Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 49 | Chocolate Cupcake


__ADS_3


......................


Elain memasuki ruangan dengan Dominick disampingnya. Gadis itu menggenakan dress hitam elegan. Cocok dengan Dominick yang memakai tuxedo hitam juga.


Dari jarak sedekat ini. Elain dapat mencium harum tubuh Dominick. Berbau masculine, membuat Elain sungguh candu berdekatan dengan Dominick.


Seperti biasa, Dominick bersikap seperti lelaki gentleman. Padahal seluruh Rusia saja tahu bahwa lelaki ini adalah playboy sejati.


Semua orang menyapa mereka. Dengan kekuatan nama ternama yaitu Ivanov dan Volkov yang ditakuti oleh semua orang. Banyak orang yang bermuka dua disini, Elain sangat muak.


Ia kemudian menarik tangan Dominick. Membawa laki laki itu pada lounge kemudian mendudukkan diri disana. Dominick, patuh bak anak anjing kemudian duduk disebelah Elain.


Elain menyesap jus jeruknya. Malam ini ia tidak berselera untuk meminum alkohol. Sedangkan Dominick disebelahnya, lebih memilih menjadi seorang pengamat.


Tiba tiba laki laki itu bersuara. "Tumben sekali..."


Elain menatapnya bingung. "Tumben apanya?"


Dominick kali ini beralih menatap padanya. "Kau lihat itu?" Ujarnya sembari menunjuk pada seorang laki laki pirang yang tengah berbicara pada seorang wanita.


Elain kenal siapa itu. Alexander Konstantine.


"Itu Alexander? lalu kenapa?"


Dominick mengendikkan bahunya. "Tidak pernah aku melihat ia berinteraksi dengan wanita sebelumnya"


Elain mengernyitkan dahinya. Sepanjang ia mengenal teman teman Igor. Ada dua yang tidak pernah bisa ia akrabi. Yaitu Alessio dan Alexander.


Alessio tentu sangat jelas alasannya. Laki laki itu adalah calon Pakhan yang sangat disegani. Elain bahkan merasa kecil setiap berada di dekatnya. Laki laki itu sungguh mengerikan. Gadis itu sampai sampai merasa tidak pantas untuk menghirup udara yang sama dengan Alessio.


Lalu Alexander Konstantine. Jika Alessio adalah api yang selalu membara, maka Alexander adalah es. Laki laki itu sangat dingin sampai tidak bisa didekati. Elain pernah mengajaknya berbicara dan yang ia respon hanya iya dan tidak saja.


Dan sejujurnya ia benar benar mengerti keterkejutan Dominick kali ini. Alexander tidak memiliki track record seperti Dominick yang hobi bergonta ganti pasangan. Laki laki itu malah tidak pernah mendekati wanita siapapun.


Elain pun mengangguki ucapan Dominick. "Benar sekali. Apa mereka kenal?"


"Tidak tahu juga. Aku tidak mengenal siapa perempuannya?"


Elain mencibir. "Hish.. Kukira kau tahu. Kau kan playboy cap badak"


Dominick tertawa tergelak. "hahaha...memang benar. Tapi sekarang aku sudah tobat. Sudah ada pawangnya"

__ADS_1


Elain tersenyum kecut. Tanpa diberitahupun. Elain sudah tahu jikalau Dominick ini sedang menyebut tentang Aluna. Memang pikiran laki laki ini dipenuhi dengan Aluna saja.


Sangat beruntung, dapat menjadi cinta pertama seorang Dominick Romanov yang terkenal tidak pernah tunduk pada wanita manapun. Sekarang bahkan memuja tanah yang dipijakki oleh Aluna.


Elain terdiam. Dominick bingung pada perubahan mood gadis itu yang tiba tiba. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya dengan canggung ia berdeham. Kemudian menawarkan tangannya pada Elain.


"Mau menari bersama?".


Elain yang ditanya seperti itu langsung linglung. Seakan otaknya sudah berhenti bekerja. Ini serius? Dominick?


Oke oke, tenang. Jangan mempermalukan dirimu sendiri. Elain relax saja.


Elain pun menerbitkan senyumnya. Kemudian menerima uluran tangan Dominick.


Dominick menuntunnya pada lantai dansa. Dominick mengenggam satu tangannya, dan satunya lagi ia tempatkan di pinggang Elain. Elain tercekat. Ia menahan nafasnya, jaraknya dengan Dominick benar benar sangat dekat. Ia hanya bisa berdoa pada Tuhan agar Dominick tidak mendengar suara degup jantungnya yang berdebar debar.


