
......................
"Elain, kumohon dengarkan aku... Kita harus menyelesaikan semua ini"
Elain berusaha menulikan pendengarannya. Gadis itu menutup telingannya dengan bantal sementara sedari tadi Dominick tidak berhenti mengedor ngedor pintu kamarnya.
Tepat setelah mereka mengumumkan berita yang sangat buruk itu, Elain tanpa menghiraukan semua orang kemudian berlari ke kemarnya lalu menguncinya dengan erat.
Ia tidak mau mendengar itu semua.
Ia tidak tahu.
Sedari tadi baik Dominick ataupun Igor mulai bergantian mengetuk pintunnya dan membujuknya untuk keluar. Semua kecuali papanya sendiri.
Sebuah fakta yang kali ini membuat Elain lega sekaligus senang.
Ia tidak butuh paksaan laki laki itu.
Sekarang keadaanya, ia terlalu shock.
Ia memang mencintai Dominick. Namun untuk menikahi laki laki itu?
Elain tidak tahu lagi.
Jika dulu kau bertanya padanya, apakah ia ingin menikah dengan Dominick atau tidak. Pasti dengan lantang ia akan menjawab tentu saja!
Namun tidak di keadaan seperti ini. Tidak ketika Dominick memiliki wanita lain yang dicintainya. Tidak ketika ia tahu bahwa Dominick terpaksa menikahinya.
Ia takut. Takut menghadapi Dominick. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, namun disisi lain ia tidak boleh bertindak sebagai pengecut yang terus terusan bersembunyi dari masalahnya seperti ini.
Gadis itu menghela nafas. Kemudian menyingkap selimut dan bantal yang menutupi tubuhnya. Kemudian berjalan secara gontai ke pintu. Kemudian membukannya dan mendapati Dominick dengan raut frustasinya.
Elain tersenyum canggung. Kemudian mempersilahkan Dominick untuk masuk dengan gesture tangannya.
Dominick menatapnya tak yakin. Kemudian laki laki ber netra biru itu bertanya, "kau yakin?"
Elain menganggukkan kepalanya.
Dominick pun masuk. Laki laki itu mengederkan pandangannya pada sekeliling kamar Elain. Ia tidak pernah secara personal masuk kedalam kamar gadis ini. Ia biasanya hanya bertemu Elain melalui balkon yang tersambung dengan balkon Igor.
Igor bisa membunuhnya jika tahu Dominick memasuki kamar adik perempuan satu satunya.
Kemudian Dominick dan Elain terduduk di salah satu sofa yang menjadi interior di kamar Elain.
Suasana menjadi canggung. Baik Dominick maupun Elain tidak tahu bagaimana cara memulai percakapan ini.
Kemudian Dominick pun mengambil inisiatif. Laki laki itu berdeham untuk mencairkan suasana. "Aku juga tidak tahu jika orang tua kita akan memberikan berita seperti ini. Aku bersumpah, Elain".
Elain menghela nafasnya. Sejujurnya, ia sendiri juga tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Dominick. Situasi mereka saat ini benar benar rumit.
Kemudian secara tidak disangka mulutnya malah bertanya sesuatu yang sangat tidak ia antisipasi.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan Aluna?"
Saat itu juga, ia dapat melihat raut muka Dominick yang berubah. Seketika Elain menyesal telah bertanya.
Lelaki itu memijit batang hidungnya. "Aku juga tidak tahu".
Elain mengangguk. Ia paham bagaimana sakitnya tidak bisa bersama dengan pasanganmu sendiri.
Kemudian secara tiba tiba Dominick bertanya padanya.
"El, apa kau pernah menaruh rasa padaku?".
Ditanya seperti itu secara tiba tiba membuat Elain mematung. Tubuhnya menegak. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Apa Dominick tahu?
Kemudian ia memberikan raut wajah polosnya dan menatap bingung pada Dominick. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Laki laki itu mengendikkan bahunya. "Hanya memastikan saja. Bagaimana?"
"Tidak?"
"Yakin? tidak pernah sama sekali?"
Elain kembali menggeleng. Dominick nampak tidak yakin. Namun saat melihat wajah serius yang di nampakkan oleh Elain, pria itu kemudian membuang nafas.
"Baiklah, sudah jelas kalau begitu. Kita sama sekali tidak ada perasaan di dalam hubungan ini. Kau bebas berasama dengan siapapun nantinya. Aku tidak akan melarangmu melakukan apapun yang kau mau".
