
......................
"Hey... Tidak mau makan?".
Alessio bertanya sembari mengelus kepala Lyra. Dengan pandangan khawatirnya.
Sedari tadi pagi, gadis itu mengeluh kepalanya sakit dan juga pusing. Alessio dibuat kalang kabut olehnya.
Ia khawatir Lyra jadi sakit karena 'aktivitas' mereka semalam.
Lyra menggeleng akan pertanyaan Alessio tadi. Gadis itu masih bergelayut manja pada Alessio. Sama sekali tidak membiarkan laki laki itu pergi.
Alessio menghela nafasnya. Nampak prihatin dengan Lyra yang sekali kali meringis. Laki laki itu memeluknya semakin erat, seakan Alessio berharap jika rasa sakit yang Lyra rasakan bisa tersalurkan padannya dan membuat gadis itu berhenti kesakitan lagi.
Beberapa jam yang lalu, ia sudah memanggil dokter keluarga mereka. Dokter itu juga sudah memeriksa Lyra, dan mengatakan jika gadis itu hanya kelelahan dan tidak lebih. Disarankan banyak makan buah buahan dan banyak minum serta beristirahat.
Tapi tetap saja tidak mengurangi kadar kekhawatiran Alessio. Melihat gadisnya yang terbaring lemah ini bagaikan deja vu untuknya. Kemarin juga ia teringat betapa putus asanya ia saat Lyra dibawa kembali dengan keadaan tidak sadarkan diri serta beberapa luka di tubuhnya.
"Tapi kau harus makan, sayang. Tidak ingat apa yang dikatakan dokter? jika tidak makan maka akan semakin lemas. Aku akan menyuruh pelayan membawanmu apel ya?". Tawar Alessio lembut.
Lyra pun menganggukinya. Kemudian Alessio memecet tombol interkom kemudian bersuara. "Bawakan apel kesini". Yang otomatis interkom itu akan menyalur pada interkom lain yang terpasang di mansion. Sehingga para pelayan bisa mendengarnya.
Sesuai dengan yang di prediksi, tak lama kemudian para pelayan pun datang dengan membawa nampan berisi apel yang sudah dikupas kulitnya. Bersama dengan segelas air.
Alessio pun menerima nampan itu, dan dengan lirikan matannya mengirim para pelayan keluar.
"Aaa.. Buka mulutmu sayang". Ujar Alessio sembari membawa irisan apel yang ada ditangannya mendekat.
Lyra pun menurut saat Alessio menyuapinya dengan irisan apel itu. Alessio tersenyum kemudian menepuk nepuk kepalanya.
"Goodgirl". Pujinya. Alessio terus menyuapi Lyra dengan irisan buah apel hingga apelnya habis. Tak lupa ia membantu gadis itu untuk meminum air putihnya sampai tandas.
Kemudian dengan telaten ia mengelap sisa air yang ada di sudut bibir Lyra. Sesungguhnya kalau boleh jujur, ada banyak tugas yang harus Alessio lakukan sekarang. Seperti contohnya mengurusi kebakaran gudang senjata mereka yang ada di Vietnam kemarin malam. Seharusnya Nikolai ayahnya mengutusnya langsung untuk turun tangan dalam masalah ini.
Namun karena Lyra sakit dan Alessio tidak sampai hati untuk meninggalkannya, ia malah mengirim Theodore, Viktor dan Aleksei kesana. Ia jelas tahu setelah ini akan mendapat kemarahan Nikolai.
Tapi tidak apa apa. Sekarang yang terpenting adalah Lyra dulu.
"Alessio..."
"Hmm"
Lyra terdiam sejenak. Memikir ulang dengan pertanyaanya.
"Apa dulu... Kita pernah bertemu?"
__ADS_1
Alessio menatapnya bingung. "Apa maksudmu, princess? pertemuan pertama kita saat di club waktu itu"
Lyra menyesap informasi yang diberikan Alessio. Kemudian gadis itu bertanya lagi untuk memastikan.
"Serius? kau tidak pernah bertemu aku saat kecil?"
Dengan itu sentuhan di rambutnya menghilang. Kemudian sesaat, Lyra merasakan keraguan Alessio. Lalu laki laki itu menjawab datar.
"Tidak pernah"
Nada bicaranya tidak mau diganggu gugat. Seolah itu adalah keputusan final Alessio dan laki laki itu tidak mau di debat sama sekali. Lyra pun membungkam mulutnya.
Laki laki itu melanjutkan usapannya pada kepala Lyra. Membiarkan sang gadis sibuk dengan pikirannya sendiri
......................