Ia menempatkan tangannya di pundak Dominick. Kemudian suara musik klasik terdengar. Kaki mereka mulai bergerak. Elain masih ingat langkah langkah yang diajarkan guru tarinya semenjak ia dilatih saat usia tujuh tahun.


Mereka menari dengan luwes. Langkah Dominick sangat tajam namun Elegan. Selama itu mata mereka terjalin.


Tempo musik berubah menjadi slow. Dominick semakin menarik tubuh Elain mendekat padanya. Elain terksiap. Kini wajahnya berada di ceruk leher Dominick.


Dominick suka mencium aroma jasmine di tubuh Elain. Laki laki itu tidak tahu apa yang membuatnya nyaman dengannya. Yang pasti ia sangat nyaman bersama Elain. Tangan gadis itu sangat kecil digenggamannya, membuat Dominick merasa ingin terus terusan melindunginya.


Elain secara tak sadar memajukan dirinya. Hingga kini sudah menempel pada Dominick. Ia tidak ingin melewati momen ini. Hanya mereka berdua —sepasang jiwa yang menari ditengah lagu klasik yang awet sepanjang zaman.


Saat saat seperti inilah yang akan membuatnya tidak pernah bisa melupakan Dominick. Laki laki itu terlalu tertanam dihatinya —ralat, Dominick itu sudah terukir di hatinya. Bahkan jika Elain hilang ingatan pun, rasanya hatinya akan selalu mengenali Dominick.


Kemudian secara tiba tiba ia merasakan laki laki itu menegang. Seluruh tubuhnya kaku, gerakan dansa mereka juga terhenti. Elain mengerutkan keningnya. Ia sedikit menjauhkan dirinya, dan menatap pada Dominick yang sudah terpaku. Pandangan laki laki itu tertuju pada objek dibelakangnya.


Elain membalikkan badannya. Dan seketika menyesalinya. Disana, sosok wanita yang berhasil mencuri perhatian seluruh tamu undangan —terutama Dominick yang tak bisa berhenti menatapnya. Adalah Aluna Grace.


Wanita itu terlihat kikuk. Namun sama sekali tidak menghilangkan kecantikannya.


Elain menoleh kembali pada Dominick. Laki laki itu kini memberinya pandangan meminta maaf. Ia tersenyum sedih, kemudian berucap dengan nada yang ia harapkan tidak bergetar.


"Ayo temui dia"


Tidak, Dominick! aku mohon jangan. Jangan tinggalkan aku. Jangan memilihnya daripada aku!


Dominick semakin merasa bersalah. "Kau yakin? tapi aku datang kesini bersamamu, Elain?"


Elain memberikannya senyum menyakinkan. "Tidak apa apa. Aku akan mengambil minum sebentar lagi"

__ADS_1


Dominick kemudian memegang tangannya sejenak kemudian mencium punggung tangannya sembari berbisik. "Terima kasih. Jika ada yang menganggumu, beritahu saja aku"


"Tentu"


Dominick pun pergi. Menemui Aluna. Meninggalkan Elain sendiri. Ya Tuhan, dadanya terasa sangat sesak. Ia mencengkam kuat rok dress yang ia kenakan.


Elain ingin menangis. Namun menangis tak akan mengubah segalanya.


Jika menangis dapat membuatnya Mendapatkan Dominick. Elain pasti akan terus menangis sampai air matanya kering.


Sekali saja, tidakkah Dominick bisa memandangnya seperti ia memandang Aluna? penuh cinta dan kasih sayang. Elain sangat menginginkannya.


Ia sangat mencintai Dominick. Bahkan Elain tidak tahu dengan cara apa lagi ia harus mengungkapkannya.


Bagi Elain, Dominick adalah bagian terbaik dari setiap lembaran hidupnya.


Bagian yang ia tunggu tunggu. Namun ketika selesai membacanya, ia harus mengingat untuk membalik halaman itu dan membuka lembaran baru setelahnya.


Dering ponselnya berbunyi. Elain pun mengangkatnya dan menampakkan pesan dari Jason.


From : Jason


To : Elain


Hey, aku baru saja melewati cafe cupcake coklat disini. Dan ini mengingatkanku padamu. Mau kubawakan?


Sebuah senyum terbit di bibir Elain.


^^^From : Elain^^^


^^^To : Jason^^^


^^^Boleh :)^^^


...----------------...


**Maaf guys baru bisa update. Habis ngebucinin 23 bujang aku dulu hehe..😎


Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusias kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡


Xoxo.


- Balqis, Istrinya Nana ehehe**

__ADS_1


__ADS_2