Okay, rasanya memang bukan main sakitnya ketika Dominick berencana akan membawa wanita lain dalam hubungan mereka.
haha.. wanita lain? Elain ingin tertawa saja rasanya. Bukankah justru ia yang wanita lain disini? mengambil lelaki yang mencinta dan saling mencintai Aluna.
"Ya, aku setuju Dominick"
Dominick tersenyum. Namun senyumnya tidak sampai ke matanya. Kemudian rautnya berubah serius lagi.
"Aku bisa memberikanmu apapun, Elain. Apapun kecuali hatiku"
......................
Setelah menjelaskan semuanya pada mengurusi pertunangan mereka, Dominick pun dengan segera bergerak menuju apartemen Aluna. Ia bukan lelaki brengsek yang akan menutupi semua ini dari kekasihnya.
Aluna berhak tahu. Dan Dominick lah yang akan memberitahunya.
Ia hanya berharap Aluna tidak akan meninggalkannya nanti.
Setelah mendengar bahwa Elain sama sekali tidak memiliki perasaan dengannya. Ia tidak tahu kenapa tadi ia merasa sedikit kecewa ketika Elain menjelaskan seperti itu.
Dominick pun sampai didepan apartemen Aluna. Laki laki itupun memencet bel apartemen Aluna.
Tak lama Dominick menunggu, pintu pun terbuka. Dan sebelum sempat bereaksi. Ia merasakan seseorang memeluknya erat. Dilihat dari harum tubuhnya, Dominick positif itu adalah Aluna.
"Aku sangat merindukanmu". Ujar gadis itu dibalik pundak Dominick.
__ADS_1
Dominick mengelus surai pirang kecoklatannya, kemudian menghirup aroma gadisnya dengan dalam dalam agar menetralkan segara pikiran yang berkecamuk didalam pikirannya.
"Aku juga sangat merindukanmu". Balasnya.
Aluna pun tersenyum. Kemudian menggengam tangan Dominick dan mengajak laki laki itu masuk dan duduk di sofanya.
Aluna menyadari Dominick yang sedari tadi terdiam. Tidak seperti biasanya. Dominick juga jadi terus terusan melamun. Akhirnya ia menyentuh lengan laki laki itu.
"Dominick, ada apa?". Tanya Aluna Khawatir.
Laki laki itu menghela nafasnya. "Aku harus jujur padamu, sayang. maafkan aku, aku juga tidak tahu jika ini terjadi. Ayahku telah menjodohkanku dengan Elain".
Aluna sontak terdiam. Dominick jadi khawatir.
"Aluna... Katakan sesuatu"
Kemudian Aluna mendongak, menampakkan raut wajah kecewanya, matanya berkaca kaca. "Kau mau aku berkata apa? kau akan menikah dengannya demi Tuhan! jadi kau mau kesini untuk memutuskan hubungan kita?"
Air mata mengalir deras dari netra hijaunya. Dominick jadi panik sendiri. Laki laki itu kemudian menangkup wajah kekasihnya yang sudah berlinangan air mata itu.
"Aluna, sayang. Dengarkan aku. Tidak ada cinta sama sekali diantara kami. Tenang saja. Ini hanya pernikahan diatas kertas".
"Kau yakin?".
Dominick mengerutkan keningnya. Tidak tahu apa yang dimaksud oleh kekasihnya ini.
"Maksudmu?"
Aluna tertawa hambar. "Kau yakin tidak ada perasaan?"
Dominick semakin menatapnya aneh. Kemudian Aluna mengibaskan tangannya.
"Sudahlah, lupakan saja".
"Aluna. Aku akan berjanji semua akan berjalan baik baik saja"
Aluna menatapnya sejenak. "Baiklah. Kalau begitu, jika aku dan Elain sama sama membutuhkanmu, siapa yang akan kau pilih?"
Dominick terlihat seperti laki laki itu tidak menyangka pertanyaan dari Aluna. "Kau berbicara apa, Aluna?"
"Aku bertanya serius Dominick. Seandainya aku dan Elain sama sama membutuhkanmu di waktu yang bersamaan, siapa yang kau pilih?"
Dominck terdiam. Aluna was was menunggu jawabannya.
"Kau. Aku memilihmu"
......................
**Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo.
- Balqis istrinya NaNa + Jamal**
__ADS_1