Lyra memeluk lututnya sendiri. Gadis kecil itu tengah bersembunyi dibalik pohon besar yang ada di taman. Otaknya berpikir, kemana anak anak kecil yang lain? kenapa hanya ada ia di taman ini?
Lyra sangat takut. Pasalnya tadi kakaknya baru saja mengatakan bahwa ia harus menunggu di depan toko buku sementara Leo membayar sisa belanjaan mereka. Namun karena gadis cilik itu bosan, Lyra pun memutuskan untuk berjalan jalan. Hingga akhirnya entah bagaimana sekarang ia sudah ada ditaman.
Ia memutuskan untuk menunggu disini. Mungkin jika ia sedikit bersabar, maka orang orang daddy atau kakaknya Leo akan menjemputya kemari.
Tapi nyatanya tidak.
Ia menunggu mungkin sampai se jam an lebih. Namun tidak ada yang datang menjemputnya. Lyra mengantuk. Sejak tadi sebenarnya ia sudah mengantuk.
Mungkin efek berdiam di bawah pohon dengan angin yang sepoi sepoi menerpanya.
Sedikit saja...
Ia aman tidur sebentar saja..
Kemudian ia terlelap.
......................
Lyra tidak tahu sudah berapa lama. Namun ia terbangun ketika merasakan seseorang yang menoel-noel pipinya. Gadis berusia tujuh tahun itu perlahan mengerjapkan matanya.
Kemudian melihat seorang anak laki laki yang berjongkok didepannya.
Ia harus menyesuaikan pandangannya. Karena anak itu membelakangi matahari, sehingga membuat wajahnya agak tidak kelihatan.
Barulah setelah selesai mengumpulkan nyawa, ia melihat anak laki laki itu. Bocah laki laki itu memiliki warna mata yang sangat indah sekaligus langka menurut Lyra —yaitu abu abu. Dipadu padankan dengan rambut hitam legam dan kulit putihnya yang kontras. Lyra menebak bocah laki laki di depannya ini sedikit lebih tua darinya.
"Wah kau bisa membuka mata ternyata!". Ujar bocah laki laki itu takjub.
Lyra menatapnya heran. Memang dia pikir Lyra ini apa? patung?
__ADS_1
Gadis kecil itupun menatap sengit pada lawan bicaranya.
"Tidak sopan sekali! kau pikir aku apa?"
Bukannya marah, bocah laki laki yang ia tidak ketahui namanya itu justru semakin menatapnya takjub. "Wow! bisa bicara juga!"
Oke, sekarang Lyra benar benar tersinggung.
Gadia itu memalingkan wajahnya. Tidak mau menatap pada bocah menyebalkan didepannya.
Tapi kemudian bocah itu menagkup wajahnya dan membuat Lyra menghadap padanya.
Dih! benar benar tidak sopan!
Anak laki laki itu menggaruk tengkuknya sembari tersenyum cengengesan. "Hehe.. Maaf. Tadi aku kira kau adalah boneka besar yang di tinggalkan disini. Aku tidak menyangka jika kau adalah manusia sungguhan. By the way... Namaku Alessio" Ujarnya sembari mengulurkan tangannya.
Sungguh, tadi Alessio benar benar seperti melihat sebuah boneka yang tergeletak di bawah pohoh. Tubuh mungil yang dibaluti dress putih dan rambutnya yang dikepang dua, ditambah lagi dengan wajah bulatnya. Alessio benar benar mengira bahwa gadis cilik di depannya ini adalah boneka.
Lyra memandang pada uluran tangan Alessio. Merasa ragu apakah ia harus menerimanya atau tidak. Daddy berkata jangan suka berdekatan dengan orang asing yang tidak dikenal.
Namun, tidak ada salahnya kan jika ia membuat teman?
Maka dari itu Lyra menerima uluran tangan Alessio. Kemudian tersenyum yang seketika membuat Alessio kehilangan kata katanya.
"Namaku Lyra"
......................
Lyra pun terbangun di tengah malam. Alessio masih tertidur pulas disebelahnya. Gadis itu mengusap wajahnya sendiri, kemudian berusaha mengatur nafasnya.
Lagi lagi mimpi itu lagi.
Apakah ini benar mimpi?
Tapi jika mimpi, kenapa rasanya seperti memori yang lama sudah terkubang dalam?
......................
•| Btw yg miring itu mimpinya Lyra ya.. Eh emang itu mimpi?🧐
Kemarin ya gais lama up karena reviewnya lama. Dua harian. Kesel
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo.
- Balqis istrinya NaNa + Jepri
__ADS_1