langkah, namun tetap menatap Alberto dengan tidak percaya.


Alessio kembali menyandarkan tubuhnya disofa. Kemudian mengibaskan tangannya, "Jelaskan padaku".


Alberto mendengus, kemudian merapikan kusutan yang ada di kerahnya oleh ulah Alessio. "Aku tahu dimana Lyra sekarang, dan aku membutuhkanmu untuk membantuku mengeluarkannya".


Alessio menyunggingkan senyum miringnya, kemudian memiringkan kepalanya sedikit. "Apa yang membuatku akan mempercayai mu? bagaimana jika ini adalah salah satu akal akalanmu untuk menyabotaseku lagi".

__ADS_1


Alberto menatap bingung pada Alessio. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dikatakan laki laki ini. Menyabotase? apakah Alessio sedang mabuk? tapi Alberto menggelengkan kepalanya, memilih untuk fokus pada hal yang lebih penting sekarang yaitu Lyra.


"Pertama, karena aku tahu kau tidak menemukan titik terang keberadaan Lyra. Dan kedua karena aku disini, seperti yang kau bilang. Memasukkan diriku sendiri ke kandang singa tanpa seorang pengawal pun bersamaku". Alberto merentangkan tangannya seolah menekankan pernyataanya.


Alessio mengeraskan rahanganya, ia sebenarnya tidak mempercayai baj*ingan Alberto ini. Namun ia benar benar putus asa hingga akan melakukan apapun untuk menemukan Lyra —itu termasuk bekerja sama dengan musuh bebuyutannya.


"Baiklah, jelaskan padaku bagaimana kau bisa tahu dimana Lyra"


"Singkatnya aku mendapatkan undangan yang kukira dari Don, saat aku datang aku melihat Lyra yang dibawa keluar dari mobil. Mereka menempatkannya pada salah satu warehouse yang ada di tengah hutan".


Alessio mencengkram tangan kursi dengan erat. Buku buku jarinya sampai memutih. "The Godfather? apa yang ia mau dengan Lyra?".


"Sejujurnya aku juga tidak tahu. Hingga kemudian kemarin aku mendapatkan kabar bahwa Don kami sedang berada di Valencia. Dan itu membuatku menyimpulkan bahwa siapapun yang saat ini tengah mengaku sebagai Don bukanlah Don kami yang sebenarnya".


Alessio menyimpan informasi ini. Italian Don memang sangat dirahasiakan identitasnya. Dan sekarang ketika seseorang mengaku ngaku sebagai Don membuat kecurigaan Alessio sekaligus Alexander semakin tepat.


Seseorang berusaha mengadu domba mereka.


"Baiklah. Apa rencana mereka selanjutnya?"


"Hari ini mereka akan melakukan acara pelelangan untuk para gadis. Lyra salah satunya".


"APA?". Teriak Alessio murka. Berani sekali mereka! Lyra adalah miliknya dan akan selalu menjadi begitu!


Beraninya para bed*bah itu menyentuh princess-nya. Ia akan memastikan untuk tidak mengampuni mereka.


"Karena itulah kita harus cepat bergerak".


Alessio mengatur emosinya. Sekarang bukan saatnya untuk meluapkan emosinya, Lyra membutuhkannya untuk menyelamatkannya diluar sana.


Alessio mengangguk menyetujui, "Beritahu aku rencanamu".


......................


Sementara itu Lyra terbangun begitu merasakan seseorang yang menekan perutnya. Ia terbangun dengan keadaan tidur menyamping dan mendapati seorang pria yang tengan menekan perutnya menggunakan ujung sepatunya.


"Cepatlah bangun! seseorang akan datang untuk mempersiapkanmu".


Dengan segera, Lyra kembali meringkuk dan memeluk dirinya sendiri ketika penjaga itu pergi.


Apa lagi sekarang?

__ADS_1


Ya, Tuhan ia benar benar takut.


Lyra pun terisak. Ia merasa benar benar sudah tamat sekarang. Mungkin mereka akan membunuhnya hari ini. Ia menangis terisak tanpa sadar pintu ruangan terbuka.


Seorang wanita paruh baya masuk. Kemudian menyentuh pundaknya lembut.


Lyra terkejut, kemudian bergerak mundur menghidari wanita itu. Wanita itu menatapnya iba.


"Jangan takut, aku kesini tidak untuk menyakitimu. Aku hanya akan mempersiapkanmu".


"Mempersiapkanku untuk apa?". Tanya Lyra lirih. Sekarang kerongkongannya benar benar kering.


Wanita itu tersenyum lembut. "Mereka juga tidak memberitahuku, maaf". Lyra mengangguk. Mungkin wanita itu juga sama seperti nya yang dipaksa berada disini.


"Baiklah. Aku akan mempersiapkanmu".


Wanita itu mulai menyisiri rambutnya yang mulai kusut karena tidak disisir selama dua hari. Disaat seperti ini ia sangat merindukan nanny Elise, biasanya wanita tua itulah yang akan membantunya menyisir rambut.


Wanita itu menyadari tangisannya, kemudian berhenti untuk menyeka air matanya menggunakan tisu. "Jangan menangus sayang, mereka akan marah jika melihatmu menangis"


Lyra mengangguk. Karena ia tidak ingin memperburuk keadaanya yang sudah sangat buruk.


Wanita itu mulai memoleskan makeup pada wajahnya. Lyra tidak peduli sama sekali. Yang ada dipikirannya hanya Alessio dan Alessio.


"Astaga.. Kau sangat cantik. Aku tidak pernah melihat seseorang yang secantik dirimu dalam hidupku". Pipinya merah akan pujian itu, kemudian ia mengumamkan lirih.


"Terimakasih". Wanita itu tersenyum dan kembali memoleskan riasan pada wajahnya. Kemudian kembali menyisir rambutnya lagi dengan lembut, hingga surai keemasan itu kembali terjulur dengan indah dibalik punggungnya.


"Sudah. Sebenarnya tanpa make up saja kau sangat cantik. Tapi ketika memakai make up kau benat benar terlihat seperti dewi. Tugasku selesai. Aku harus pergi".


Ingin rasanya Lyra mencegah wanita itu untuk pergi, namun rasanya sia sia karena ia tahu jika wanita itu tak memiliki kuasa atas tempat ini.


Setelah wanita itu pergi, Lyra kembali merenung. Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa tiba tiba saja ia di dandani?


Hingga tiba tiba, pintu kembali terbuka. Lyra sama sekali tidak mau menatap siapapun yang datang. Gadis itu hanya menunduk —menatap pada lantai.


Lalu ia melihat ujung sepatu didepannya. Kemudian sebuah tangan berada di dagunya dan memaksanya untuk mendongak. Disana ia mendapati laki laki tampan dengan rambut hitam dan mata hijau tengah menyeringai padanya.


"Well well... Tidak heran jika semua orang merebutkanmu. Kau adalah wanita tercantik yang pernah kutemui". Ujarnya sembari mengusap bibir bawah Lyra.


......................

__ADS_1


**Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡


Xoxo**.


__ADS_2